<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231</id><updated>2012-02-16T17:15:20.166-08:00</updated><title type='text'>Yogyakarta Berhati Nyaman</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>59</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-5171480217769090401</id><published>2008-04-13T16:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T16:41:04.748-07:00</updated><title type='text'>Gabung dengan Dynasis</title><content type='html'>http://www.klikdynasis.net/?id=UB026 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GRATIS, TANPA RESIKO, DAPAT BONUS &amp; MUDAH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* GRATIS Biaya Pendaftaran, potensi Rp. 5.314.320/bln...&lt;br /&gt;* TANPA RESIKO! Produk Pasti Terpakai...&lt;br /&gt;* Walaupun GRATIS tetap dapat BONUS langsung...&lt;br /&gt;* Sistem Canggih, MUDAH &amp; GRATIS (Online/Offline)...&lt;br /&gt;* Bonus Berulang-Ulang setiap bulan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari Rp. 0,- &amp; benar-benar sampingan:&lt;br /&gt;http://KlubPulsa.com/?id=j4p4ck&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-5171480217769090401?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/5171480217769090401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=5171480217769090401' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5171480217769090401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5171480217769090401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2008/04/gabung-dengan-dynasis.html' title='Gabung dengan Dynasis'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-2246535300442174364</id><published>2007-10-13T16:45:00.000-07:00</published><updated>2007-10-13T16:46:40.420-07:00</updated><title type='text'>PULANG</title><content type='html'>Oleh : Lila Fitri Aly &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana mencekam di Banda Aceh sejak malam tadi. Warga kota enggan beraktivitas. Mereka lebih banyak berdiam diri, atau mengobrol kecil di warung kopi. Kalaupun ada toko yang buka, hanya pintunya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedihan itu semakin menggigit sejak azan shubuh didengungkan dari Masjid Baitturahman, yang menoreh tajam di sela-sela keheningan pagi, mengharu-biru pendududuk kota. Rasa nyeri itu makin menganga ketika Tgk Abdullah, imam masjid, memimpin jamaah di pagi itu. Sesekali terdengar sedu-sedannya ketika ia melantunkan ayat-ayat suci Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh memang sedang berduka, dengan terbunuhnya Teuku Nyak Daud, seorang tokoh dari generasi yang lebih muda, yang memiliki dedikasi tinggi bagi tanah kelahirannya. Trauma tsunami belum lagi habis terkikis, tapi air mata darah itu tumpah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teuku Nyak Daud adalah anak kandung Teuku Nyak Makam, seorang bangsawan Aceh yang terbunuh pada tahun 1950-an. Ketika itu terjadi konflik tajam antara kaum ulama dan hulubalang. Nyak Makam sempat melarikan diri ke Idi, tetapi tewas diracun oleh musuhnya. Padahal, kebaikan dan kepemimpinan tokoh itu diakui banyak pihak. Tampaknya, politik adalah politik, yang selalu makan korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pulang ke Aceh, Nyak Daud adalah seorang pengusaha sukses yang berkiprah di Indonesia Timur. Bisnis utamanya adalah produksi batu bara yang tersebar di Kalimantan dan Sulawesi. Rekanannya adalah perusahaan-perusahaan asing raksasa yang banyak membutuhkan batu bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kesibukannya, Nyak Daud tetap mengikuti perkembangan di Aceh. Dia prihatin dengan kondisi daerah yang tak pernah sepi dari gejolak itu, apalagi setelah dihantam tsunami. Karena kepeduliannya, maka dia mendirikan yayasan yang bisa memberikan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat miskin. Untuk kepentingan itu, Nyak Daud rela mundur dari bisnisnya, dan berkonsentrasi penuh pada pekerjaan sosial. Lagipula usahanya sudah mapan dan telah diserahkan pada profesionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedikasi, kepedulian dan keikhlasannya dalam pekerjaan sosial itu menginspirasi seorang pejabat pemerintah sehingga mempercayakan padanya posisi ambassador bagi sebuah organisasi kemanusiaan yang dibentuk khusus untuk menangani beragam persoalan pasca-tsunami. Pekerjaan itu membawanya pulang ke akarnya. Keluarganya tetap tinggal di Jakarta, dan mereka selalu mengkhawatirkan dirinya, apalagi selama ini Aceh selalu identik dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Allah memanggil, di manapun, kapanpun bisa, tidak mesti di Aceh," katanya. Dia merasa, usia 60 tahun adalah saat tepat untuk pulang dan mengabdi pada sesama manusia, sekecil apapun. Namun, rupanya banyak orang yang mengincar posisi ambassador itu. Nyak Daud baru menyadarinya setelah bertugas. Betapa tidak, organisasi itu memiliki proyek yang nilainya triliunan rupiah. Ada sekelompok orang menganggap Nyak Daud sudah mapan, kok masih berambisi dengan pekerjaan itu. Padahal, bagi Nyak Daud itu adalah proyek ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyak Umar, adalah salah seorang yang begitu menginginkan jabatan itu. Dia adalah bekas pejabat daerah, yang tidak begitu harum namanya. Lobinya baik di daerah maupun ke pusat cukup kencang. Dia merasa berhak mendapatkannya, karena ia merasa dirinya putra daerah dan puluhan tahun mengakar di Aceh. Dia merasa tak senang pada Nyak Daud, yang baru come back ke kampung tapi malah mendapatkan kehormatan itu. Dalam pandangannya, dialah yang paling berhak menjadi komandan di lembaga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nyak Umar menekan aku terus," ucap Nyak Daud pada Yusran, asisten yang merangkap supirnya sekaligus teman diskusinya.&lt;br /&gt;"Apa maksud Abang?" tanya Yusran.&lt;br /&gt;"Ya, dia memaksaku membeli tanahnya," ucap Nyak Daud kecewa. Nyak Umar tahu kalau Nyak Daud membutuhkan banyak tanah untuk pembangunan infrastruktur.&lt;br /&gt;"Apa masalahnya, Bang? Kalau lokasinya bagus, harganya normal, kenapa tidak?" tanya Yusran polos.&lt;br /&gt;"Itulah masalahnya. Dia mengajukan harga yang tidak masuk akal. Dia menaikkan harga sampai empat kali lipat. Sulit aku menerimanya," keluh Nyak Daud.&lt;br /&gt;Daud dikenal sebagai pengusaha yang berhasil karena ketelitiannya, kehati-hatiannya dan kesungguhannya bekerja. Walaupun pekerjaan sosial, dia tetap menetapkan standar yang tinggi. Dengan uang yang ada dia ingin membangun sekolah, pesantren, perpustakaan, mesjid yang lebih banyak di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bak gula, Nyak Daud banyak didekati semut. Proyek triliunan rupiah yang ditanganinya menggiurkan banyak orang. Mereka menawarkan berbagai fasilitas dan keuntungan kepadanya. Nyak Daud bukan orang bodoh. Ia tak mudah disuap. Tak heran banyak orang tak senang padanya. Mereka menganggap Nyak Daud alot, kaku dan tidak bisa diajak bekerja sama. Nyak Umar adalah salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, Abang tahu enggak siapa Nyak Umar itu?" tanya Yusran dengan cemas. Selama ini tak terpikirkan olehnya betapa riskannya posisi yang dijabat bosnya. Apalagi sekarang orang menghalalkan segala cara demi tercapai tujuan.&lt;br /&gt;"Ya, aku tahu," jawab Nyak Daud tenang.&lt;br /&gt;"Hati-hati, Bang, dia punya jaringan kuat. Abang punya pistol tidak? Kalau perlu, biar aku cari," tambah Yusran serius. Suaranya berubah pelan. Dia merasa seperti ada yang membayanginya.&lt;br /&gt;"Sudah, sudah, tenang saja. Tak perlu senjata. Mudah-mudahan Allah masih memberiku umur panjang. Masih banyak tugasku yang belum tuntas," katanya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Nyak Daud memberikan sebuah kesegaran di daerah itu. Ketekunannya dalam bekerja, kejujurannya, keikhlasannya dan empatinya yang besar terhadap penderitaan rakyat, membuatnya dikenang orang. Namun, sejarah seperti berulang. Darah kembali menyirami bumi tsunami itu. Pada malam yang dingin, setelah diguyur hujan beberapa saat, terdengar beberapa kali tembakan, mengejutkan warga kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, awas, berlindung," teriak Yusran. Namun peringatan itu tak berarti apa-apa. Muntahan peluru yang ditembakkan dari jarak dekat sungguh sangat jitu. Kemudian si penembak itu kabur dengan motornya. Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Tubuh Nyak Daud terkulai seketika. Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, Tgk Abdullah berhasil memeluknya. Mereka baru saja selesai berdiskusi tentang berbagai masalah di Masjid Raya itu setelah shalat isya. Kebetulan imam masjid itu mengantarnya pulang sampai ke mobilnya yang diparkir di Jl Moh Jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah, Nyak Daud ditembak. Kenapa begini lagi," teriak Tgk Abdullah dengan gemetar.&lt;br /&gt;Tadinya Yusran ingin mengejar si pengendara motor itu, tetapi dia khawatir dengan Nyak Daud. Dengan kecepatan tinggi Yusran melarikan tubuh itu ke rumah sakit. Tgk Abdullah terus mendekap Nyak Daud. Namun, kucuran darah yang begitu deras membuat kecut hatinya. Baju dan sarungnya dibalur darah.&lt;br /&gt;"Innna lillahi wainna ilaihi rajiun," lirih terdengar suara imam mesjid itu sambil menutupkan kedua mata Nyak Daud. Air matanya runtuh melihat ketabahan dan keikhlasan Teuku Nyak Daud menerima ajalnya.&lt;br /&gt;"Jroh tat dron, Pak Daud. Meutuah dron. Insya Allah dron meutemeung Khusnul Khatimah," katanya sambil mendekap jenazah itu.&lt;br /&gt;"Bang, maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu," raung Yusran di sepanjang lorong rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tewasnya Teuku Nyak Daud merebak cepat bak anak panah. Hampir tak ada yang percaya beliau tewas ditembak. Orang sebaik Nyak Daud kenapa harus dibunuh, tanya seorang ibu dengan air mata bercucuran. Dia tidak mengerti, demi kepentingan bisnis atau politik, orang bisa berbuat apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=309686&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-2246535300442174364?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/2246535300442174364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=2246535300442174364' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2246535300442174364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2246535300442174364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/10/pulang.html' title='PULANG'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-543912477010635000</id><published>2007-10-13T16:34:00.000-07:00</published><updated>2007-10-13T16:44:29.252-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Bambang Widiatmoko</title><content type='html'>KEKASIH MENULIS SAJAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis meninggalkan jejak di beranda&lt;br /&gt;Lepas senja, dingin menggigit tulang&lt;br /&gt;Saat seekor cicak memagut nyamuk&lt;br /&gt;Yang terjebak dalam cahaya lampu di atas kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hanya kesia-siaan&lt;br /&gt;Lepas senja menunggumu datang&lt;br /&gt;Dengan langkah yang selalu saja sama&lt;br /&gt;Dan juga selalu tanpa senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah setahun kita berumah dalam cinta&lt;br /&gt;Dengan semusim kemarau berganti penghujan&lt;br /&gt;Di ujung jalan menawarkan kisah&lt;br /&gt;Serta catatan yang terlalu panjang untuk dihafal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih meninggalkan jejak&lt;br /&gt;Serupa puing yang terserak&lt;br /&gt;Kekasih menuliskan sajak&lt;br /&gt;Serupa katak di sela semak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPATAH KATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatah kata&lt;br /&gt;Bisa menenggelamkan dunia&lt;br /&gt;Apalagi Lampung - hanya sekejap dilahap kata&lt;br /&gt;Yang membawa duka&lt;br /&gt;Lantas sekejap berubah menjadi tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sepatah kata bisa membawa tawa&lt;br /&gt;Dan sekejap berubah menjadi duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatah kata&lt;br /&gt;Lebih dahsyat dibanding ombak samudera&lt;br /&gt;Lebih dahsyat dibanding letusan &lt;br /&gt;Krakatau yang membelah angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatah kata - bernama cinta&lt;br /&gt;Mampu mengubah kegelapan menjadi cahaya&lt;br /&gt;Mampu mengubah dosa menjadi pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatah kata - bernama cinta&lt;br /&gt;Tak mampu dipenjara dengan teralis baja&lt;br /&gt;Dan di sini - sepatah kata bernama cinta&lt;br /&gt;Biarkan berlabuh di dada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENDERA&lt;br /&gt;: Alm Ari Setya Ardhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita begitu kecil&lt;br /&gt;Dan terpencil&lt;br /&gt;Dalam luasnya semesta&lt;br /&gt;Dan hanya berbekal kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama tak saling jumpa&lt;br /&gt;Mungkin engkau menatapku di balik cakrawala&lt;br /&gt;Dunia penuh misteri dan tanda tanya&lt;br /&gt;Dan kita terlalu asyik menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sajak lantas tercipta&lt;br /&gt;Mengisi keheningan dan batin pun terjaga&lt;br /&gt;Dan engkau membacakannya penuh pesona&lt;br /&gt;Di hadapan ratusan bidadari di nirwana&lt;br /&gt;Yang tak lagi berbatas ruang dan waktu&lt;br /&gt;Tak ada lagi kata lelah dan jemu menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya usia tak terbatas seperti cahaya&lt;br /&gt;Sajak akan menggantikan bendera&lt;br /&gt;Berkibar di sepanjang jalan raya&lt;br /&gt;Dan kita pun berbaris menanti ajal tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta, 24 Oktober 1960. Menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media-massa. Antologi puisi tunggalnya Pertempuran (l980), Anak Panah (1996), Agama Jam (2000), dan Perempuan Hikayat (2007). Cerpennya tergabung dalam antologi Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2000) dan Bupati Pedro Laki-laki Kota Rembulan (DKS, 2000). Puisi-puisinya juga banyak dimuat dalam antologi bersama penyair lain. Tahun 2003 ia mendapat anugerah sebagai Pelestari Budaya oleh Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) Kraton Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=309685&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-543912477010635000?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/543912477010635000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=543912477010635000' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/543912477010635000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/543912477010635000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/10/sajak-sajak-bambang-widiatmoko.html' title='Sajak-sajak Bambang Widiatmoko'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-6096608084632090762</id><published>2007-10-06T16:56:00.000-07:00</published><updated>2007-10-06T16:57:30.243-07:00</updated><title type='text'>LAKI-LAKI YANG MENANGIS</title><content type='html'>Oleh : Pudji Isdriani K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki muda itu tepekur di atas jembatan layang Pancoran. Selama sepuluh tahun dia melewati jembatan itu pada jam sibuk. Pagi berangkat dan sore pulang kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runitinas selama sepuluh tahun berlangsung biasa. Hingga pada suatu sore, laki-laki muda itu melihat pemandangan aneh. Ketika mobil yang dikendarainya melintas di atas jembatan, dia melihat seorang perempuan tua sedang menangis di dekat lampu merah. Anehnya perempuan tua itu menatapnya cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sembilan kali tatapan aneh itu menerpa matanya, di tempat dan waktu yang sama, perempatan lampu merah, di kolong jembatan Pancoran pukul 18.00 WIB. Merasa penasaran, pada hari keduabelas dia lewat kolong dari arah jalan Gatot Subroto langsung lurus ke arah jalan MT Haryono. Anehnya, perempuan tua itu tidak ada! Padahal kemarin sore dia jelas-jelas melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas, besoknya laki-laki muda itu kembali lewat kolong jembatan layang Pancoran. Namun hasilnya nihil! Untuk beberapa saat laki-laki muda itu terdiam, dia baru sadar setelah mobil di belakangnya membunyikan klakson. Gelagapan dia memasukkan persneling ke gigi satu lantas tancap gas. Dihembusnya nafas kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemana perginya perempuan tua itu?" gumamnya tak habis pikir. Sebelas hari, di tempat dan waktu yang sama dia melihat dengan mata kepala sendiri perempuan tua itu menangis di dekat tiang listrik lampu merah perempatan Pancoran. Tatapan sendu yang dibarengi linangan air mata, sungguh menyayat-nyayat hati laki-laki muda itu. Seolah dia dibawa ke suatu masa yang berada di bawah bayang-bayang sadarnya. Dicobanya mengingat-ingat, namun tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya lagi, laki-laki muda itu memutuskan untuk ganti melewati jembatan layang. Siapa tahu kalau lewat jembatan, perempuan tua itu ada. Tepat pukul 18.00 WIB dia sampai di atas jembatan. Dibukanya kaca jendela mobil, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Benar! Perempuan tua itu ada di sana! Dia berdiri menatapnya sambil berlinang air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki muda itu memacu mobilnya. Setelah turun dari jembatan, dia menepi dan nekat parkir di pinggir jalan sebelum pertigaan Gelael. Dengan sekuat tenaga dia berlari ke arah perempatan lampu merah Pancoran. Kali ini dia ingin bertemu perempuan tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang melihat laki-laki muda itu berlari-lari ke arah perempatan Pancoran keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gila tuh orang, seperti dikejar setan aja," kata seorang pelajar berseragam abu-abu putih yang nyaris tertabrak laki-laki muda itu.&lt;br /&gt;Seorang ibu-ibu yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan benar-benar tertabrak sehingga tas yang ditentengnya jatuh. "Hei, lihat dong! Main tabrak aja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki muda itu tidak peduli. Kali ini dia harus bertemu dan berbicara dengan perempuan tua itu. Pada saat berlari itu samar-samar dia membayangkan seraut wajah. Wajah yang lama dikenalnya tetapi entah di mana? Ketika seraut wajah itu hampir jelas tergambar tiba-tiba saja kabur. Sepertinya ada kabut tipis yang menutupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di dekat lampu merah perempatan Pancoran, laki-laki muda itu celingukan. Ditajamkan pandangan matanya. Sekarang dia berada satu meter dari tiang lampu merah, namun perempuan tua itu raib entah ke mana. Digosok-gosok matanya, tetap saja tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik, lihat ibu tua yang tadi berdiri di sini?"&lt;br /&gt;Dia bertanya pada pengamen yang berdiri tak jauh darinya.&lt;br /&gt;"Ngak, Om, saya baru saja sampai."&lt;br /&gt;Sekali lagi laki-laki muda itu celingukan. Saat dia berlari ke arah perempatan Pancoran paling hanya lima menit. Namun perempuan tua itu sudah lenyap. Seberapa cepat dia bisa menghilang di keramaian lalu lintas pada jam-jam sibuk seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan-jangan dia naik metro mini atau mikrolet yang suka ngetem di dekat perempatan sambil menunggu lampu merah berganti hijau," pikir laki-laki muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lantas merasa tidak mungkin menemukannya. Sebab, dalam waktu lima menit angkutan umum yang dinaiki perempuan tua itu bisa saja sudah menempuh jarak beberapa kilo. Merasa tidak berhasil, laki-laki muda itu lantas meninggalkan perempatan Pancoran.&lt;br /&gt;"Kamu harus temukan perempuan tua itu."&lt;br /&gt;Laki-laki muda itu bicara sendiri.&lt;br /&gt;"Ke mana kamu menghilang, perempuan tua. Bantulah aku mengingat kembali siapa diriku. Aku ingin tahu masa laluku. Aku ingin tahu darimana asal-usulku. Hanya kamu yang bisa membantuku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, laki-laki muda itu tak bisa tidur. Membayangkan wajah perempuan tua yang sedang menitikkan air mata, membuat laki-laki itu miris. Merasa tidak bisa menguasai kegelisahannya, laki-laki itu memutuskan untuk ke jembatan layang Pancoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam masih menyisakan remang dan menyebar hawa dingin. Meskipun di bawah jembatan ada penerangan lampu namun tidak sebenderang kala mentari mengirimkan hangatnya ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari arah jalan Supomo tampak sesosok bayangan. Jantung laki-laki itu berdetak lebih kencang. Tak salah lagi, dia adalah perempuan tua yang dicarinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua itu memandangnya sendu dan pelahan air matanya mengalir menelusuri pipinya yang keriput. Bertemu dengan perempuan tua tersebut dalam suasana dingin, sepi dan jauh berbeda dengan biasanya, membuat laki-laki itu terbayang peristiwa sepuluh tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perempuan tua itu mengingatkan dia kepada ibunya.&lt;br /&gt;Saat berusia sebelas tahun, laki-laki itu tinggal bersama kedua orang tua dan lima saudaranya. Dia anak terkecil. Lingkungan tempat tinggalnya adalah perkampungan kumuh di kota Pontianak. Ayahnya pengguran dan suka berjudi. Ibunya menjadi pembantu rumah tangga untuk menghidupi keluarga. Kakak-kakaknya bersekolah hanya sampai SD. Setelah tamat SD mereka cari makan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima kakaknya itu jadi preman, mencari uang dengan jalan haram dan merugikan orang lain. Ada yang jadi pencopet, maling, penodong, penjambret dan sejenisnya. Kelima kakaknya semua laki-laki. Memang lingkungan tempat tinggalnya buruk, semua penghuni bekerja seperti itu. Mereka suka berjudi dan minum-minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu suka ikut ibunya bekerja di rumah Pak Danu. Majikannya yang bekerja di BUMN, menyukainya karena dia rajin, selalu mendapat ranking di sekolah, selalu shalat dan sangat sopan. Dia berbeda dengan kelima kakaknya dan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Ibarat mutiara dalam lumpur, dia tampak berkilau. Jadi, ketika Pak Danu mutasi ke Jakarta, anak laki-laki itu dibawanya. Ibunya sangat sedih, sebab hanya anak bungsunya tumpuan harapannya. Namun demi masa depan yang lebih baik sang ibu merelakannya. Semalaman si ibu mendekapnya saat tidur dan membasahi rambutnya dengan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua itu telah membuka kembali ingatannya. Laki-laki itu menitikkan air mata. Ya, alangkah berdosanya dia. Ibu yang begitu tulus dan menyayanginya, dilupakan begitu saja karena dirinya sibuk bekerja di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan aku, Ibu, aku memang anak durhaka yang tidak tahu berterima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata laki-laki itu terus mengalir membasahi kedua pipinya. Dia merasa telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Sekarang baru disadari kalau selama ini dia terlalu mengejar impiannya hingga melupakan asal-usulnya. Semua itu terjadi seperti air mengalir dan tidak disadarinya. Karena, setiap manusia menginginkan perubahan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula laki-laki itu hanya menginginkan untuk menjadi salah satu yang terbaik. Dia ingin menunjukkan kepada keluarga dan masyarakat bahwa tidak semua keluarga buruk itu akan menjadi buruk pula. Namun di sisi yang lain, ada perasaan malu mengakui asal-usul keluarganya yang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin mengingat ibu dan keluarganya di kampung, laki-laki itu menjadi semakin menyesali perbuatannya. Membayangkan betapa ibunya berjuang sendirian menghidupi keluarga. Membayangkan bagaimana ayahnya hanya berjudi dan suka memukuli ibunya, hatinya terasa pedih. Air matanya terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari, sinar matahari di ufuk timur mulai menyeruak Menerobos gedung-gedung bertingkat di sekeliling jembatan layang Pancoran. Warnanya yang kuning keemasan memberikan nuansa cerah dan hangat. Lalu lintas menggeliat bergairah. Jalanan pun mulai bernyawa. Namun laki-laki itu masih mematung di atas jembatan layang. Dia semakin keras menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang lewat heran melihatnya. Laki-laki itu tidak peduli, dia terus menangis meraung-raung. Hingga akhirnya dilihatnya perempuan tua yang menangis itu melambai ke arahnya dan merentangkan kedua tangannya. Laki-laki itu pun tersenyum. Dia ingin menemani perempuan tua itu. Maka, tanpa rasa takut laki-laki itu pun terjun dari atas jembatan Pancoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-6096608084632090762?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/6096608084632090762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=6096608084632090762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6096608084632090762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6096608084632090762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/10/laki-laki-yang-menangis.html' title='LAKI-LAKI YANG MENANGIS'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-2182017609040757600</id><published>2007-10-06T16:48:00.000-07:00</published><updated>2007-10-06T16:55:34.997-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Saefuddin Noer</title><content type='html'>NEGERI DIKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini negeri diksi&lt;br /&gt;Kaya wacana&lt;br /&gt;Miskin eksekusi&lt;br /&gt;Kaya logika&lt;br /&gt;Miskin nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orang-orang didera papa&lt;br /&gt;Kita kehilangan daya&lt;br /&gt;Saat beragam bencana menerpa&lt;br /&gt;Kita terjebak kata-kata&lt;br /&gt;Berputar mencari kambing hitam&lt;br /&gt;Sambil berpura-pura lupa&lt;br /&gt;akan pengrusakan hutan&lt;br /&gt;Sambil berpura-pura benci&lt;br /&gt;pada korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini negeri politisi&lt;br /&gt;Kaya rencana&lt;br /&gt;Miskin aksi&lt;br /&gt;Banyak berebut hak&lt;br /&gt;Miskin berbagi tanggung jawab&lt;br /&gt;Negeri ini negeri diksi&lt;br /&gt;Miskin Eksekusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denpsar, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANYA PUISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit siang begitu terang&lt;br /&gt;Sedang merpati terbang riang&lt;br /&gt;Seperti bernyayi&lt;br /&gt;Seperti menari&lt;br /&gt;Mengiringi pejalan kaki yang pergi&lt;br /&gt;Dari kekosongan harapan&lt;br /&gt;Ke arah tak pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit siang memang benderang&lt;br /&gt;Sedang merpati melayang terbang&lt;br /&gt;Tapi angin kota begitu dingin&lt;br /&gt;Seperti orang-orang terasing&lt;br /&gt;Dari harapan&lt;br /&gt;Terbuang ke ruang kesia-siaan&lt;br /&gt;Dengan mata kosong&lt;br /&gt;Dan pakaian kesahajaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana mimpi indah penyair harapan?&lt;br /&gt;Sebab yang terasa seperti suara mengerang&lt;br /&gt;Didera luka perang&lt;br /&gt;Yang tak terhentikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana kata-mantra yang menyembuhkan?&lt;br /&gt;Sebab yang tersisa hanya curiga&lt;br /&gt;Syak wasangka&lt;br /&gt;Dalam dendam yang tak teredam&lt;br /&gt;Bagai api dalam sekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku pun terdiam&lt;br /&gt;Seperti mereka yang terluka&lt;br /&gt;Tak sanggup bicara&lt;br /&gt;Meski hanya kepada kotak-kotak suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, aku coba bicara&lt;br /&gt;Seperti mereka yang punya kuasa&lt;br /&gt;Dari kotak-kotak suara&lt;br /&gt;Meski bunyinya baru kata-kata&lt;br /&gt;Meski baru tebar pesona&lt;br /&gt;Bukan karya nyata&lt;br /&gt;Meski hanya wacana&lt;br /&gt;Bukan buah kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab negeri kami baru berlimpah diksi&lt;br /&gt;Bukan kemakmuran negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, aku mengerti&lt;br /&gt;Kalau aku baru belajar menulis puisi&lt;br /&gt;Hanya puisi&lt;br /&gt;Bukan pidato subversi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karachi, 26/1/2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs U Saefudin Noer MSi adalah seorang banker yang juga aktif menulis puisi. Saat ini, almunus Fisip UI dan Master Komunikasi UI ini menjabat Direktur Bank Muamalat Indonesia. Sebelumnya, lelaki kelahiran Pandeglang, Banten, 15 September 1965, ini sudah malang melintang di sejumlah perbankan, antara lain Bank Danamon dan Bank Syariah Mandiri. Di sela-sela kesibukannya sebagai banker, mantan Ketua Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) ini selalu berusaha meluangkan waktunya untuk menulis puisi. Saat ini juga sedang menyiapkan kumpulan sajak dalam bentuk buku dan CD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=308861&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-2182017609040757600?