Yogyakarta Berhati Nyaman

Blog ini berisi cerpen dan sajak yang dimuat di harian Republika

Sunday, 13 April 2008

Gabung dengan Dynasis

http://www.klikdynasis.net/?id=UB026

GRATIS, TANPA RESIKO, DAPAT BONUS & MUDAH!

* GRATIS Biaya Pendaftaran, potensi Rp. 5.314.320/bln...
* TANPA RESIKO! Produk Pasti Terpakai...
* Walaupun GRATIS tetap dapat BONUS langsung...
* Sistem Canggih, MUDAH & GRATIS (Online/Offline)...
* Bonus Berulang-Ulang setiap bulan...

Mulai dari Rp. 0,- & benar-benar sampingan:
http://KlubPulsa.com/?id=j4p4ck

Saturday, 13 October 2007

PULANG

Oleh : Lila Fitri Aly

Suasana mencekam di Banda Aceh sejak malam tadi. Warga kota enggan beraktivitas. Mereka lebih banyak berdiam diri, atau mengobrol kecil di warung kopi. Kalaupun ada toko yang buka, hanya pintunya saja.

Kepedihan itu semakin menggigit sejak azan shubuh didengungkan dari Masjid Baitturahman, yang menoreh tajam di sela-sela keheningan pagi, mengharu-biru pendududuk kota. Rasa nyeri itu makin menganga ketika Tgk Abdullah, imam masjid, memimpin jamaah di pagi itu. Sesekali terdengar sedu-sedannya ketika ia melantunkan ayat-ayat suci Alquran.

Aceh memang sedang berduka, dengan terbunuhnya Teuku Nyak Daud, seorang tokoh dari generasi yang lebih muda, yang memiliki dedikasi tinggi bagi tanah kelahirannya. Trauma tsunami belum lagi habis terkikis, tapi air mata darah itu tumpah lagi.

Teuku Nyak Daud adalah anak kandung Teuku Nyak Makam, seorang bangsawan Aceh yang terbunuh pada tahun 1950-an. Ketika itu terjadi konflik tajam antara kaum ulama dan hulubalang. Nyak Makam sempat melarikan diri ke Idi, tetapi tewas diracun oleh musuhnya. Padahal, kebaikan dan kepemimpinan tokoh itu diakui banyak pihak. Tampaknya, politik adalah politik, yang selalu makan korban.

Sebelum pulang ke Aceh, Nyak Daud adalah seorang pengusaha sukses yang berkiprah di Indonesia Timur. Bisnis utamanya adalah produksi batu bara yang tersebar di Kalimantan dan Sulawesi. Rekanannya adalah perusahaan-perusahaan asing raksasa yang banyak membutuhkan batu bara.

Di antara kesibukannya, Nyak Daud tetap mengikuti perkembangan di Aceh. Dia prihatin dengan kondisi daerah yang tak pernah sepi dari gejolak itu, apalagi setelah dihantam tsunami. Karena kepeduliannya, maka dia mendirikan yayasan yang bisa memberikan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat miskin. Untuk kepentingan itu, Nyak Daud rela mundur dari bisnisnya, dan berkonsentrasi penuh pada pekerjaan sosial. Lagipula usahanya sudah mapan dan telah diserahkan pada profesionalnya.

Dedikasi, kepedulian dan keikhlasannya dalam pekerjaan sosial itu menginspirasi seorang pejabat pemerintah sehingga mempercayakan padanya posisi ambassador bagi sebuah organisasi kemanusiaan yang dibentuk khusus untuk menangani beragam persoalan pasca-tsunami. Pekerjaan itu membawanya pulang ke akarnya. Keluarganya tetap tinggal di Jakarta, dan mereka selalu mengkhawatirkan dirinya, apalagi selama ini Aceh selalu identik dengan kekerasan.

"Kalau Allah memanggil, di manapun, kapanpun bisa, tidak mesti di Aceh," katanya. Dia merasa, usia 60 tahun adalah saat tepat untuk pulang dan mengabdi pada sesama manusia, sekecil apapun. Namun, rupanya banyak orang yang mengincar posisi ambassador itu. Nyak Daud baru menyadarinya setelah bertugas. Betapa tidak, organisasi itu memiliki proyek yang nilainya triliunan rupiah. Ada sekelompok orang menganggap Nyak Daud sudah mapan, kok masih berambisi dengan pekerjaan itu. Padahal, bagi Nyak Daud itu adalah proyek ibadahnya.

Nyak Umar, adalah salah seorang yang begitu menginginkan jabatan itu. Dia adalah bekas pejabat daerah, yang tidak begitu harum namanya. Lobinya baik di daerah maupun ke pusat cukup kencang. Dia merasa berhak mendapatkannya, karena ia merasa dirinya putra daerah dan puluhan tahun mengakar di Aceh. Dia merasa tak senang pada Nyak Daud, yang baru come back ke kampung tapi malah mendapatkan kehormatan itu. Dalam pandangannya, dialah yang paling berhak menjadi komandan di lembaga itu.

"Nyak Umar menekan aku terus," ucap Nyak Daud pada Yusran, asisten yang merangkap supirnya sekaligus teman diskusinya.
"Apa maksud Abang?" tanya Yusran.
"Ya, dia memaksaku membeli tanahnya," ucap Nyak Daud kecewa. Nyak Umar tahu kalau Nyak Daud membutuhkan banyak tanah untuk pembangunan infrastruktur.
"Apa masalahnya, Bang? Kalau lokasinya bagus, harganya normal, kenapa tidak?" tanya Yusran polos.
"Itulah masalahnya. Dia mengajukan harga yang tidak masuk akal. Dia menaikkan harga sampai empat kali lipat. Sulit aku menerimanya," keluh Nyak Daud.
Daud dikenal sebagai pengusaha yang berhasil karena ketelitiannya, kehati-hatiannya dan kesungguhannya bekerja. Walaupun pekerjaan sosial, dia tetap menetapkan standar yang tinggi. Dengan uang yang ada dia ingin membangun sekolah, pesantren, perpustakaan, mesjid yang lebih banyak di Aceh.

Bak gula, Nyak Daud banyak didekati semut. Proyek triliunan rupiah yang ditanganinya menggiurkan banyak orang. Mereka menawarkan berbagai fasilitas dan keuntungan kepadanya. Nyak Daud bukan orang bodoh. Ia tak mudah disuap. Tak heran banyak orang tak senang padanya. Mereka menganggap Nyak Daud alot, kaku dan tidak bisa diajak bekerja sama. Nyak Umar adalah salah satunya.

"Bang, Abang tahu enggak siapa Nyak Umar itu?" tanya Yusran dengan cemas. Selama ini tak terpikirkan olehnya betapa riskannya posisi yang dijabat bosnya. Apalagi sekarang orang menghalalkan segala cara demi tercapai tujuan.
"Ya, aku tahu," jawab Nyak Daud tenang.
"Hati-hati, Bang, dia punya jaringan kuat. Abang punya pistol tidak? Kalau perlu, biar aku cari," tambah Yusran serius. Suaranya berubah pelan. Dia merasa seperti ada yang membayanginya.
"Sudah, sudah, tenang saja. Tak perlu senjata. Mudah-mudahan Allah masih memberiku umur panjang. Masih banyak tugasku yang belum tuntas," katanya lirih.

Sosok Nyak Daud memberikan sebuah kesegaran di daerah itu. Ketekunannya dalam bekerja, kejujurannya, keikhlasannya dan empatinya yang besar terhadap penderitaan rakyat, membuatnya dikenang orang. Namun, sejarah seperti berulang. Darah kembali menyirami bumi tsunami itu. Pada malam yang dingin, setelah diguyur hujan beberapa saat, terdengar beberapa kali tembakan, mengejutkan warga kota.