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/2182017609040757600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=2182017609040757600' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2182017609040757600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2182017609040757600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/10/sajak-sajak-saefuddin-noer.html' title='Sajak-sajak Saefuddin Noer'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7294025330879841007</id><published>2007-09-29T17:41:00.000-07:00</published><updated>2007-09-29T17:42:26.939-07:00</updated><title type='text'>ORANG-ORANG BANO</title><content type='html'>Oleh : Darman Moenir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba orang-orang itu meradang. Bagai aktor teater yang kehilangan panggung, mereka berteriak histerikal seolah ke lapis langit ke tujuh, bahwa musibah adalah musibah, dan musibah tidak bisa dikait-kaitkan dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh-sungguh, ini konsep, gagasan, ide, pandangan hidup siapa, atau dari siapa? Jangan-jangan, konsep, gagasan, ide, pandangan hidup ini berawal dari orang-orang yang tidak mengenal Allah SWT, sekaligus orang-orang yang tidak bertuhan. Saya memang harus amat berhati-hati. Barangkali pandangan itu dari orang-orang yang tidak bertuhan, biarpun belum tentu orang-orang itu antituhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, setelah Istano Gadang1) luluh-lantak diamuk si gulambai, orang-orang itu benar-benar merasa kehilangan. Dan, rasa kehilangan itu bagi mereka sangat besar. Mereka merasa kehilangan apa yang selama ini mereka puja-puji, mereka bangga-banggakan, mereka agung-agungkan, dan sangat mereka muliakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istano Gadang itu bukan saja mereka puja-puji, mereka bangga-banggakan, mereka agung-agungkan, dan sangat mereka muliakan, tetapi bahkan juga mereka sembah-sembah. Dalam batin atau konkret, penyembahan itu menyebabkan ada sastrawan yang merumuskan, bahwa mereka memberhalakan Istano Gadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin orang-orang itu tidak menganggap istana itu berhala kalau mereka tidak lebih mengutamakan keperluan istano daripada keperluan anak-istri mereka, keperluan keluarga, keperluan tetangga, keperluan orang-orang sekampung, bahkan juga keperluan orang seluhak2) dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika istano terbakar, hangus sehangus-hangusnya, sebagai akibat sambaran petir, orang-orang itu langsung menggerakkan orang sekampung, orang sekabupaten, orang seluhak, orang seprovinsi, bahkan orang serepublik dengan mereka, agar replika istana segera dibangun kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung, presiden dan wakil presiden pun diupayakan terketuk hatinya untuk membantu pembangunan kembali Istano Gadang. Padahal, istana yang luntuh-lantak itu cuma replika yang dibangun sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Istana yang sesungguhnya, yang asli, dahulu juga terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat susah merumuskan, mencarikan pembenaran, di negeri kami istano itu penting, apalagi mahapenting. Bicara masa silam, yang sangat jauh ke belakang pun, tidak pernah atau, paling kurang, belum pernah ditemukan bukti peninggalan sejarah, bahwa negeri kami itu berbentuk kerajaan. Apabila berbentuk kerajaan, pastilah ada raja. Apabila ada raja, bisa jadi ada istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi raja itu sama sekali tidak pernah ada. Apa yang pernah ada hanyalah datuak3 yang, dalam memegang kekuasaan, dimamangkan, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Itulah mereka Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan. Mereka adalah pemimpin yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, sama sekali tidak memerlukan istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin kaum kami adalah orang-orang rendah hati, tahu diri, benar-benar mendahulukan kepentingan anak-kemenakan. Di zaman mereka, di kampung-halaman kami, di setiap musim tersua: padi masak jagung mengupih, anak-kemenakan berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, Istano Gadang pun pernah menjadi simbol keperkasaan orang-orang itu. Kadang-kadang, lucu sekali, simbol mereka samakan dengan lambang. Padahal simbol adalah simbol dan lambang adalah lambang. Dalam konteks filsafat, pengertian antara satu sama lain sangat jauh berbeda. Dan, bagi mereka, istano menjadi simbol kehebatan, simbol keanggunan, dan, ya, simbol keperkasaan itu. Konon, di sana, dengan istana yang menjadi simbol itu, mereka memertaruhkan harga diri, dan bahkan, anggap mereka, jati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, itulah celakanya, perlakuan mereka terhadap istana itu aneh, untuk tidak mengatakan naif. Mereka tidak memelihara istana itu persis sebagaimana sebuah istana mesti dipelihara. Muatan dan isi istana itu tidak lagi mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, andai yang sesungguhnya itu memang ada. Beberapa replika benda yang berada di dalam tidak bisa mereka jelaskan secara akurat, proporsional dan profesional. Ketika seorang turis dari Jepang bertanya, mereka benar-benar tidak mampu memaparkan perbedaan Rumah Gadang4 dan Istano Gadang. Dan, paling tragis, setelah terbakar, di puing istano ditemukan botol minuman keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi sindikasi kepentingan antara oknum pejabat pemerintah dan pialang budaya yang berkongkalikong dalam memasarkan istano yang, kata mereka, demi kepentingan pariwisata. Begitu pula risalah tanah ulayat di mana istana didirikan, tidak pernah tuntas! Sampai batas tertentu, setidaknya sampai replika istana terbakar, pemilik tanah masih mengambil sikap sabar, belum pernah bereaksi secara frontal. Ya, mengambil sikap mirip yang diwariskan kedua datuk itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu memang tak sempat merenung mengapa replika istana hangus terbakar. Biarpun mempunyai alat penangkap petir yang terpasang di setiap gonjong yang menjulang tinggi, namun dalam sekejap petir dapat saja berkelit, mengirimkan bunga-bunga api ke atap ijuk dan, dalam hitungan detik, bunga-bunga itu berubah jadi api dan membakar seluruh badan besar gempal bangunan, kecuali kerangka beton bertulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dalam adagium yang sempat mereka dengung-dengungkan tiap sebentar, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,5 jelas termaktub keyakinan, apabila Allah SWT berkehendak, kun, jadilah! Artinya, apabila Allah SWT berkeinginan istano terbakar, dengan atau tanpa penangkap petir, istana itu pun terbakar. Jangankan membakar hanya sebuah replika istana, mengiamatkan dunia ini pun Allah SWT mampu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi mereka, orang-orang itu, cuma memercayai, bahwa musibah adalah musibah. Bagi mereka, dengan demikian, ketika malam datang ya malam datang, dan kemudian apabila siang tiba ya siang tiba. Dan, mereka amat tersinggung ketika dikatakan, musibah itu sesungguhnya merupakan peringatan, ujian atau azab Allah SWT. Mereka tak menerima pengakuan, Allah SWT mengingatkan, menguji dan mencoba mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menganggap, saya lebih mengetahui tentang apa yang bisa, sudah, sedang, dan akan dilakukan Allah SWT. Paling menakjubkan adalah penilaian mereka terhadap diri saya, bahwa saya sudah menuhankan diri sendiri. Astaghfiullah. Oke, itu penilaian mereka. Tetapi merasa masih menjadi bagian dari mereka, saya teringat bagaimana di antara kerabat dekat orang-orang itu, yang berarti juga kerabat dekat saya, pernah melakukan korupsi berjamaah. Benar-benar berjamaah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tak perlu diusut siapa imam dan ke mana kiblat mereka, tetapi mereka, koruptur berjamaah itu, benar-benar memakan hak rakyat jelata. Di mimbar-mimbar mereka masih berkaok-kaok soal mengenyahkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat, tetapi dalam perbuatan setiap hari mereka selalu tidak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepekan kemudian, di kampung-halaman kami pun terjadi gempa yang meluluhlantakkan rumah-rumah warga, rumah-rumah ibadah, bangunan-bangunan pasar, kantor-kantor pemerintah dan area pertanian, jalan raya, jalan setapak, lereng serta bukit. Gempa bumi selama beberapa detik itu pun mereka anggap sebagai musibah belaka. Mereka berteori, peristiwa gempa bukan kejadian baru. Daerah kami pun dikatakan dilalui garis gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika risalah ini saya teleponkan kepada sastrawan itu, saya menerima pesan pendek: mereka, orang-orang itu, menjadi orang-orang bano6) yang tidak perlu ditanggapi serius. Syahdan penyebab kebanoan mereka adalah terbalik kaji7). Dan itu harus mereka tanggungkan sampai akhir hayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1. Istano gadang = istana besar.&lt;br /&gt;2. Seluhak = sedistrik.&lt;br /&gt;3. Datuk = pemimpin (kaum).&lt;br /&gt;4. Rumah Gadang = rumah adat, bergonjong-gonjong.&lt;br /&gt;5. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah = adat bersendi syarak, syarak bersendi kitab Allah (Alquranulkarim).&lt;br /&gt;6. Bano = senu, nyaris gila.&lt;br /&gt;7. Terbalik kaji = studi agama (Islam) yang jungkir-balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=308009&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7294025330879841007?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7294025330879841007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7294025330879841007' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7294025330879841007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7294025330879841007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/orang-orang-bano.html' title='ORANG-ORANG BANO'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-5138757007469736035</id><published>2007-09-29T17:38:00.000-07:00</published><updated>2007-09-29T17:40:50.699-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Marhalim Zaini</title><content type='html'>RIWAYAT MEMPELAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam senepak ia merangkak&lt;br /&gt;di jenjang sebuah surau&lt;br /&gt;menggapai gaib maghrib&lt;br /&gt;yang raib lekas melepas&lt;br /&gt;pada tempias gerimis&lt;br /&gt;ia menepis tangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada betina di matanya&lt;br /&gt;meremas sirih rindu&lt;br /&gt;bagai meremas waktu&lt;br /&gt;duh, pedih disepah&lt;br /&gt;terburai ke tanah&lt;br /&gt;bersepai segala kisah&lt;br /&gt;pada cincin ia bercermin&lt;br /&gt;yang repak ia sepak&lt;br /&gt;pun sorak anak-anak&lt;br /&gt;terserak kian berbiak&lt;br /&gt;wahai, di mana kauletak&lt;br /&gt;surat cinta yang koyak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANUN LAUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau merampok sayap rumah orang laut, tuan&lt;br /&gt;hingga ikan-ikan merayau mencari tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiap petang ada saja yang patah dayung&lt;br /&gt;tiap lengang ada saja yang cari untung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari kian renta dalam lubang jala senja&lt;br /&gt;matamu tak berlampu dan silau pada cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa yang memikul kayu kapal karam itu&lt;br /&gt;siapa pula yang menikam-nikam batu-batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergilah jauh ke ceruk sunyi tubuhmu&lt;br /&gt;aku sedang menakik luka masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demam seluruh kampung disuntik waktu&lt;br /&gt;sampai terlupa mengaji kitab rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITUKAH CARANYA&lt;br /&gt;MENGHINDARI TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga jam, urat darahmu yang dingin,&lt;br /&gt;kutemukan ia terpekik, jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka yang satu itu, kadang menyala,&lt;br /&gt;di lubang tubuhmu, minta ampun,&lt;br /&gt;minta tuhan untuk tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal asap di matamu itu, pernah mengaburkan&lt;br /&gt;jarak pandang, antara aku dan rumah kayu,&lt;br /&gt;atau antara mataku dan hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapkanlah assalamualaikum pada hutan itu,&lt;br /&gt;yang tak beragama, tapi takut menyimpan dosa.&lt;br /&gt;Aku tahu ada yang berbisik di kupingmu,&lt;br /&gt;Sssst, kau mau menghindari tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kauingat lukah itu, di anak sungai yang kurus,&lt;br /&gt;kita jadi pelacur, terhenyak dalam semak,&lt;br /&gt;Berapa harga kelaminmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan semata tentang kelamin, tapi sejarah,&lt;br /&gt;tentang adam-hawa, dan kesetaraan cinta.&lt;br /&gt;Maaf, jangan meludah sembarangan, tuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini rumah sampah, tubuh tak berjendela, &lt;br /&gt;kadang burung gereja juga bersembahyang,&lt;br /&gt;membangun surau, kadang malaikat&lt;br /&gt;juga berjualan minuman, mabuk-mabukan,&lt;br /&gt;kadang sandal jepit kita hilang, songkok kita,&lt;br /&gt;gaun kita, sarung kita, celana dalam kita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang hilang, hilanglah. Semacam derita,&lt;br /&gt;yang sekarat, bersengkarut berlarut-larut.&lt;br /&gt;Tapi kau paling pandai membunuh waktu,&lt;br /&gt;di belakangmu kuburan-kuburan berhantu.&lt;br /&gt;Hmm, begitukah caranya menghindari tuhan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhalim Zaini, Lahir di Teluk Pambang Bengkalis Riau, 15 Januari 1976. Buku puisinya yang telah terbit adalah Segantang Bintang Sepasang Bulan (2003) dan Langgam Negeri Puisi (2004). Meraih Ganti Award 2005 untuk novelnya, Getah Bunga Rimba, dan menerima Anugerah Seni 2005 dari Dewan Kesenian Riau sebagai Seniman Pemangku Negeri (SPN) bidang sastra. Kini berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau, Pekanbaru sambil menggerakkan Komunitas Paragraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=308008&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-5138757007469736035?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/5138757007469736035/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=5138757007469736035' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5138757007469736035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5138757007469736035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/sajak-sajak-marhalim-zaini.html' title='Sajak-sajak Marhalim Zaini'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-1000959746086091164</id><published>2007-09-22T16:45:00.000-07:00</published><updated>2007-09-22T16:49:43.966-07:00</updated><title type='text'>PENYESALAN MARNI</title><content type='html'>Oleh : Humam S Chudori &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak di-pehaka, Himawan sering sekali dirawat di rumah sakit. Penyakit asma yang dideritanya sering kambuh. Padahal, sebelum kena pehaka, ia jarang dirawat di rumah sakit kendati tiap bulan mesti mengunjungi dokter. Tragisnya, setelah empat kali dirawat di rumah sakit, Marni mengalami nasib serupa dengan suaminya -- kena pehaka. Sejak itu neraca keuangan keluarga Himawan mulai goncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi orang itu jangan penyakitan," kata Marni, tatkala suaminya pulang dari rumah sakit, setelah kesekian kalinya ia dirawat. Himawan diam. Betapa tidak, baru dua langkah pasangan suami-istri itu masuk ke dalam rumah, Marni sudah melontarkan kalimat ketus. "Kalau sudah begini, apalagi yang harus dijual?" kata Marni lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himawan tak menyahut. Hatinya terasa sakit mendengar kalimat yang dilontarkan istrinya. Rasanya ia ingin mendaratkan tamparan ke muka perempuan itu jika tidak ingat tubuhnya sendiri masih lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya ia ingin langsung ke kamar, tiduran. Namun, setelah mendengar kata-kata istrinya itu tubuhnya langsung lemas. Gemetar. Limbung. Matanya seperti berkunang-kunang. Kepalanya terasa nyut-nyutan. Ia kehilangan tenaga untuk melangkah ke kamar. Karena itu, ia langsung duduk di atas tikar. Di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu memang sudah lama tak punya kursi tamu lagi, sudah mereka dijual. Sebelumnya beberapa perabotan rumah lain -- televisi, kulkas, dan bupet -- juga sudah mereka jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tak ada meja kursi tamu, di ruangan yang tidak terlalu luas itu hanya ada selembar tikar plastik yang tak pernah digulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watak asli Marni baru disadari Himawan setelah anak pertama mereka lahir. Semula sifat buruk istrinya dianggap Himawan sebagai bawaan jabang bayi, lantaran istrinya nyaris tidak mengalami kekosongan. Setelah dua bulan dinikahi Himawan. Sikap dan kelakuan Marni mulai berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali berhenti haid, Himawan menganggap kelakuan perempuan itu berubah karena mengalami fase ngidam. Himawan menyadari orang yang sedang ngidam -- seperti yang sering didengarnya dari orang lain -- emosinya labil. Itulah sebabnya lelaki itu berusaha untuk tidak tersinggung. Dia sendiri sangat berharap secepatnya mempunyai keturunan, lantaran terlambat menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali dua kali Himawan mendengar cerita tentang kelakuan orang ngidam yang berubah nyleneh. Menjadi manja, gampang cemberut, bahkan serba ingin menang sendiri. Meski pada umumnya orang ngidam cuma ingin makan yang serba pedas atau masam. Kebiasaan orang ngidam seringkali menjadi aneh, kolokan, bahkan tidak jarang membuat suaminya kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Erna -- adik Himawan -- ngidam bukan hanya sekali menyuruh suaminya membelikan bakso di tengah malam. Widodo pun mengabulkan permintaan Erna. Ia terpaksa mencari makanan yang diminta 'jabang bayi'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, alangkah kesalnya lelaki itu setelah sampai di rumah. Erna hanya mencoba sesendok kuahnya. Dan, makanan yang diperoleh dengan susah payah itu tidak disentuh sama sekali. Celakanya jika permintaan Erna tidak dituruti, ia akan marah-marah kepada suaminya. Meskipun demikian, Widodo tak berani menolak permintaan 'sang jabang bayi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak sedikit orang ngidam yang tidak berubah kelakuannya. Tidak ada perubahan perilaku atau kebiasaan, kecuali menjadi sering muntah karena perutnya terasa mual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata tak pernah memikirkan masa depan anak, barangkali, Himawan sudah menceraikan istrinya. Ia sudah merasakan sendiri betapa tidak enaknya menjadi korban perceraian orangtua. Lantaran ia dan dua orang adiknya memang produk rumahtangga yang berantakan alias broken home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih bekerja, Marni acapkali berkata kepada Rita -- tetangga depan rumahnya -- kalau dirinya tidak bekerja, kebutuhan rumah tangganya pasti takkan pernah bisa tercukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa sih gaji seorang sopir seperti suami saya?" kata Marni, tatkala mereka belum di-pehaka, mengeluh kepada Rita usai menceritakan penghasilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sama saja, Mbak," kata Rita jika tetangga depan rumahnya sudah berkata demikian, "Suami saya juga sopir." "Kalau suami Dik Rita lain. Biar sopir tapi sopir kedutaan besar. Pasti gajinya besar. Karena itu, kamu tidak perlu bekerja lagi seperti saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Marni sudah mulai membicarakan penghasilan suaminya, Rita berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Waktu itu mereka -- baik Himawan maupun Marni -- masih aktif bekerja. Mereka masih punya penghasilan. Namun, setelah di-pehaka Marni tak berani lagi membicarakan gajinya. Ia tak pernah membanggakan penghasilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, toh ternyata Marni masih merasa lebih hebat dari para tetangganya yang tidak bekerja. Ia memang sering melecehkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya tak ada tetangga yang mau dekat dengan Marni, kecuali Rita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak di-pehaka, Marni tidak pernah melamar kerja lagi. Karena, ia sudah tak mungkin bekerja lagi. Pertama, karena usianya sudah di atas kepala empat. Kedua, pendidikannya pas-pasan. Hanya berijazah slta dan tidak punya ijazah lain. Ijazah dari kursus ketrampilan, misalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketiga, pengalaman kerjanya tidak bisa digunakan sebagai referensi mencari pekerjaan lain. Sebab pekerjaannya hanya sebagai pemandu penonton bioskop. Ya, tugas Marni di tempat kerjanya hanyalah mengantar penonton ke kursi sesuai dengan nomor karcisnya. Sementara itu, sudah banyak bioskop yang tidak mampu bertahan. Menghentikan usahanya. Tidak beroperasi. Gulung tikar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, Hendy, ayah Himawan, meninggalkan warisan kepada anak-anknya, termasuk Himawan. Sebuah rumah yang kini dikontrakkan. Dari hasil kontrakan itulah keluarga Himawan berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari selama belum mendapatkan pekerjaan lagi, meski tidak cukup juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah begini apalagi yang masih bisa dijual, Mas?" Marni mengulang pertanyaan sebelumnya, setelah lama Himawan tak melontarkan sepatah kata pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himawan masih duduk mematung. Mengatur napasnya yang tak teratur. "Orang ditanya istri kok diam saja."&lt;br /&gt;"Rumah warisan bapak masih ada," kata Himawan, pelan. Nyaris tak terdengar. Setelah ia berhasil menepis rasa galau yang memenuhi benaknya.&lt;br /&gt;"Sudah gila kamu, Mas?"&lt;br /&gt;"Tadi kamu tanya barang apalagi yang masih bisa dijual. Rumah peninggalan bapak masih laku dijual. Kalau laku dijual masih cukup untuk biaya hidup kita. Paling tidak dalam waktu beberapa tahun ke depan," jawab Himawan lemah. "Jika nanti kurang ya rumah ini yang kita jual."&lt;br /&gt;Marni diam.&lt;br /&gt;"Kalau bukan rumah itu apalagi, coba pikir? Jual perabotan? Perabotan apa yang masih bisa di jual? Tikar atau bantal? Atau jual tenaga? Nyatanya kita juga sudah tidak bisa bekerja? Bukankah ini artinya tenaga kita juga sudah tak laku?" kali ini Himawan sudah tidak kuasa untuk menahan kekesalannya. Suaranya gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atau kamu mau jual diri? Jual diri kamu juga sudah tidak laku. Kamu su... sudah tua...."&lt;br /&gt;Himawan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Nafasnya sesak. Dia terjatuh. Tidak kuat duduk. Tubuhnya mendadak kejang-kejang. Mulutnya terkatup rapat. Nafasnya berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terbata-bata Marni menceritakan kematian suaminya kepada Rita, tetangga depan rumahnya. Ada nada sesal, tatkala ia menceritakan peristiwa yang telah menyebabkan Himawan menghembuskan napas terakhirnya.&lt;br /&gt;"Andaikata akan begini jadinya...." Marni tak melanjutkan kalimatnya.&lt;br /&gt;"Ya, sabar saja, Mbak. Barangkali sudah menjadi suratan takdir."&lt;br /&gt;"Masalahnya bukan itu, Rita," Marni memotong kalimat Rita, "Almarhum masih meninggalkan utang sama saudara-saudara saya. Ya, selama ini biaya rumah sakit sudah tidak ditanggung kantor. Lha wong Mas Himawan sudah tidak kerja." &lt;br /&gt;Rita masih diam.&lt;br /&gt;"Untungnya, dulu saya juga kerja. Kalau tidak, mungkin utang almarhum bisa dua kali lipat lebih. Selama ini saya yang menanggung biaya keluarga. Gaji suami selama ini sudah habis buat biaya berobat. Di kantornya, Mas Himawan hanya mendapat ganti sebagian dari biaya yang dikeluarkan. Itu pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya yang harus kami tanggung selama ini. Sebab, tiap bulan Mas Himawan, tidak bisa tidak, harus tetap berobat. Terlambat berobat, ia harus dirawat," lanjutnya berapi-api. Rita tetap diam.&lt;br /&gt;"Coba kalau saya tidak pernah bekerja, apa tidak...."&lt;br /&gt;"Maaf," Rita memotong kalimat yang belum usai dilontarkan Marni, "Perut saya sakit. Ingin buang air."&lt;br /&gt;Dengan tergopoh-gopoh Rita pulang. Ia tidak ingin mendengar kalimat Marni selanjutnya. Kedatangan Rita ke rumah Marni, malam itu, semula hendak menghibur sang tetangga yang belum genap seminggu ditinggal suaminya. Namun, setelah mendengar ceritanya Rita justru merasa muak. Bahkan kesal.&lt;br /&gt;Yang disesalkan Mbak Marni ternyata bukan karena kematian suaminya, tapi karena almarhum masih meninggalkan utang, pikir Rita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-1000959746086091164?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/1000959746086091164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=1000959746086091164' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/1000959746086091164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/1000959746086091164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/penyesalan-marni.html' title='PENYESALAN MARNI'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-8912729364060717641</id><published>2007-09-22T16:41:00.000-07:00</published><updated>2007-09-22T16:44:21.219-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Yopi Setia Umbara</title><content type='html'>BULAN MARIAM&lt;br /&gt;: Mariam Supraba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, bulan&lt;br /&gt;yang sembunyi dalam gelap&lt;br /&gt;di balik samping langit mariam&lt;br /&gt;dengarlah getar jantungku&lt;br /&gt;yang menjatuhkan bintang-bintang&lt;br /&gt;jadi daun-daun kering ke tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duhai, mariam&lt;br /&gt;yang meruntuhkan malam&lt;br /&gt;aku ingin mendaki tebingmu&lt;br /&gt;untuk meraih datangnya bulan&lt;br /&gt;juga menjauh dari keriuhan negeri&lt;br /&gt;menertawakan aksi akrobatik&lt;br /&gt;aktor-aktor politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mariam, tanggalkan samping langitmu&lt;br /&gt;agar bulan bercahaya lagi&lt;br /&gt;agar menerangi jiwaku yang kusut&lt;br /&gt;oleh pertunjukan-pertunjukan murahan&lt;br /&gt;di televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERPOJOK DI KOTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di ledeng&lt;br /&gt;bulan tergelincir ke terminal&lt;br /&gt;pecah berkeping&lt;br /&gt;terangkut angkot-angkot&lt;br /&gt;terjerumus ke bis-bis&lt;br /&gt;dan tersebar ke kota-kota&lt;br /&gt;ke kampung-kampung yang sunyi&lt;br /&gt;ke sawah-sawah &lt;br /&gt;yang ditinggalkan para petani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alir darah dalam tubuhku&lt;br /&gt;mengalir dari sawah-sawah &lt;br /&gt;yang kesepian&lt;br /&gt;yang kehilangan sentuhan kasih&lt;br /&gt;mereka menggigil di malam hari&lt;br /&gt;kepanasan di siang hari&lt;br /&gt;tiada siapa pun melindungi&lt;br /&gt;tidak juga aku yang terpojok di kota&lt;br /&gt;sejak dilahirkan&lt;br /&gt;serupa bulan yang terselip&lt;br /&gt;dalam buku-buku berdebu&lt;br /&gt;pada rak-rak berjala laba-laba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELAH BANYAK KUTULIS*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah banyak kutulis tentang perjalanan&lt;br /&gt;tentang laut yang jadi muara&lt;br /&gt;dari segala alir sungai pencarian&lt;br /&gt;juga tentang gunung-gunung&lt;br /&gt;yang menghimpit tanah bukit misteri&lt;br /&gt;tapi tak kuasa kutemukan cintamu&lt;br /&gt;yang tulus seperti waktu&lt;br /&gt;yang tak pernah meminta kembali kenangan&lt;br /&gt;yang telah ditinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Judul puisi yang juga pernah ditulis Ajip Rosidi pada tahun 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKADAR PULANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti perahu nelayan&lt;br /&gt;sehabis berlayar&lt;br /&gt;menjaring ikan kecil di laut&lt;br /&gt;pulang ke rumah&lt;br /&gt;adalah merapat di pelabuhan&lt;br /&gt;sekadar bertambat sebelum kembali&lt;br /&gt;menjelajahi lautan waktu&lt;br /&gt;yang masih misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yopi Setia Umbara lahir di Bandung, 30 Maret 1984. Aktif di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI periode 2006/2007. Penggiat jurnal-zine RajaKadal. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media massa Bandung dan Jakarta. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam buku antologi puisi Penyair Muda 4 Kota Herbarium, dan 142 Penyair Menuju Bulan. Tinggal Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=307173&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-8912729364060717641?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/8912729364060717641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=8912729364060717641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8912729364060717641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8912729364060717641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/sajak-sajak-yopi-setia-umbara.html' title='Sajak-sajak Yopi Setia Umbara'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-6012608157146134939</id><published>2007-09-15T16:54:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T16:55:57.869-07:00</updated><title type='text'>CERITA BOHONG DI SIANG BOLONG</title><content type='html'>Oleh : N Mursidi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Polandak gempar. Persis selepas Dhuhur, seorang pemuda dikabarkan terbenam sebatas leher di kuburan ibunya, selang ia meletakkan jenazah wanita itu di peristirahatan terakhirnya. Setelah jenazah wanita yang meninggal saat shalat itu tergolek di lubang kubur, si anak membuka tali pengebat kain kafan, dan tiba-tiba tanah di sisi kuburan longsor menimbunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksana angin, kabar itu cepat tersebar luas ke pelosok kampung. Warga terperangah. Semua orang heboh. Di setiap penjuru kampung, di pangkalan ojek, di mushala dan juga warung-warung rokok serta terminal, cerita ganjil itu jadi bahan gunjingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu azab Allah yang sudah sepantasnya diterima oleh seorang anak durhaka. Bagaimana tidak? Lantaran si ibu tak menuruti permintaannya untuk dibelikan motor, kok ia menjadi gelap mata dan tega membunuh ibunya sendiri yang sedang shalat," ceracau Mak Turi, janda pemilik warung rokok di kampung Sumber Girang, sekitar 10 km dari kampung Polandak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, Mak Turi tahu dari mana?" tanya Mak Sri, yang kebetulan sedang membeli gula pasir dan obat nyamuk bakar di warung Mak Turi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi ada tukang ojek yang bercerita saat membeli rokok di sini," jawabnya dengan sombong karena dia merasa selalu mendapat kabar lebih dulu dibanding orang-orang lain di kampungnya. "Apa Mak Sri tidak ingin datang ke Polandak untuk melihat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa cerita itu benar? Apa Mak Turi percaya?" tanya Mak Sri ragu. "Semua orang sudah tahu tentang cerita ini! Maka, cepet, Mak! Saya aja mau tutup karena mau pergi ke sana untuk melihat wajah pemuda durhaka itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergopoh-gopoh Mak Sri segera beranjak pergi dari warung Mak Turi. Ia sudah tak sabar ingin mengajak kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar supaya bisa melihat kejadian yang ganjil tersebut. Apalagi, Mak Sri selama ini hanya melihat keganjilan seperti itu di tivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berdandan seadanya, tak perlu membasuh muka dan hanya menyampirkan selendang yang lusuh di pundak, Mak Sri langsung menggeret kedua tangan anaknya, Slamet dan Bejo. "Siang ini, emak akan mengajak kalian berdua pergi ke Polandak! Akan emak tunjukkan pada kalian bagaimana pemuda yang durhaka pada ibunya itu diadzab oleh Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Slamet mau main layang-layang, Mak," bantah Slamet, anak pertama Mak Sri yang sudah duduk di kelas empat SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gesit, Slamet pun menarik tangannya dari genggaman tangan Mak Sri untuk melepaskan diri. Tetapi, genggaman tangan emaknya cukup kuat untuk dilerai. Slamet tak bisa berkutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk siang ini, tak ada main layangan. Tetapi, emak berjanji nanti akan membelikan kalian layang-layang dan benang baru dari toko," bujuk Mak Sri pada kedua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamat dan Bejo langsung girang. "Saya mau ikut, asal mak tak bohong!" kata Slamet dan Bejo nyaris serentak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, nanti sepulang dari sana!"&lt;br /&gt;Muka Slamet dan Bejo pun merona riang. Maka kedua bocah kecil itu diam dan menurut ketika Mak Sri menggeret kedua tangannya keluar rumah. Tergesa-gesa, Mak Sri mengunci pintu rumah, lantas menggapit kedua tangan anaknya dan melangkahkan kaki ke perempatan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari terasa panas, menyengat kulit juga membakar ubun-ubun. Keringat Mak Sri menetes dari dahi menggelincir ke pilipis dan terjatuh ke leher. Mak Sri menjadikan selendangnya sebagai penutup kepala yang ia perlebar untuk melindungi kedua anaknya dari terik mentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergopoh-gopoh Mak Sri berjalan. Sesampai di perempatan jalan, dia menarik napas panjang. Napas Mak Sri serasa kembang kempis, naik turun. Terik mentari membuat tenggorakannya kering kerontang. Dia menyeka kening anaknya dengan selendang. Sementara, tatapan kedua bocah kecil itu menerawang jauh ke arah jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kunjung ada angkutan umum yang melintas di jalan. Mak Sri jadi gelisah. Menunggu di bawah terik matahari apalagi ia membawa kedua anaknya yang masih kecil di tepi jalan, memang tak ubahnya seperti siksaan. Bukan apa-apa, agar kedua anaknya itu tak berlarian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mematung, menunggu angkutan lewat, Slamet tiba-tiba mengagetkan emaknya, "Memang, ada kejadian apa di kampung Polandak, Mak?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelagapan, Mak Sri membalikkan muka. Lalu, dia pandangi Slamet. "Nanti kamu tahu sendiri! Makanya, jika disuruh emakmu itu jangan suka membantah. Tadi aja, kamu disuruh mak membeli obat nyamuk dan gula pasir tak mau. Jika kamu sudah besar, besok mau jadi apa? Apa mau terkubur sebatas leher di makam emakmu seperti yang akan kamu lihat nanti?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet diam. Mak Sri kembali menanti angkutan yang melintas dari arah terminal. Dan, ketika samar-samar tampak angkutan umum, hati Mak Sri sedikit lega. Dia lambaikan tangan, menghentikan angkutan umum yang hendak melintas. Tapi, angkutan umum itu terus melaju, karena penuh. Di pintu angkutan, beberapa penumpang bahkan sudah bergelayutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali, Mak Sri melihat angkutan. Hatinya lega. Tapi lagi-lagi, saat angkutan itu sudah dekat dengan tempat Mak Sri berdiri, dia tak dapat berkutik setelah tahu angkutan itu sudah penuh sesak oleh penumpang. Mak Sri kembali menatap ke tanah mengutuk keramaian penumpang yang di siang itu tidak seperti biasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama berdiri di jalan, kesabaran Mak Sri mulai hilang. Untung, di saat kesabaran Mak Sri mau hilang, terlihat sebuah angkutan umum yang melaju. Persis di depan Mak Sri angkutan itu berhenti. Mak Sri dan kedua anaknya bergegas naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di pemakaman umum Polandak, Mak Sri terpana melihat kerumunan orang. Mak Sri berjalan memasuki tanah pemakaman, menggandeng tangan kedua anaknya dan membayangkan kejadian aneh di tivi tentang orang mati yang kuburnya tiba-tiba dipenuhi air, padahal saat itu tak lagi turun hujan. Juga kejadian ganjil lain seperti jenazah yang dapat memanjang tiba-tiba ketika dimasukkan ke liang kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Mak Sri sudah ada di pemakaman. Dalam benaknya, sebentar lagi ia akan menyaksikan sendiri kejadian aneh seperti yang biasa dia tonton di tivi. Mak Sri hanya berharap satu hal, semoga kedua anaknya sadar, tidak lagi nakal dan tak lagi membantah jika disuruh untuk membeli sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Sri terus melangkah di bawah terik mentari, dengan menggandeng Slamet dan Bejo. Tapi belum sempat kakinya melangkah jauh memasuki makam, Mak Sri berpapasan dengan Mak Turi, "Mak di sini ternyata tidak ada kejadian aneh apa pun! Entah siapa yang mengarang cerita bohong ini. Kurang ajar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki Mak Sri lemas. Lututnya serasa gemetar, dan terik mentari membuat kepalanya tiba-tiba menjadi pening. Ia tak menyangka, jika kabar yang dia dengar dari Mak Turi itu ternyata cerita bohong di siang bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, di warung kopi terminal, Mudrik tertawa girang. Sampai jakun lelaki bertato yang bekerja sebagai sopir angkot itu terlihat membengkak setelah dia tertawa terpingkal-pingkal bersama sopir dan kernet-kernet yang lain. "Yu, tambah kopi!" ucap Mudrik, seraya mengambil pisang goreng, tidak jauh dari tempat duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Jilah, janda pemilik warung kopi itu, pun segera memenuhi perintah Mudrik. Yu Jilah tahu, malam ini Mudrik tebal kantong dan pasti akan melunasi utang-utangnya. Mudrik tertawa tiada henti. Ia baru diam ketika pisang goreng yang masih panas itu menyumbat mulut besarnya. Kopi panas yang disodorkan Yu Jilah pun segera ia seruput dengan rakus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu memang cerdas, Mudrik," sanjung Markom, juga sopir angkot, memujanya. "Kalau boleh tahu, dari mana kamu mendapatkan ide gila itu?" tanyanya lebih lanjut, dengan mata berjuling-juling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku berpikir, setelah BBM naik, nyaris kita tekor setoran. Kapan lagi kita akan bisa mendapat uang banyak seperti hari ini jika aku tak menghembuskan berita dan bohong itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, orang gila sepertimu kadang juga membawa keberuntungan. Hari ini kita semua tidak hanya panen bahkan dapat berkah karena kita narik lebih ramai dibanding hari lebaran!" ujar Markom lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku harus pulang dulu! Istriku sudah nunggu di rumah dan pasti akan senang kalau dia melihat penghasilanku hari ini," ucap Mudrik, sambil mengangkat kakinya yang terselip di balik kursi, kemudian melangkah ke arah angkot tua yang terbujur kaku di ujung jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-6012608157146134939?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/6012608157146134939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=6012608157146134939' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6012608157146134939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6012608157146134939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/cerita-bohong-di-siang-bolong.html' title='CERITA BOHONG DI SIANG BOLONG'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-2392656203155439259</id><published>2007-09-15T16:51:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T16:54:12.872-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Syaifuddin Gani</title><content type='html'>RAMADHAN DATANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam padam&lt;br /&gt;rindu berdiam di rerimbun petang&lt;br /&gt;satu-satu bintang pulang&lt;br /&gt;jauh ke ufuk selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya benam&lt;br /&gt;raib di laut lengang&lt;br /&gt;kunang-kunang pulang&lt;br /&gt;lenyap di liang malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adzan melayang-layang&lt;br /&gt;lesap di jantung insan&lt;br /&gt;jendela seribu bulan menjelang&lt;br /&gt;ramadhan datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu penerang pendar di tikung jalan&lt;br /&gt;cahayanya rembes sampai ke sumsum remang&lt;br /&gt;geletar tadarrus dan tasyakur&lt;br /&gt;rekah ke cakrawala&lt;br /&gt;para insan jamaah ikhsan&lt;br /&gt;berharuan ke altar sembahyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bilal lambaikan allahu akbar&lt;br /&gt;deras meruah ke telaga kautsar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oi, ramadhan datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendari, Oktober 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan&lt;br /&gt;hujan berjam-jam&lt;br /&gt;genangi jam yang lamban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daun-daun di jalan&lt;br /&gt;mengepung air yang lalu lalang&lt;br /&gt;ilalang dan alang-alang&lt;br /&gt;merendam akar dan ujung tangan&lt;br /&gt;ke kali menuju lautan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan&lt;br /&gt;hujan berjam-jam&lt;br /&gt;aku tafakur&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendari, 9 Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUTAAN ALIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari samudera langit&lt;br /&gt;hujan berlimpahan&lt;br /&gt;luluri samudera bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagai jutaan alif&lt;br /&gt;panjang&lt;br /&gt;dari muara cakrawala&lt;br /&gt;nancap di tanah-tanah basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embun dan kabut&lt;br /&gt;mengambang&lt;br /&gt;berarak ke belukar bambu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangkai pohon menyanyi&lt;br /&gt;menari&lt;br /&gt;bersama irama hujan&lt;br /&gt;mengelana tak henti-henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memandang dari jendela&lt;br /&gt;hujan deras di mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendari, 9 Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaifuddin Gani lahir di Salubulung Mambi (Polewali Mandar, Sulbar), 13 September 1978. Belajar sastra dan teater sejak bergabung di Teater Sendiri Kendari tahun 1998. Puisinya terkumpul dalam antologi bersama Sendiri, Malam Bulan Puisi, Perjalanan, Kendari, Ragam Jejak Sunyi Tsunami, dan Antologi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan (KSSB, Kalsel 2006). Sajak-sajaknya juga dipublikasikan di Horison, Republika, Seputar Indonesia, Lampung Post, dan Majalah Gong. Email: om_puding@yahoo.com dan udin_gani@telkom.net.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=306293&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-2392656203155439259?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/2392656203155439259/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=2392656203155439259' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2392656203155439259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2392656203155439259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/sajak-sajak-syaifuddin-gani.html' title='Sajak-sajak Syaifuddin Gani'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7810927008283917189</id><published>2007-09-08T04:41:00.000-07:00</published><updated>2007-09-08T04:42:37.720-07:00</updated><title type='text'>MEMOIR DARI KAMPUS TIRANI</title><content type='html'>Oleh : Esti Nuryani Kasam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir aku lebih menurutkan dahaga untuk membaca surat kabar ketimbang perutku yang mulai terbiasa lapar. Aktualita itu tiba-tiba menyeruak seperti banjir penghujan melanda Jakarta. Aku bahkan sengaja memburunya, tak lupa mengklipingnya. Sekurangnya itu menjadi referensi baru untuk memoirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kupandangi dinding kamar kosku: penuh artikel dan slogan peradaban, bersumber pada agama, pendidikan, filsafat, sampai sastra. Semuanya berhubungan dengan kemanusian. Yang paling mencolok adalah slogan Max Havelar yang dirancang Douwes Dekker, "Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia", diikuti seuntai teori Paulo Freire, "Pendidikan adalah proses memanusiakan kembali manusia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, untuk kedua kalinya, berita pembunuhan dari kampus tirani itu menyeruak. Serasa tumbuh lagi semangatku untuk mempublikasikan catatan harianku, pengalamanku di kampus itu. Hanya dua tahun memang, tetapi rasanya itu cukup menjejali bulu mata, isi kepala dan getar perasaanku mengenai friksi-friksi yang selalu membuatku bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Bapak? Tiba-tiba ia berubah seperti teman-temanku di kampus. Seringkali menjelma srigala, mengeluarkan taringnya, dan kuku-kukunya perlahan memanjang, siap mencakar siapa saja. Bulu kuduknya menegak dengan gemuruh kegeraman yang siap mencengkeram siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kegeramannya itu diletuskannya dalam bentuk tendangan di dada, dengan tumitnya, pukulan perut dengan kepalan tangannya atau sodokan pinggang dengan tempurung lututnya. Lalu kami berjatuhan, mengaduh karena liver yang memar, buah pelir yang pecah atau tulang rusuk yang retak. Sekali aku pingsan karena kepalaku dibenturkan ke tembok. Itu dulu, ketika aku menjadi mahasiswa pemula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setahun sejak mengalami kekerasan itu, tiba-tiba aku masuk sebagai tim pemlonco mahasiswa baru. Aku harus menjalankannya. Tetapi, aku tidak ingin menyakiti mereka. Membuat pingsan, apalagi merusak organ tubuhnya. Sebab, kata-kata sederhana orangtua, kesadaran belajar, kepintaran, harapan, telah terbiasa mengitari kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, agaknya, kata-kata besar itu, di kampus kami, lenyap entah ke mana. Syukurlah, tidak di lipatan perasaanku. Rupanya ada ceceran yang tersisa di ingatan dari sekian bacaan yang menemani rentangan waktu senggangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku malahan mengkristalkan ingatan-ingatan itu. Sampai pada suatu kesempatan, aku mendapat tugas untuk menghukum seorang mahasiswa baru. Entah mengapa mandat itu menjadi begitu penting. Dan, yang lebih tak kupahami lagi, satu orang itu harus menghadapi kami bersebelas. Aku tak bisa mempertanyakannya. Yang kutahu ia seorang yang kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi barangkali benar, adanya kabar ia telah memprotes pemotongan gaji PNS yang sepuluh ribu perbulan itu. Aku tersenyum membanggakannya. Malah ia sosok harapan bangsa. Sebab, manusia atau bangsa, yang ingin besar, membutuhkan keberanian untuk berenang melawan arus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ya Tuhan! Imbauan kesepakatanku agar memintanya push up saja lima kali di hadapan kami menghidupkan kecaman. Aku diteriaki sebagai banci. Mereka mengusirku. Aku tak kecewa. Dengan senang hati aku pergi. Bukan sekedar menjauh, tapi melarikan diri. Dan, sejak itu aku tak lagi menyebutnya sebagai lembaga pendidikan, melainkan kampus tirani. Dan, nasib anak itu? Aku terus saja memikirkannya. Lalu mulai menertawakan diri sebagai pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keluarga Om, seorang ustadz, aku mengatakan itu sebagai pelarian. Tentu, yang pertama dari perasaan berdosa, menyaksikan penyiksaan demi penyiksaan oleh teman terhadap adik kelas yang lain. Selanjutnya, dari bapak yang begitu gagah menjual sawah sebagai uang pelicinku untuk dikirim ke kampus tirani itu. Suaraku dianggapnya angin lalu ketika kukatakan bahwa pendidikan otoriter itu bukan minatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak menyumpahiku. Akhirnya, aku seperti kerbau dicocok hidungnya. Dan, terapi penyiksaan itu, seolah menyentak kesadaran tentang nilai kemanusiaan dalam sanubariku. Tetapi tentu, bapakku takkan pernah mau tahu. Terang saja, kabar itu segera kudengar setelah Omku datang dari kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau jangan pulang dulu. Mas bahkan tak ingin lagi menganggapmu anak." "Ibu bagaimana?"&lt;br /&gt;"Kukatakan padanya, jika ingin menemuimu, aku bisa mempertemukan di luar sepengetahuan mas."&lt;br /&gt;"Tapi, Om tak lupa katakan padanya kan bahwa Bapak tak perlu kembalikan uang pendidikanku di sana? Aku tak apa dianggap mati. Pokoknya bilang saja bahwa aku tak pulang. Saya lebih suka orang berfikir saya mati. Ya, andai saja mereka tahu kampus itu seperti kamp eksekusi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir tiga setengah tahun aku bergulat mempertahankan hidup. Siang aku seorang kuli bangunan dan malam aku belajar dari sanggar ke sanggar. Pada dua iklim kehidupan itu aku mendapat pelajaran yang masuk akal. Berbeda dengan kebanyakan orang sanggar yang hidup demi idealisme, maka idealismeku untuk mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bernafas diantara praktisme dan teorisme. Kerja dan bertapa. Dan menulis adalah dokumentasiku mengenai romantika hidup tentang keindahan yang patut dilestarikan, kelucuan yang pantas ditertawakan, kepedihan yang seharusnya mengharukan, dan kebusukan. Aku sedang memotretnya agar orang-orang memahui, mengeyahkannya dan menggantinya dengan yang wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sepeda motor perlahan mendarat di telingaku. Aku melongok lewat jendela. Seorang dosen, penulis, wartawan, editor sekaligus teman tempatku berkeluh kesah, terlihat mengisyaratkan harapan. Sekantung makanan, oleh-oleh untukku seperti kebiasaannya, dan beberapa bundel koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tidak biasa, "Ini peliputan terakhir tentang kasus penyiksaan hingga tewas di kampusmu itu. Rasanya, untuk yang kedua kali kasus itu terbongkar, sekarang berbagai pihak mengecam dan mendesak pengusutan tuntas. Bahkan, para pelaku kunci dan penanggung jawab institusi telah dipecat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah! Berikan skripmu itu padaku, aku kerja keras mengeditorinya, naik cetak, dan saat launching buku saja kau buka kartu hidupmu di depan banyak wartawan. Percayalah, tak akan ada masalah!" ceracaunya, sambil memelototi tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigap ia lantas menyerobot skripsi. "Nah, nah, pasti niat itu sudah muncul di benakmu. Ya, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku tak berusaha merebutnya kembali. Kubiarkan ia menikmati kegirangan, berjalan menjauh sambil memperbaiki ikatan rambut gondrongku. Akupun menimpalinya dengan derai tawa. Mungkin aku sedang menertawakan sebuah tragedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7810927008283917189?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7810927008283917189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7810927008283917189' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7810927008283917189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7810927008283917189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/memoir-dari-kampus-tirani.html' title='MEMOIR DARI KAMPUS TIRANI'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7269310608969602728</id><published>2007-09-08T04:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-08T04:41:10.945-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Shantined</title><content type='html'>RINDU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelepar jantungku, kekasih&lt;br /&gt;Masihkah engkau rasakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada saat kita menepi dari riuh dunia&lt;br /&gt;Dan ada saat kita riuh menepi dari dunia&lt;br /&gt;Lalu kenapa kini kita diam tak bersuara&lt;br /&gt;Sama sekali diam tak berbuat apa apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah totem itu di halamanmu?&lt;br /&gt;Atau telah mencengkeram seluruh hidupmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, kekasih&lt;br /&gt;Aku begitu rindu&lt;br /&gt;Aku begitu ingin&lt;br /&gt;Memeluk dan menciummu&lt;br /&gt;Melingkarkan tanganku di tanganmu&lt;br /&gt;Memadu kasih dan syahwat &lt;br /&gt;Di perbatasan kampung kita yang selalu perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debar dadaku, kekasih&lt;br /&gt;Masihkah kau ingat?&lt;br /&gt;Ia tak paham kita berseteru negeri&lt;br /&gt;Ketika pelangi turun di senja hari&lt;br /&gt;Dan musim hujan tiada henti&lt;br /&gt;Sepakat kita kian kabur, kian luntur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bpp, Jan 03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada dermaga lagi buat kita&lt;br /&gt;Semenanjung murung, palung resah,&lt;br /&gt;Mulu rebah, muara marah&lt;br /&gt;Perahu kita lontang lantung &lt;br /&gt;Melaut salah, merapat susah&lt;br /&gt;Angin mengoyak layar&lt;br /&gt;Dayung hanyut&lt;br /&gt;Batu karang menghadang&lt;br /&gt;Badai menantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga tuli oleh deru ombak&lt;br /&gt;Mata buta oleh kabut&lt;br /&gt;Kata tumpah oleh gelombang&lt;br /&gt;Masihkah ada malka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bpp, Okt 05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KADAVER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti mayat mayat yang mengapung di matamu&lt;br /&gt;Renik renik sejarah luka telah melaut&lt;br /&gt;Rajam untuk tatap pandang&lt;br /&gt;Seperti seiris silet, di nganga pembuluh darah&lt;br /&gt;Menetes netes darah, ngalir di suaramu yang mendesah&lt;br /&gt;O, alangkah tipis selaput dusta&lt;br /&gt;Membungkus sajak sajak cinta merah muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggenang air matamu kau tumpahkan di altar&lt;br /&gt;Mengawali doa doa panjang&lt;br /&gt;(Tuhan tetap tak memandangku, bisikmu)&lt;br /&gt;Melalui lengking, engkau lalu bercerita&lt;br /&gt;Seekor kupu kupu yang hinggap di dadamu&lt;br /&gt;Telah menghisap habis sari cintamu&lt;br /&gt;Maka kau hidangkan padaku&lt;br /&gt;Setetes madu palsu&lt;br /&gt;(Buatan pabrik, katamu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tubuh masih saja hidup&lt;br /&gt;Meski jiwamu mati&lt;br /&gt;Maka seperti kadaver&lt;br /&gt;Perjalananmu tak utuh besertaku.&lt;br /&gt;Menjalar akar di pohon, umbimu mengenyangkan&lt;br /&gt;Dan rengkuhku tiba tiba meliuk di angkasa&lt;br /&gt;Untuk tumbang dalam persetubuhan pertama&lt;br /&gt;Luka adalah luka&lt;br /&gt;Mayat adalah mayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan belatung kini&lt;br /&gt;Berenang di bening manik matamu&lt;br /&gt;Dan dengan desis ularmu, engkau mulai merayu&lt;br /&gt;Bersama sekawanan lolong serigala&lt;br /&gt;Dan malam yang pekat&lt;br /&gt;Telah kukuburkan namamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bpp, 16 Juni 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shantined lahir di Yogyakarta, 21 Oktober 1972. Saat ini tinggal dan bekerja di Balikpapan, Kaltim. Mulai senang membuat sajak dan cerpen sejak usia 9 tahun. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan cerpen dan puisi semasa sekolah di Yogyakarta. Sajak-sajaknya dipublikasikan di Suara Pembaharuan, Republika, Kedaulatan Rakyat, dan Majalah Horison. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam beberapa buku antologi bersama puisi dan cerpen. Antara lain, Dian Sastro For President, Surat Putih 3, Antologi Penyair Perempuan, Perkawinan Batu dan Bingkisan Petir. Alamat email: shantined2003@yahoo.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=305471&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7269310608969602728?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7269310608969602728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7269310608969602728' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7269310608969602728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7269310608969602728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/sajak-sajak-shantined.html' title='Sajak-sajak Shantined'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-8459306879346524226</id><published>2007-09-01T17:54:00.000-07:00</published><updated>2007-09-01T17:55:40.215-07:00</updated><title type='text'>MALING</title><content type='html'>Oleh : Lidya Kartika Dewi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak merenovasi rumahnya yang sederhana menjadi rumah megah, perilalu keluarga Pak Cokro berubah total! Berada persis di depan sebuah gang yang tidak terlalu lebar, rumah Pak Cokro kini bak istana yang berdiri di antara rumah-rumah sederhana dan sangat sederhana para tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sebelum rumahnya direnovasi, Pak Cokro dan istrinya sangat ramah dan menjaga hubungan baik dengan para tetangganya, terlebih dengan keluarga Bu Marni yang rumahnya persis di depan rumah Pak Cokro. Begitu dekatnya hubungan bertetangga itu, sehingga mereka sudah seperti saudara. Bila punya kelebihan makanan, Pak Cokro selalu menyuruh istrinya membaginya pada Bu Marni. "Kasihan. Bu Marni sudah janda, sedang empat anaknya masih kecil-kecil," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Marni membalas kebaikan Pak Cokro dan istrinya dengan sikap kekeluargaan yang tak kalah intimnya. Sering Bu Marni membantu pekerjaan rumah Bu Cokro, tanpa pernah minta imbalan. Sejak mencuci baju, menyeterika, sampai mengepel lantai. Tapi Bu Cokro sangat tahu kalau membantu bersih-bersih di rumah tetangga merupakan sumber nafkah Bu Marni. Bu Cokro pun selalu memberi imbalan uang yang sangat pantas, sehingga hubungan bertetangga mereka sangat mesra dan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, kemesraan dan keharmonisan itu sudah tiada. Rumah Pak Cokro yang sekarang bertingkat dua dan megah bak istana itu berpagar tinggi. Jangan lagi untuk menjenguk ke dalam rumah yang megah itu, untuk melihat teras depannya saja sekarang Bu Marni tidak bisa. Karena pagar depan rumah yang tinggi itu ditutup pula dengan fiberglas warna biru tua. Maka semakin jauhlah jarak hubungan antara keluarga Pak Cokro dengan para tetangganya, juga dengan Bu Marni. Apalagi, untuk mengurusi rumahnya yang besar itu Pak Cokro kini sudah mempekerjakan dua orang pembantu yang diambil dari desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Marni, juga para tetangga yang lain, bisa memahami perubahan sikap keluarga Pak Cokro. Mereka memaklumi. OKB, orang kaya baru, biasanya memang snob! Para tetangga, juga Bu Marni, tak ambil peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sore itu kuping Bu Marni memanas. Motor bebek yang biasa dipakai Hendi, anak Pak Cokro yang kedua, hilang. Mengetahui hal itu, dengan membuka pintu pagar depan rumahnya lebar-lebar, Pak Cokro yang baru pulang kerja langsung berteriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, Hendi, kamu itu jangan sembrono! Nyimpan motor di luar pintu pagar rumah, ya pasti dicolong maling! Sekarang memang banyak maling di sekitar rumah kita ini. Jangan lagi motor. Sandal, sepatu, sapu, payung, bahkan pot bunga aja kalau disimpan di luar pintu pagar, pasti hilang! Ngerti kamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngerti, Pak," jawab Hendi lirih.&lt;br /&gt;"Makanya kamu harus hati-hati! Kamu harus tahu, apa pekerjaan orang depan rumah kita itu?"&lt;br /&gt;Hendi membisu.&lt;br /&gt;"Kamu juga harus tahu," tukas Pak Cokro pula. "Banyak orang iri pada kita. Sehingga, orang yang tadinya baik, bisa jadi maling!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Marni, yang kala itu sedang menyapu teras depan rumahnya, merasa tersinggung oleh kata-kata Pak Cokro yang seperti sengaja dibidikkan padanya. Secara tidak langsung Pak Cokro telah menuduhnya sebagai maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Bu Marni meletakkan sapunya. Tapi, ketika ia bergegas melangkah menghampiri rumah Pak Cokro, dengan tergesa dan menghentak Pak Cokro menutup pintu pagar depan rumahnya. Sedang Bu Marni yang sudah terlanjur dibakar api kemarahan, dengan sedikit kasar mengetuk-ketuk pagar yang ditutupi fiberglas itu sambil berseru, "Assalamualaikum!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpakasa Pak Cokro membuka kembali pintu pagar rumahnya.&lt;br /&gt;"Ada apa, Bu?" tanya Pak Cokro, berlagak bego.&lt;br /&gt;"Pak Cokro menuduh saya mencuri motor bebek Hendi?" suara Bu Marni memburu.&lt;br /&gt;"Ah, siapa yang bilang?" Pak Cokro pasang mimik serius.&lt;br /&gt;"Saya dengar waktu Pak Cokro berteriak-teriak memarahi Hendi," kata Bu Marni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, itu perasaan Bu Marni saja," suara Pak Cokro berubah santai, ramah. "Percaya, Bu, saya nggak nuduh siapa-siapa. Saya hanya memarahi Hendi agar tidak teledor. Gang depan rumah kita ini kan jalan yang hidup. Banyak orang lalu-lalang. Jadi mana bisa saya menuduh orang sembarangan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Marni terdiam, tak mampu untuk membela diri lebih jauh. Lalu tanpa permisi ia pergi meninggalkan halaman rumah Pak Cokro, walau di dalam hatinya masih tersimpan rasa kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Bu Marni, Pak Cokro menutup pintu pagar rumahnya sambil bergumam, "Huh, dasar miskin. Ada orang ngomong sedikit keras aja tersinggung!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, sore hari, sering kali pintu pagar depan rumah Pak Cokro dibuka lebar-lebar. Dan, beberapa kali secara tidak serngaja Bu Marni melihat Pak Cokro tengah duduk melamun. Awalnya Bu Marni menduga Pak Cokro kelelahan setelah seharian bekerja. Tapi, belakangan Bu Marni mulai curiga, ketika mulai ramai disiarkan di beberapa stasiun TV, bahwa di departemen tempat Pak Cokro bekerja telah terbongkar sebuah mega korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Pak Cokro terlibat di dalamnya? Bukan hanya Bu Marni, tapi para tetangga juga mulai ramai berbisik-bisik tentang dugaan keterlibatan Pak Cokro. Dan, dugaan itu menjadi kenyataan, ketika siaran berita di TV mulai menyebut-nyebut nama Pak Cokro terlibat dalam mega korupsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Marni menghela nafas puas. Sakit hatinya karena dicurigai sebagai maling oleh Pak Cokro kini mendapatkan momen untuk dilampiaskan. Maka ketika sore itu pintu pagar depan rumah Pak Cokro terbuka lebar dan tampak Pak Cokro tengah duduk melamun, Bu Marni langsung berkata dengan suara keras, menyambut Sekar, anaknya yang pertama yang baru pulang dari mengaji di rumah Ustadzah Yoyoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, Sekar, kamu belajar ngaji yang baik. Biar moralmu baik. Agar kalau besok-besok kamu jadi pejabat, kamu nggak jadi maling!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan tahu kepada siapa ucapan ibunya ditujukan, cepat Sekar menukas, "Ah, kalau pejabat bukan maling, Bu. Tapi korupsi!"&lt;br /&gt;"Ah, itu kan hanya istilah!" teriak Bu Marni. "Tapi hakekatnya sama saja, maling! Banyak duit dari hasil maling aja sombong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar teriakan Bu Marni, Pak Cokro tak tahan. Ia tahu, teriakan itu ditujukan kepadanya. Buru-buru Pak Cokro bangkit dari duduk dan segera menutup pintu pagar depan rumahnya rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ucapannya mengenai saran, Bu Marni dan Sekar berpelukan sambil tersenyum penuh kemenangan. Beberapa hari yang lalu sang ibu memang telah mengatakan pada sang anak, bahwa ia akan melampiaskan dendamnya pada Pak Cokro. Kini sakit hati itu telah terbayar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih pagi. Masih sangat pagi. Matahari masih malu-malu bersinar dari ufuk timur. Pohon jambu air yang daunnya rimbun dan buahnya lebat yang tumbuh di halaman depan rumah Bu Marni masih tampak segar, karena masih digayuti embun. Dan, Bu Marni tengah sibuk menyapu halaman depan rumahnya yang dikotori daun-dauan jambu air yang gugur, saat terdengar sebuah suara memberi salam.&lt;br /&gt;"Assalamualaikum."&lt;br /&gt;Bu Marni menghentikan aktifitasnya menyapu dan menatap ke arah pintu pagar.&lt;br /&gt;"Waalaikumsalam. Eh, Bu Cokro."&lt;br /&gt;Bu Marni meletakkan sapu lidi sembarangan dan bergegas ke pintu pagar dan membukanya. "Mari masuk, Bu," ucapnya, ramah.&lt;br /&gt;"Maaf, mengganggu." Senyum Bu Cokro, sedikit rikuh.&lt;br /&gt;"Oh, nggak, nggak." Bu Marni melangkah ke teras. Bu Cokro membuntuti. Di kursi teras keduanya duduk berdampingan.&lt;br /&gt;"Ada perlu apa, Bu?" kening Bu Marni berkerut, penuh tanya.&lt;br /&gt;"Kalau bersedia, saya minta Bu Marni membantu-bantu lagi di rumah saya," kata Bu Cokro, hati-hati.&lt;br /&gt;"Lho, memang pembatu rumahnya ke mana, Bu?" tanya Bu Marni heran. Benar-benar heran. Ia memang tak tahu persis apa yang telah terjadi di dalam rumah besar bak istana itu.&lt;br /&gt;"Sebelum digelandang ke hotel prodeo, Pak Cokro meminta dua pembantu rumah kami supaya dipulangkan ke desa. Sebagai gantinya memohon Bu Marni untuk kembali membantu-bantu di rumah kami."&lt;br /&gt;"Ooo." Bu Marni manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Bu Marni mau, kan?" sela Bu Cokro, penuh harap.&lt;br /&gt;Bu Marni tidak segera menjawab. Teringat ia pada sikap kasar dan sombong keluarga Pak Cokro setelah jadi orang kaya. Tapi segera pula Bu Marni menyadari posisinya sebagai janda miskin dengan empat anak. Demi urusan perut dan biaya pendidikan keempat anaknya, rasa sakit hati itu harus Bu Marni buang jauh-jauh.&lt;br /&gt;"Ya ya saya mau, Bu," ucap Bu Marni sumringah, bungah. "Tapi maaf, Bu. Kalau boleh saya tahu, hotel prodeo itu apa?"&lt;br /&gt;Sesaat Bu Cokro tampak ragu untuk bicara. "Penjara," katanya kemudian. "Tapi suami saya nggak bakal lama mendekam di sana. Paling lama satu tahun. Itu karena kesalahan Pak Cokro tidak terlalu besar." &lt;br /&gt;"Ooo." Kembali Bu Marni manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Yah, nggak apa-apalah dipenjara. Itung-itung istirahat dari rutinitas kerja," sambung Bu Cokro. "Karena walau dipenjara, saya sudah lihat, tempatnya enak, seperti di hotel. Ada AC, kulkas, juga TV."&lt;br /&gt;"Ooo." Lagi-lagi Bu Marni hanya bisa manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-8459306879346524226?