"Bang, awas, berlindung," teriak Yusran. Namun peringatan itu tak berarti apa-apa. Muntahan peluru yang ditembakkan dari jarak dekat sungguh sangat jitu. Kemudian si penembak itu kabur dengan motornya. Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Tubuh Nyak Daud terkulai seketika. Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, Tgk Abdullah berhasil memeluknya. Mereka baru saja selesai berdiskusi tentang berbagai masalah di Masjid Raya itu setelah shalat isya. Kebetulan imam masjid itu mengantarnya pulang sampai ke mobilnya yang diparkir di Jl Moh Jam.

"Ya Allah, Nyak Daud ditembak. Kenapa begini lagi," teriak Tgk Abdullah dengan gemetar.
Tadinya Yusran ingin mengejar si pengendara motor itu, tetapi dia khawatir dengan Nyak Daud. Dengan kecepatan tinggi Yusran melarikan tubuh itu ke rumah sakit. Tgk Abdullah terus mendekap Nyak Daud. Namun, kucuran darah yang begitu deras membuat kecut hatinya. Baju dan sarungnya dibalur darah.
"Innna lillahi wainna ilaihi rajiun," lirih terdengar suara imam mesjid itu sambil menutupkan kedua mata Nyak Daud. Air matanya runtuh melihat ketabahan dan keikhlasan Teuku Nyak Daud menerima ajalnya.
"Jroh tat dron, Pak Daud. Meutuah dron. Insya Allah dron meutemeung Khusnul Khatimah," katanya sambil mendekap jenazah itu.
"Bang, maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu," raung Yusran di sepanjang lorong rumah sakit.

Berita tewasnya Teuku Nyak Daud merebak cepat bak anak panah. Hampir tak ada yang percaya beliau tewas ditembak. Orang sebaik Nyak Daud kenapa harus dibunuh, tanya seorang ibu dengan air mata bercucuran. Dia tidak mengerti, demi kepentingan bisnis atau politik, orang bisa berbuat apa saja.


Sumber : www.republika.co.id

Sajak-sajak Bambang Widiatmoko

KEKASIH MENULIS SAJAK

Gerimis meninggalkan jejak di beranda
Lepas senja, dingin menggigit tulang
Saat seekor cicak memagut nyamuk
Yang terjebak dalam cahaya lampu di atas kolam.

Mungkin hanya kesia-siaan
Lepas senja menunggumu datang
Dengan langkah yang selalu saja sama
Dan juga selalu tanpa senyuman.

Sudah setahun kita berumah dalam cinta
Dengan semusim kemarau berganti penghujan
Di ujung jalan menawarkan kisah
Serta catatan yang terlalu panjang untuk dihafal.

Kekasih meninggalkan jejak
Serupa puing yang terserak
Kekasih menuliskan sajak
Serupa katak di sela semak.

2007


SEPATAH KATA

Sepatah kata
Bisa menenggelamkan dunia
Apalagi Lampung - hanya sekejap dilahap kata
Yang membawa duka
Lantas sekejap berubah menjadi tawa.

Sebaliknya, sepatah kata bisa membawa tawa
Dan sekejap berubah menjadi duka.

Sepatah kata
Lebih dahsyat dibanding ombak samudera
Lebih dahsyat dibanding letusan
Krakatau yang membelah angkasa.

Sepatah kata - bernama cinta
Mampu mengubah kegelapan menjadi cahaya
Mampu mengubah dosa menjadi pahala.

Sepatah kata - bernama cinta
Tak mampu dipenjara dengan teralis baja
Dan di sini - sepatah kata bernama cinta
Biarkan berlabuh di dada kita.

2007

BENDERA
: Alm Ari Setya Ardhi

Mengapa kita begitu kecil
Dan terpencil
Dalam luasnya semesta
Dan hanya berbekal kata-kata.

Setelah lama tak saling jumpa
Mungkin engkau menatapku di balik cakrawala
Dunia penuh misteri dan tanda tanya
Dan kita terlalu asyik menuliskannya.

Sebuah sajak lantas tercipta
Mengisi keheningan dan batin pun terjaga
Dan engkau membacakannya penuh pesona
Di hadapan ratusan bidadari di nirwana
Yang tak lagi berbatas ruang dan waktu
Tak ada lagi kata lelah dan jemu menunggu.

Seandainya usia tak terbatas seperti cahaya
Sajak akan menggantikan bendera
Berkibar di sepanjang jalan raya
Dan kita pun berbaris menanti ajal tiba.

2007

Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta, 24 Oktober 1960. Menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media-massa. Antologi puisi tunggalnya Pertempuran (l980), Anak Panah (1996), Agama Jam (2000), dan Perempuan Hikayat (2007). Cerpennya tergabung dalam antologi Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2000) dan Bupati Pedro Laki-laki Kota Rembulan (DKS, 2000). Puisi-puisinya juga banyak dimuat dalam antologi bersama penyair lain. Tahun 2003 ia mendapat anugerah sebagai Pelestari Budaya oleh Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) Kraton Surakarta.


Sumber : www.republika.co.id

Saturday, 6 October 2007

LAKI-LAKI YANG MENANGIS

Oleh : Pudji Isdriani K

Laki-laki muda itu tepekur di atas jembatan layang Pancoran. Selama sepuluh tahun dia melewati jembatan itu pada jam sibuk. Pagi berangkat dan sore pulang kantor.

Runitinas selama sepuluh tahun berlangsung biasa. Hingga pada suatu sore, laki-laki muda itu melihat pemandangan aneh. Ketika mobil yang dikendarainya melintas di atas jembatan, dia melihat seorang perempuan tua sedang menangis di dekat lampu merah. Anehnya perempuan tua itu menatapnya cukup lama.

Sudah sembilan kali tatapan aneh itu menerpa matanya, di tempat dan waktu yang sama, perempatan lampu merah, di kolong jembatan Pancoran pukul 18.00 WIB. Merasa penasaran, pada hari keduabelas dia lewat kolong dari arah jalan Gatot Subroto langsung lurus ke arah jalan MT Haryono. Anehnya, perempuan tua itu tidak ada! Padahal kemarin sore dia jelas-jelas melihatnya.

Tidak puas, besoknya laki-laki muda itu kembali lewat kolong jembatan layang Pancoran. Namun hasilnya nihil! Untuk beberapa saat laki-laki muda itu terdiam, dia baru sadar setelah mobil di belakangnya membunyikan klakson. Gelagapan dia memasukkan persneling ke gigi satu lantas tancap gas. Dihembusnya nafas kuat-kuat.

"Kemana perginya perempuan tua itu?" gumamnya tak habis pikir. Sebelas hari, di tempat dan waktu yang sama dia melihat dengan mata kepala sendiri perempuan tua itu menangis di dekat tiang listrik lampu merah perempatan Pancoran. Tatapan sendu yang dibarengi linangan air mata, sungguh menyayat-nyayat hati laki-laki muda itu. Seolah dia dibawa ke suatu masa yang berada di bawah bayang-bayang sadarnya. Dicobanya mengingat-ingat, namun tidak bisa.

Besoknya lagi, laki-laki muda itu memutuskan untuk ganti melewati jembatan layang. Siapa tahu kalau lewat jembatan, perempuan tua itu ada. Tepat pukul 18.00 WIB dia sampai di atas jembatan. Dibukanya kaca jendela mobil, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Benar! Perempuan tua itu ada di sana! Dia berdiri menatapnya sambil berlinang air mata.

Laki-laki muda itu memacu mobilnya. Setelah turun dari jembatan, dia menepi dan nekat parkir di pinggir jalan sebelum pertigaan Gelael. Dengan sekuat tenaga dia berlari ke arah perempatan lampu merah Pancoran. Kali ini dia ingin bertemu perempuan tua itu.

Orang-orang yang melihat laki-laki muda itu berlari-lari ke arah perempatan Pancoran keheranan.

"Gila tuh orang, seperti dikejar setan aja," kata seorang pelajar berseragam abu-abu putih yang nyaris tertabrak laki-laki muda itu.
Seorang ibu-ibu yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan benar-benar tertabrak sehingga tas yang ditentengnya jatuh. "Hei, lihat dong! Main tabrak aja!"

Laki-laki muda itu tidak peduli. Kali ini dia harus bertemu dan berbicara dengan perempuan tua itu. Pada saat berlari itu samar-samar dia membayangkan seraut wajah. Wajah yang lama dikenalnya tetapi entah di mana? Ketika seraut wajah itu hampir jelas tergambar tiba-tiba saja kabur. Sepertinya ada kabut tipis yang menutupinya.

Sampai di dekat lampu merah perempatan Pancoran, laki-laki muda itu celingukan. Ditajamkan pandangan matanya. Sekarang dia berada satu meter dari tiang lampu merah, namun perempuan tua itu raib entah ke mana. Digosok-gosok matanya, tetap saja tidak ada.

"Dik, lihat ibu tua yang tadi berdiri di sini?"
Dia bertanya pada pengamen yang berdiri tak jauh darinya.
"Ngak, Om, saya baru saja sampai."
Sekali lagi laki-laki muda itu celingukan. Saat dia berlari ke arah perempatan Pancoran paling hanya lima menit. Namun perempuan tua itu sudah lenyap. Seberapa cepat dia bisa menghilang di keramaian lalu lintas pada jam-jam sibuk seperti ini?

"Jangan-jangan dia naik metro mini atau mikrolet yang suka ngetem di dekat perempatan sambil menunggu lampu merah berganti hijau," pikir laki-laki muda itu.

Dia lantas merasa tidak mungkin menemukannya. Sebab, dalam waktu lima menit angkutan umum yang dinaiki perempuan tua itu bisa saja sudah menempuh jarak beberapa kilo. Merasa tidak berhasil, laki-laki muda itu lantas meninggalkan perempatan Pancoran.
"Kamu harus temukan perempuan tua itu."
Laki-laki muda itu bicara sendiri.
"Ke mana kamu menghilang, perempuan tua. Bantulah aku mengingat kembali siapa diriku. Aku ingin tahu masa laluku. Aku ingin tahu darimana asal-usulku. Hanya kamu yang bisa membantuku."

Malam harinya, laki-laki muda itu tak bisa tidur. Membayangkan wajah perempuan tua yang sedang menitikkan air mata, membuat laki-laki itu miris. Merasa tidak bisa menguasai kegelisahannya, laki-laki itu memutuskan untuk ke jembatan layang Pancoran.

Malam masih menyisakan remang dan menyebar hawa dingin. Meskipun di bawah jembatan ada penerangan lampu namun tidak sebenderang kala mentari mengirimkan hangatnya ke bumi.

Tiba-tiba dari arah jalan Supomo tampak sesosok bayangan. Jantung laki-laki itu berdetak lebih kencang. Tak salah lagi, dia adalah perempuan tua yang dicarinya!

Perempuan tua itu memandangnya sendu dan pelahan air matanya mengalir menelusuri pipinya yang keriput. Bertemu dengan perempuan tua tersebut dalam suasana dingin, sepi dan jauh berbeda dengan biasanya, membuat laki-laki itu terbayang peristiwa sepuluh tahun lalu.

Ya, perempuan tua itu mengingatkan dia kepada ibunya.
Saat berusia sebelas tahun, laki-laki itu tinggal bersama kedua orang tua dan lima saudaranya. Dia anak terkecil. Lingkungan tempat tinggalnya adalah perkampungan kumuh di kota Pontianak. Ayahnya pengguran dan suka berjudi. Ibunya menjadi pembantu rumah tangga untuk menghidupi keluarga. Kakak-kakaknya bersekolah hanya sampai SD. Setelah tamat SD mereka cari makan sendiri-sendiri.

Kelima kakaknya itu jadi preman, mencari uang dengan jalan haram dan merugikan orang lain. Ada yang jadi pencopet, maling, penodong, penjambret dan sejenisnya. Kelima kakaknya semua laki-laki. Memang lingkungan tempat tinggalnya buruk, semua penghuni bekerja seperti itu. Mereka suka berjudi dan minum-minum.

Laki-laki itu suka ikut ibunya bekerja di rumah Pak Danu. Majikannya yang bekerja di BUMN, menyukainya karena dia rajin, selalu mendapat ranking di sekolah, selalu shalat dan sangat sopan. Dia berbeda dengan kelima kakaknya dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Ibarat mutiara dalam lumpur, dia tampak berkilau. Jadi, ketika Pak Danu mutasi ke Jakarta, anak laki-laki itu dibawanya. Ibunya sangat sedih, sebab hanya anak bungsunya tumpuan harapannya. Namun demi masa depan yang lebih baik sang ibu merelakannya. Semalaman si ibu mendekapnya saat tidur dan membasahi rambutnya dengan air mata.

Perempuan tua itu telah membuka kembali ingatannya. Laki-laki itu menitikkan air mata. Ya, alangkah berdosanya dia. Ibu yang begitu tulus dan menyayanginya, dilupakan begitu saja karena dirinya sibuk bekerja di Jakarta.

"Maafkan aku, Ibu, aku memang anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih."

Air mata laki-laki itu terus mengalir membasahi kedua pipinya. Dia merasa telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Sekarang baru disadari kalau selama ini dia terlalu mengejar impiannya hingga melupakan asal-usulnya. Semua itu terjadi seperti air mengalir dan tidak disadarinya. Karena, setiap manusia menginginkan perubahan dalam hidupnya.

Semula laki-laki itu hanya menginginkan untuk menjadi salah satu yang terbaik. Dia ingin menunjukkan kepada keluarga dan masyarakat bahwa tidak semua keluarga buruk itu akan menjadi buruk pula. Namun di sisi yang lain, ada perasaan malu mengakui asal-usul keluarganya yang miskin.

Semakin mengingat ibu dan keluarganya di kampung, laki-laki itu menjadi semakin menyesali perbuatannya. Membayangkan betapa ibunya berjuang sendirian menghidupi keluarga. Membayangkan bagaimana ayahnya hanya berjudi dan suka memukuli ibunya, hatinya terasa pedih. Air matanya terus mengalir.

Tanpa disadari, sinar matahari di ufuk timur mulai menyeruak Menerobos gedung-gedung bertingkat di sekeliling jembatan layang Pancoran. Warnanya yang kuning keemasan memberikan nuansa cerah dan hangat. Lalu lintas menggeliat bergairah. Jalanan pun mulai bernyawa. Namun laki-laki itu masih mematung di atas jembatan layang. Dia semakin keras menangis.

Orang-orang yang lewat heran melihatnya. Laki-laki itu tidak peduli, dia terus menangis meraung-raung. Hingga akhirnya dilihatnya perempuan tua yang menangis itu melambai ke arahnya dan merentangkan kedua tangannya. Laki-laki itu pun tersenyum. Dia ingin menemani perempuan tua itu. Maka, tanpa rasa takut laki-laki itu pun terjun dari atas jembatan Pancoran.