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/8459306879346524226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=8459306879346524226' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8459306879346524226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8459306879346524226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/maling.html' title='MALING'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-5776373385442572691</id><published>2007-09-01T17:50:00.000-07:00</published><updated>2007-09-01T17:53:28.087-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Saut Situmorang</title><content type='html'>AKU INGIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin bercinta denganmu&lt;br /&gt;waktu gempa lewat&lt;br /&gt;di kota kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat itu&lt;br /&gt;pasti tak ada&lt;br /&gt;keluh cemas, sinar mata ketakutan&lt;br /&gt;atau gemetar kakimu&lt;br /&gt;yang membuatku termangu,&lt;br /&gt;berbuat apa tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin bercinta denganmu&lt;br /&gt;waktu kematian itu&lt;br /&gt;kembali,&lt;br /&gt;mengusik retak retak lama&lt;br /&gt;di dinding rumah&lt;br /&gt;yang tegak&lt;br /&gt;berusaha tetap gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak ingin&lt;br /&gt;melihat kematian&lt;br /&gt;mempermainkanMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 9.8.2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANTUL MON AMOUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di antara reruntuhan&lt;br /&gt;tembok tembok rumah, di ujung&lt;br /&gt;malam yang hampir sudah, kita hanyut&lt;br /&gt;dipacu selingkuh kata kata, seperti bulan&lt;br /&gt;yang melayari tepi purnama&lt;br /&gt;di atas kepala. rambut kita&lt;br /&gt;menari sepi di angin perbukitan&lt;br /&gt;yang menyimpan sisa amis darah&lt;br /&gt;dan airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu laut menyapa&lt;br /&gt;dengan pasir pantai dan cemburu&lt;br /&gt;matahari pagi. tak ada suara&lt;br /&gt;burung laut, para pelacur pun&lt;br /&gt;masih di kamarnya bergelut. dalam kabut&lt;br /&gt;alkohol aku biarkan kata kata&lt;br /&gt;menjebakku dalam birahi&lt;br /&gt;rima metafora. kemulusan kulit&lt;br /&gt;kupu kupumu dan garis payudaramu&lt;br /&gt;yang remaja membuatku cemburu&lt;br /&gt;pada para dewa yang, bisikmu,&lt;br /&gt;menggilirmu di altar pura mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menciummu&lt;br /&gt;karena para dewa tidak&lt;br /&gt;memberimu cinta sementara aku&lt;br /&gt;cuma punya kata kata&lt;br /&gt;yang berusaha melahirkan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogkartaa 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPUAN BATU&lt;br /&gt;KOTA DENPASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;empat jalan kota denpasar&lt;br /&gt;tersesat di pinggulmu&lt;br /&gt;angan tengah malamku&lt;br /&gt;terantuk di buah dadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang bocah gelandangan mabuk bir&lt;br /&gt;menyangka dirinya anak srigala &lt;br /&gt;meraung ke bulan purnama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu merangkak dan bersimpuh&lt;br /&gt;di telapak kakimu, menatapmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesaji harum dupa&lt;br /&gt;terletak di kakimu&lt;br /&gt;seorang bayi&lt;br /&gt;dalam pelukan tanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubayangkan kau turun dari pedestal itu&lt;br /&gt;waktu matahari dan bulan bertemu&lt;br /&gt;di atas rambutmu&lt;br /&gt;lalu kau bercerita padaku&lt;br /&gt;tentang dirimu&lt;br /&gt;namamu&lt;br /&gt;asal usulmu&lt;br /&gt;masa lalumu&lt;br /&gt;kekasihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cintakah yang membuatmu&lt;br /&gt;terkutuk jadi muda selamanya?&lt;br /&gt;atau batu itukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denpasar, 27 Oktober 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut Situmorang lahir pada 29 Juni 1966 di kota kecil Tebing Tinggi, Sumatera Utara, tapi dibesarkan sebagai 'anak kolong' di Medan. Pendidikan S1 (sastra Inggris, film, dan creative writing) dan S2 (sastra Indonesia -- tidak selesai]) dilakukannya di Selandia Baru. Mengajar Bahasa dan sastra Indonesia selama beberapa tahun di almamaternya, Victoria University of Wellington dan University of Auckland, Selandia Baru. Menulis dalam dua bahasa -- Indonesia dan Inggris -- puisi, cerpen, esei -- dan dipublikasikan di Indonesia, Selandia Baru, Australia, serta Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=304553&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-5776373385442572691?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/5776373385442572691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=5776373385442572691' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5776373385442572691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5776373385442572691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/09/sajak-sajak-saut-situmorang.html' title='Sajak-sajak Saut Situmorang'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7286200910163762350</id><published>2007-08-25T16:30:00.000-07:00</published><updated>2007-08-25T16:31:34.820-07:00</updated><title type='text'>TUA</title><content type='html'>Oleh : Mustafa Ismail &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tulang rahangnya tetap kekar dan keras, wajahnya sudah menampakkan ketuaan. Tatapan matanya tidak setajam dulu. Dan mata itu menjadi agak rabun. Ia tidak begitu mengenali orang yang bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Muista Fahendra, ya. Kau gemuk sekali sekarang, hampir tidak kukenal. Kukira kau kontraktor yang akan membangun Taman Budaya, ha ha ha," katanya ketika ia melihatku muncul di Taman Budaya sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya tidak segemuk dua belas tahun lalu, saat kami sama-sama suka tidur di meunasah tuha, surau di Taman Budaya. Daging di pipinya makin menipis. Bentuk rambutnya berubah, menjadi tipis, tidak lagi gondrong membentuk bundaran mirip bunga kol yang bagian kedua sampingnya ditipiskan. Ubannya makin penuh di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang lelaki itu dari atas ke bawah. Ia tidak garang lagi, seperti dulu ketika mengatur sepeda motor dan mobil yang parkir di Rex, tempat ia menjadi juru parkir. Tubuhnya sedikit membungkuk. Tapi kumisnya tetap tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau lihat? Aku sudah tua ya," katanya.&lt;br /&gt;"Abang tetap gagah," kataku.&lt;br /&gt;Ia tergelak.&lt;br /&gt;"Kau jangan menghiburku. Katakan saja bahwa aku sudah tua."&lt;br /&gt;"Tapi pasti abang tetap disukai banyak perempuan."&lt;br /&gt;"Dari mana kau tahu?"&lt;br /&gt;"Dari puisi yang abang kirim lewat SMS kepadaku beberapa bulan lalu." "Ha ha. Soal puisi itu, aku mau cerita sama kau. Tapi kita perlu duduk barang dua jam. Oh ya, kapan kau kembali ke Jakarta?"&lt;br /&gt;"Dua hari lagi."&lt;br /&gt;"Begini aja. Nanti malam jam delapan kita ketemu di Rex. Sekarang aku harus pergi, ada janji sama seseorang."&lt;br /&gt;"Seseorang yang cantik?"&lt;br /&gt;"Ha ha ha!" Tawanya keras sekali. Aku ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada akhirnya memang kita akan tua. Tapi aku belum ingin tua." Bang Burhan mengucapkan kata-kata itu belasan tahun lalu, ketika kami sering bertemu, ngobrol tentang banyak hal, di meunasah tuha atau di warung kopi Siang Malam, tempat banyak seniman dan wartawan di kota itu sering ngopi pagi.&lt;br /&gt;"Mengapa Abang mencemaskan tua?"&lt;br /&gt;Aku memandang lelaki itu lekat-lekat. Tidak biasanya dia begitu. Wajahnya tampak begitu serius. Seperti ada sesuatu yang sedang menjadi masalah besar baginya. Ia menghela nafas, lalu matanya di arahkan ke luar, ke jalan raya kota itu yang ramai.&lt;br /&gt;"Ada yang mengatakan aku sudah tua bangka. Tak pantas...."&lt;br /&gt;Belum sempat kata-kata itu diteruskan, seorang anak muda masuk dan mengajaknya pergi. Ia bangkit dan melangkah, tanpa berkata apa pun kepadaku. Ia pergi bersama pemuda itu, yang tak lain anak tertua Bang Burhan. Mataku mengikutinya hingga tubuhnya menghilang di luar.&lt;br /&gt;Lama Bang Burhan tidak muncul. Teman-teman bertanya-tanya. Sebulan kemudian, aku melihat Bang Burhan menggandeng seorang gadis cantik di Terminal Jalan Diponegoro. Ia naik angkutan kota, labi-labi, ke jurusan Lhoknga. Wajahnya sumringah. Aku ingin memanggil, tapi tubuhnya segera hilang di balik labi-labi itu.&lt;br /&gt;Aku tak mengenal gadis itu. Tampaknya ia seorang mahasiswa. Aku jadi bertanya-tanya, siapakah dia? Tapi aku segera ingat bahwa banyak perempuan yang senang dengan puisi laki-laki itu yang romantis dengan irama mendayu-dayu. Mungkin gadis itu salah satu penggila puisi-puisinya. Tak heran, ia banyak dekat dengan perempuan. Biasanya peristiwa kedekatannya itu akan tumpah dalam puisinya yang dimuat di koran. Rupanya beberapa teman juga kerap melihat Bang Burhan bersama gadis dengan ciri-ciri yang sama: hitam manis, rambut sebahu, dan memakai kaca mata.&lt;br /&gt;Suatu kali, ia muncul di Taman Budaya. Wajahnya murung. Aku bersama dua teman, Saiful dan Sulaiman Juned, sedang tidur-tiduran sambil ngobrol di meunasah tuha. Ia tidak banyak berkata-kata.&lt;br /&gt;"Dari Blang Bintang, Bang?" tanya Sulaiman.&lt;br /&gt;"Ya. Aku mau tidur. Jangan diganggu ya," katanya dengan suara agak parau, tapi tegas. Lalu, ia merebahkan diri di salah satu sudut meunasah. Kami terus mengobrol bisik-bisik di sudut lain, sambil sesekali memperhatikan Bang Burhan. Rupanya ia tidak sepenuhnya tidur. Dengan posisi tidur miring menghadap dinding meunasah, ia asyik memperhatikan sebuah foto ukuran kartu pos.&lt;br /&gt;"Kalau tidak sedang jatuh cinta pasti Bang Burhan sedang patah hati," kata Sulaiman.&lt;br /&gt;Aku dan Saiful hanya tersenyum.&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, ia menaruh foto itu didadanya dan ia benar-benar tertidur.&lt;br /&gt;Sore-sore, aku kembali berpaspasan dengan Bang Burhan di depan kantin Taman Budaya, lagi-lagi dengan wajah murung. Ia tidak menyapa, bahkan tidak menoleh ke kantin yang dilewatinya. Ia terus keluar dari kompleks itu, lalu berjalan ke arah kota menyusuri trotoar di depan Gunongan. Jalanan seolah menelan tubuhnya yang dibalut baju batik bermotif merah itu. Tiga minggu kemudian, kami baru tahu apa yang sesungguhnya terjadi, ketika kami baca puisinya muncul di koran. Ia menulis begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teluk semakin tertutup buat kapal-kapal&lt;br /&gt;termangu tanpa ada yang membelai&lt;br /&gt;kecuali ombak laut dan baris-baris kenangan&lt;br /&gt;yang lama tersimpan dalam buku catatan harian&lt;br /&gt;rindu sudah terpenggal*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggambarkan cintanya yang tertutup. Tapi tak jelas, siapa yang menutup cintanya itu. Tapi belakangann aku, juga teman-teman, tidak pernah melihat lagi ia berjalan dengan gadis mahasiswa itu. Kami segera menebak-nebak: pastilah perempuan itu yang telah menutup cintanya buat Bang Burhan.&lt;br /&gt;"Kalian keliru. Gadis itu anakku yang tinggal di kampung. Ia baru kuliah di sini, makanya sering kujemput," katanya suatu kali di warung Siang Malam.&lt;br /&gt;"Kalau begitu, boleh lah gadis itu kutaksir," Anhar menyela.&lt;br /&gt;"Aku enggak mau anakku cuma kau kasih makan puisi. Ha ha ha!" &lt;br /&gt;"Enggak melulu puisilah. Nanti gantian sama cerpen, novel...." Saiful menimpali.&lt;br /&gt;"Ha ha ha!"&lt;br /&gt;"Jangan lupa sesekali dikasih drama juga. Ha ha ha!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rex sangat ramai. Aku melangkah masuk, sambil menyebar pandang ke seluruh penjuru tempat jajanan yang dengan kursi-kursi plastik dan dikeliling warung-warung penjual makanan itu. Di antara orang ramai itu, Bang Burhan melambai-lambai. Ia sedang bersama seorang perempuan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Muista Fahendra, mengaku pengrajin puisi, bukan penyair. Ia sudah jadi orang Jakarta sejak dua belas tahun lalu," katanya ketika memperkenalkanku kepada perempuan itu. "Ini Linda."&lt;br /&gt;Kami duduk. Tapi, mataku kembali menoleh ke perempuan yang berumur 30-an itu. Wajahnya tidak asing. Aku mencoba mengingat-ingat. Aku terlonjak. Inilah perempuan yang dulu pernah kulihat digandeng Bang Burhan ketika naik labi-labi jurusan Lhok Nga.&lt;br /&gt;Setelah duduk sebentar, perempuan muda itu mohon diri. "Maaf, saya harus pulang," katanya lalu bangkit.&lt;br /&gt;Bang Burhan mengantarnya sampai ke mobil sedan yang parkir di depan Rex. Setelah mobil itu menghilang ditelan malam, Bang Burhan kembali ke tempat duduk kami.&lt;br /&gt;"Pasti ini perempuan yang dulu Abang sering jemput." &lt;br /&gt;"Ha ha. Sudah kuduga, pasti kau ingat perempuan itu."&lt;br /&gt;"Jelas ingat. Ia kan anak abang yang tinggal di kampung."&lt;br /&gt;"Ha ha ha!" Tawa Bang Burhan makin keras. "Kalian mau saja kubodohi. Anakku semua tinggal di Banda Aceh, tidak ada yang di kampung. Ha ha ha!"&lt;br /&gt;"Lalu itu siapa?"&lt;br /&gt;"Itu anak orang, ha ha ha!" &lt;br /&gt;"Ha ha ha!"&lt;br /&gt;Setelah tawa kami reda, Bang Burhan berkata hati-hati. "Dia ditinggal suaminya yang menjadi korban tsunami." Ia berhenti sejenak, diam, menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. "Aku mau kawin sama dia," ia melanjutkan. "Aku sedang cari cara. Sebab, keluarganya bilang ngapain kawin sama orang tua bangka. Apakah aku memang sudah benar-benar tua?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak mendengar pertanyaan itu. Aku ragu, apakah pertanyaan itu perlu kujawab? Tiba-tiba aku tidak punya keberanian menjawabnya. Aku mencoba diam, pura-pura lupa. Mataku memandang lampu kendaraan yang lalu lalang di depan Rex, berbaur dengan lampu toko-toko dan dua hotel yang mengelilinginya. Lampu-lampu itu membentuk lautan cahaya yang tak habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fahendra, coba kau jawab dulu, apakah aku memang benar-benar sudah tua, sehingga tidak pantas kawin dengan perempuan itu?"&lt;br /&gt;Aku ingin menjawab bahwa sesungguhnya Bang Burhan sudah tua. Umurnya sudah 73 tahun. Tapi mulutku sangat susah untuk bicara. Aku takut melukai hatinya, hati seorang kawan yang kembali jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Petikan puisi Selamat Tinggal Cinta karya penyair Hasbi Burman, tokoh yang dijuluki Presiden Rex, yang menginspirasi cerita ini. Tapi, seluruh kisah ini adalah fiktif. Ini semacam pengganti ketidakhadiran saya pada acara Semalam Suntuk Bersama Hasbi Burman di Rex, Banda Aceh, akhir Mei lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7286200910163762350?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7286200910163762350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7286200910163762350' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7286200910163762350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7286200910163762350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/tua.html' title='TUA'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4159916411899524521</id><published>2007-08-25T16:27:00.000-07:00</published><updated>2007-08-25T16:30:35.100-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Muhammad Subarkah</title><content type='html'>AIN HELWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kau simpan lenguh rinduku pada laut berkapur: Ain Helwa. Pucuk pinus hanya menyisakan tiris embun daun. Dan raunganku terkapar pada padang-padang tandus kaktus. Darahku menetas. Aku panggil Rumi. Ia tak datang juga. Bayangannya hanya menjelma pada tali pusar gadis Rusia. Atau, pada usungan keranda lelaki Palestina bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama tanah ini menjadi batu. Jauh sebelum Musa terusir dari tanah perjanjian. Dan, jauh sebelum Tuhan menampakan diri pada bukit Tursina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah plaza aku hanya temukan Gibran yang menggigil kedinginan. Dia hanya bisa menyeru, tapi Tuhan lari entah ke mana. Wajahnya pasti seperti ragi. Rindunya pada masa kanak tersangkut pada butik Kosmo Amerika. Sedangkan mimpinya terbang sendirian. Tanpa busur. Tanpa anak panah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tanah impian. Seratus nabi dan ribuan pengungsi telah lahir di sini. Ain Helwa, engkaulah nisan dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza-Beirut, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYANYIAN KEKASIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada deretan plaza aku temukan sosok bayanganmu yang membatu. Hidup menjadi antrian keluhan. Ada yang menjelma kecap, ketimun, selada, daging babi panggang, kaleng bir, cendawan hutan, atau sekawanan binatang ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih, aku potong kepalaku sendiri ketika hujan pagi ini menggenangi got-got dan pelimbahan komplek taman. Sebelum itu aku telah pakukan namamu pada bangku taman dan tiang ayunan. Angin hanya beku memandangku ketika mata gergaji mulai menetaki ruas batang leher. Tak ada darah. Tak ada air mata. Tak ada lenguhan. Semua diam membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma bila Tuhan kau keluhkan. Nasib menuai mati di tanganku. Tak perlu lagi doa yang kau ulurkan karena itu telah berubah menjadi sulur akar pohon yang akan merambati batu nisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih, alangkah indahnya bila hidup sudah seperti mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CALZOUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O apa jadinya bila dunia tanpa kata. Makna hilang ke temu sembunyi di bilik kelam dunia. O apa jadinya. Pipa jembatan dan kelopak bunga tak berguna. O apa jadinya. Semak tak runut sembunyikan jejak. Rindu menggantung tak terjawab. Dahan dahan. Ngilu. Lelaki abai pulang petang. O apa jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O apa jadinya bila semua orang sakit jiwa. Arak tanggalkan mabuk. Pisau hilangkan iris. Kapak abaikan tetak. Duri hilangkan tusuk. Onta lepaskan punuk. Gurun tak berpasir. Angin abai sebarkan desir. Darwis lupa jenggotnya. O apa jadinya, bila semua orang masuk surga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LHOK NGA, KETIKA LUKA&lt;br /&gt;LUPA MENUTUP MULUTNYA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di manakah rumah sepi bila sunyi bersembunyi dalam rengkah kubah. Matahari tetap saja tertidur dalam dekapan pekat lumpur. Remah menyelimutinya sementara luka mendengkur lupa menutup mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lhok Nga, lembah pantaimu hanyalah kubur batu. Tempat kupak rambut kulit kepala bersemayam. Alamat sepi pada tubuh tangan kaki kaku bayi menggapai. Dan, tulang tungkai yang berjuluran di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik jembatan runtuh seorang seorang ibu berjalan tertatih menyeret jasad anak perempuannya. Wajahnya pasai seperti dinding kapur. Mulutnya meracau mengeja mimpi-mimpi malam pengantinnya. Parau teriakannya: ''Biar kutanam sendiri tubuh anakku. Biar tumbuh menjadi pohon kelapa. Biar menjulang seperti kubah!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat pun kemudian dimasukannya ke dalam bekas lobang golf. Tak cukup untuknya, lalu diremasnya. Anjing lapar pun ramai bersorak. Inilah saatnya pesta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bilik kedai kopi para lelaki berselempang senjata hanya memandangnya. Mereka berbicara dalam nanar. Lupa bahwa hari ini tak ada lagi gulai ganja usus buntu. Karena semua belatung dan semilyar bakteri isi perut telah termuntahkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lhok Nga semua doa nyeri memejamkan mata. Tapi, luka terus mencoba mencari alamatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Subarkah lahir di Ajibarang, 22 September 1969. Menulis puisi, esai, dan cerita pendek di berbagai media massa ibu kota dan daerah. Juga menulis beberapa skenario Film Televisi (FTV). Sekarang menjadi jurnalis Harian Republika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=303789&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4159916411899524521?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4159916411899524521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4159916411899524521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4159916411899524521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4159916411899524521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/sajak-sajak-muhammad-subarkah.html' title='Sajak-sajak Muhammad Subarkah'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-222383287988844245</id><published>2007-08-20T17:01:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T17:03:17.183-07:00</updated><title type='text'>BERTAHAN DI SELATAN</title><content type='html'>Kalau pendatang kurang paham asal usul tempatnya tinggal, orang Betawi kurang paham kemauan warga pendatang. Seperti Belanda minta tanah, dikasih semeter minta dua meter, dikasih dua meter minta tiga meter. Tidak pernah cukup. "Sebentar-sebentar ada pemekaran kota. Apa kagak bisa, bikin kota lain di tanah yang gersang aja?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan akan Betawi yang hijau merona, ditandai pepohonan tinggi, selalu mengusik perasaan Haji Jaelani. Memang tidak seasri perkebunan milik Onderneming, tetapi tetumbuhan itu cukup memberikan keteduhan bagi warga yang hidup mengerumun bertetangga layaknya sebuah paguyuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, paguyuban-paguyuban itu begitu kentara gerabak-gerubuknya, mengikat tali persahabatan membentuk sebuah rempuk persaudaraan. Kelompok-kelompok masyarakatnya yang vokal dan percaya diri menjadi ciri keluarga besar warga Betawi. Dirajut kebiasaan melakukan pengajian berjamaah, mereka sering mengulur tangan silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap berkunjung ke rumah para sohib, dibawanya pulang oleh-oleh. Kalau dari Condet mereka menyiapkan keranjang untuk dijejali manggis dan salak, dari sekitar Tanah Kusir mereka menggotong nangka dan buah cempedak. Lebih menjauh sedikit, mereka sering mengangkut bermacam buah langka dan durian sebecak. Sedang dari kota, mereka membalas pemberian dengan berkaleng-kaleng susu dan seloyang penganan olahan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, mereka berpencar menjadi masyarakat terpinggirkan, setelah tanah mereka yang perkotaan habis terjual. Untuk bertahan sebagai warga Betawi, mereka kemudian menguasai lahan yang lebih murah, di kawasan resapan berkepadatan rendah daerah selatan. Haji Jaelani masih beruntung bisa tinggal di Ciganjur dengan pekarangan luas dan memiliki lahan ternak sapi perah di Pondok Rangon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan penuh kandang itu sebagai kompensasi sebagian tanahnya di Karet Kuningan. Sebenarnya dia sudah sangat betah tinggal di sana, turun-temurun. Tetapi akhirnya merasa letih, menghadapi rongrongan dan desakan untuk melepas tanahnya. Rongrongan pertama datang dari pokrol yang mengatas-namakan keluarga Sultan Agung. Mereka menunjukkan copy arsip dari Balai Harta Peninggalan. Kemudian membeberkan bukti kepemilikan kerajaan Mataram, sebelum Belanda datang menjarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rongrongan itu membuat Haji Jaelani naik pitam. Dengan golok di pinggang, dia damprat si pokrol bergaya preman, "Heh, duluan mana orang asli Betawi sama ente punya Sultan datang kemari. Sembarangan aja ente ngomong!" Rongrongan berikutnya datang dari Badan Otorita, yang ditugasi pemerintah membenahi wilayah Kuningan untuk dibangun kawasan diplomatik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Jaelani menggeleng-gelengkan kepala sewaktu menyaksikan pembangunan rumah susun, yang menurutnya mirip kandang beruk. Bangunan berpetak-petak itu dimaksudkan sebagai kompensasi yang dianggap lebih manusiawi untuk tinggal bagi warga yang lahannya terkena proyek. Sedang untuk kandang ternak, mereka akan mendapat ganti di kawasan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perwakilan Badan Otorita, mereka mereka yang berstatus hanya sebagai penggarap tanah negara, seharusnya merasa berterima kasih memperoleh kompensasi tempat tinggal dan tempat usaha yang lebih layak. Pernyataan itu membuat Haji Jaelani meradang, "Ente tau, engkong aye menduduki tanah bersertipikat jaman Belanda, dan menurut peraturan, aye punya hak untuk mengajukan sertipikat yang dikeluarkan Negara Republik. Benar nggak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas Otorita tak membantah, lalu mengiyakan dengan mengemukakan syarat-syarat yang dilupakan, "Benar, menurut catatan agraria, Pak Haji menduduki tanah seluas 2.000 meter persegi di atas sertifikat Eigendom Verponding, yang terkena program Land Reform. Tetapi, karena sampai batas waktu yang ditentukan Pak Haji tidak memohonkan hak, maka tanah yang Pak Haji duduki, menurut ketentuan, kembali ke Negara. Jangan khawatir, Pak Haji tetap terdaftar sebagai penggarap!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil keheranan, Haji Jaelani meletupkan kekesalan, "Lucu amat yah. Tanah milik aye, hanya gara-gara terlambat mengajukan permohonan, jadi milik Negara. Sedang di tempat lain, orang-orang pendatang dikasih sertipikat Prona. Mana adilnya? Pokoknya aye kagak mau tahu. Aye minta, tanah aye per meternya dibayar seperti milik Haji Dilah yang ada di luar proyek, yang dibeli lain pengembang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat perlawanan keras, tiga tahun petugas Otorita tidak muncul. Sedang rumah susun percontohan yang dibangun sudah hancur. Tiba-tiba kemudian pengusaha berdasi datang menghampiri. Merasa sudah muak dengan tawaran-tawaran tak masuk akal, Haji Jaelani tidak bersedia menemui dan hanya meminta Salempang, menantunya, menanggapi usulan perusahaan pengembang. Yang dia tahu hanya ganti rugi, lainnya, yang dibilang program relokasi, konsolidasi dan partisipasi, hanya membuat kepalanya pening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari musyawarah, bersama beberapa orang yang mewakili seluruh warga, Salempang menghadap mertuanya untuk melapor. "Yang penting, Beh, mereka sekarang sudah mengakui hak-hak warga dan tidak mempersoalkan kepemilikan surat-surat, asal ada keterangan dari lurah dan camat. Tetapi, buat membayar sebesar yang diterima Haji Dilah, mereka keberatan karena tanah Babe letaknya di belakang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue kagak peduli. Ada uang ada barang. Kalau nggak mau, jangan sentuh tanah gue."&lt;br /&gt;"Tetapi, ada cara. Kita bisa dapat lebih besar dari yang Babe minta."&lt;br /&gt;"Mimpi kali, Lu. Jangan banyak teori dah!"&lt;br /&gt;"Sementara, kita sudah bersepakat dengan pengembang menjalankan program partisipasi. Pengembang akan mensertifikatkan tanah atas nama warga dan membuat perencanaan serta kemudian menjualnya. Dari hasil penjualan, warga akan medapat 50 persen, karena 40 persen luas tanah diperuntukkan buat sarana dan warga berkewajiban membayar biaya pengembangan lahan dengan 10 persen tanahnya. Kalau sudah ada kesepakatan, akan dibuatkan perjanjian, yang disaksikan wakil-wakil rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mertuanya mulai tertarik, Salempang menambahkan, "Mereka akan menjualnya dalam dolar, Beh. Harganya 2.000 per meternya. Kalau itu terjadi, Babe akan menerima hampir dua setengah kali yang diterima Haji Dilah!" "Kagak usah repot-repot dah. Aye jamin semua warga di sini dalam tiga bulan angkat kaki, kalau mereka bayar seperti yang aye minta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan kemudian, Haji Jaelani bersama kawan-kawannya menerima pembayaran seperti yang diminta, setelah mengikuti program partisipasi, yang dia hentikan di tengah jalan karena butuh uang. Akhirnya, dia hanya menerima ganti rugi, yang sebagian diperhitungkan dengan kompensasi lahan peternakan. Setelah itu, dia menyesali keputusannya, ketika mengetahui, dengan kurs dolar 2.500, dari hasil penjualan, pengembang menerima Rp 5 juta per meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan uang yang diterima serta usaha ternak sapi perah yang masih dipertahankan, Haji Jaelani mampu mencukupi dirinya dan kebutuhan anak-anaknya. Satu anaknya yang dia banggakan, dari istri kedua, sekarang sekolah tinggi. Dia menyesal menyetujui anak-anak dari isteri pertama meninggalkan sekolah. Karena, si Juned dia tugasi merawat sapi, si Japri harus mengurusi kandang dan pembuangan kotoran. Sedang Enoh berkewajiban mengantar susu ke depot penampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga merasa telah melakukan kesalahan dengan membagi sebagian uang kepada anak-anaknya. Oleh Juned dan Japri uang itu dipakai membeli motor, untuk mengojek. Sebagai tukang ojek, mereka mampu membayar buruh, menggantikan tugas yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi lama-lama penghasilannya menurun akibat banyak saingan dan motornya perlu biaya tambahan karena sering rewel. Setelah motor-motor itu tidak produktif lagi, mereka terpaksa meminta Haji Jaelani menjual tanah kembali untuk tambahan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Jaelani terheran-heran, buruh perawat kandang dan penjaga sapinya, setelah minta berhenti kerja, malah menjadi saudagar. Karena pengalaman dan keahliannya, mereka kemudian mendapat kredit, hingga bisa memiliki sapi-sapi sendiri. Haji Jaelani sangat menyesali kelakuan kedua anaknya, yang tidak mau menekuni pekerjaan yang pernah digelutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pada menjual tanah lagi, pikir Haji Jaelani, lebih baik di atas pekarangan yang dimiliki, dibangun saja rumah rumah petak kontrakan, seperti yang dilakukan sobatnya, Haji Somad. Biarlah dua anaknya menjadi juragan rumah kontrakan, dari pada jadi tukang ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, Si Enoh, setelah kawin, tak lekang rejeki dan selalu datang melipur, membawakan cucu-cucu yang imut-imut dan pintar. Bisa dipahami, karena Salempang, suaminya, adalah seorang insinyur, sekarang kerja di Pemerintah Kota. Dia juga bangga sama Enoh karena piawai menarikan tari topeng Betawi, yang diajarkan turun-temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Jaelani makin yakin, ilmu akan bisa menjaga harta. Sedang harta belum tentu bisa menjaga ilmu. Sementara, harta yang tak terjaga hanya meninggalkan kemiskinanan sebagai buahnya. Sekarang baru disadari arti ucapan ustad Mughni yang mengutip sabda Nabi, "Carilah Ilmu, meski sampai ke negeri Cina."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekad Haji Jaelani makin kuat untuk mengirim Fauzan, anaknya, melanglang buana ke Amerika untuk studi pasca sarjana. Cita-citanya yang dulu tenggelam sekarang muncul lagi. Cita-cita menjadi orang terhormat, bukan hanya dari usaha sendiri, tetapi juga dari seorang anak yang dapat mengangkat derajat orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=303134&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-222383287988844245?