Sumber : www.republika.co.id

Sajak-sajak Saefuddin Noer

NEGERI DIKSI


Negeri ini negeri diksi
Kaya wacana
Miskin eksekusi
Kaya logika
Miskin nurani

Saat orang-orang didera papa
Kita kehilangan daya
Saat beragam bencana menerpa
Kita terjebak kata-kata
Berputar mencari kambing hitam
Sambil berpura-pura lupa
akan pengrusakan hutan
Sambil berpura-pura benci
pada korupsi.

Negeri ini negeri politisi
Kaya rencana
Miskin aksi
Banyak berebut hak
Miskin berbagi tanggung jawab
Negeri ini negeri diksi
Miskin Eksekusi

Denpsar, 2006

HANYA PUISI

Langit siang begitu terang
Sedang merpati terbang riang
Seperti bernyayi
Seperti menari
Mengiringi pejalan kaki yang pergi
Dari kekosongan harapan
Ke arah tak pasti

Langit siang memang benderang
Sedang merpati melayang terbang
Tapi angin kota begitu dingin
Seperti orang-orang terasing
Dari harapan
Terbuang ke ruang kesia-siaan
Dengan mata kosong
Dan pakaian kesahajaan

Dimana mimpi indah penyair harapan?
Sebab yang terasa seperti suara mengerang
Didera luka perang
Yang tak terhentikan

Dimana kata-mantra yang menyembuhkan?
Sebab yang tersisa hanya curiga
Syak wasangka
Dalam dendam yang tak teredam
Bagai api dalam sekam

Lalu aku pun terdiam
Seperti mereka yang terluka
Tak sanggup bicara
Meski hanya kepada kotak-kotak suara

Lalu, aku coba bicara
Seperti mereka yang punya kuasa
Dari kotak-kotak suara
Meski bunyinya baru kata-kata
Meski baru tebar pesona
Bukan karya nyata
Meski hanya wacana
Bukan buah kerja

Sebab negeri kami baru berlimpah diksi
Bukan kemakmuran negeri.

Lalu, aku mengerti
Kalau aku baru belajar menulis puisi
Hanya puisi
Bukan pidato subversi!

Karachi, 26/1/2006

Drs U Saefudin Noer MSi adalah seorang banker yang juga aktif menulis puisi. Saat ini, almunus Fisip UI dan Master Komunikasi UI ini menjabat Direktur Bank Muamalat Indonesia. Sebelumnya, lelaki kelahiran Pandeglang, Banten, 15 September 1965, ini sudah malang melintang di sejumlah perbankan, antara lain Bank Danamon dan Bank Syariah Mandiri. Di sela-sela kesibukannya sebagai banker, mantan Ketua Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) ini selalu berusaha meluangkan waktunya untuk menulis puisi. Saat ini juga sedang menyiapkan kumpulan sajak dalam bentuk buku dan CD.


Sumber : www.republika.co.id

Saturday, 29 September 2007

ORANG-ORANG BANO

Oleh : Darman Moenir

Tiba-tiba orang-orang itu meradang. Bagai aktor teater yang kehilangan panggung, mereka berteriak histerikal seolah ke lapis langit ke tujuh, bahwa musibah adalah musibah, dan musibah tidak bisa dikait-kaitkan dengan Tuhan.

Sungguh-sungguh, ini konsep, gagasan, ide, pandangan hidup siapa, atau dari siapa? Jangan-jangan, konsep, gagasan, ide, pandangan hidup ini berawal dari orang-orang yang tidak mengenal Allah SWT, sekaligus orang-orang yang tidak bertuhan. Saya memang harus amat berhati-hati. Barangkali pandangan itu dari orang-orang yang tidak bertuhan, biarpun belum tentu orang-orang itu antituhan.

Soalnya, setelah Istano Gadang1) luluh-lantak diamuk si gulambai, orang-orang itu benar-benar merasa kehilangan. Dan, rasa kehilangan itu bagi mereka sangat besar. Mereka merasa kehilangan apa yang selama ini mereka puja-puji, mereka bangga-banggakan, mereka agung-agungkan, dan sangat mereka muliakan.

Istano Gadang itu bukan saja mereka puja-puji, mereka bangga-banggakan, mereka agung-agungkan, dan sangat mereka muliakan, tetapi bahkan juga mereka sembah-sembah. Dalam batin atau konkret, penyembahan itu menyebabkan ada sastrawan yang merumuskan, bahwa mereka memberhalakan Istano Gadang.

Tidak mungkin orang-orang itu tidak menganggap istana itu berhala kalau mereka tidak lebih mengutamakan keperluan istano daripada keperluan anak-istri mereka, keperluan keluarga, keperluan tetangga, keperluan orang-orang sekampung, bahkan juga keperluan orang seluhak2) dengan mereka.

Dan, ketika istano terbakar, hangus sehangus-hangusnya, sebagai akibat sambaran petir, orang-orang itu langsung menggerakkan orang sekampung, orang sekabupaten, orang seluhak, orang seprovinsi, bahkan orang serepublik dengan mereka, agar replika istana segera dibangun kembali.

Tidak tanggung-tanggung, presiden dan wakil presiden pun diupayakan terketuk hatinya untuk membantu pembangunan kembali Istano Gadang. Padahal, istana yang luntuh-lantak itu cuma replika yang dibangun sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Istana yang sesungguhnya, yang asli, dahulu juga terbakar.

Sangat susah merumuskan, mencarikan pembenaran, di negeri kami istano itu penting, apalagi mahapenting. Bicara masa silam, yang sangat jauh ke belakang pun, tidak pernah atau, paling kurang, belum pernah ditemukan bukti peninggalan sejarah, bahwa negeri kami itu berbentuk kerajaan. Apabila berbentuk kerajaan, pastilah ada raja. Apabila ada raja, bisa jadi ada istana.

Tetapi raja itu sama sekali tidak pernah ada. Apa yang pernah ada hanyalah datuak3 yang, dalam memegang kekuasaan, dimamangkan, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Itulah mereka Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan. Mereka adalah pemimpin yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, sama sekali tidak memerlukan istana.

Pemimpin kaum kami adalah orang-orang rendah hati, tahu diri, benar-benar mendahulukan kepentingan anak-kemenakan. Di zaman mereka, di kampung-halaman kami, di setiap musim tersua: padi masak jagung mengupih, anak-kemenakan berkembang biak.

Alkisah, Istano Gadang pun pernah menjadi simbol keperkasaan orang-orang itu. Kadang-kadang, lucu sekali, simbol mereka samakan dengan lambang. Padahal simbol adalah simbol dan lambang adalah lambang. Dalam konteks filsafat, pengertian antara satu sama lain sangat jauh berbeda. Dan, bagi mereka, istano menjadi simbol kehebatan, simbol keanggunan, dan, ya, simbol keperkasaan itu. Konon, di sana, dengan istana yang menjadi simbol itu, mereka memertaruhkan harga diri, dan bahkan, anggap mereka, jati diri.

Akan tetapi, itulah celakanya, perlakuan mereka terhadap istana itu aneh, untuk tidak mengatakan naif. Mereka tidak memelihara istana itu persis sebagaimana sebuah istana mesti dipelihara. Muatan dan isi istana itu tidak lagi mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, andai yang sesungguhnya itu memang ada. Beberapa replika benda yang berada di dalam tidak bisa mereka jelaskan secara akurat, proporsional dan profesional. Ketika seorang turis dari Jepang bertanya, mereka benar-benar tidak mampu memaparkan perbedaan Rumah Gadang4 dan Istano Gadang. Dan, paling tragis, setelah terbakar, di puing istano ditemukan botol minuman keras.

Belum lagi sindikasi kepentingan antara oknum pejabat pemerintah dan pialang budaya yang berkongkalikong dalam memasarkan istano yang, kata mereka, demi kepentingan pariwisata. Begitu pula risalah tanah ulayat di mana istana didirikan, tidak pernah tuntas! Sampai batas tertentu, setidaknya sampai replika istana terbakar, pemilik tanah masih mengambil sikap sabar, belum pernah bereaksi secara frontal. Ya, mengambil sikap mirip yang diwariskan kedua datuk itulah.

Orang-orang itu memang tak sempat merenung mengapa replika istana hangus terbakar. Biarpun mempunyai alat penangkap petir yang terpasang di setiap gonjong yang menjulang tinggi, namun dalam sekejap petir dapat saja berkelit, mengirimkan bunga-bunga api ke atap ijuk dan, dalam hitungan detik, bunga-bunga itu berubah jadi api dan membakar seluruh badan besar gempal bangunan, kecuali kerangka beton bertulang.

Padahal, dalam adagium yang sempat mereka dengung-dengungkan tiap sebentar, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,5 jelas termaktub keyakinan, apabila Allah SWT berkehendak, kun, jadilah! Artinya, apabila Allah SWT berkeinginan istano terbakar, dengan atau tanpa penangkap petir, istana itu pun terbakar. Jangankan membakar hanya sebuah replika istana, mengiamatkan dunia ini pun Allah SWT mampu!

Akan tetapi mereka, orang-orang itu, cuma memercayai, bahwa musibah adalah musibah. Bagi mereka, dengan demikian, ketika malam datang ya malam datang, dan kemudian apabila siang tiba ya siang tiba. Dan, mereka amat tersinggung ketika dikatakan, musibah itu sesungguhnya merupakan peringatan, ujian atau azab Allah SWT. Mereka tak menerima pengakuan, Allah SWT mengingatkan, menguji dan mencoba mereka.

Mereka menganggap, saya lebih mengetahui tentang apa yang bisa, sudah, sedang, dan akan dilakukan Allah SWT. Paling menakjubkan adalah penilaian mereka terhadap diri saya, bahwa saya sudah menuhankan diri sendiri. Astaghfiullah. Oke, itu penilaian mereka. Tetapi merasa masih menjadi bagian dari mereka, saya teringat bagaimana di antara kerabat dekat orang-orang itu, yang berarti juga kerabat dekat saya, pernah melakukan korupsi berjamaah. Benar-benar berjamaah!

Memang, tak perlu diusut siapa imam dan ke mana kiblat mereka, tetapi mereka, koruptur berjamaah itu, benar-benar memakan hak rakyat jelata. Di mimbar-mimbar mereka masih berkaok-kaok soal mengenyahkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat, tetapi dalam perbuatan setiap hari mereka selalu tidak terpuji.

Tidak sepekan kemudian, di kampung-halaman kami pun terjadi gempa yang meluluhlantakkan rumah-rumah warga, rumah-rumah ibadah, bangunan-bangunan pasar, kantor-kantor pemerintah dan area pertanian, jalan raya, jalan setapak, lereng serta bukit. Gempa bumi selama beberapa detik itu pun mereka anggap sebagai musibah belaka. Mereka berteori, peristiwa gempa bukan kejadian baru. Daerah kami pun dikatakan dilalui garis gempa.

Dan, ketika risalah ini saya teleponkan kepada sastrawan itu, saya menerima pesan pendek: mereka, orang-orang itu, menjadi orang-orang bano6) yang tidak perlu ditanggapi serius. Syahdan penyebab kebanoan mereka adalah terbalik kaji7). Dan itu harus mereka tanggungkan sampai akhir hayat.

Keterangan:
1. Istano gadang = istana besar.
2. Seluhak = sedistrik.
3. Datuk = pemimpin (kaum).
4. Rumah Gadang = rumah adat, bergonjong-gonjong.
5. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah = adat bersendi syarak, syarak bersendi kitab Allah (Alquranulkarim).
6. Bano = senu, nyaris gila.
7. Terbalik kaji = studi agama (Islam) yang jungkir-balik.


Sumber : www.republika.co.id

Sajak-sajak Marhalim Zaini

RIWAYAT MEMPELAI

Macam senepak ia merangkak
di jenjang sebuah surau
menggapai gaib maghrib
yang raib lekas melepas
pada tempias gerimis
ia menepis tangis

ada betina di matanya
meremas sirih rindu
bagai meremas waktu
duh, pedih disepah
terburai ke tanah
bersepai segala kisah
pada cincin ia bercermin
yang repak ia sepak
pun sorak anak-anak
terserak kian berbiak
wahai, di mana kauletak
surat cinta yang koyak!

Pekanbaru, 2007

LANUN LAUT

kau merampok sayap rumah orang laut, tuan
hingga ikan-ikan merayau mencari tuhan

tiap petang ada saja yang patah dayung
tiap lengang ada saja yang cari untung

matahari kian renta dalam lubang jala senja
matamu tak berlampu dan silau pada cahaya

siapa yang memikul kayu kapal karam itu
siapa pula yang menikam-nikam batu-batu

pergilah jauh ke ceruk sunyi tubuhmu
aku sedang menakik luka masa lalu

demam seluruh kampung disuntik waktu
sampai terlupa mengaji kitab rindu

Pekanbaru, 2007

BEGITUKAH CARANYA
MENGHINDARI TUHAN

Juga jam, urat darahmu yang dingin,
kutemukan ia terpekik, jatuh.

Luka yang satu itu, kadang menyala,
di lubang tubuhmu, minta ampun,
minta tuhan untuk tersenyum.

Padahal asap di matamu itu, pernah mengaburkan
jarak pandang, antara aku dan rumah kayu,
atau antara mataku dan hatimu.

Ucapkanlah assalamualaikum pada hutan itu,
yang tak beragama, tapi takut menyimpan dosa.
Aku tahu ada yang berbisik di kupingmu,
Sssst, kau mau menghindari tuhan?

Kauingat lukah itu, di anak sungai yang kurus,
kita jadi pelacur, terhenyak dalam semak,
Berapa harga kelaminmu?

Bukan semata tentang kelamin, tapi sejarah,
tentang adam-hawa, dan kesetaraan cinta.
Maaf, jangan meludah sembarangan, tuan!

Ini rumah sampah, tubuh tak berjendela,
kadang burung gereja juga bersembahyang,
membangun surau, kadang malaikat
juga berjualan minuman, mabuk-mabukan,
kadang sandal jepit kita hilang, songkok kita,
gaun kita, sarung kita, celana dalam kita....

Yang hilang, hilanglah. Semacam derita,
yang sekarat, bersengkarut berlarut-larut.
Tapi kau paling pandai membunuh waktu,
di belakangmu kuburan-kuburan berhantu.
Hmm, begitukah caranya menghindari tuhan?

Pekanbaru, 2006

Marhalim Zaini, Lahir di Teluk Pambang Bengkalis Riau, 15 Januari 1976. Buku puisinya yang telah terbit adalah Segantang Bintang Sepasang Bulan (2003) dan Langgam Negeri Puisi (2004). Meraih Ganti Award 2005 untuk novelnya, Getah Bunga Rimba, dan menerima Anugerah Seni 2005 dari Dewan Kesenian Riau sebagai Seniman Pemangku Negeri (SPN) bidang sastra. Kini berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau, Pekanbaru sambil menggerakkan Komunitas Paragraf.