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/222383287988844245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=222383287988844245' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/222383287988844245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/222383287988844245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/bertahan-di-selatan.html' title='BERTAHAN DI SELATAN'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-3370677908649161044</id><published>2007-08-20T16:57:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T17:01:15.291-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak D Kemalawati</title><content type='html'>KETIKA KARTINI BERKUNJUNG KE ACEH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia memakai kebaya ungu&lt;br /&gt;sanggul melati dan selop berhak tinggi&lt;br /&gt;di tangannya buku harian&lt;br /&gt;pena emas dan sehelai perangko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia mengajak Cut Nyak Dien semeja di pendapa&lt;br /&gt;dari belantara Cut Nyak mengirim aba-aba&lt;br /&gt;ia butuh senjata menikam serigala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 21 April 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUTBANG DI ATAS AWAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cutbang terbang saat perang usai&lt;br /&gt;disambut ceurana retak, ranub masak&lt;br /&gt;dan hidangan meulod tanpa zikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia menjadi gasing di kampung sunyi&lt;br /&gt;bertahan kaki di lahan pecah&lt;br /&gt;tak bertemu penebang liar&lt;br /&gt;menebar candu di kulit badan&lt;br /&gt;muka, berpaling-paling teliti jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;degup jantungnya&lt;br /&gt;disapa langit&lt;br /&gt;ia seperti gerimis yang menggantung&lt;br /&gt;angin marah pada denting malam&lt;br /&gt;yang dilecut asap garang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pasang purnama merendam dinding kayu&lt;br /&gt;ketika laut bermuka dua&lt;br /&gt;cutbang, basuh mukamu&lt;br /&gt;sebelum saleum menjadi petaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 20 April 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ceurana adalah wadah untuk meletakkan sirih. Sirih masak adalah sirih yang sudah siap dimakan. Meulod adalah maulid. Saleum adalah salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu lama engkau menari&lt;br /&gt;sejak rapai ditabuhkan&lt;br /&gt;lalu lewat ruang sisamu yang himpit&lt;br /&gt;kau kirim berpucuk rencong&lt;br /&gt;ke gampong-gampong malam yang pucat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau juga tiupkan do da idi&lt;br /&gt;pada sanggul pengantin yang subur&lt;br /&gt;lalu sepanjang persalinan&lt;br /&gt;kau biarkan bara menggeliat punggungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai penonton yang luka&lt;br /&gt;kalap dalam kuyup air raya&lt;br /&gt;lalu merenangi hujan di liat lumpur&lt;br /&gt;gagap aku mengikuti gemulaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, Juni 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPADA SANG DENGAN SERIBU SENGKETA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar kau temukan sendiri&lt;br /&gt;setelah mengaduk bara&lt;br /&gt;dan melerainya dalam renung yang basah&lt;br /&gt;kala menjadi suatu perkara&lt;br /&gt;semua memandang dengan mata luka&lt;br /&gt;tanpa sengaja kau didaulat menjadi raja&lt;br /&gt;lalu perkara dan petaka&lt;br /&gt;setipis senja mengepung tanah kita&lt;br /&gt;tanah yang masih tergadai&lt;br /&gt;karena gerai rambut&lt;br /&gt;perempuan laut yang sangsai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin kau temukan mata cinta&lt;br /&gt;menyapu ruang nganga yang hampa&lt;br /&gt;kau pasti datang menjemputnya&lt;br /&gt;memberikan tarian tubuhmu untuk dibaca&lt;br /&gt;saat itu pemahaman kita&lt;br /&gt;tentang perjamuan akan jauh berbeda&lt;br /&gt;biarkan semua hingga&lt;br /&gt;waktu tak lagi tersisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh,7 juni 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D Kemalawati lahir di Pantai Barat, Meulaboh, Aceh, 1965. Menulis puisi, esai, opini, juga beberapa cerpen. Sering diundang membaca puisi di berbagai kota. Sarjana Pendidikan Matematika ini memilih guru sebagai profesi. Sekarang aktif di Lapena, sebuah lembaga kecil yang bergerak di bidang kebudayaan. Bersama Sulaiman Tripa, menyunting antologi puisi penyair Aceh, Malaysia dan Jakarta, berjudul Ziarah Ombak (2005). Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit adalah Surat dari Negeri tak Bertuan (Lapena, Aceh, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=303133&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-3370677908649161044?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/3370677908649161044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=3370677908649161044' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3370677908649161044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3370677908649161044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/sajak-sajak-d-kemalawati.html' title='Sajak-sajak D Kemalawati'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7558008143834940812</id><published>2007-08-12T02:06:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T02:08:29.524-07:00</updated><title type='text'>SEPOTONG TANGAN</title><content type='html'>Oleh :  Ratih Kumala &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi saat istrinya tak lagi bangun dari tidur, ia menunggu cukup lama di samping perempuan tua itu. Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, lalu jika perempuan tersebut sedang ingin memanjakan suaminya, ia akan membawa sarapan ke atas kasur. Membiarkan aroma harum kopi susu menguar ke hidung lelaki terkasihnya dan membuatnya terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranjang adalah tempat favorit keduanya. Tak hanya tempat mereka tidur, tetapi juga tempat panas saat terbakar asmara, hingga saat tubuh keduanya tak lagi perkasa dan ranjang menjadi dingin dan keduanya memindahkan televisi ke dalam kamar sebagai hiburan juga tumpukan buku sebagai bacaan. Ada satu yang tak pernah berubah, mereka tak pernah bosan berpegangan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tujuh tahun, dan tak satu anak pun yang lahir dari rahim sang istri. Mereka sudah melewati tahun-tahun saat perempuan tua itu mengutuki dirinya sendiri. Ada saat sang istri tak hendak melepas genggaman suaminya, mengikuti ke mana pun lelaki itu pergi. Kekhawatirannya akan kemungkinan lelaki itu berpaling ke perempuan yang lebih muda -dan lebih subur- sempat membuncah. Toh lelaki itu tetap membiarkan istrinya menggenggam tangannya, membuat cincin kawin keduanya beradu, menjadikan tangan mereka basah keringat, dan lelaki itu justru lebih erat lagi menggenggam tangan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun berlalu, mereka sedikit demi sedikit mengubur impian purba mereka. Tak ada anak. Selanjutnya, entah dari mana atau kapan atau bagaimana tepatnya, rumah mungil mereka telah penuh dengan kucing. Padahal dulu, mereka selalu berpikir bahwa bulu kucing tak baik bagi pernapasan anak. Kini kucing-kucing betah berkumpul di rumah itu. Tak satu pun kucing yang datang diusir, semua bebas datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan berlangganan susu lebih banyak untuk kucing-kucing itu," ujar sang istri pada suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, hingga pagi saat perempuan itu tak lagi bangun dari tidurnya, tukang susu masih mengantar dua krat susu segar dalam botol yang ia letakkan di depan pintu. Kucing-kucing juga masih mengeong seakan menuntut minuman pagi mereka. Sang suami juga masih menunggu istrinya bangun. Matahari menyelipkan sinarnya, menjatuhkan terangnya ke wajah perempuan tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu merasa damai melihat wajah istrinya. Ada rasa syukur yang menyelip di hatinya karena memiliki perempuan itu dalam hidupnya dan ia tak ingin berpisah. Tapi lama ia menunggu, perempuan itu tak kunjung membuka mata, sedang kucing-kucing mengeong semakin santer menuntut susu mereka. Maka digenggamnya tangan perempuan itu. Dingin menjalar di antara tangannya yang keriput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tersentak. Ia mulai curiga, ada yang salah pada perempuan terkasihnya. Kemudian dia mengguncangkan tubuh tak bernyawa itu dengan lembut. Tetapi ia tak kunjung bangun, ia mengguncang tubuh perempuan itu lebih keras. Tetapi mata tuanya tetap tak terbuka. Lalu disentuhnya wajah istrinya, dingin kembali menjalar di antara kulitnya yang tak kenyal. Ia tak merasakan napas dari hidung istrinya. Saat itulah dia tahu, bahwa di rumah itu kini tinggal dirinya dan kucing-kucingnya. Tangisnya pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi saat lelaki tua itu tahu bahwa istrinya telah meninggal dalam tidurnya dan tak hendak bangun lagi, ia memeluk erat-erat tubuh perempuan itu. Dia menangis hebat sambil tak henti memanggil-manggil nama istrinya. Kucing-kucing terus mengeong-ngeong, seperti mencoba membangunkan tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, lelaki itu keluar dari kamarnya. Mengamati ruangan yang kini terasa kosong. Kucing-kucing bersebaran di sekitar ruangan. Tak ada kopi susu hangat, tak ada telur orak-arik, tak ada istrinya. Sejenak, dua jenak, beberapa jenak, lelaki itu bingung akan apa yang musti dilakukannya kini. Ia baru menyadari, bahwa selama ini istrinyalah yang mengurus dirinya. Membuatkan makanan, mengingatkannya untuk segera mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia betul-betul tak tahu apa yang akan dilakukannya. Dilihatnya istrinya, yang masih dengan gaun tidur dan tergeletak dengan mata terpejam di ranjang. Ia berpikir keras, ia belum pernah menangani orang mati. Lalu menghampiri istrinya dan menggenggam tangan dingin perempuan itu, menyiumnya berkali-kali, menangis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu akhirnya memutuskan akan meminta tolong seseorang. Ia ganti baju, keluar rumah. Dilihatnya kucing-kucing berkumpul di depan pintu masuk. Salah satu kucing sudah menjatuhkan botol susu hingga pecah dan mereka mengerumuminya, menjilatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu akan keluar dan minta tolong seseorang, tetapi pertama-tama ada yang harus dia lakukan terlebih dulu karena tak mungkin dia sanggup bepergian sendirian. Selama ini dia selalu bepergian dengan istrinya, saling berpegangan tangan. Dia menuju gudang. Mengambil gergaji mesin lalu kembali ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, kita harus keluar dan cari pertolongan," katanya. Ruangan gemuruh suara gergaji mesin saat lelaki itu menekan tombol 'on'. Diraihnya lengan kanan istrinya, jari manisnya masih berhias cincin perkawinan. Lelaki tersebut mulai menggergaji tangan istrinya tepat di siku. Ia -dan lengan istrinya- kini siap pergi keluar mencari pertolongan untuk menangani orang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meninggalkan kucing-kucing dan rumah yang pintunya tak dikunci. Bahkan jendela-jendela pun belum dibuka tirainya. Jujur saja, lelaki itu tak benar-benar tahu ke mana ia akan pergi. Ia hanya tahu, bahwa ia harus pergi dan minta tolong orang lain untuk mengurus kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, kita akan ke mana?" tanyanya pada lengan istrinya.&lt;br /&gt;"Aku tahu, kita ke rumah adikmu saja, ya?"&lt;br /&gt;Saat dia tiba, anak-anak adik iparnya yang tadinya hendak menyambut kedatangannya dengan ceria, tiba-tiba berteriak keras dan masuk ke rumah menemui ibunya, mengadu bahwa paman mereka datang membawa sepotong tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu terpaksa memencet bel berkali-kali agar dibukakan pintu. Mendengar anak-anaknya mengadu demikian, adik ipar membawa pentungan sambil membuka pintu. Ia mengintip sejenak dari jendela. Memang betul apa yang dikatakan anak-anaknya: paman mereka datang dengan membawa sepotong tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu dibuka, adik ipar gemetar, "A... ada apa?"&lt;br /&gt;Ia menyembunyikan pentungan di balik punggungnya. Anak-anaknya mengintip dari ruang sebelah. "Tolong, istriku meninggal. Bisakah kau bantu menguburnya?" ia memohon sambil menangis. Tangannya tak lepas menggenggam lengan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi melihat pemandangan itu, perempuan itu berteriak keras-keras seraya memukul-mukulkan pentungannya ke arah yang tak menentu. Lelaki itu kebingungan. Keributan terjadi. Orang-orang berkumpul, semua tersentak melihat pemandangan: laki-laki tua pingsan dengan sepotong tangan tergeletak di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tersadar, lelaki itu sudah berada di kantor polisi. Para wartawan mengerumuninya. Mereka memberitahunya bahwa mayat istrinya. Mereka telah memeriksa rumahnya dan menemukan mayat istrinya tergeletak tanpa tangan kanan. Wartawan bahkan sudah menyiapkan berita: 'Seorang Kakek Memotong Tangan Kanan Istrinya Hingga Tewas.' Sebuah berita pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak!" sanggahnya, "aku memotong lengan istriku saat ia sudah meninggal karena aku harus cari pertolongan." Air matanya menetes.&lt;br /&gt;"Lalu kenapa kamu tak pergi sendiri? Kenapa harus memotong tangan istrimu segala?"&lt;br /&gt;Introgasi itu berlangsung melelahkan. Polisi mengetik setiap pengakuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku selalu ke mana-mana dengan istriku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan tanpa dia. Karena membawa mayat sangat berat, dan aku tak ingin menakut-nakuti orang, maka aku membawa tangannya saja," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga besar mendiang istrinya tak percaya pada penjelasannya yang terdengar aneh. Mereka menangis keras-keras atas kematian anggota keluarga mereka yang tragis, dan merasa kasihan atas kemalangan perempuan itu, sebab telah menikah 37 tahun dengan laki-laki gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak gila!" lelaki itu menyanggah. "Aku hanya ingin memakamkan istriku dengan layak tapi tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung tanpa istriku," wajahnya sangat sedih, air matanya mengalir. Orang-orang tetap tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petugas polisi memasuki ruangan, membawa hasil otopsi, untuk dibacakan di depan semua. Tiba-tiba, seorang gadis kecil, keponakan lelaki itu, maju ke kerumunan dan bertanya, "Paman, kenapa paman memotong tangan bibi? Sekarang bibi jadi meninggal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua wartawan memerhatikannya. Mengarahkan kamera dan mikrofon ke gadis kecil itu. Gadis itu adalah anak terkecil adik iparnya yang paling muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak memotong tangannya sebelum dia meninggal, Nak. Tak mungkin aku tega berbuat begitu. Aku sangat menyintai bibimu. Aku memotongnya setelah dia meninggal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa dipotong?" tanyanya lugu.&lt;br /&gt;"Karena aku tak bisa hidup tanpa dia, Nak. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat tanpa dia. Aku tak mungkin pergi cari bantuan dengan membawa mayatnya, terlalu berat untukku. Maka aku memutuskan untuk membawa tangannya saja. Sebab, aku butuh kekuatan dari perempuan yang sangat kucintai. Aku ingin menggenggam tangannya agar aku kuat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan henyap. Tak ada yang berbicara, tak terdengar mesin ketik berbunyi, tak terdengar suara kamera memotret. Keponakan kecil itu memandangi pamannya, dan berkata, "jika aku punya suami kelak, aku ingin yang seperti paman."&lt;br /&gt;Lalu, terdengar bisik-bisik suara hati di ruangan itu: Ya, aku ingin laki-lakiku memotong tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=302483&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7558008143834940812?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7558008143834940812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7558008143834940812' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7558008143834940812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7558008143834940812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/sepotong-tangan.html' title='SEPOTONG TANGAN'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-5450510681159782593</id><published>2007-08-12T02:05:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T02:06:19.421-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Leonowens SP</title><content type='html'>PENARI-PENARI SENJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penari-penari senja!" Seorang peracik&lt;br /&gt;rempah menyebut itu, ketika suatu senja berapi, &lt;br /&gt;sekumpul perawan bersolek emas, mengalung intan &lt;br /&gt;berdaging salju di kepalanya. Ramah senyum menghias&lt;br /&gt;pemahat-pemahat hati yang mengalir di lembah air mata bara dengan tarian penyengat asa. Peracik&lt;br /&gt;rempah itu memandang damai perawan-perawan&lt;br /&gt;yang menari lembutkan kesah, datang&lt;br /&gt;di setiap senja berkalang api. "Penari-penari senja,&lt;br /&gt;rengkuhlah nodaku sebelum binasa," gumamnya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENANTI KARMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu lubuk embun pagi&lt;br /&gt;seorang renta bertopi rajutan lalang&lt;br /&gt;kering, menyerpih pandang di kubur sang&lt;br /&gt;cintanya. Setelah malapetaka merenggut nafas&lt;br /&gt;tak lekang kelembutan -- dua puluh tahun&lt;br /&gt;silam. Sesekali menghentak pandang&lt;br /&gt;di atas awan bertaji kehitaman.&lt;br /&gt;Awan-awan yang tak lama lagi mengusir &lt;br /&gt;tubuh embun dengan derai umpatannya untuk &lt;br /&gt;sang mayapada. Ia hendak menanti warna &lt;br /&gt;karma saat ini: mendulang jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMUNGUT SERAPAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepak pemungut serapah berkelana mengintai&lt;br /&gt;akar-akar pendoa. Terbang sejauh nurani memukul&lt;br /&gt;ufuk harapan. "Ikutlah denganku! Oh, sebaran &lt;br /&gt;biji-biji ketulusan." Suaranya kian parau diterjang&lt;br /&gt;prasi pengunyah jilid-jilid kemunafikan milik&lt;br /&gt;sang penyuci. Di pembaringan, pemungut serapah&lt;br /&gt;menanti keadilan selepas cakarnya menguras&lt;br /&gt;tanah pengasah pedang. Mengurung awan impian,&lt;br /&gt;selagi penyebut mantra menancapkan barisan&lt;br /&gt;doa yang jauh dari lembah rembulan. "Semuanya&lt;br /&gt;penguras hartawi," hujatnya mengiris terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SILUET KEHIDUPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali terik menusuk liang-liang awan&lt;br /&gt;di kepala pegunungan batu. Bayang danau membiru,&lt;br /&gt;tatkala langit memanjatkan angkuh sang&lt;br /&gt;warna. Sujud dedaunan menggali&lt;br /&gt;ayat-ayat bumi, tentang kehadiran dan&lt;br /&gt;kemusnahan. Mungkin pada ajalnya, gelap itu bukan&lt;br /&gt;lagi mengingat namanya, demikianlah&lt;br /&gt;terang. Oh, sang pengukir waktu,&lt;br /&gt;kembalikanlah senandung kehidupan&lt;br /&gt;semasa tandus tak mengurai&lt;br /&gt;durjanya kepada mentari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LELAKI SUNYI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada getar jejak menyetubuhi jari-jari malam&lt;br /&gt;Jalan-jalan mengisap sunyi setelah hujan menguliti&lt;br /&gt;sesosok lelaki terpikat dendam. "Bertahanlah&lt;br /&gt;sunyi, bertahanlah." Lelaki penyimpan&lt;br /&gt;doa, mengebiri nafsu permohonan&lt;br /&gt;hatinya. Kutukan takdir?&lt;br /&gt;Tersungkur oleh cahaya pelarut&lt;br /&gt;kabut, melampir tangis di sudut hening&lt;br /&gt;kota. "Bermainlah sepi, sebelum ajalku menegur!"&lt;br /&gt;Kembali doanya menggenggam jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT MIMPI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapa malam berakhir jenuh dan terkulai &lt;br /&gt;di ujung daun tepi waktu. Seorang pemimpi &lt;br /&gt;enggan tinggalkan tidurnya, pada saat mimpinya &lt;br /&gt;mencabik butiran embun di jendela singgah &lt;br /&gt;tepas. Hanya menunggu pasir berwujud &lt;br /&gt;batu oleh tempahan angin. Sungguh liar harap ini&lt;br /&gt;Orang itu setia mengirim lembar surat-surat &lt;br /&gt;kepada langit, sebelum kumpul bintang &lt;br /&gt;mengajak nyenyaknya di kelambu cahaya. Malam &lt;br /&gt;kian membuang sisa-sisa wajahnya setelah ia terbangun menguntit titik-titik hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leonowens SP dikenal sebagai seorang penulis esai, solilokui dan puisi. Citraan-citraan sajaknya unik, segar dan menarik, serta banyak dipengaruhi oleh simbol-simbol budaya etnis Tionghoa. Sedangkan esei-eseinya banyak mengangkat persoalan politik, ekonomi, sosial dan budaya, dengan pandangan-pandangan yang segar dan visioner. Karya-karya Leonowens banyak dimuat di berbagai media cetak dan elektronik di dalam dan di luar negeri. Beberapa sajaknya juga terhimpun dalam buku antologi puisi Medan Waktu (Laboratorium Sastra Medan, 2007). Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit adalah Penari Senja (Jakarta Publishing House, 2007) -- bersama Muhammad Hushairy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=302481&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-5450510681159782593?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/5450510681159782593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=5450510681159782593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5450510681159782593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5450510681159782593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/sajak-sajak-leonowens-sp.html' title='Sajak-sajak Leonowens SP'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-8897367559444546742</id><published>2007-08-04T17:02:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T17:03:24.909-07:00</updated><title type='text'>MENAWAR KEMATIAN</title><content type='html'>Oleh : Dianing Widya Yudhistira &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Zakia. Itu saja. Tidak ada nama belakang atau depannya. Hanya Zakia. Perempuan biasa. Bukan dari kalangan apapun. Hanya dari keluarga biasa-biasa saja. Kalau akhir-akhir ini hampir semua media di penjuru negeri ini memuat foto dan beritanya, itu karena hukuman yang amat mengerikan tengah menantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang divonis bersalah karena membunuh saudara kembarnya, Saskia, itu harus menerima hukuman mati dalam hitungan hari saja. Tuhan sepertinya memberikan kelebihan tak terkira padanya. Biarpun telah mendekam di sel yang sumpek selama tujuh tahun lebih, kulit tubuhnya yang tak pernah tersentuh kosmetik apapun senantiasa putih dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak tenang. Wajahnya berseri-seri. Matanya begitu teduh, tenang, memancarkan kedamaian. Siapapun yang menemuinya, tak akan pernah percaya bahwa Zakia adalah pembunuh saudara kembarnya. Termasuk aku, karibnya sejak kecil. Memang, hari-hari pertama ditangkap dan dipenjara, Zakia dirundung gelisah. Setiap malam ia berteriak-teriak hebat. Wajahnya melukiskan kekecewaan amat dalam. Suaranya yang parau pun tak membuatnya berhenti memekik. "Aku bukan pembunuh. Aku bukan pembunuh saudaraku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya teriakan Zakia sangat menganggu penghuni lapas lainnya. Juga sering membuat repot para sipir. Tetapi lama-lama teriakan Zakia menjadi irama tersendiri bagi petugas dan penghuni penjara. Bahkan penjara jadi senyap tatkala Zakia berhenti berteriak-teriak. Teriakan Zakia akhirnya sering mereka nantikan. Teriakkan Zakia seperti mewakili orang-orang terzalimi. Meski teriakan itu tak lain adalah ungkapan kemarahan, juga raungan kekecewaan Zakia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pelan-pelan teriakkan Zakia tak terdengar lagi. Rentang waktu satu tahun dalam penjara telah mengubah Zakia. Orang-orang mengenal Zakia sebagai sosok yang tak banyak bicara. Dalam pembicaraan dengan orang-orang di penjara, ia selalu menekankan bahwa ia tidak pernah membunuh Saskia. "Aku tak pernah membunuh siapapun," katanya selalu. Ia tetap yakin beban hukuman mati telah salah alamat kepadanya. Ada yang percaya. Ada pula yang tidak. Ada yang mengangguk dan tersenyum. Ada pula yang mencibir. Tetapi Zakia tidak pernah bosan meyakinkan siapa pun: tak pernah membunuh siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada duka yang sedalam ini sebelumnya. Duka yang menyergap Zakia dulu ketika ia harus kehilangan ibu dan neneknya dalam waktu bersamaan. Dulu Zakia merasa dunia seperti hilang dalam ingatannya ketika kabar kecelakaan datang merenggut dua perempuan yang sangat ia cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku percaya kamu bukan pembunuh, Zakia," suara seorang perempuan tiba-tiba menghentakkannya. Mata indah Zakia benderang.&lt;br /&gt;"Aku yakin itu," perempuan itu melanjutkan.&lt;br /&gt;"Kau tengah menghiburku?"&lt;br /&gt;"Aku melihat kejujuran di matamu."&lt;br /&gt;Mendengar itu Zakia menunduk.&lt;br /&gt;"Kalau saja mereka seperti engkau."&lt;br /&gt;Ketika Zakia mengangkat kepalanya. Zakia tak menemukan lagi perempuan itu di depannya. Jantungnya berdegup. Begitu cepat perempuan itu beranjak darinya. Ah, ia sedang melamun. Ia sedang membayangkan ada orang yang mau mendengar kata-katanya. Tetapi tidak. Semua orang sepakat dengan vonis itu: Zakia pembunuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja telah lama menjemput malam. Zakia duduk diam di sel yang pengap, bau dan gelap. Ingatannya menerawang ke masa kanak-kanak. Kesendirian membuat Zakia ingat peristiwa tujuh tahun silam. Peristiwa itu hadir begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kembar Zakia memiliki banyak kesamaan dengan Saskia. Watak, kegemaran, semuanya selalu sama dengan Saskia. Termasuk dalam soal cinta. Zakia mencintai laki-laki yang juga dicintai Saskia. Cinta Zakia tak terbalas. Saskia berhasil memiliki lelaki itu. Apalagi, kemudian Saskia hamil oleh lelaki itu. Mereka kemudian bertunangan dan segera menikah. Zakia sungguh sakit pertunangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Saskia sama sekali tak mengetahui bila Zakia juga menaruh hati pada lelaki itu. Ia menutupnya rapat-rapat. Hingga datang malam yang nahas itu, beberapa minggu menjelang pernikahan Saskia. Malam yang benar-benar diluar jangkauan Zakia. Tidak ada siapa-siapa malam itu, hanya mereka berdua di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menemukan Saskia yang tertelungkup di lantai, mengalir darah segar. Sebilah belati menancap di punggungnya. Zakia segera mencabut belati itu. Ia ingin menyelamatkan nyawa Saskia. Tetapi Saskia tidak bernafas lagi. Zakia berteriak-teriak dan berlari keluar dengan menggenggam belati itu. Di ruang tamu, belati itu jatuh dari tangannya. Zakia pun terjatuh. Pingsan. Ketika sadar Zakia sudah berada di ruang kecil berjeruji. Seseorang yang belum ia kenal, menjawab sebelum ia tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini penjara."&lt;br /&gt;"Penjara?"&lt;br /&gt;"Tempat yang tepat bagi pembunuh."&lt;br /&gt;Sungguh sebutan yang sangat menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah sempurna ketika ia terjaga. Zakia duduk meringkuk di sudut sel. Gelap. Senyap. Ia kangen pada ibunya. Berulangkali Zakia memanggil-manggil ibunya dengan lirih. Teramat lirih. Ia ingin bertemu ibu, meski hanya lewat mimpi. Ia ingin bersenda gurau dengan ibunya di malam terakhir dalam hidupnya. Besok pagi, ia dihadapkan pada regu tembak. Setelah itu, riwayatnya selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma kematian makin mendekat. Tubuhnya menggigil. Tiba-tiba sel yang gelap, pengap dan sunyi berubah menjadi terang berderang. Sebentuk cahaya menyerbu ke sana, entah dari mana datangnya. Dinding yang kusam menjadi putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Zakia."&lt;br /&gt;Ia tersentak. Di depannya, Saskia dengan gaun indah tersenyum. Pelan-pelan Saskia mendekat dan mengulurkan tangan padanya. Zakia ragu menyambutnya, tetapi tangan Saskia makin dekat. Suaranya lembut dan nyata. Zakia terpana.&lt;br /&gt;"Kau juga menuduh bahwa aku yang membunuhmu?"&lt;br /&gt;Saskia menggeleng.&lt;br /&gt;"Aku tahu siapa yang mengakhiri hidupku."&lt;br /&gt;Zakia tegang.&lt;br /&gt;"Siapa Saskia? &lt;br /&gt;Katakan padaku. Jangan biarkan aku sengsara di dalam sel pengap ini."&lt;br /&gt;"Sudahlah. Aku sudah melupakannya. Tuhan telah menghukumnya," ujarnya. "Mengapa kau dibunuh?"&lt;br /&gt;"Karena ia mencintaimu, tapi terhalang olehku."&lt;br /&gt;"Aku tidak mengerti."&lt;br /&gt;"Pada satu saat juga kau akan mengerti," kata Saskia, lalu hilang. Pelan-pelan sel kembali gelap. Pelan-pelan dinding sel yang putih mengabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakia merebahkan tubuhnya. Memejamkan mata. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Saskia. Siapakah sebenarnya yang membunuhnya? Mengapa Saskia tidak berterus terang, justru mengirim teka-teki baru untuknya. Kalau benar orang yang membunuh itu mencintainya, mengapa harus membunuh. Mengapa ia tidak mengungkapkan cinta itu padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, terlalu banyak pertanyaan tak terjawab. Ia terduduk. Capek. Waktu berlari sangat cepat. Kembali ia terbayang sepasukan regu tembak siap menghujamnya dengan peluru, besok pagi. Zakia sedih. Ia ingin kematiannya karena kehendak Tuhan, bukan di tangan regu tembak. Zakia mulai terlelap. Belum begitu lama ia merasa tertidur, tiba-tiba ada yang membangunkan. Ia membuka mata dan melirik jam weker di dekatnya: baru pukul empat pagi. Sebuah suara lalu menyapanya. Entah siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku membawa kabar penting untukmu."&lt;br /&gt;"Pasti kau akan mengatakan bahwa di luar petugas penjara sudah siap mengantarku ke depan regu tembak," balas Zakia.&lt;br /&gt;"Apakah kau takut dengan kematian."&lt;br /&gt;"Tidak. Sebab kematianlah kekasih yang paling setia, tetapi kalau saja kematian dapat aku tawar."&lt;br /&gt;"Apa maksudmu."&lt;br /&gt;"Kalau saja Tuhan memanggilku lebih cepat."&lt;br /&gt;"Apakah kamu telah siap?"&lt;br /&gt;"Kematian karena Tuhan, jauh lebih indah. Saat-saat mendebarkan bertemu dengan Zat Yang Paling Tahu tentang aku. Kalau saja takdir Tuhan dapat aku tawar. Aku ingin Tuhan memanggilku lebih cepat, sebelum aku dihadapkan di depan regu tembak."&lt;br /&gt;Suara itu tiba-tiba membentuk sebuah cahaya sebesar bola. Sebuah cahaya yang terang dan kemilau. Zakia memekik. Tubuhnya menggigil. Beku.&lt;br /&gt;"Siapa kau sesungguhnya."&lt;br /&gt;"Tuhan mengutusku untuk menjemputmu. Ayo kita berangkat Zakia." Cahaya itu mengulurkan tangannya. Zakia menyambut. Detik-detik yang mendebarkan. Zakia dan cahaya itu terbang menembus jeruji dan tembok penjara. Mereka menembus pagi yang masih gelap, melesat ke langit demi langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=301723&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-8897367559444546742?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/8897367559444546742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=8897367559444546742' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8897367559444546742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8897367559444546742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/menawar-kematian.html' title='MENAWAR KEMATIAN'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-3963616560768110404</id><published>2007-08-04T16:59:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T17:01:17.366-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Thomas Budi Santoso</title><content type='html'>ANDAIKATA AKU TAHU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andaikata aku bisa&lt;br /&gt;kembali ke tigapuluh tahunku yang retas&lt;br /&gt;akan kudamaikan air matamu&lt;br /&gt;dan kubalur luka sepenuh kaki&lt;br /&gt;yang hancur oleh kerikil perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andaikata aku bisa&lt;br /&gt;menapak mundur ke tigapuluh tahunku yang letih&lt;br /&gt;akan kutambal bekas lunyah kakiku&lt;br /&gt;dan kucari darah yang tercecer di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andaikata aku bisa&lt;br /&gt;akan kupakai bahasa kama&lt;br /&gt;dengan kalung untai melati&lt;br /&gt;agar senyummu tetap pesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi tak sebanyak itu sisa waktuku&lt;br /&gt;azan maghrib telah melambung ke langit&lt;br /&gt;serambi kehidupanku menciut ingsut&lt;br /&gt;dan dingin mulai bergeletar di jari kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutangisi dirimu&lt;br /&gt;dengan setetes air mata kecil&lt;br /&gt;karena usia merusak sumbernya&lt;br /&gt;tetapi bersih dari dendam&lt;br /&gt;meneteskan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuteguk senyummu&lt;br /&gt;mengambang bagai bunga raflesia&lt;br /&gt;melecuti diriku yang purna&lt;br /&gt;yang sarat bau mayat&lt;br /&gt;lalu kusimak senyumku&lt;br /&gt;lenyap ditelan ruang waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andaikata aku bisa&lt;br /&gt;menapaki kembali puluhan ribu hariku yang sirna&lt;br /&gt;akan kutanam melati sejauh perjalanan&lt;br /&gt;agar istri anakku berbagi bersanding&lt;br /&gt;berseri di kuncup harumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andaikata aku bisa&lt;br /&gt;kuminta waktu menjadi saksi&lt;br /&gt;merekam sayu nuraniku&lt;br /&gt;setelah angin berhenti mengejar&lt;br /&gt;sampaikan cerita tentang cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kudus, 11 januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELODIUS KERJA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena kerja itu hidup&lt;br /&gt;dan hidup adalah kerja&lt;br /&gt;yang menetes-netes, asin&lt;br /&gt;wangi semerbak&lt;br /&gt;seperti air laut&lt;br /&gt;terguncang dan mengguncang&lt;br /&gt;tiada putusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang takdirnya mengendap&lt;br /&gt;di buritan pasir putih bening&lt;br /&gt;habis, ditelan mulut bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pada pusaran yang sama&lt;br /&gt;dari bumi yang sama, terlontar&lt;br /&gt;dari perutnya, tunas baru&lt;br /&gt;melejit ke cakrawala, jatuh&lt;br /&gt;di pusat samudera, menyatu&lt;br /&gt;dalam tangis, dalam tawa&lt;br /&gt;antara cinta dan hari tua&lt;br /&gt;anak dan masa depan&lt;br /&gt;seperti sebuah kredit&lt;br /&gt;yang selalu diragukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara pencarian makna masih&lt;br /&gt;berbuah tanda tanya, hingga&lt;br /&gt;kelelahan kembali merindukan&lt;br /&gt;pelukan istirah panjang&lt;br /&gt;kerja itu sendiri&lt;br /&gt;tetap perkasa, bergemuruh&lt;br /&gt;di bawah bayang-bayang matahari&lt;br /&gt;pulang pergi bersana air laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu, apa katamu&lt;br /&gt;tentang melodius ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kudus, 26.08.98&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Budi Santoso lahir di Pati, 19 November 1944. Menulis puisi sejak tahun 1960-an. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media massa, seperti Harian Republika, Suara Pembaruan, Wawasan, dan Suara Merdeka. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam beberapa buku antologi puisi, seperti Masih Ada Menara dan Sajak Kudus. Buku kumpulan sajaknya yang baru saja terbit adalah Nyanyian Sepasang Daun Waru (Indonesia Tera, 2007) satu bendel dengan buku kumpulan sajak Dunia Bogambola karya Sosiawan Leak. Selian sibuk sebagai Direktur Produksi PT Djarum Kudus, Thomas juga menjadi penasihat Dewan Kesenian Kudus dan keluarga Penulis Kudus. Tinggal di Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://id.f571.mail.yahoo.com/ym/login?.rand=bils3gfpt7bkh"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-3963616560768110404?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/3963616560768110404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=3963616560768110404' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3963616560768110404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3963616560768110404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/08/sajak-sajak-thomas-budi-santoso.html' title='Sajak-sajak Thomas Budi Santoso'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7293942201897038837</id><published>2007-07-28T16:47:00.000-07:00</published><updated>2007-07-28T16:49:37.416-07:00</updated><title type='text'>IBU DAN BURUNG-BURUNG</title><content type='html'>Oleh : Imam Muhtarom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meja tepat di depan kududuk dilapisi kain coklat tanpa corak. Sepertinya belum lama dipasang. Aku melihatnya dengan pikiran siapa yang terakhir kali mengganti pelapis meja. Aku hanya menduga bahwa tak ada orang lain kecuali ibuku yang memasangnya. Beberapa lamanya ibu besarta bapak tidak aku temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku berada jauh dari rumahku. Aku baru saja tiba dari Surabaya. Seratus lima puluhan kilometer perjalanan ke arah selatan. Ibu tinggal bersama bapak dan hanya disertai burung-burung yang hidup dibiarkan di belakang rumah. Berderet rumah burung-burung itu dan menyerupai rumah panggung namun bentuknya kecil. Burung-burung itu dibiarkan dan hidup dengan mencari biji-bijian sendiri di alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku tidak begitu peduli pada burung-burung itu. Ibuku hanya akan menyuruh seseorang untuk segera membenahi rumah-rumah panggung apabila rumah-rumah panggung tidak lagi dapat menampung burung-burung itu. Ibuku tidak berusaha menawar-nawarkan bahkan menjualnya ke para pedagang hewan yang beberapa hari lewat rumah. Tetapi ibu akan dengan senang hati memberikan burung-burung itu kepada orang yang memintanya kecuali memintanya untuk disembelih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung-burung itu akan terbang dua kali sehari. Terbang pagi hari dan sore hari. Puluhan burung-burung itu akan terbang mencapai di antara awan dengan cara terbang memutar puluhan kali dan memakan waktu berjam-jam. Setelah timbul tenggelam di antara awan maka burung-burung itu akan turun dengan cara perlahan-lahan dan akan kembali ke rumah panggungnya masing-masing. Burung-burung yang memiliki anak akan melihat anak-anaknya, sementara burung-burung yang tidak memiliki anak akan berkasih-kasihan di atap rumah panggungnya masing-masing. Beberapa waktu kemudian burung-burung itu akan turun ke tanah dan mencari biji-bijian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu dan belum pernah bertanya pada ibu dari mana burung-burung itu. Aku hanya tahu bahwa burung-burung itu telah menjadi teman ibu terlebih semenjak kami tidak lagi tinggal di rumah untuk meneruskan kuliah. Setiap pagi jika ada makanan sisa, ibu akan menyebarkan makanan itu di pelataran belakang rumah persis di bawah rumah panggung burung-burung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan burung-burung itu akan beterbangan begitu melihat ibu menyebar sesuatu ke bawah rumah mereka. Maka akan tampak burung warna-warni memenuhi pelataran rumah itu dan ibu akan memandanginya tanpa berkedip untuk beberapa lamanya. Ibu biasanya secara tak sengaja menghitung burung-burung itu dan akan berkata untuk dirinya sendiri, "Lho, di mana si jambul nakal itu. Nah, itu si putih tukang kalah yang kemarin tidak terlihat. Wah, anak si jambul sudah bisa terbang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu akan melihatnya sampai makanan yang disebarkan itu tak bersisa dan beberapa burung terbang kembali ke rumah panggungnya. Sebelum menutup pintu dan kembali ke urusan masak, ibu akan berseru, "Hayo terbang ke langit sana. Kamu kan cuma enak-enakan sendiri." Bila aku ada di situ biasanya akan kutimpali, "Kok dimarahi Bu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan dimarahi. Begitu itu perkerjaannya. Makan, main-main di angkasa, tidur, beranak, seolah tidak ada yang lebih berguna dari itu." &lt;br /&gt;"Tapi kenapa ibu mencari-cari bila si jambul tidak muncul berhari-hari?" "Ya, kasihan saja. Mungkin tersesat tak bisa kembali pulang setelah berputar-putar di langit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti bapak ya," godaku. "Dibiarkan saja kalau sedang di rumah, tapi akan dicari-cari sampai ke mana-mana bila pergi dan tak pulang esoknya saja. Dulu itu ketika bapak pergi empat hari ternyata sendirian pergi ke kota Yogyakarta dan pulang-pulang membawakan pakain dari batik yang bagus dan sandal dari kulit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tidak. Masak bapakmu kau samakan dengan burung-burung itu."&lt;br /&gt;"Bukan itunya, Bu. Ibu mendiamkan saja bapak persis kepada burung-burung itu, tetapi akan mencarinya kemana-mana bila tidak muncul sehari saja." "Kalian, ini sukanya membuat ibu terpojok saja," kata ibu dengan senyum dan berjalan melewatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ibuku berkata seperti itu kami seakan menangkap sebuah sikap setia yang sulit terucapkan. Tidak seperti generasiku. Aku akan mengatakan secara terbuka apa yang ada dalam benakku. Kalau suka dengan gamblang aku katakan suka, bila tidak akan aku katakan bahwa aku tidak suka. Aku memang jarang (atau tidak bisa?) menggunakan bahasa isyarat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu bagaimana ibu dan bapak akan berdiam-diam tidak bicara karena bapak tanpa satu pesan pun pergi ke kota Yogyakarta beberapa hari yang lalu. Empat hari lagi! Aku rasa ibu bukan seorang pencemburu buta. Ibu sudah berumur. Dan pastinya masa cemburu buta itu sudah sirna bersama bertambahnya usia dan semakin dewasanya kami anak-anaknya. Ibu hanya merasa bapak seperti telah mengganggapnya orang lain. Ibu akan malu bila suatu kali saudara bertemu dengan saudara dari Yogyakarta di mana bapak berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu merasa tidak pantas sekali seorang bertamu tanpa membawa apa pun. Memang bisa membawa oleh-oleh dari luar rumah dengan cara membelinya dan nanti diberikan kepada orang yang akan dikunjungi. Tapi itu kan tidak pantas? Saru, kata ibu pernah bilang. Menurut ibu itu pertanda bukan berkunjung karena dari hatinya tetapi lebih karena alasan-alasan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mendiamkan bapak berhari-hari lamanya semenjak kepulangannya dari Yogyakarta. Ibu tidak menanggapi oleh-oleh pakaian dan sandal bagus itu. Ibu hanya berkomentar pendek, "Seperti anak muda saja."&lt;br /&gt;Bapak diam. Kami lihat bapak juga merasa salah, tapi tidak tahu mesti berbuat apa. Ia hanya mengatakan minta maaf dan berjanji akan mengajak ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan persoalan aku harus ikut atau tidak Pak. Bapak ini bertamu ke orang, di Yogyakarta lagi. Masak disamakan dengan bertamunya anakmu yang masih kuliah. Mereka masih muda dan berbeda dengan kita-kita yang sudah tua dan tahu betul tata cara bertandang ke rumah orang, Pak. Sekalipun ia adikmu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ya Bu, aku salah. Aku memang tergesa-gesa kemarin sebab aku kangen betul sama adikku itu. Dia itu dulu nakalnya minta ampun, Bu. Bayangkan menggoda orang dengan membungkus kotoran kerbau yang masih hangat dan dibungkus dengan pembungkus pakaian baru seperti yang aku bawa itu. Kamu tahu, Bu, siapa yang mengambilnya waktu itu Bu, sekretaris camat yang tinggalnya di ujung gang tempat kami tinggal. Tapi sekarang dia sangat baik, sopan, dan akan diangkat menjadi guru besar di Yogya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu sih urusan Bapak. Yang jelas Ibu tidak mau lagi Bapak bertamu dengan gaya selonongan seperti anak muda ini lagi," kata ibu dan beranjak meninggalkan bapak di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak diam. Memandang ibu masuk kamar. Besoknya dengan mudah ibu melupakan kejadian dengan bapak itu dan menjalankan kegiatan seperti biasanya. Tapi Bapak tidak. Bapak akan diam terus sampai berhari-hari sampai aku harus ikut menanyakan apa yang sedang bapak pikirkan. Bapak berusaha mengalihkan perhatian dengan bacaan-bacaan berita dari koran. Bapak mengatakan tidak sepakat dengan cara pemerintahan sekarang ini. Pemerintah mustahil berhasil mengelola masyarakat jika masih menggunakan susunan menteri yang tawar-menawar itu. Mengabaikan profesionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak terus saja mengutarakan ketidaksetujuan itu meskipun aku tahu pikiran bapak sebenarnya tidak sedang ke arah yang dibicarakan itu. Bapak sebenarnya kalut ketika ibu kecewa dengan tindakan bapak yang selonongan itu. Tapi bapak tidak mengatakan itu kepadaku. Aku diam. Aku mendengarkan ucapan bapak yang saat itu tak beda dengan pengamat ekonomi-politik di sebuah acara televisi yang disiarkan secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku rasa bapak sudah cukup dengan pendapatnya aku sedikit menyinggung tentang masalah ibu, "Kenapa sih Ibu sama Bapak jarang ngobrol seperti biasanya?"&lt;br /&gt;"Siapa bilang kami jarang ngobrol. Kemarin malam kami ngobrol sampai larut malam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ngobrolnya tidak seenak biasanya," godaku.&lt;br /&gt;"Ah, kalian ini sukanya ingin tahu saja. Urusi kuliahmu, cepat lulus, dan jangan sampai jatuh nilainya. Contoh pamanmu di Yogya itu?"&lt;br /&gt;Aku tidak mungkin berkata sepatah kata pun di depan bapak. Aku diam, bapak beranjak dan mengurusi burung jalaknya.&lt;br /&gt;"Burung ini sangat bagus warnanya. Suaranya enak. Bersih. Tidak berisik. Tidak kampungan. Sedikit makan. Coba lihat burung-burung piaraan ibumu di belakang rumah itu. Sudah warnanya blirik, berjambul, berisik, makannya berkilo-kilogram baru kenyang. Dan kalau sudah terbang kayak pesawat Amerika mau menyerang Irak," kata bapak diiringi siulan-siulan memancing agar jalaknya menyanyi. Seperti tahu kondisi pikiran bapak, burung jalak kebanggaan bapak itu pun mengeluarkan suaranya yang tidak terlalu buruk. Aku tersenyum memandang bapak yang tampaknya sudah kembali seperti biasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7293942201897038837?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7293942201897038837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7293942201897038837' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7293942201897038837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7293942201897038837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/ibu-dan-burung-burung.html' title='IBU DAN BURUNG-BURUNG'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-8236539802884584710</id><published>2007-07-28T16:44:00.000-07:00</published><updated>2007-07-28T16:46:16.220-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Muhammad Husyairy</title><content type='html'>PACARKU HANS&lt;br /&gt;: dalam kenangan ari setya ardhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pacarku sudah sore di puri dua dekat simpang rimbo terminal baru jalan pulang yang kelelahan, hasrat kita telah jadi berita kepergian, dari koran pagi aku berangkat dengan airmata sesore ini, jalan pulang seperti lelaki asia berjalan dalam keremangan lampu taman dan pohon-pohon kering, langkah kita yang tertunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pacarku amarah dan kesedihan perempuan melayu cara cinta yang menakutkan dalam sebuah perjalanan pulang dan pergi seperti diam, di pemberhentian kita kenal peristiwa barisan kaki pucat pada malam naas itu satu sajakmu melambai, tubuhmu bergetar seperti lelah, hans di sana. anak sulung yang kecewa di matamu. hans berarti hidup di negeri penjajah, pacarku sejarah taman ini, sebuah terminal baru dengan keberangkatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambi, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAJAH KACA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada lagi cahaya berkabar&lt;br /&gt;dari wanita-wanita hamil dikurung kaca&lt;br /&gt;udara buram telah merampas bayi-bayi&lt;br /&gt;yang lahir di matahari, terpantul malu-malu&lt;br /&gt;dari jendela yang menghadap ke rimba&lt;br /&gt;buah dada menganga&lt;br /&gt;cahaya merah yang merambah bukit&lt;br /&gt;membiarkan orang-orang berjalan&lt;br /&gt;dengan menancapkankan jemari pucatnya&lt;br /&gt;warisan para pemabuk di kota&lt;br /&gt;meracau dari gedung ke gedung&lt;br /&gt;sambil menenteng kepala sendiri&lt;br /&gt;sebuah dongeng terpaksa kita dengar&lt;br /&gt;lewat pengeras suara;&lt;br /&gt;-- negeri yang menyulap ribuan mesjid&lt;br /&gt;menjadi pekuburan&lt;br /&gt;tempat orang-orang hilang,&lt;br /&gt;atau bersembunyi di tiang-tiang listrik&lt;br /&gt;lagu lirih dari gereja yang terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KABAR DARI JENDELA BASAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: yang pasti orang-orang hilang &lt;br /&gt;bercahaya di lembah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daun jendela yang berkabar ini&lt;br /&gt;bulan yang jatuh di kelopak matamu&lt;br /&gt;berupa hembusan dari dongeng-dongeng purba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya pucat yang berat&lt;br /&gt;merambah lembah dan tanah basah&lt;br /&gt;atau batu hitam menganga;&lt;br /&gt;-- berputar di atasnya udara lembab&lt;br /&gt;dengan mantra hitam di bibir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peristiwa ziarah dari wajah-wajah terkubur&lt;br /&gt;untukmu, jendela basah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embun yang turun ditengah bintang gerimis&lt;br /&gt;sebuah kabar keruntuhanmu,&lt;br /&gt;serupa daun-daun melambai&lt;br /&gt;menjelang malam rontok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AYAT 1 MENCIUMMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menciummu subuh ini sambil berbisik&lt;br /&gt;ada hamparan luas di jari-jariku&lt;br /&gt;meremas hatimu yang berulangkali ku khianati&lt;br /&gt;bila ya merajuk sebuah bibir mendarat di telinga ini&lt;br /&gt;di tepi padang yang terlipat rayuanku bisa menyakiti &lt;br /&gt;tapi mencekikmu sayang, diam-diam aku jatuh cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari surat yang kau kirim lewat pacarmu&lt;br /&gt;tak berhenti aku merobekmu sehabis kalimat terakhir &lt;br /&gt;pada gurun dan airmata kedua tanganmu terbentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hukum aku sayang di dadamu dalam perjalanan ini&lt;br /&gt;biar sampai rinduku di kakimu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambi, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Hushairy atau Ary Ce'Gu, lahir di Muara Sabak, 17 Sepetember 1978. Banyak menulis puisi, esei dan naskah drama. Sajak-sajaknya tersebar di berbagai media massa, dan terkumpul dalam beberapa buku antologi puisi, seperti Dua Jendela (2005) bersama Ari setya Ardhi, Bunga Rampai dari Kepulauan Riau (2006), Sumatera Disastra (2006, TBB), Medan Puisi (2007), dan Tarian Senja (2007) bersama Leonowens SP. Ia sering diundang ke temu penyair nasional dan internasional, antara lain The 1st Medan International Poetry Festival 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=300945&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-8236539802884584710?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/8236539802884584710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=8236539802884584710' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8236539802884584710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8236539802884584710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/sajak-sajak-muhammad-husyairy.html' title='Sajak-sajak Muhammad Husyairy'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-27006222306911502</id><published>2007-07-21T16:57:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T17:01:42.347-07:00</updated><title type='text'>KUNTUM TURI DI PETAK TULIP</title><content type='html'>Oleh : Ida Ahdiah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu melihat seorang perempuan duduk sendirian, di kebun tulip, yang belum sempurna berkuncup. Di pagi hangat bermatahari wajah perempuan itu muram, bersaput mendung. Matanya menatap nun jauh tanpa batas. Lelaki itu meneliti bibir, hidung, dahi, dan rambutnya yang tak terurus. Dadanya berdebur halus. Perempuan itu mirip sekali dengan... Ah, tapi dia tampak lebih tua dari semestinya, pikirnya dengan perasaan tidak gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghirup kopi dan kembali meneruskan membaca koran. Sepagi itu, biasanya hanya lelaki itu di kebun tulip, yang sepi dikunjungi orang. Letaknya memang tersembunyi, di belakang gereja tua dan museum seni yang saling memunggungi. Lelaki itu berpendapat, kebun itu sepi karena tak nyaman untuk bermain anak-anak. Tak ada ayunan dan perosotan, hanya bangku taman dan petak-petak tulip kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu suka melamukankan banyak hal, masa lalunya yang sulit dan masa depannya yang sedang ia rancang-rancang. Seorang pemabuk yang meminta uang pernah terkekeh-kekeh melihat lelaki itu melompat, saat ia menegurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini perempuan itu telah mengganggu konsentrasinya. Ia turunkan koran dan kembali menatap perempuan dengan sweater warna pudar, yang kebesaran. Celana jean yang dilipat ujungnya karena kepanjangan. Ia masih mengenakan sepatu musim dingin yang tebal dan berat. Jika benar dia, mengapa begitu lusuh, tampak lemah, dan dungu, pikir lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga hari lagi tulip-tulip itu akan berkuncup sempurna." Tak tahan memendam penasaran ia membuka percakapan. Setelah lama tak ada jawaban, lelaki itu kembali berkata, &lt;br /&gt;"Aku suka tulip ungu, mengingatkanku pada kembang kangkung." Perempuan itu menoleh ke arahnya. "Aku suka yang putih, mengingatkanku pada kembang turi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, mengingatkan pada kembang apa, katamu?"&lt;br /&gt;"Kembang turi." Hampir saja ia berteriak menumpahkan keyakinannya saat melihat wajah perempaun itu seutuhnya. Ia menahan diri dengan menjatuhkan pandangan ke kaki perempuan itu, mencari tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah masa, yang tak suka ia kenang, karena begitu banyak kesulitan, lelaki itu mengenal Dianti. Putri Pak Mantri Suntik itu kaki kanannya lebih kecil dari kaki kirinya. Jika berjalan ia harus menopang lutut dengan tangannya, pincang. Teman-temannya di SD suka mengolok-olok dengan menirukan jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia berpikir, Dianti pintar karena anak Pak Mantri. Sementara dia anak pekerja serabutan. Orang membutuhkan tenaga ayahnya untuk membetulkan genteng bocor, mengecat rumah, mengumpulkan tahi kambing, memetik kelapa, mencuci mobil dan banyak lagi. Ayahnya meninggal jatuh dari atap saat membetulkan genteng sekolah. Sekolah menjadi tidak penting karena ia harus membantu Ibu menghidupi keempat adiknya. Ia bersyukur bisa naik kelas dengan rapor yang banyak angka merahnya. Ibunya seorang pemetik bunga turi. Salah satu pelanggannya adalah Keluarga Mantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali ia diminta mengantarkan pesanan kembang turi ke rumah keluarga itu. Dianti yang selalu membukakan pintu. Di tangannya selalu ada buku.&lt;br /&gt;"Sebentar saya panggil, Ibu." Itu yang selalu dikatakan Dianti. Itu saja kesempatan bertemu Dianti di luar waktu sekolah. Dianti tak pernah main gobaksodor atau loncat karet. Juga ia tak pernah menangkap kunang-kunang, saat malam bulan purnama. Keluarga Dianti pindah ke kecamatan lain setelah ia lulus SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu melanjutkan hidupnya yang tidak gampang. Terengah-engah ia menyelesaikan sekolah tekhnik menengah pertama. Pengalaman kerjanya panjang dan beragam; kenek angkot, kuli bangunan, kenek truk, tukang sapu di statsiun, calo kereta api, pelayan di restoran, dan banyak lagi yang tak ia ingat. Kemudian ia diterima bekerja sebagai anak buah kapal. Ia menghabiskan waktu di lautan dengan singgah di berbagai benua dan cuaca. Pada satu hari, saat kapal berlabuh di sebuah negeri, lelaki itu memutuskan lari dari kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga suka kembang turi," kata lelaki itu.&lt;br /&gt;"Enak untuk pecal atau urab."&lt;br /&gt;"Bunga turi bisa kamu temukan di warung oriental."&lt;br /&gt;"Ya, aku membelinya, kubuat pecal. Sekarang bunga turi menjadi sayuran antik, sukar diperoleh. Orang tak menanam turi lagi."&lt;br /&gt;"Dulu di desa masa kecilku," lelaki itu berkata sambil berdiri mendekati petak tulip, "Pohon turi banyak ditanam di tepi sawah dan tepi jalan. Kembangnya ada yang merah, ada yang putih."&lt;br /&gt;"Daun turi bagus buat menghaluskan kulit. Ibuku suka menggunakannya sebagai masker wajah." Perempuan itu berjalan terpincang-pincang, mendekati lelaki itu.&lt;br /&gt;Lelaki itu menahan nafas dan berkata pelan sambil menelan ludah, "Ibuku dulu pemetik bunga turi." Ia membuka kaca mata hitamnya.&lt;br /&gt;"Oh, ya."&lt;br /&gt;Pikiran perempuan itu mengembara ke masa belakang. Mengingat-ingat nama anak lelaki yang suka mengantar bunga turi ke rumah. Menatap wajah di depannya yang ia yakin pernah begitu familiar. Satu yang ia ingat, anak nakal itu pernah menyelamatkannya dari olok-olok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu selalu bercelana pendek dengan ikat pinggang tali rafia. Di kelas ia suka tidur. Saat istirahat ia suka mengganggu anak-anak perempuan. Pernah ia meletakkan kerukan pensil yang bercermin di rumput tempat anak perempuan main loncat tali.&lt;br /&gt;Lalu ia berteriak, "Aku tahu warna celana dalam kalian."&lt;br /&gt;Karuan saja anak-anak perempuan marah bukan main, mengejar dan melemparnya dengan bola kasti. Tapi anak lelaki itu larinya kencang, lebih kencang dari teman-teman seusianya.&lt;br /&gt;Sepulang sekolah ia bekerja, melayani orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Termasuk pekerjaan yang menjijikkan, mengumpulkan tahi kambing untuk pupuk. Juga pekerjaan berat, memikul air dari sumber mata air, kala pipa bambu retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kejadian yang ia ingat dari anak lelaki itu. Ia meninju Gatot, yang mengolok-oloknya. Gatot marah karena ia tak memberinya contekan ulangan berhitung. Seusai sekolah, ia mencegatnya dan berkata, "Perempuan pincang tak bakal jadi pengantin."&lt;br /&gt;Anak lelaki itu menghadang Gatot dan memintanya berhenti menggoda Dianti. Gatot melawan dengan mengatakan, "Oh, rupanya anak bau taik embek ini suka kamu."&lt;br /&gt;Gatot belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia mendaratkan tinjunya di wajah Gatot. Gara-gara itu ia distrap, berdiri di depan kelas selama dua jam. Ayahnya Gatot, yang kepala desa melapor ke sekolah.&lt;br /&gt;Lelaki itu, Obed, putra pemetik kembang turi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dan lelaki itu berdiri berdekatan. Lalu keduanya berhadapan. Keduanya tersenyum, berjabat tangan. Jabat tangan pertama bagi keduanya. "Di tanganmu selalu ada buku jika aku mengantar kembang turi."&lt;br /&gt;"Aku suka membaca, tapi waktuku tak banyak lagi. Aku sekarang babysitter, ngurus anak-anak keluarga pengacara. Sabtu dan Minggu libur, bisa duduk-duduk di taman. Oh, ya, berapa kali kau mendaratkan tinju di wajah anak lelaki itu, Obed?"&lt;br /&gt;"Nakal sekali aku waktu itu."&lt;br /&gt;"Tapi kau tak pernah mengolok-olok kepincanganku."&lt;br /&gt;"Kau pintar, selalu juara kelas."&lt;br /&gt;Dianti menghela nafas. "Kugantungkan cita-citaku setinggi langit untuk menjadi dokter. Apa daya aku hanya mampu menyelesaikan SMA, tak ada biaya. Dokter masuk desa, ayah kehilangan kerja. Ayah meninggal, Ibu tidak bekerja. Ibu sekarang di sanotarium karena penyakit paru-parunya makin akut. Kau sedang apa di sini?"&lt;br /&gt;"Tenaga Kerja Indonesia. Pahlawan devisa."&lt;br /&gt;"Tidak tertarik berjualan bunga turi?" Dianti tersenyum.&lt;br /&gt;Obed ingin Dianti selalu tersenyum seperti itu.&lt;br /&gt;"Kau ingin makan pecal bunga turi, ya?"&lt;br /&gt;"Istrimu suka membuatnya?"&lt;br /&gt;Obed menatap Dianti dan berkata, "Aku ingin memperistrimu sejak Gatot mengolok-olokmu."&lt;br /&gt;Dianti terbelalak lalu terbahak-bahak.&lt;br /&gt;"Itu sebab aku meninju anak kurang ajar itu."&lt;br /&gt;"Berapa putramu sekarang?"&lt;br /&gt;"Baru kali ini muncul hasratku untuk menikah dengan memperistrimu!"&lt;br /&gt;Dianti salah tingkah.&lt;br /&gt;"Menurutmu aku masih bau taik embek?"&lt;br /&gt;Dianti menggelengkan kepala. "Kau lelaki tangguh dan penuh hormat, yang pernah kukenal."&lt;br /&gt;"Lantas lelaki macam apa yang ada dalam kehidupanmu?"&lt;br /&gt;"Lelaki itu memeras tenagaku untuk berpoya-poya. Menamparku kalau ia tidak berkenan. Ia merendahkan diriku dengan mengatakan, kamu beruntung ada lelaki yang mau menikahi perempuan pincang yang tak memberi keturunan." Kalimat-kalimat itu hanya Dianti ucapkan dalam hati dengan berupaya menahan desakan air matanya.&lt;br /&gt;Obed menyentuh kedua pundak Dianti. Jelas dan dalam ia berujar, "Aku akan meninju lelaki, siapapun dia, yang telah menyepelekanmu."&lt;br /&gt;"Lelaki itu suamiku, Gatot anak mantan kepala desa." Pertahanan Dianti jebol. Air matanya tumpah.&lt;br /&gt;Obed mengetatkan kepalan tangannya. Rahangnya mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Montreal, musim semi-panas 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-27006222306911502?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/27006222306911502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=27006222306911502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/27006222306911502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/27006222306911502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/kuntum-turi-di-petak-tulip.html' title='KUNTUM TURI DI PETAK TULIP'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7746061081611459398</id><published>2007-07-21T16:49:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T16:56:59.417-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Idris Pasaribu</title><content type='html'>SEKUNTUM BUNGA UNGU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyembul&lt;br /&gt;di tepi danau. biru&lt;br /&gt;subur liar di sela belukar&lt;br /&gt;di tepi danau&lt;br /&gt;terhempas layu&lt;br /&gt;di atas batu&lt;br /&gt;kering didekap matahari&lt;br /&gt;: aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Danau Toba, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERENADA BUAT RUTH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak mungkin kutampik&lt;br /&gt;kerlip gemintang di atas ubunku&lt;br /&gt;sinarnya berkelip gemerlap&lt;br /&gt;dalam bola matamu&lt;br /&gt;sejak senja tiba merangkak tiap malam&lt;br /&gt;menjilati hatiku lekat tak bergeming&lt;br /&gt;menyimpan rindu tak sudah&lt;br /&gt;tak mungkin kudekap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerlip gemintang di atas ubunku&lt;br /&gt;mempermainkan laraku kehilangan asa&lt;br /&gt;hampir terputus bawa petaka&lt;br /&gt;kerlip gemintang&lt;br /&gt;lantunkan serenada lara panjang&lt;br /&gt;antara keping hati hampir pecah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini dia selalu mengintip&lt;br /&gt;dari tingkap kecil menembus qalbu&lt;br /&gt;setiap petang menjelang senja&lt;br /&gt;melintas malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Senja, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASJID TUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak sempat kutatap wajahmu yang anggun&lt;br /&gt;seperti keanggunan makam-makam tua&lt;br /&gt;di papan tinggi, peninggalan abad ke tujuh&lt;br /&gt;masa kejayaan Barus, kotaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sini pernah ada mesjid yang teduh&lt;br /&gt;di tepi lautan hindia yang luas dan dahsyat&lt;br /&gt;dari sana asmaNya selalu menggema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak sempat kudengar tak sempat kulihat&lt;br /&gt;dapat kurasakan adzan dari menaramu&lt;br /&gt;ditimpali jingga mentari yang berangkat tidur&lt;br /&gt;dan debur ombak menghempas ke dindingmu&lt;br /&gt;yang tertinggal sebatang tonggak lampu&lt;br /&gt;yang sedang dijilat-jilat ombak laut&lt;br /&gt;menjerit ke telingaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: selamatkan aku dari abrasi lautmu&lt;br /&gt;karena aku tonggak sejarah&lt;br /&gt;berbentuk tonggak lampu&lt;br /&gt;selamatkan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai, dengar dan bacalah puisiku&lt;br /&gt;yang mewakili sejarah mesjid tua itu&lt;br /&gt;karena dewan tak bisa bersuara mempertahankannya&lt;br /&gt;akankah tonggak lampu tua, tonggak sejarah&lt;br /&gt;ditelan ombak laut ganas ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barus, Januari 1971&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DANAU BIRU RINDU BIRU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersabarlah,&lt;br /&gt;milik paling berharga untuk kita&lt;br /&gt;tiada sepatah lagi ucap yang mampu kueja&lt;br /&gt;untuk kubawa bersama jasad bunda&lt;br /&gt;yang selalu menyenandungkan biru danau&lt;br /&gt;saat memandikanku di tepiannya&lt;br /&gt;melumuriku dengan air langir jeruk purut&lt;br /&gt;dari ubun-ubun ke sekujur tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersabarlah,&lt;br /&gt;bayu yang mengelus pucuk-pucuk pinus&lt;br /&gt;berubah angin kencang mendesing menyapu bumi&lt;br /&gt;riuhnya suara burung pagi hari&lt;br /&gt;berubah deru mesin pemotong kayu &lt;br /&gt;mengusir nuri&lt;br /&gt;mengusir murai&lt;br /&gt;mengusir emprit&lt;br /&gt;mengusir gelatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersabarlah,&lt;br /&gt;danau biru bukan milik kita lagi&lt;br /&gt;danau biru hanya tinggal sebuah rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau Toba, April 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris Pasaribu lahir di Delitua, 05 Oktober 1952. Jebolan Fakultas Hukum USU ini menulis sejak usia 16 tahun. Puisi-puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media massa Medan dan Jakarta, serta sejumlah buku antologi bersama, seperti Muara-I dan Muara III, Cerpenis Indonesia-Malaysia, dan Medan Puisi (Laboratorium Sastra Medan, 2007). Kini menjadi ketua dan sutradara Teater Anak Negeri (TAN), ketua KSI Medan, dan redaktur sastra Harian Analisa, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=300157&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7746061081611459398?