Sumber : www.republika.co.id

Saturday, 22 September 2007

PENYESALAN MARNI

Oleh : Humam S Chudori

Sejak di-pehaka, Himawan sering sekali dirawat di rumah sakit. Penyakit asma yang dideritanya sering kambuh. Padahal, sebelum kena pehaka, ia jarang dirawat di rumah sakit kendati tiap bulan mesti mengunjungi dokter. Tragisnya, setelah empat kali dirawat di rumah sakit, Marni mengalami nasib serupa dengan suaminya -- kena pehaka. Sejak itu neraca keuangan keluarga Himawan mulai goncang.

"Jadi orang itu jangan penyakitan," kata Marni, tatkala suaminya pulang dari rumah sakit, setelah kesekian kalinya ia dirawat. Himawan diam. Betapa tidak, baru dua langkah pasangan suami-istri itu masuk ke dalam rumah, Marni sudah melontarkan kalimat ketus. "Kalau sudah begini, apalagi yang harus dijual?" kata Marni lagi.

Himawan tak menyahut. Hatinya terasa sakit mendengar kalimat yang dilontarkan istrinya. Rasanya ia ingin mendaratkan tamparan ke muka perempuan itu jika tidak ingat tubuhnya sendiri masih lemah.

Sebetulnya ia ingin langsung ke kamar, tiduran. Namun, setelah mendengar kata-kata istrinya itu tubuhnya langsung lemas. Gemetar. Limbung. Matanya seperti berkunang-kunang. Kepalanya terasa nyut-nyutan. Ia kehilangan tenaga untuk melangkah ke kamar. Karena itu, ia langsung duduk di atas tikar. Di ruang tamu.

Rumah itu memang sudah lama tak punya kursi tamu lagi, sudah mereka dijual. Sebelumnya beberapa perabotan rumah lain -- televisi, kulkas, dan bupet -- juga sudah mereka jual.

Sejak tak ada meja kursi tamu, di ruangan yang tidak terlalu luas itu hanya ada selembar tikar plastik yang tak pernah digulung.

Watak asli Marni baru disadari Himawan setelah anak pertama mereka lahir. Semula sifat buruk istrinya dianggap Himawan sebagai bawaan jabang bayi, lantaran istrinya nyaris tidak mengalami kekosongan. Setelah dua bulan dinikahi Himawan. Sikap dan kelakuan Marni mulai berubah.

Ketika pertama kali berhenti haid, Himawan menganggap kelakuan perempuan itu berubah karena mengalami fase ngidam. Himawan menyadari orang yang sedang ngidam -- seperti yang sering didengarnya dari orang lain -- emosinya labil. Itulah sebabnya lelaki itu berusaha untuk tidak tersinggung. Dia sendiri sangat berharap secepatnya mempunyai keturunan, lantaran terlambat menikah.

Bukan sekali dua kali Himawan mendengar cerita tentang kelakuan orang ngidam yang berubah nyleneh. Menjadi manja, gampang cemberut, bahkan serba ingin menang sendiri. Meski pada umumnya orang ngidam cuma ingin makan yang serba pedas atau masam. Kebiasaan orang ngidam seringkali menjadi aneh, kolokan, bahkan tidak jarang membuat suaminya kesal.

Ketika Erna -- adik Himawan -- ngidam bukan hanya sekali menyuruh suaminya membelikan bakso di tengah malam. Widodo pun mengabulkan permintaan Erna. Ia terpaksa mencari makanan yang diminta 'jabang bayi'.

Namun, alangkah kesalnya lelaki itu setelah sampai di rumah. Erna hanya mencoba sesendok kuahnya. Dan, makanan yang diperoleh dengan susah payah itu tidak disentuh sama sekali. Celakanya jika permintaan Erna tidak dituruti, ia akan marah-marah kepada suaminya. Meskipun demikian, Widodo tak berani menolak permintaan 'sang jabang bayi'.

Memang tidak sedikit orang ngidam yang tidak berubah kelakuannya. Tidak ada perubahan perilaku atau kebiasaan, kecuali menjadi sering muntah karena perutnya terasa mual.

Andaikata tak pernah memikirkan masa depan anak, barangkali, Himawan sudah menceraikan istrinya. Ia sudah merasakan sendiri betapa tidak enaknya menjadi korban perceraian orangtua. Lantaran ia dan dua orang adiknya memang produk rumahtangga yang berantakan alias broken home.

Ketika masih bekerja, Marni acapkali berkata kepada Rita -- tetangga depan rumahnya -- kalau dirinya tidak bekerja, kebutuhan rumah tangganya pasti takkan pernah bisa tercukupi.

"Berapa sih gaji seorang sopir seperti suami saya?" kata Marni, tatkala mereka belum di-pehaka, mengeluh kepada Rita usai menceritakan penghasilannya.

"Sama saja, Mbak," kata Rita jika tetangga depan rumahnya sudah berkata demikian, "Suami saya juga sopir." "Kalau suami Dik Rita lain. Biar sopir tapi sopir kedutaan besar. Pasti gajinya besar. Karena itu, kamu tidak perlu bekerja lagi seperti saya."

Apabila Marni sudah mulai membicarakan penghasilan suaminya, Rita berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Waktu itu mereka -- baik Himawan maupun Marni -- masih aktif bekerja. Mereka masih punya penghasilan. Namun, setelah di-pehaka Marni tak berani lagi membicarakan gajinya. Ia tak pernah membanggakan penghasilannya.

Walaupun demikian, toh ternyata Marni masih merasa lebih hebat dari para tetangganya yang tidak bekerja. Ia memang sering melecehkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya tak ada tetangga yang mau dekat dengan Marni, kecuali Rita.

Sejak di-pehaka, Marni tidak pernah melamar kerja lagi. Karena, ia sudah tak mungkin bekerja lagi. Pertama, karena usianya sudah di atas kepala empat. Kedua, pendidikannya pas-pasan. Hanya berijazah slta dan tidak punya ijazah lain. Ijazah dari kursus ketrampilan, misalnya.

Dan, ketiga, pengalaman kerjanya tidak bisa digunakan sebagai referensi mencari pekerjaan lain. Sebab pekerjaannya hanya sebagai pemandu penonton bioskop. Ya, tugas Marni di tempat kerjanya hanyalah mengantar penonton ke kursi sesuai dengan nomor karcisnya. Sementara itu, sudah banyak bioskop yang tidak mampu bertahan. Menghentikan usahanya. Tidak beroperasi. Gulung tikar.

Untungnya, Hendy, ayah Himawan, meninggalkan warisan kepada anak-anknya, termasuk Himawan. Sebuah rumah yang kini dikontrakkan. Dari hasil kontrakan itulah keluarga Himawan berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari selama belum mendapatkan pekerjaan lagi, meski tidak cukup juga.

"Kalau sudah begini apalagi yang masih bisa dijual, Mas?" Marni mengulang pertanyaan sebelumnya, setelah lama Himawan tak melontarkan sepatah kata pun.

Himawan masih duduk mematung. Mengatur napasnya yang tak teratur. "Orang ditanya istri kok diam saja."
"Rumah warisan bapak masih ada," kata Himawan, pelan. Nyaris tak terdengar. Setelah ia berhasil menepis rasa galau yang memenuhi benaknya.
"Sudah gila kamu, Mas?"
"Tadi kamu tanya barang apalagi yang masih bisa dijual. Rumah peninggalan bapak masih laku dijual. Kalau laku dijual masih cukup untuk biaya hidup kita. Paling tidak dalam waktu beberapa tahun ke depan," jawab Himawan lemah. "Jika nanti kurang ya rumah ini yang kita jual."
Marni diam.
"Kalau bukan rumah itu apalagi, coba pikir? Jual perabotan? Perabotan apa yang masih bisa di jual? Tikar atau bantal? Atau jual tenaga? Nyatanya kita juga sudah tidak bisa bekerja? Bukankah ini artinya tenaga kita juga sudah tak laku?" kali ini Himawan sudah tidak kuasa untuk menahan kekesalannya. Suaranya gemetar.