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7746061081611459398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7746061081611459398' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7746061081611459398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7746061081611459398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/sajak-sajak-idris-pasaribu.html' title='Sajak-sajak Idris Pasaribu'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4477886218681176148</id><published>2007-07-14T16:53:00.000-07:00</published><updated>2007-07-14T16:55:20.707-07:00</updated><title type='text'>GAJAH DI PELUPUK MATA</title><content type='html'>Oleh : Sunaryono Basuki Ks &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Gajah ternyata tak meraksasa, tetapi orang tuanya, Sanca, telanjur memberinya nama Gajah dengan harapan anak itu takkan ditelan oleh orang tuanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Sanca adalah pengusaha kaya, dan politikus terkenal. Perusahaannya ada di mana-mana. Ada hotel berbintang di Makasar, ada perusahaan konstruksi yang mengerjakan kondominium besar di Jakarta, ada pula keikutsertaan dalam proyek Lapindo Brantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Sanca, anaknya juga menjadi pengusaha besar, sebesar gajah, sehingga Sanca takkan menelannya. Dia rela dikalahkan oleh Gajah, apalagi dia anak satu-satunya, anak semata wayang golek. Sebab, wayang kulit tipis dan matanya tak sebulat mata wayang golek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Sanca bukan orang Sunda, dia sangat menyukai wayang golek, terutama yang dimainkan oleh dalang Asep Sunandar. Mula-mula tak sengaja dia saksikan dalang itu bermain di TV, kemudian dia memerintahkan stafnya untuk mengundang dalang Asep lengkap dengan timnya untuk bermain di halaman rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut menonton wayang golek, ternyata Gajah memilih jalan hidupnya untuk menjadi seniman. Memang dia berhasil masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Jayanegara. Selama menjadi mahasiswa bukannya dia aktif dalam mengelola koperasi atau toko mahasiswa, tetapi justru memimpin Unit Kegiatan Mahasiswa Teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Gajah tamat dari Fakultas Ekonomi sesuai dengan keinginan ayahnya, dengan nilai sangat memuaskan. Ayahnya menganjurkan Gajah untuk melanjutkan studinya di School of Business Administration di University of London untuk gelar master dan kalau bisa akan tetap dibiayai sampai mencapai gelar PhD. Menerima pesan-pesan ayahnya sebelum berangkat, Gajah hanya mengatakan, "Ya, Ayah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana tidak terbatas, bisa digunakan kapan saja dan untukl apa saja, tersedia dalam rekenuing banknya. Kalau perlu, tambahan dana bisa ditransfer melalui Western Union atau cabang Bank BNI di London. Di University of London Gajah menemukan lahan baru, kelompok baru, teman-teman baru dalam berkesenian. Selain bergabung dengan Islamic Society, dia juga menjadi anggota Film Society, dan tentu saja Drama Society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada ayanya selalu dilaporkan melalui telpon kegiatan belajarnya di kampus, juga Islamic Society dengan shalat Jumat bersama di Masjid Besar London, tetapi, dia sama sekali tak pernah memberi tahu ayahnya bahwa dia juga aktif dalam kegiatan teater dan film. Dalam kegiatan teater, dia tidak hanya ikut menonton, tetapi juga ikut terlibat dalam pementasan, sebagai penata artistik, sebagai penata musik, dan bahkan pada pementasan The Tempest, dia ikut berperan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kesempatan dia menonton semua pertunjukan di West End. Dia menonton Ghost karya Henrik Ibsen, The House of Bernarda Alba karya Ferderico Garcia Lorca, dan juga The Mousetrap karya Agatha Christie. Dia juga langganan tetap menonton di The Royal Shakespeare Theatre di London, terkadang bila sedang musim pertunjukan juga menginap di Strtaford -- upon-Avon untuk menonton pertunjukan-pertunjukan drama di The Royal Shakespreare Theatre di kota kelahiran dramawan besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tempo duabelas bulan dia menyelesaikan gelar masternya, karena masa studinya memang 12 bulan, berbeda dengan program serupa di Indonesia yang bisa molor sampai tiga tahun. Karena hasilnya yang baik, menurut laporan Gajah, dia juga diterima melamar untuk program Master of Philosophy leading to PhD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan September saat dia lulus, Tuan Sanca mengundangnya untuk pulang sebab dia ingin merayakan keberhasilan studi anak semata wayang golek itu. Walau wisuda masih akan berlangsung bulan Desember, toh dengan bangga Tuan Sanca mengumumkan kepada para tamunya bahwa Gajah sudah menyandang gelar MBA dari London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak kami Gajah telah berhasil dalam studinya. Kami merasa bangga dan bersyukur, sebab dia tak meniru ayahnya yang bodoh ini, hanya suka bermalas-malasan dan tidur, terutama setelah makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin tertawa ketika Sanca juga ketawa.&lt;br /&gt;"Dia kan barusan makan PT Kambing Gemuk," seorang tamu berbisik. "Tentu saja sekarang dia tidur sebab kekenyangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah kelihatan gagah sekali berdiri di samping Tuan Sanca. Badannya masih tetap kurus juga walau dipasok gizi bagus di Inggris. Tiap pagi minum susu, tiap makan tak lupa makan buah anggur atau jeruk atau strawberry kalau sedang musim, atau buah apel, dan pear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pesta itu dia mengenakan kemeja batik corak modern karya pebatik terkemuka Iwan Tirta. Tetapi yang paling menarik bagi Gajah ialah terhidangnya sejumlah makanan tradisional yang sengaja dimintanya untuk kesempatan itu. Jengkol kesayangannya terhidang dan juga buah mangga arum manis yang sedang musim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah segera kembali ke London, tergesa ingin memulai studinya lagi. Di asrama yang sama, di kamar yang sama, dia disambut oleh suasana yang sama. Minggu pertama bulan Oktober udara sudah mulai dingin, dan kuliah-kuliah dimulai. Gajah merasa bersalah kepada Tuan Sanca sebab dia telah berbohong. Memang dia menempuh program Master bidang Business Administration sesuai dengan kehendak ayahnya, tetapi, sekarang dia mendaftarkan diri untuk program Master bidang Theatre Studies yang nantinya akan dia lanjutkan dengan program PhD. Dia yakin dapat menyelesaikan kedua program itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia punya kecintaan luar biasa kepada seni terutama teater. Dia sudah menangani sejumlah pementasan bersama mahasiswa dari Malaysia dan Afrika yang mengambil program Master. Sekarang dia tahu lika-liku studi di program itu, dan resmi menjadi mahasiswa teater. Dia mulai dengan tekun belajar teori seni, sejarah dan teori teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal sejarah teater yang katanya berasal dari upacara sesuai dengan pendapat Sir James Frazer, Levi-Strauss, dan Malinosvki yang semuanya ahli anthropologi jagoan, dia tak punya masalah untuk memahaminya. Soal teater Yunani kuno dengan tiga menulis tragedi terkemuka dan penemuan mereka tentang jumlah aktor atau kemampuan suara yang terlibat juga dapat dipahaminya dengan mudah. Soalnya, dia juga paham mengenai teater Bali, ada topeng pajegan yang dipentaskan mirip saat jaman kuno di Yunani. Yang lebih modern ada topeng bondres, dengan tiga pemain tetapi memerankan banyak tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dia bertemu kembali dengan Francis Katamba yang sudah menyelesaikan program master teaternya, dan sekarang justru kembali mau menulis disertasi tentang teater tradisional di negerinya. Setelah menyelesaikan kuliah-kuliah teori, dia yakin harus kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Bali tanpa singgah di Jakarta, bahkan tanpa melapor kepada Tuan Sanca. Kalau ayahnya tahu proyek besar yang digarapnya, pasti akan pingsan. Anak semata wayang golek akan menjadi doktor seniman atau seniman doktor. Apapula komentar anak buahnya? Tidak ada kata-kata: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Gajah punya senjata ampuh, yakni kata-kata Gilbran, "Anakmu bukan anakmu," untuk mengelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di Ubud, telpon Gajah berdering, "Papa besok akan ke London. Ada bisnis penting. Apa kita bisa bertemu? Sudah rindu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah gelagapan, tetapi, dasar dia seorang aktor, segera dia jawab, "Wah, Papa, saya sedang sibuk sekali melakukan penelitian jauh di Aberdeen, soal bisnis ikan laut utara."&lt;br /&gt;"Tapi, kan kamu bisa terbang ke London. Tinggalkan saja proyek itu."&lt;br /&gt;"Maaf, Papa, ini Inggris, bukan Indonesia. Appointment yang sudah dibikin tak bisa seenaknya diubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Sanca dapat diperdaya oleh Gajah, namun di London dia suruhan orang untuk menyelidiki anaknya sampai di asrama, dan menemukan informasi yang mengejutkan. Sudah enam bulan Gajah pulang ke Indonesia melakukan penelitian. Dan, dari penjaga asrama dia mendengar bahwa Gajah adalah mahasiswa teater, bukan mahasiswa bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bohong sama Papa. Kamu di Indonesia, kan? Tak ada Gajah yang mahasiswa bisnis, tetapi ada Gajah mahasiswa teater. Kamu gila, ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tersenyum dia menjawab, "Tidak, Pa. Aku tidak gila, sebab bila gajah gila, bisa mengamuk dan menginjak-injak ular sanca."&lt;br /&gt;"Duh, Gajah. Gajah di pelupuk mata, kok aku tak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, dia tidak pingsan sebab tahu bahwa Gajah mengambil program PhD, walaupun bidang teater. Kalau dia pulang, dia akan dibangunkan sebuah gedung pertunjukan modern dan megah, lebih megah dari Jakarta Convention Center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4477886218681176148?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4477886218681176148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4477886218681176148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4477886218681176148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4477886218681176148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/gajah-di-pelupuk-mata.html' title='GAJAH DI PELUPUK MATA'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7603724933143996137</id><published>2007-07-14T16:52:00.000-07:00</published><updated>2007-07-14T16:53:38.540-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Slamet Widodo</title><content type='html'>LAPINDO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lumpur panas itu&lt;br /&gt;muncrat dari perut bumi&lt;br /&gt;setelah beribu tahun menyembunyikan diri&lt;br /&gt;sebuah kelalaian manusia&lt;br /&gt;mengantarnya ke permukaan bumi&lt;br /&gt;lumpur panas itu marah&lt;br /&gt;lantaran daerah kekuasaanya dijamah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lumpur panas itu&lt;br /&gt;menggasak apa saja&lt;br /&gt;mengganyang apa saja&lt;br /&gt;tak ada teknologi mampu membendungnya&lt;br /&gt;ia melompat-lompat dari muka bumi&lt;br /&gt;suaranya berkecopak gemuruh memecah sunyi&lt;br /&gt;400 ha tanah warga dirampasnya tanpa peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lumpur panas itu&lt;br /&gt;keluar 150 ribu meter kubik per hari&lt;br /&gt;setara dengan angkutan 750 truk tronton per hari&lt;br /&gt;waduk-waduk yang dibuat tak mampu menampung&lt;br /&gt;air lumpur itu lalu disedot dengan pompa raksasa&lt;br /&gt;pompanya rusak tak tahan liatnya&lt;br /&gt;lumpur itu akhirnya dialirkan ke kali porong&lt;br /&gt;mengendap mendangkalkan kali&lt;br /&gt;dan setiap saat akan mendatangkan banjir&lt;br /&gt;"barangkali Tuhan mengirim lumpur ini&lt;br /&gt;untuk mengurug selat madura nanti&lt;br /&gt;hinga jembatan suramadu tak perlu lagi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lumpur panas itu&lt;br /&gt;mengeluarkan uap putih&lt;br /&gt;membuat pemandangan yang menakjubkan&lt;br /&gt;menjadi telaga darah sepuluh ribu warga&lt;br /&gt;menjadi telaga lumpur terluas di dunia&lt;br /&gt;menjadi fenomena&lt;br /&gt;tempat berburu juru foto dan kamera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pabrik-pabrik tutup&lt;br /&gt;buruh-buruh berhenti kerja&lt;br /&gt;urat nadi transportasi terganggu&lt;br /&gt;para menteri berdebat&lt;br /&gt;lsm-lsm menghujat&lt;br /&gt;pengusaha penanggung jawab terbabat&lt;br /&gt;pemerintah tak sigap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihat, ihatlah para warga&lt;br /&gt;tidak tahu apa salahnya&lt;br /&gt;getah tiba-tiba mereka terima&lt;br /&gt;tahu-tahu rumah dan sawah mereka lenyap&lt;br /&gt;lumpur sudah seatap&lt;br /&gt;sekarang hanya uang sewa diberi&lt;br /&gt;katanya akan diganti rugi&lt;br /&gt;dalam bentuk uang tunai dua tahun nanti&lt;br /&gt;tak ada pekerjaan tak ada yang peduli&lt;br /&gt;tak tahu harus apa untuk menyambung nyawa lagi&lt;br /&gt;itupun kalau yang bertanggung jawab tak lari&lt;br /&gt;belum dua tahun terlanjur mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;warga celaka itu&lt;br /&gt;ada yang stres diam saja&lt;br /&gt;ada yang stres ngomyang di mana-mana&lt;br /&gt;ada yang stres setiap hari demo lalu gila&lt;br /&gt;setiap hari ia mengumpat, "dincuuuuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengusaha yang bertanggung jawab&lt;br /&gt;menangis mbrebes mili&lt;br /&gt;mau irit malah kecerit&lt;br /&gt;pemegang sahamnya ribut saling menyalahkan&lt;br /&gt;harga saham perusahaan afiliasinya nungging&lt;br /&gt;berbagai trik melepas tanggung jawab dilakukan&lt;br /&gt;tapi tak menghasilkan&lt;br /&gt;pemilik lapindo bilang, "saya bertanggung jawab"&lt;br /&gt;tapi secara hukum perusahaan ini sudah pailit&lt;br /&gt;pemilik lapindo&lt;br /&gt;di tempat lain menguras kekayaan alam dari bumi&lt;br /&gt;di tempat ini kekayaan itu diminta lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidoarjo jadi sidoancur&lt;br /&gt;kuala lumpur pindah ke jawa timur&lt;br /&gt;menjadi kuali lumpur menjadi kuala kubur&lt;br /&gt;tak masuk ke akal kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China Air, 22 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet Widodo lahir di Solo, 29 Februari 1952. Sarjana arsitektur ITB (1976) ini banyak dikenal sebagai arsitek bisnis dan pengusaha properti. Tapi, belakangan pria yang lembut dan murah senyum ini mulai menekuni kembali hobinya menulis puisi. Sajak-sajak sosialnya yang segar dan menyentil pun mulai bermunculan di media massa, seperti Kompas, dan panggung baca puisi. Buku-buku kumpulan sajaknya yang telah terbit adalah Potret Wajah Kita (2004), Bernafas Dalam Resesi (2005), dan Kentut (2006). Kumpulan sajak terbarunya, Selingkuh (2007), sedang dalam proses cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=299336&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7603724933143996137?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7603724933143996137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7603724933143996137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7603724933143996137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7603724933143996137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/sajak-sajak-slamet-widodo.html' title='Sajak-sajak Slamet Widodo'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7144580169377001148</id><published>2007-07-06T18:53:00.000-07:00</published><updated>2007-07-06T18:54:33.378-07:00</updated><title type='text'>WAJAH</title><content type='html'>Oleh : Sides Sudyarto DS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durma mempunyai kesadaran yang luar biasa atas kesadarannya sendiri. Ia tahu bagaimana menghadapi orang bodoh, pintar, orang culas, orang jujur, orang miskin atau kaya. Ia bisa jadi orang gila dan gagu, ketika harus naik oplet karena tidak mampu membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika muda ia merantau ke Yogya. Di sana ia membeli buku loakan. Pada halaman awal buku stensilan itu terbaca kalimat: filsafat tidak menanak nasi. Dan kini, dalam hidupnya di perantauan ia mencatat sendiri: ijasah tidak menanak nasi. Ia jadi penarik becak saat baru masuk Jakarta. Posisinya meningkat, saat ia jadi penjual koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lompatan jauh ke depan, yang paling spektakuler, terjadi ketika ia dari tukang koran menjadi wartawan surat kabar paling berpengaruh di Jakarta. Tidak banyak orang tahu proses metamorfosis dahsyat itu. Ia menutup ketat masa lalunya itu. Puncak karirnya, ia menjadi penasihat seorang politikus muda yang sedang naik daun. Ketika kemudian tokoh flamboyan itu menghalalkan semua cara, ia pilih mundur. Antiklimaks terjadi, ia jadi penganggur, hidup lontang-lantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan mereka semua, Durma memilih warna lain. Ia memberikan beban berat kepada mukanya sendiri. Kepada wajahnya. Ia selalu siap menjadikan wajahnya sebagai alat penyamaran, alat berpura-pura, atau sebagai topeng perasaan dan pikirannya. Doktrin hidup pribadinya sekarang ialah: selama aku mampu merendahkan diri, siap dihina orang, aku masih bisa mendapatkan sedikit uang untuk hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya selalu menengadah, siap dimaki, dihina, disiksa, dianiaya, ditampar atau bahkan juga diludahi. Karena wajah baginya adalah satu penampang dan simbol kehormatan, maka Durma siap menelan risiko menjadi manusia yang tidak terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa kau memilih bunglon sebagai mahagurumu?" tanya Paron. "Karena saya tidak punya mahaguru dari universitas. Toh ada bedanya. Bunglon berubah warna kulit untuk menyelamatkan dirinya, tanpa sadar. Ketika saya mengubah taktik saya, itu saya lakukan dengan sadar," jawab Durma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau tidak mampu mencari mahaguru yang lebih bermutu?&lt;br /&gt;" ejek Paron.&lt;br /&gt;"Ada, bahkan jauh lebih bermutu."&lt;br /&gt;"Siapa?"&lt;br /&gt;"Kemiskinanku. Penderitaan hidupku adalah guruku yang nomor satu."&lt;br /&gt;"Coba, kasih contoh untukku salah satu bentuk penderitaanmu!"&lt;br /&gt;"Saya pernah disuruh menagih utang oleh seseorang, kepada seseorang. Karena aku menagih di pinggir jalan, orang itu marah dan ia meludahi wajahku."&lt;br /&gt;"Lalu, selanjutnya?"&lt;br /&gt;"Selanjutnya aku menarik garis lurus kesimpulanku. Ternyata dengan bersedia diludahi di wajahku, aku dapat uang. Artinya aku bisa bertahan hidup!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa tidak ada bisnis lain? Pekerjaan apa yang kau lakukan itu?"&lt;br /&gt;"Aku bisnis muka. Bisnis wajah! Bisnis lain juga banyak kulakukan. Aku mengurus SIM, STNK, BPKB, calo tanah, calo onderdil mobil." &lt;br /&gt;"Dan hasilnya membuat kau bahagia?"&lt;br /&gt;"Walah! Walah! Mas Paron, untuk saya kebahagiaan itu tidak pernah ada!." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga tahun terakhir ini Durma bekerja sebagai sopir pribadi Bu Jonoamijoyo. Ia akrab dipanggil Bu Ami, dikenal sebagai perempuan yang paling galak, kasar, tetapi baik hati. Ia suka memberi uang kepada siapa saja. Tentang Bu Ami orang-orang mengatakan: Ia menghidupi orang dengan uangnya, sekaligus membunuh orang dengan kata-katanya. Semula Durma tidak percaya semua omongan orang itu. Setelah ia bekerja cukup lama barulah ia tahu apa yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Bu Ami perempuan yang cantik paras muknya, pikir Durma. selalu. Rambutnya yang hanya sebahu panjangnya, bergelombang alami. Memang sudah mulai memutih, tetapi menambah indah parasnya. Wajahnya selalu bersih, tanpa mengenakan bedak. Bibir pun merah asli tanpa gincu. Di zaman anggaran kecantikan mengalahkan anggaran pertahanan, ia sama sekali tidak berdandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, badannya terlalu besar karena gemuknya. Hebatnya, meskipun gemuk dengan bokong yang terlalu besar, ia selalu bergerak cekatan dan tidak ada segannya naik turun tangga dalam rumahnya yang berlantai tiga. "Durma, sebulan ini kau bekerja baik sekali. Kau tidak mangkir sehari pun. Kau pantas menerima bonus satu juta rupiah! Ingat, jangan sampai dicuri binimu di rumah. Perempuan kebanyakan hanya bisa mencuri uang suaminya. Rata-rata mereka tidak lebih dari komodo-komodo penghisap darah daging suaminya. Perempuan, juga istrimu, pastilah komodo yang pura-pura setia sebagai modal utamanya," ujar Bu Ami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali, Bu Ami dimaki-maki orang di depan rumahnya, karena ia sendiri menghamburkan makian yang luar biasa kotornya. Dua musuh utama Bu Ami adalah pemulung dan peminta sumbangan yang terus tumbuh bagai cendawan di musim hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai maling jahat! Rapikan kembali sampah-sampah itu. Kamu makan dari sampah, tetapi tak tahu aturan. Sampah kau obrak-abrik, berantakan. Baunya ke mana-mana. Jika tidak kau rapikan lagi, makan semua sampah busuk itu biar kenyang perutmu!" maki Bu Ami menghardik pemulung. Suatu hari, datang seorang pemuda gondrong membawa daftar sumbangan. Jumlah sumbangan sudah ditentukan. &lt;br /&gt;"Sumbangan itu suka rela. Jangan maksa begini! Aku tak mau dipaksa. Kalau maksa, namanya rampok! Garong! Kau pikir cari uang mudah?" ujar Bu Ami bergetar. Penarik sumbangan marah luar biasa. Ia menghunus goloknya, lalu mengejar perempuan gembrot yang menghinanya. Durma terpaksa tampil sebagai pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini Bu Amijoyo sakita-sakitan. Keluhannya, seringkali, kakinya merasa pegal-pegal dan ngilu, terutama pada bagian-bagian prsendiannya. Dia bilang itu penyakit asam urat. Maka secara periodik ia pun harus ke dokter dan apotek untuk beli obat. Langganannya: Voltaren, silorit. Hingga bosan ia membayar dokter dan membeli obat, tidak juga sembuh. Rasa sakit, nyeri dan ngilu memang lenyap setelah makan obat. Tetapi begitu obat habis, kambuh lagi rasa sakitnya yang sangat menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Durma, sudah seminggu kau tidak bekerja, lantaran aku sakit. Kau makan gaji buta! Sekarang aku sakit, kau tidak peduli. Sekarang kau mau berbuat apa?"&lt;br /&gt;"Apa yang bisa saya lakukan, Ibu?"&lt;br /&gt;"Kau punya otak atau tidak? Mestinya kau berpikir, bagaimana aku cepat sehat. Molor saja kerjamu itu!"&lt;br /&gt;"Saya sudah antar Ibu ke dokter. Saya sudah ke apotek beli obat," jawab Durma.&lt;br /&gt;"E, apa matamu buta? Sudah berapa juta uang dihamburkan untuk beli obat? Dokter mahal, obat mahal. Tidak menyembuhkan! Penipu! Coba cari obat lain, Durma!" &lt;br /&gt;Durma pergi mencari obat tradisional. Di jalan, ia jumpa Mas Paron lagi. "Kau masih bekerja pada Bu Gendut itu?" tanya Mas Paron.&lt;br /&gt;"Masih, Mas. Orangnya baik sekali!"&lt;br /&gt;"Baik sekali katamu? Sopir lain hanya tahan tiga hari! Kau sudah tiga tahun!" "Dia itu orang yang sangat kaya harta, tetapi sangat miskin bahasa. Ia banyak memberi uang kepada orang. Bukan hanya kepada saya saja, Mas!"&lt;br /&gt;"Kau mau ke mana sekarang?"&lt;br /&gt;"Majikan saya sakit asam urat. Sudah lama. Dokter dan obat tidak menyembuhkan, Mas. Kalau kumat, ia nangis jejeritan."&lt;br /&gt;"Dia orang baik, katamu. Harus kita tolong. Nah cari obat tradisional, ini merknya. Adanya di warung jamu Pasar Lama. Harganya hanya seribu perak sebungkus," ujar Mas Paron. Durma pulang dengan sepuluh bungkus jamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luar biasa. Seperti orang main sulap saja. Sayang langsung sembuh!" ujar Bu Amijoyo kepada Durma. Ia sangat kagum, sebab minum jamu sore, pagi harinya ia langsung bisa jalan normal lagi. Hari itu juga Bu Amijoyo minta diantar ke supermarket, untuk membeli keperluan sehari-hari. &lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian terjadi peristiwa yang paling mengejutkan dalam hidup Durma. Bu Amijoyo menyerahkan surat rumah, surat mobil kepadanya. "Ini mesti saya apakan, Ibu?"&lt;br /&gt;"Pegang saja, simpan. Barang-barang itu semua akan jadi milikmu."&lt;br /&gt;"Saya tidak berhak menerima warisan dari Ibu. Maafkan saya, Ibu!"&lt;br /&gt;"Diam, Durma. Aku tak punya anak, tak ada sanak saudara. Aku akan ke notaris. Itu semua untukmu." ujar Bu Ami. "Tidak lama lagi saya masuk panti jompo. Di sana orang-orang tua yang tidak mau terlantar seperti aku, bakal dirawat dengan baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian Bu Amijoyo menuju panti jompo, diantarkan Durma dengan mobil mewahnya. Di sana ia menunjukkan nomor kamarnya, tempat untuk menerima jengukan dan sebagainya.&lt;br /&gt;"Saya yakin, Ibu masih punya kerabat dekat," ujar Durma memberanikan diri. "Jangan membuat aku berpikir mundur! Aku hanya ingin hidup bebas. Kebebasan adalah segalanya dalam hidupku!" ujar Bu Ami. Durma terdiam saja. &lt;br /&gt;"Baiklah kalau kau mau pulang. Tengok aku sehari sekali. Jika tidak, seminggu sekali atau sebulan sekali. Jangan lupa, kau akan mengatur pembayaran panti sebulan sekali. Terima kasih, Durma," ujar Bu Ami sambil tegak berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durma mohon diri, untuk dengan berat hati meninggalkan majikannya. Bu Amijoyo memeluknya beberapa lama. Setekah renggang rangkulannya, Bu Ami menyeka air matanya. Begitu juga dengan Durma. Ia tak tahan membendung tangisnya yang tanpa suara. Perempuan tambun berwajah cantik dan bersih itu terus menatap langkah-langkah Durma, hingga tak tampak lagi dari pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=298508&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7144580169377001148?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7144580169377001148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7144580169377001148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7144580169377001148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7144580169377001148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/wajah.html' title='WAJAH'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-5770367048219732833</id><published>2007-07-06T18:46:00.000-07:00</published><updated>2007-07-06T18:57:08.049-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Saeful Badar</title><content type='html'>NYANYIAN KERANDA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duka mahadalam bertakhta di lubuk sukma&lt;br /&gt;Setelah kelahiran yang bertabur harapan&lt;br /&gt;Dan semerbak cinta berlaksa-laksa&lt;br /&gt;Di selapang buana. Usialah yang kemudian&lt;br /&gt;Mengkhianati perjalanan bahagia. Usia pula&lt;br /&gt;Yang akhirnya membatasi kelanggengan semesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung mahakeruh mengalun menggemuruh&lt;br /&gt;Menggenapkan gulita pada hampar nestapa&lt;br /&gt;Lantas, tak ada lagi yang bisa didamba&lt;br /&gt;Perjalanan berakhir pada ketiadaan yang maha&lt;br /&gt;Pada kepapaan yang maha&lt;br /&gt;Pada kedenaan yang maha&lt;br /&gt;Dan kau, tinggalah sebagai kenangan&lt;br /&gt;Atau zarah sebutir cuma. Tepekur sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMO BENDERA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang dengan bangganya&lt;br /&gt;Telah memilih menjadi bendera &lt;br /&gt;Mereka teriak-teriak, "Merdeka atau Mati!"&lt;br /&gt;Tapi mereka tak pernah merdeka-merdeka&lt;br /&gt;Sebab lebih merdeka kentut atau taik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak merdeka-merdeka&lt;br /&gt;Sebab tangannya terikat &lt;br /&gt;Kakinya terikat &lt;br /&gt;Jiwanya terikat&lt;br /&gt;Pada tiang-tiang kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bendera, mereka bangga&lt;br /&gt;Berkibar-kibar demi tiang-tiang&lt;br /&gt;Merekalah sesungguh-sungguhnya orang &lt;br /&gt;Yang rela memilih mati&lt;br /&gt;Rela memilih tak merdeka-merdeka&lt;br /&gt;Bagi jiwa dan raganya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IQRA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah, dan, bacalah&lt;br /&gt;Selepas kenangan yang membentang&lt;br /&gt;Antara hatimu dan Hira&lt;br /&gt;Antara gurun-gurun tandus&lt;br /&gt;Padang-padang hening bukit Tursina,&lt;br /&gt;Serta Al-Kahfi yang kelam namun teguh&lt;br /&gt;Berabad-abad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah, dan, bacalah&lt;br /&gt;Selepas gelora dunia yang membara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak lagi hatimu terbakar angkara&lt;br /&gt;Dan terurailah segala kelam tulang-belulang&lt;br /&gt;Yang beraja di dalam jiwa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USIA TUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi tua. Tiba-tiba&lt;br /&gt;Dan hari-hari yang mengurungku&lt;br /&gt;Tetap gulita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pohon-pohon berjanggut&lt;br /&gt;Di rimba-rimba, tubuhku berlumut&lt;br /&gt;Dingin dan kabut&lt;br /&gt;Mengelupaskan pakaian dan kulit-kulitku&lt;br /&gt;Membuatku semakin tua&lt;br /&gt;Dengan waktu yang kian menyusut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-5770367048219732833?