"Mas!"

"Atau kamu mau jual diri? Jual diri kamu juga sudah tidak laku. Kamu su... sudah tua...."
Himawan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Nafasnya sesak. Dia terjatuh. Tidak kuat duduk. Tubuhnya mendadak kejang-kejang. Mulutnya terkatup rapat. Nafasnya berhenti.

Dengan terbata-bata Marni menceritakan kematian suaminya kepada Rita, tetangga depan rumahnya. Ada nada sesal, tatkala ia menceritakan peristiwa yang telah menyebabkan Himawan menghembuskan napas terakhirnya.
"Andaikata akan begini jadinya...." Marni tak melanjutkan kalimatnya.
"Ya, sabar saja, Mbak. Barangkali sudah menjadi suratan takdir."
"Masalahnya bukan itu, Rita," Marni memotong kalimat Rita, "Almarhum masih meninggalkan utang sama saudara-saudara saya. Ya, selama ini biaya rumah sakit sudah tidak ditanggung kantor. Lha wong Mas Himawan sudah tidak kerja."
Rita masih diam.
"Untungnya, dulu saya juga kerja. Kalau tidak, mungkin utang almarhum bisa dua kali lipat lebih. Selama ini saya yang menanggung biaya keluarga. Gaji suami selama ini sudah habis buat biaya berobat. Di kantornya, Mas Himawan hanya mendapat ganti sebagian dari biaya yang dikeluarkan. Itu pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya yang harus kami tanggung selama ini. Sebab, tiap bulan Mas Himawan, tidak bisa tidak, harus tetap berobat. Terlambat berobat, ia harus dirawat," lanjutnya berapi-api. Rita tetap diam.
"Coba kalau saya tidak pernah bekerja, apa tidak...."
"Maaf," Rita memotong kalimat yang belum usai dilontarkan Marni, "Perut saya sakit. Ingin buang air."
Dengan tergopoh-gopoh Rita pulang. Ia tidak ingin mendengar kalimat Marni selanjutnya. Kedatangan Rita ke rumah Marni, malam itu, semula hendak menghibur sang tetangga yang belum genap seminggu ditinggal suaminya. Namun, setelah mendengar ceritanya Rita justru merasa muak. Bahkan kesal.
Yang disesalkan Mbak Marni ternyata bukan karena kematian suaminya, tapi karena almarhum masih meninggalkan utang, pikir Rita.


Sumber : www.republika.co.id

Sajak-sajak Yopi Setia Umbara

BULAN MARIAM
: Mariam Supraba

o, bulan
yang sembunyi dalam gelap
di balik samping langit mariam
dengarlah getar jantungku
yang menjatuhkan bintang-bintang
jadi daun-daun kering ke tanah

duhai, mariam
yang meruntuhkan malam
aku ingin mendaki tebingmu
untuk meraih datangnya bulan
juga menjauh dari keriuhan negeri
menertawakan aksi akrobatik
aktor-aktor politik

mariam, tanggalkan samping langitmu
agar bulan bercahaya lagi
agar menerangi jiwaku yang kusut
oleh pertunjukan-pertunjukan murahan
di televisi

2007

TERPOJOK DI KOTA

di ledeng
bulan tergelincir ke terminal
pecah berkeping
terangkut angkot-angkot
terjerumus ke bis-bis
dan tersebar ke kota-kota
ke kampung-kampung yang sunyi
ke sawah-sawah
yang ditinggalkan para petani

alir darah dalam tubuhku
mengalir dari sawah-sawah
yang kesepian
yang kehilangan sentuhan kasih
mereka menggigil di malam hari
kepanasan di siang hari
tiada siapa pun melindungi
tidak juga aku yang terpojok di kota
sejak dilahirkan
serupa bulan yang terselip
dalam buku-buku berdebu
pada rak-rak berjala laba-laba

2007

TELAH BANYAK KUTULIS*

telah banyak kutulis tentang perjalanan
tentang laut yang jadi muara
dari segala alir sungai pencarian
juga tentang gunung-gunung
yang menghimpit tanah bukit misteri
tapi tak kuasa kutemukan cintamu
yang tulus seperti waktu
yang tak pernah meminta kembali kenangan
yang telah ditinggalkan

2007

* Judul puisi yang juga pernah ditulis Ajip Rosidi pada tahun 1972.

SEKADAR PULANG

seperti perahu nelayan
sehabis berlayar
menjaring ikan kecil di laut
pulang ke rumah
adalah merapat di pelabuhan
sekadar bertambat sebelum kembali
menjelajahi lautan waktu
yang masih misteri

2007

Yopi Setia Umbara lahir di Bandung, 30 Maret 1984. Aktif di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI periode 2006/2007. Penggiat jurnal-zine RajaKadal. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media massa Bandung dan Jakarta. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam buku antologi puisi Penyair Muda 4 Kota Herbarium, dan 142 Penyair Menuju Bulan. Tinggal Bandung.


Sumber : www.republika.co.id

Saturday, 15 September 2007

CERITA BOHONG DI SIANG BOLONG

Oleh : N Mursidi

Kampung Polandak gempar. Persis selepas Dhuhur, seorang pemuda dikabarkan terbenam sebatas leher di kuburan ibunya, selang ia meletakkan jenazah wanita itu di peristirahatan terakhirnya. Setelah jenazah wanita yang meninggal saat shalat itu tergolek di lubang kubur, si anak membuka tali pengebat kain kafan, dan tiba-tiba tanah di sisi kuburan longsor menimbunnya.

Laksana angin, kabar itu cepat tersebar luas ke pelosok kampung. Warga terperangah. Semua orang heboh. Di setiap penjuru kampung, di pangkalan ojek, di mushala dan juga warung-warung rokok serta terminal, cerita ganjil itu jadi bahan gunjingan.

"Itu azab Allah yang sudah sepantasnya diterima oleh seorang anak durhaka. Bagaimana tidak? Lantaran si ibu tak menuruti permintaannya untuk dibelikan motor, kok ia menjadi gelap mata dan tega membunuh ibunya sendiri yang sedang shalat," ceracau Mak Turi, janda pemilik warung rokok di kampung Sumber Girang, sekitar 10 km dari kampung Polandak.

"Lho, Mak Turi tahu dari mana?" tanya Mak Sri, yang kebetulan sedang membeli gula pasir dan obat nyamuk bakar di warung Mak Turi.

"Tadi ada tukang ojek yang bercerita saat membeli rokok di sini," jawabnya dengan sombong karena dia merasa selalu mendapat kabar lebih dulu dibanding orang-orang lain di kampungnya. "Apa Mak Sri tidak ingin datang ke Polandak untuk melihat?"

"Apa cerita itu benar? Apa Mak Turi percaya?" tanya Mak Sri ragu. "Semua orang sudah tahu tentang cerita ini! Maka, cepet, Mak! Saya aja mau tutup karena mau pergi ke sana untuk melihat wajah pemuda durhaka itu!"

Tergopoh-gopoh Mak Sri segera beranjak pergi dari warung Mak Turi. Ia sudah tak sabar ingin mengajak kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar supaya bisa melihat kejadian yang ganjil tersebut. Apalagi, Mak Sri selama ini hanya melihat keganjilan seperti itu di tivi.

Usai berdandan seadanya, tak perlu membasuh muka dan hanya menyampirkan selendang yang lusuh di pundak, Mak Sri langsung menggeret kedua tangan anaknya, Slamet dan Bejo. "Siang ini, emak akan mengajak kalian berdua pergi ke Polandak! Akan emak tunjukkan pada kalian bagaimana pemuda yang durhaka pada ibunya itu diadzab oleh Allah."

"Tapi Slamet mau main layang-layang, Mak," bantah Slamet, anak pertama Mak Sri yang sudah duduk di kelas empat SD.

Dengan gesit, Slamet pun menarik tangannya dari genggaman tangan Mak Sri untuk melepaskan diri. Tetapi, genggaman tangan emaknya cukup kuat untuk dilerai. Slamet tak bisa berkutik.

"Untuk siang ini, tak ada main layangan. Tetapi, emak berjanji nanti akan membelikan kalian layang-layang dan benang baru dari toko," bujuk Mak Sri pada kedua anaknya.

Slamat dan Bejo langsung girang. "Saya mau ikut, asal mak tak bohong!" kata Slamet dan Bejo nyaris serentak.

"Tapi, nanti sepulang dari sana!"
Muka Slamet dan Bejo pun merona riang. Maka kedua bocah kecil itu diam dan menurut ketika Mak Sri menggeret kedua tangannya keluar rumah. Tergesa-gesa, Mak Sri mengunci pintu rumah, lantas menggapit kedua tangan anaknya dan melangkahkan kaki ke perempatan jalan.

Matahari terasa panas, menyengat kulit juga membakar ubun-ubun. Keringat Mak Sri menetes dari dahi menggelincir ke pilipis dan terjatuh ke leher. Mak Sri menjadikan selendangnya sebagai penutup kepala yang ia perlebar untuk melindungi kedua anaknya dari terik mentari.

Tergopoh-gopoh Mak Sri berjalan. Sesampai di perempatan jalan, dia menarik napas panjang. Napas Mak Sri serasa kembang kempis, naik turun. Terik mentari membuat tenggorakannya kering kerontang. Dia menyeka kening anaknya dengan selendang. Sementara, tatapan kedua bocah kecil itu menerawang jauh ke arah jalan raya.

Tak kunjung ada angkutan umum yang melintas di jalan. Mak Sri jadi gelisah. Menunggu di bawah terik matahari apalagi ia membawa kedua anaknya yang masih kecil di tepi jalan, memang tak ubahnya seperti siksaan. Bukan apa-apa, agar kedua anaknya itu tak berlarian.

Saat mematung, menunggu angkutan lewat, Slamet tiba-tiba mengagetkan emaknya, "Memang, ada kejadian apa di kampung Polandak, Mak?"

Gelagapan, Mak Sri membalikkan muka. Lalu, dia pandangi Slamet. "Nanti kamu tahu sendiri! Makanya, jika disuruh emakmu itu jangan suka membantah. Tadi aja, kamu disuruh mak membeli obat nyamuk dan gula pasir tak mau. Jika kamu sudah besar, besok mau jadi apa? Apa mau terkubur sebatas leher di makam emakmu seperti yang akan kamu lihat nanti?"

Slamet diam. Mak Sri kembali menanti angkutan yang melintas dari arah terminal. Dan, ketika samar-samar tampak angkutan umum, hati Mak Sri sedikit lega. Dia lambaikan tangan, menghentikan angkutan umum yang hendak melintas. Tapi, angkutan umum itu terus melaju, karena penuh. Di pintu angkutan, beberapa penumpang bahkan sudah bergelayutan.

Kembali, Mak Sri melihat angkutan. Hatinya lega. Tapi lagi-lagi, saat angkutan itu sudah dekat dengan tempat Mak Sri berdiri, dia tak dapat berkutik setelah tahu angkutan itu sudah penuh sesak oleh penumpang. Mak Sri kembali menatap ke tanah mengutuk keramaian penumpang yang di siang itu tidak seperti biasanya.

Lama berdiri di jalan, kesabaran Mak Sri mulai hilang. Untung, di saat kesabaran Mak Sri mau hilang, terlihat sebuah angkutan umum yang melaju. Persis di depan Mak Sri angkutan itu berhenti. Mak Sri dan kedua anaknya bergegas naik.

Sesampai di pemakaman umum Polandak, Mak Sri terpana melihat kerumunan orang. Mak Sri berjalan memasuki tanah pemakaman, menggandeng tangan kedua anaknya dan membayangkan kejadian aneh di tivi tentang orang mati yang kuburnya tiba-tiba dipenuhi air, padahal saat itu tak lagi turun hujan. Juga kejadian ganjil lain seperti jenazah yang dapat memanjang tiba-tiba ketika dimasukkan ke liang kubur.

Kini, Mak Sri sudah ada di pemakaman. Dalam benaknya, sebentar lagi ia akan menyaksikan sendiri kejadian aneh seperti yang biasa dia tonton di tivi. Mak Sri hanya berharap satu hal, semoga kedua anaknya sadar, tidak lagi nakal dan tak lagi membantah jika disuruh untuk membeli sesuatu.

Mak Sri terus melangkah di bawah terik mentari, dengan menggandeng Slamet dan Bejo. Tapi belum sempat kakinya melangkah jauh memasuki makam, Mak Sri berpapasan dengan Mak Turi, "Mak di sini ternyata tidak ada kejadian aneh apa pun! Entah siapa yang mengarang cerita bohong ini. Kurang ajar!"

Kaki Mak Sri lemas. Lututnya serasa gemetar, dan terik mentari membuat kepalanya tiba-tiba menjadi pening. Ia tak menyangka, jika kabar yang dia dengar dari Mak Turi itu ternyata cerita bohong di siang bolong.

Malam itu, di warung kopi terminal, Mudrik tertawa girang. Sampai jakun lelaki bertato yang bekerja sebagai sopir angkot itu terlihat membengkak setelah dia tertawa terpingkal-pingkal bersama sopir dan kernet-kernet yang lain. "Yu, tambah kopi!" ucap Mudrik, seraya mengambil pisang goreng, tidak jauh dari tempat duduknya.

Yu Jilah, janda pemilik warung kopi itu, pun segera memenuhi perintah Mudrik. Yu Jilah tahu, malam ini Mudrik tebal kantong dan pasti akan melunasi utang-utangnya. Mudrik tertawa tiada henti. Ia baru diam ketika pisang goreng yang masih panas itu menyumbat mulut besarnya. Kopi panas yang disodorkan Yu Jilah pun segera ia seruput dengan rakus.

"Kamu memang cerdas, Mudrik," sanjung Markom, juga sopir angkot, memujanya. "Kalau boleh tahu, dari mana kamu mendapatkan ide gila itu?" tanyanya lebih lanjut, dengan mata berjuling-juling.

"Aku berpikir, setelah BBM naik, nyaris kita tekor setoran. Kapan lagi kita akan bisa mendapat uang banyak seperti hari ini jika aku tak menghembuskan berita dan bohong itu."

"Wah, orang gila sepertimu kadang juga membawa keberuntungan. Hari ini kita semua tidak hanya panen bahkan dapat berkah karena kita narik lebih ramai dibanding hari lebaran!" ujar Markom lagi.

"Aku harus pulang dulu! Istriku sudah nunggu di rumah dan pasti akan senang kalau dia melihat penghasilanku hari ini," ucap Mudrik, sambil mengangkat kakinya yang terselip di balik kursi, kemudian melangkah ke arah angkot tua yang terbujur kaku di ujung jalan.


Sumber : www.republika.co.id