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/5770367048219732833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=5770367048219732833' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5770367048219732833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5770367048219732833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/07/sajak-sajak-saeful-badar.html' title='Sajak-sajak Saeful Badar'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-9083454036333837876</id><published>2007-06-30T17:11:00.000-07:00</published><updated>2007-06-30T17:12:05.599-07:00</updated><title type='text'>SKANDAL UTANG</title><content type='html'>Oleh : Nugroho Suksmanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujin orang pintar. Mungkin kelewat pintar, hingga sekarang menjadi buron. Ia sembunyi entah di mana, seperti juga Samsyul Nursalim, Samadikun Hartono dan Hendra Wijaya, yang santer diberitakan di surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah bagian dari peserta "pesta BLBI" yang membuat miris setiap orang yang menatap jumlah yang telah dinikmati. Saat krisis, setelah kebijakan penjaminan dikeluarkan pemerintah, dalam tiga bulan saja, jumlahnya bertambah 300 triliun rupiah. Berarti setiap dua minggu bertambah lima puluh triliun. Menurut audit Putu Ary Suta, sejumlah 300 triliun dari kira-kira 600 triliun tidak memiliki dokumen pendukung yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka itu tak akan sirna dengan sendirinya, tanpa keringat rakyat diperas untuk membayarnya. Bukannya hebat, tapi gila! Pantas kalau di Singapore saja, disinyalir ada sekitar 50 miliar dolar dana orang-orang Indonesia yang diparkir di lembaga-lembaga keuangan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaanku bukan perusahaan perbankan, dan hutang yang kulakukan semata-mata pinjam meminjam biasa, walaupun jumlah kewajibannya sangat besar dan akhirnya melampaui satu triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ujin yang menawarkan hutang itu, setelah anak buahnya mendapat usulan dari direktur keuangan perusahaanku. Dia yang menganggapku bodoh, karena tidak mau mengkonversikan hutang rupiah sebesar 150 miliar, berbunga dua puluh dua prosen, ke hutang dolar menjadi hanya 60 juta, yang hanya berbunga tujuh setengah prosen. Padahal proyek memiliki tagihan dalam bentuk dolar sebesar enam puluh tujuh juta, yang dengan sendirinya menjadi hedging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap berpendirian, karena semua hutang dan tagihan sifatnya jangka pendek, maka selisih bunga hanyalah tambahan biaya semata. Tetapi, begitu dikonversikan ke mata uang asing, risiko valas terbuka menganga. Dua kali kualami saat bekerja di Pembangunan Jaya. Tagihan dolar ternyata tidak dapat direalisasikan sepenuhnya. Karena, nilai rupiah yang terdevaluasi cukup tinggi, mengakibatkan kurs dolar sangat memberatkan untuk dijadikan patokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, keseluruhan hutang proyek sebesar 100 juta dolar akhirnya dapat kulunasi sepenuhnya, walaupun dengan pengorbanan sejumlah harta yang tak terkira besarnya. Setiap keliling Mega Kuningan, kawasan seluas 54 hektar yang selama 15 tahun kukembangkan, hanya dapat kupandangani bundaran seluas empat hektar, lahan strategis yang lepas dari pemilikan perusahaanku. Sebagian dibangun oleh Tan Kian yang juga pemilik Marriot Hotel, menjadi Ritz Carlton. Tiga perempat sisanya diambil Harjono dan Abie, yang dibiarkan tergeletak tak terjamah, menunggu bisnis properti menggeliat, baru akan dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak tergesa mengembalikan investasinya, karena sama sekali tak dibebani hutang. Sementara, kepemilikan perusahaanku yang tinggal dua puluh prosen, ingin dilalapnya pula. Belum lagi lahan-lahan melayang, seperti yang sekarang dibangun Gunarso dan Sujono Barak Rimba menjadi apartemen Bellagio. Itu semua, dulu kuimpikan menjadi tabungan investasi jangka panjang, untuk mewarisi anak cucu dengan peninggalan berupa gedung-gedung megah pencakar langit. Yang tinggal sekarang, hanya Menara Anugrah, gedung perkantoran 25 lantai, yang masih dapat kupertahankan untuk disewakan jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dihitung-hitung, kerugian proyek akibat selisih kurs saja, tak kurang sebesar 750 miliar rupiah. Penyesalan tak pernah redup dari ingatan, menjadikan sebuah hikmah sebagai pengembang. Tetapi, aku masih bersyukur, mengamati lebih banyak kawan-kawan tersungkur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan saya menjadi kerdil, dan kemampuan mengembangkan investasi menyusut. Karenanya, nafsu ekspansi sementara kutunda, apalagi masih dicekam pengalaman traumatis dilibat hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, peluang-peluang menggiurkan membuatku terpancing lagi untuk menangani. Apalagi kalau ditawarkan dengan tanpa menyetor equity. Temanku, Otto, datang membawa proposal untuk mengambil alih lahan strategis di depan Hotel Aryaduta, milik PT Adhi Karya, yang sekarang sedang dalam kastodian Bank Mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanahnya, seluas 16.000 m2, dapat dibeli dengan hanya 50 miliar rupiah. Rasanya sangat menjanjikan. Agus, partnerku lainnya, bersedia menyediakan fasilitas kredit dari Bank BNI. Wah, kapan lagi dapat peluang seperti ini, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membicarakaan pendanaan, Agus menghadirkan Sadek, teman lamaku, seorang bankir kawakan, didampingi Rivaldi Mokodompit, seorang fund manager.&lt;br /&gt;"Seluruh fasilitas yang gua punya besarnya 25 juta dolat." Sadek mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;"Elu ambil saja semua. Yang lima juta dolar elu pakai, sisanya transfer ke account bank gua di Bahama."&lt;br /&gt;"Lu nggak usah khawatir, karena pinjaman itu di-back up dengan Standby LC, instrumen pembayaran setingkat Bank Garansi." "Kalau LC-nya bolong, gua dong yang akan dikejar mengembalikan seluruh pinjaman."&lt;br /&gt;"Bank kan ngga bodoh. Mereka punya cara menilai keabsahan instrument pembayaran. Minimal lewat correspondent bank yang berperan meratifikasi. Kalau bodong, itu tanggung jawab mereka." "Tapi gua punya pengalaman pahit, Dek. Dulu gua punya tiga Bank Garansi dari BII dan BDNI yang nggak bisa dicairkan."&lt;br /&gt;"Katakanlah begitu, ganti saja LC-nya dengan asset yang kita miliki. Asal elu jangan ngemplang saja. Kalau gua, jelas punya asset yang nilainya berlebih, karena dana yang gua terima akan gua pakai membeli asset di BPPN yang harganya hanya 15 sen. Separuh dari asset-asset yang akan gua punya saja, sudah cukup untuk meng-cover dana yang gua tarik."&lt;br /&gt;"Tapi gua udah keburu ditangkap polisi, Dek."&lt;br /&gt;"Nggak ada unsur kriminalnya. Ini urusan perdata, Bung! Kalau toh ada, yang mesti dipersalahkan ya pegawai bank, kenapa mereka teledor melakukan pengecekan. Gue terima pembayaran dari ekspor barang kok. Cuman dalam bentuk Ussance LC yang pencairannya enam bulan lagi."&lt;br /&gt;"Kalau Elu takut gua bawa lari itu duit, Elu deh yang kelola duit gua. Tapi, beliin aset-aset yang gua mau."&lt;br /&gt;"Ah, engga deh. Gua ngeri Standby LC-nya fiktif."&lt;br /&gt;"Ah, chicken, Lu!" Otto menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran-koran memberitakan, Adrian Waworuntu divonis seumur hidup. Dicky dituntut hukuman mati. Kasus BNI menjadi skandal yang meruntuhkan kredibilitas dan memporak-porandakan sistim perbankan nasional. Kuingat Sadek, lalu kutelepon dia. Ingin tahu keterlibatannya dalam perkara di Bank yang sama.&lt;br /&gt;"Elu aman-aman saja, Dek?"&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;"Jadi, Lu pakai fasilitas yang 25 juta dolar?!"&lt;br /&gt;"Jadi dong. Tapi, di bank lain, bukan BNI."&lt;br /&gt;"Siapa yang pakai?"&lt;br /&gt;"Temen gua, PT Kailan International."&lt;br /&gt;"Nggak bermasalah seperti Adrian dan Dicky?"&lt;br /&gt;"Ah, orang-orang sekitar mereka rakus dan tolol. Duit yang diterima dihamburkan nggak karuan. Saat LC-nya jatuh tempo, nggak ada back up jadinya."&lt;br /&gt;"Kudengar pakai nyogok polisi segala lagi. Makin ketahuan kalau mau berniat jahat."&lt;br /&gt;"Pantaslah diganjar hukuman yang berat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadek brilian, tetapi ambisinya kelewat besar. Dia pernah mendekam di penjara gara-gara melawan George Soros. Menggunakan banknya, dia menantang International Hedge Fund Manager yang mengendalikan nilai mata uang dipasar global. Dia berspekulasi melalui margin trading dalam permainan valas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadek, dengan dukungan dari bank-bank di Timur Tengah, mengambil posisi berseberangan dengan pisisi yang diambil oleh Quantum Fund, yang diikuti pemain-pemain dan pialang-pialang di Wall Street. Tetapi, saat dia mengambil posisi lima persen margin di tingkat 400 juta dolar, yang berarti penempatan seluruhnya mencapai sebesar delapan miliar dolar, mengharapkan rebound setelah konjungtur turun terus, transaksi dihentikan oleh atasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, transaksinya yang semula hanya memunculkan potential loss, berakhir menjadi realized loss, sebesar margin yang dipertaruhkan. Sadek hanya bisa mendengar berita pesta pora syeikh, emir dan sultan-sultan emirat, selesai mereguk keuntungan valas bermiliar-miliar dolar, setelah trend berbalik menohok Soros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadek juga harus bersemayam di hotel prodeo sebagai pesakitan, dan hanya sempat terima SMS, "When you need fund, you are most welcome. Take from us not from the Jews the devil Israel!" Friend Indeed, Al Makhtoum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kenal sangat dekat dengan ibu Dicky. Dia orang terhormat, menantu pahlawan nasiolal Otto Iskandar Dinata. Sebagai seorang ibu, tentu dia lebih percaya kepada anaknya. Untuk meyakinkan bahwa Dicky tidak bersalah, naskah pembelaan anaknya disampaikan kepadaku. Walaupun aku yakin Dicky tidak sengaja berniat melakukan kejahatan, tetap saja yang berhak melakukan penilaian adalah Jaksa dan Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Dicky sebelumnya bertemu Sadek, mungkin tindakan dan pembelaannya akan berbeda. Tidak tertutup kemungkinan, dia terlepas dari jerat hukum. Walaupun begitu, kasusnya tetap saja masuk dalam daftar panjang skandal-skandal utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-9083454036333837876?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/9083454036333837876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=9083454036333837876' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/9083454036333837876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/9083454036333837876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/skandal-utang.html' title='SKANDAL UTANG'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-3192207420232890002</id><published>2007-06-30T17:06:00.000-07:00</published><updated>2007-06-30T17:10:23.021-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Rukmi Wisnu Wardani</title><content type='html'>SATU WAKTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu waktu akan lahir puisi-puisiku&lt;br /&gt;tanpa bahasa, tanpa kata maupun aksara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tangan-tangan ini&lt;br /&gt;akan tuntas terbakar cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat itu usai sudah kupanggul salib waktu&lt;br /&gt;dan aku tak lagi bergelayut di tepi malam&lt;br /&gt;seperti matahari yang muncul bagai pencuri&lt;br /&gt;dan mengendap di kejut hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin kisah musim yang tersisa&lt;br /&gt;hanyalah sejumput kisah embun&lt;br /&gt;yang mengkristal (abadi)&lt;br /&gt;di pucuk pohon cemara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALAN CINTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam nyala&lt;br /&gt;dingin musim tak lagi terasa&lt;br /&gt;sebab aku akan pulang dalam cinta&lt;br /&gt;dan menjelma bunga di kolam raja&lt;br /&gt;tanpa tangkai maupun rupa&lt;br /&gt;kecuali wangi makhota sukma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam nyala&lt;br /&gt;suara jangkrik tak lagi ada&lt;br /&gt;sebab pedang telah menari&lt;br /&gt;sesempurna kilau permata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- menuju kuil suci, pepohonan&lt;br /&gt;tunduk menyapa salam --&lt;br /&gt;-- memasuki pintu gerbang, mata air&lt;br /&gt;bening bertatapan --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada ujung mata pedang&lt;br /&gt;kurebahkan takdir kehidupan&lt;br /&gt;pada ujung mata pedang&lt;br /&gt;kupentaskan syair kematian&lt;br /&gt;pada ujung mata pedang&lt;br /&gt;kulengkapi keabadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sungguh, tak kupungkiri&lt;br /&gt;betapa perih rindu menyiksa&lt;br /&gt;karena aku telah menunggu&lt;br /&gt;untuk sekian lama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selebihnya, hanya langit yang tahu&lt;br /&gt;mengapa angin melukis awan&lt;br /&gt;serupa kaligrafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selebihnya, hanya diam yang tahu&lt;br /&gt;mengapa cinta ini harus kugenapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JELANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;leleh mata&lt;br /&gt;yang kutampung di cawan waktu&lt;br /&gt;dan kupersembahkan di pusat altar&lt;br /&gt;telah sampaikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak belia, telinga ini&lt;br /&gt;begitu setia menanti kabar&lt;br /&gt;tapi lelucon aneh&lt;br /&gt;slalu datang membawa berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pun ketika kukitari puncak menara&lt;br /&gt;memahat nama di dinding bulan&lt;br /&gt;angin tak bergerming&lt;br /&gt;kecuali sunyi mengelupas tulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kali ini di tepi lain malam&lt;br /&gt;di kelebat gaduh pusaran&lt;br /&gt;kuteriakkan namaMu di langit lepas&lt;br /&gt;hingga sakit memohon keabadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh, tiada kan kusangkal airmata&lt;br /&gt;bila tiba rubuh sangkarku seketika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukmi Wisnu Wardani (Dani), lahir di Jakarta 29 Juli 1973. Sarjana Arsitektur Lansekap Universitas Trisakti ini lebih dikenal sebagai penyair. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media cetak seperti Republika, Kompas, dan Media Indonesia. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam beberapa buku antologi puisi, seperti Graffiti Gratitude (2000), Surat Putih (2000), Puisi Tak Pernah Pergi (2003), dan Bisikan Kata Teriakan Kota (2003). Manuskrip kumpulan sajakny, Banyak Orang Bilang Aku Sudah Gila menjadi runner-up KSI Award 2003. Kini bermukim di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=297744&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-3192207420232890002?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/3192207420232890002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=3192207420232890002' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3192207420232890002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3192207420232890002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/sajak-sajak-rukmi-wisnu-wardani.html' title='Sajak-sajak Rukmi Wisnu Wardani'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-213331195656627739</id><published>2007-06-24T04:28:00.000-07:00</published><updated>2007-06-24T04:29:34.339-07:00</updated><title type='text'>KALAU BOLEH KAU KUSEMBAH</title><content type='html'>Oleh : Martin Aleida &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak dari tadi dia berdiri di sudut pekarangan itu. Dengan sayu menebarkan pandang, mengamati taman yang mengapit jalan masuk. Matanya menyelidik tiap ranting pohon, tiap helai daun yang kering tergeletak tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya turut meranggas melihat mereka terombang-ambing dipermainkan angin. Hina, tak berdaya. Dia merasakan bagaimana getirnya mereka menghadapi kematian di tanah yang diterbengkalaikan itu. Dan dia tahu akhirnya semua yang tumbuh di taman itu akan menyongsong nasib yang sama. Layu. Mati. Dan, dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh perhatian, keterampilan, dan bakat yang dia miliki sebagai tukang kebun, yang dia tumpahkan selama tigapuluh tahun pada bidang tanah itu akan lenyap tak berbekas. Tetapi, kalaupun itu datang, dia sudah siap menerimanya. Dia sadar, penderitaan batin yang tak tertahankan nanti, tentulah ketika harus menyaksikan lanskap yang telah dia bangun. Lanskap yang kalau dilihat, sekalipun sepintas, orang bisa menangkap bahwa di tetumbuhan yang ditanam, di atas gundukan tanah yang bergelombang itu, dengan jelas terbaca adanya upaya untuk membentuk huruf berbunyi "Allah" dan "Muhammad" yang ditempatkan dengan terukur untuk menyambut orang yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tukang kebun yang bisa menyamai kemahirannya. Kemahiran yang diyakini merupakan rahmat yang jatuh ke tangannya berkat keuletan yang didasari kebersihan rohani. Kesucian jiwa. Tak pernah dia bayangkan lanskap yang dia ciptakan dengan kekuatan batinnya itu akan lenyap. Tanaman yang membentuk kata-kata puncak dalam keyakinan Islami itu akan kering, lalu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahar!" seru sekretaris dengan lembut, memanggil namanya. Dengan hati seberat batu, dia menoleh ke arah datangnya suara. "Masuklah. Dipanggil Bapak. Sudah lama dia memperhatikanmu beridiri di situ." Dia belum juga beranjak. Di tangannya tergantung sebilah arit. Tak acuh, dia menatap sekretaris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan arit tetap tergenggam, Bahar memasuki ruang tamu kantor itu. Lantas menuju ke kamar direktur. Mengetuk pintu, mengucapkan salam, dan melenggang masuk dengan kalem. Omara Otunnu, direktur berdarah Kenya itu, berdiri dan mengulurkan tangan menyambutnya. "Lama kau kuperhatikan dari jendela. Kau seperti berbisik. Aku tahu kau sedang berdoa. Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau doakan?" katanya bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan," Bahar menyahut dengan dingin sambil menatap orang yang duduk di depannya. "Tidak. Aku bukannya berdoa. Aku menyesali diri. Mengutuk organisasi kita ini. Katanya, didirikan untuk meciptakan damai, seperti cita-cita Islam. Dia dirusak Amerika dan konco-konconya. Iraq dan rakyatnya mereka tindas. Mereka lumatkan. Sekarang mereka mau melenyapkan taman yang sudah saya pelihara tigapuluh tahun. Tigapuluh tahun... Kau tahu itu Omar," dia menutup kalimatnya seraya memejamkan pelupuk mata perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau agama membenarkan, akan kusembah kau supaya menerima kenyataan ini. Kau samasekali tidak dihinakan. Pekerjaan sebagai cleaner tidaklah rendah. Iman melekat pada pekerjaanmu itu. Kusembah kau, kalau bisa. Ini hanya perubahan nama. Dan... gajimu toh tak berkurang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa? Bagaimana sebagai seorang Muslim kau bisa berkata begitu. Tukang bersih itu pekerjaan orang Yahudi ketika mereka diperbudak Fir'aun. Cleaner bukan pekerjaan Muslim. Aku tak mau membiarkan diriku dihina. Tidak. Aku tetap tak bisa menerima pekerjaan sebagai cleaner. Aku yakin kau bisa berbuat sesuatu. Kalau kau mau..." Bahar memalingkan mukanya. "Ini keputusan New York," sambut Omara cepat. Sikapnya tak berubah, bersahabat. Tutur katanya tetap lembut membujuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahar, pertimbangannya, saya kira, begini. Berapa sih kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa yang punya kebun? Ingat, para pemimpin hanya berpedoman pada London, Washington, Tokyo. Di sana kantor hanya menempati bagian kecil dari gedung raksasa. Seperti sarang merpati. Mana ada kebun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omara membuang muka. Seperti segan menatap mata Bahar, orang yang begitu bangga dilahirkan sebagai tukang kebun. "Kalau bisa kusembah, akan kusembah kau. Terima Bahar. Terimalah kenyataan ini. Di dalam Qur'an maupun Hadits, tukang kebun tak pernah dihubungkan dengan keimanan. Tetapi, kebersihan jelas-jelas dikaitkan, kalau bukan disenapaskan, dengan iman," katanya memikat. Matanya tetap menghindar dari tukang kebun yang duduk dengan penuh percaya diri di seberang mejanya yang besar dan kukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang diplomat, tak pernah Omara menghadapi persoalan segila seperti menghadapi tukang kebunnya ini. Tak pernah dalam kariernya, yang sudah lebih dari duapuluh tahun, harus menangani masalah yang begini runyam. Ini samasekali sama dengan mengerjakan sesuatu yang musykil. Edan, malah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omara merasa seperti terperangkap jalan buntu dalam menghadapi manusia lugu yang bernama tukang kebun itu. Bahar tetap menolak untuk berganti jabatan sebagai cleaner. Dia sudah memasang harga mati. Tetap sebagai tukang kebun yang sudah dikerjakannya sejak tigapuluh tahun yang lalu atau Perserikatan Bangsa-Bangsa akan dia adukan ke pengadilan karena merendahkan martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi dunia itu membuat berita besar. Dia bangkrut. Karena anggota, terumata Amerika Serikat, tidak melunasi iuran wajib. Untuk membayar gaji pegawai, yang berjumlah ribuan, dia mengutang kiri-kanan. Terpaksa dilakukan penghematan. Pos-pos tidak penting digunting. Di seluruh dunia, keputusan untuk meniadakan jabatan tukang kebun, diterima tanpa banyak cingcong. Tetapi, di sini, kebijakan itu berhadapan dengan kekerasan sikap yang tak pernah dibayangkan para pengambil keputusan. Bahar, si tukang kebun, membangkang. Dan dia siap menerima kenyataan paling buruk sebagai akibat dari sikapnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujuk rayu tak bisa melenturkan sikap si tukang kebun. Pernah seorang pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sedang pulang cuti, singgah ke kantor itu untuk meyakinkan Bahar bahwa pekerjaan cleaner itu tidaklah hina. Dia contohkan dengan dirinya sendiri menyapu, membersihkan dapur, mengepel WC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah kau sadar berapa banyak orang yang sedang menganggur yang siap mengambilalih pekerjaanmu ini? Kau lihat tadi, aku menyapu, membersihkan yang kotor, dan kukerjakan dengan tulus. Jadi, tukang bersih-bersih itu tidak hina di depan agama kita," ujar pejabat itu. Kalam Bahar membelai janggutnya. Dia melirik arit di tangannya, dan katanya tenang tapi dalam, "Na'udzubillah minzalik." Tak ada lagi penolakan yang lebih mematikan daripada kata-kata itu. Bahar tetap menolak untuk menandatangi kontrak baru dengan jabatan sebagai cleaner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sudah tigapuluh tahun di sini. Tak perlu kukatakan lagi bahwa ini adalah keputusan dari markas besar. Ini bukan kehendakku. Jika kau menolak menandatangani kontrak ini, berarti kau memilih berpisah denganku dan saudara-saudaramu," Omara menahan nafas. Bahar bangkit dan pergi. Walau dia sudah tidak diperkenankan masuk kantor, saban hari Bahar berdiri di seberang jalan. Dari situ dia memandangi pekarangan yang tambah lama semakin sengsara, tak terurus. Omara Otunnu tak kuasa menatap mata bekas bawahannya itu setiap kali dia berpapasan, saat memasuki atau meninggalkan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib Bahar menjadi buah bibir penduduk kota. Karena itulah, ketika pada suatu hari dia tak muncul di tepi jalan memandangi petak tanah yang dia rawat berpuluh tahun, kecemasan melayang-layang di seluruh kota. Orang-orang mencari ke rumahnya. Tapi, dia entah ke mana. Sampai sekretaris yang mempersilakannya masuk tempo hari, menemukan isyarat di pekarangan. Dia melihat bayangan ""Allah" yang masih tegak di gundukan tanah agak meninggi sejengkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk kota gempar. Ketika gundukan tanah itu dibongkar, orang-orang menemukan Bahar terbaring dengan senyum bertengger di pangkal dagunya. Tubuhnya masih hangat, tetapi tanda-tanda hidup sudah terbang dari situ. Di atas dadanya tersilang tangan kirinya, menggenggam arit kuat-kuat. Dia seperti bersiap-siap hendak bertolak dengan perkakasnya yang sederhana itu menuju dunia baru, di mana ungkapan dengan menggunakan arit itu akan menemukan kebebasan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang kantornya, Omara Otunnu sendiri terkulai di meja. Dia menerima wasiat dari Bahar, yang menetapkan uang pensiunnya, yang terkumpul selama tigapuluh tahun, tak boleh diserahkan kepada istrinya. Tetapi, harus disumbangkan kepada organisasi tani yang menggunakan arit sebagai lambang, katanya. Organisasi yang tak pernah ada. Dan kalau muncul pasti sudah ditumpas penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omar benar-benar tertindih. Soalnya, ini bukan mandat untuk berunding, di mana ada sikap menerima dan memberi. Ini adalah wasit dari orang yang keteguhan sikapnya telah membikin gila tuannya sendiri. Yang telah menetapkan hidup dan mati di tangannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=296958&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-213331195656627739?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/213331195656627739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=213331195656627739' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/213331195656627739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/213331195656627739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/kalau-boleh-kau-kusembah.html' title='KALAU BOLEH KAU KUSEMBAH'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4298896629031896477</id><published>2007-06-24T04:25:00.000-07:00</published><updated>2007-06-24T04:27:58.454-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Chavchay Syaifullah</title><content type='html'>SAYAP ANGIN MUSIM SEMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan, sepagi inikah&lt;br /&gt;kau terbangkan aku&lt;br /&gt;sedang suara anakku&lt;br /&gt;pun belum sempat kudengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi yang mendidih&lt;br /&gt;aku berjalan serupa elang&lt;br /&gt;ngesot di bibir karang&lt;br /&gt;awan melawan arah&lt;br /&gt;ruang jadi bimbang dan terbang&lt;br /&gt;cuaca perunggu yang gagu&lt;br /&gt;merapat dalam sayap angin musim semi&lt;br /&gt;dan matahari terkapar di pundak kiriku&lt;br /&gt;membakar dua tengkorak penuh keringat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan, sepagi inikah&lt;br /&gt;kau terbangkan aku&lt;br /&gt;sedang suara anakku&lt;br /&gt;pun belum sempat kudengar&lt;br /&gt;jantungku masih lebam jua&lt;br /&gt;seperti beribu tahun lalu&lt;br /&gt;ketika ratusan nabi&lt;br /&gt;kau terbangkan kembali&lt;br /&gt;ke alam azali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;los angeles, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NGUYEN, AMERIKAMU ITU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat malam, nguyen!&lt;br /&gt;seperti amerika, wajahmu sambal tomat&lt;br /&gt;di singapura dan di filipina tadi&lt;br /&gt;aku dipaksa mencopot sepatu&lt;br /&gt;kini di pintu negerimu&lt;br /&gt;sepatu memaksa ginjalku&lt;br /&gt;copot berantakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di pelataran bandara los angeles&lt;br /&gt;aku mendorong-dorong koperku&lt;br /&gt;teks peringatan imigrasi kukantongi&lt;br /&gt;aku menggigil&lt;br /&gt;malam musim semi&lt;br /&gt;merusak ikatan sepatuku&lt;br /&gt;aku menggigil&lt;br /&gt;ketakutan dan kecemasan&lt;br /&gt;membalut ginjalku&lt;br /&gt;aku menggigil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada siapakah amerika&lt;br /&gt;harus kita bicarakan, nguyen&lt;br /&gt;sebab ketakutan dan kecemasan&lt;br /&gt;adalah dua guru yang menggilas meski senyum&lt;br /&gt;dan kecerdikan telah bersatu dalam terormu&lt;br /&gt;mengguling dan mengguling di garis kuning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi di sebuah burger king&lt;br /&gt;di muka hotel renaissance&lt;br /&gt;dingin membelah daging&lt;br /&gt;ada roti serupa oncom yang kutelan&lt;br /&gt;seorang guru dari iran tiba-tiba berdiri&lt;br /&gt;menangisi manusia-manusia gugur&lt;br /&gt;dan perempuan rekan bisnisnya pergi&lt;br /&gt;lalu ia gelar diskusi&lt;br /&gt;tentang sepasang gedung yang gugur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;petaka teror, nguyen&lt;br /&gt;bukanlah warisan utama peradaban&lt;br /&gt;rancangan kecemasan bukan juga jalan kewajaran&lt;br /&gt;maka kubakar paksa seragammu di kepalaku&lt;br /&gt;kemewahan yang meledak di seantero negerimu&lt;br /&gt;biarlah jadi ondel-ondel dalam tustelku&lt;br /&gt;sebab teror ambisi raja-rajamu bukanlah roti&lt;br /&gt;yang dilumat orang-orang kecil&lt;br /&gt;pada setiap pagi di segala musim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;los angeles, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chavchay Syaifullah lahir di Jakarta, 1 Oktober 1977. Dikenal sebagai cerpenis, novelis dan penyair. Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain Multatuli Tak Pernah Mati (kumpulan puisi, 2000), Payudara (novel filsafat, 2004), Sendalu (novel pemerkosaan, 2006), Perlawanan Binatang Jalang (kajian sastra, 2006), Aotar (novel sejarah, 2006). Selain bekerja sebagai wartawan, ia juga aktif di Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Rangkasbitung, Banten, dan Indonesian Studies and Advocacy Center (ISAC), Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=296956&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4298896629031896477?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4298896629031896477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4298896629031896477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4298896629031896477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4298896629031896477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/sajak-sajak-chavchay-syaifullah.html' title='Sajak-sajak Chavchay Syaifullah'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-5278450862851404391</id><published>2007-06-16T16:47:00.000-07:00</published><updated>2007-06-16T16:48:25.951-07:00</updated><title type='text'>TAK BISA PULANG</title><content type='html'>Oleh : EH Kartanegara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam mulai larut dan kampung pun sudah sangat sepi. Angin malam menghembuskan hawa dingin mengandung embun, tapi punggung lelaki itu tarasa basah dan lengket oleh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam lebih dia berkeliling di desa itu, jalan kaki memasuki kampung demi kampung, mencari rumah emaknya, ya emaknya sendiri, perempuan yang melahirkan dan membesarkan dia bersama tiga saudara kandungnya di desa itu, Desa Girimulyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar di sini kampung Girimukti, Desa Girimulyo, tapi setahu saya tak ada yang bernama Mak Turah," jawab seorang lelaki terakhir yang dia tanya beberapa menit berselang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mak Turah, istri Pak Putut. Putut Kintir yang sudah lama meninggal," kata dia dengan perasaan putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya asli orang sini, tapi rasanya tak ada yang bernama Mak Turah, juga Pak...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Putut Kintir."&lt;br /&gt;"Ya...," ujar lelaki itu seraya merapatkan kain sarung yang dipakainya sebagai kerudung untuk menahan hawa dingin. "Maaf, Nak ini sebenarnya siapa, dari mana dan mau ke mana?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah capai dia, sejak pertama tiba selepas Maghrib, entah sudah berapa kali dia memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangannya ke desa itu. Setiap orang di desa sepertinya berhak mengetahui urusan pribadi orang lain: "Sampeyan ini siapa, dari mana dan mau ke mana?" Lagu kuno yang masih saja diputar berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya dia tadi lekas menemukan alamat yang tepat, ceritanya tentu tak seruwet sekarang. Ketika memasuki gerbang desa yang ditandai pohon beringin yang konon berumur ratusan tahun, dia yakin benar memasuki kampung halamannya sendiri. Dengan yakin pula dia bilang pada tukang ojek yang menghampirinya: "Kemuning." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berputar-putar di desa itu dan, aneh, beberapa orang yang ditanya tak seorang pun tahu nama Mak Turah, akhirnya dia datang ke rumah Pak RT. "Sudah tujuh tahun lebih saya menjadi RT di sini, dan saya sendiri juga asli orang sini, tapi setahu saya ada tiga nama Turah," kata Pak RT sambil membuka buku daftar nama warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Turah istri Pak Gondo, bekas lurah, Turah bakul singkong yang sudah meninggal empat tahun lalu, terus satu lagi Turah Ngaturah, sudah dua tahun di Arab Saudi jadi TKW."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah, Pak RT di desa adalah orang yang paling hapal di luar kepala semua nama, alamat, pekerjaan, anggota keluarga, bahkan riwayat hidup para warganya. Jangankan warga yang masih hidup, entah tinggal menetap atau merantau, nama warga yang telah mati pun dia hapal. Sungguh mustahil rasanya kalau dia sampai tak kenal Mak Turah, istri Putut Kintir, yang punya anak lelaki sulung bernama Sulani, yang sudah sepuluh tahun lebih merantau ke kota dan sekarang pulang ke kampungnya karena menerima kabar emaknya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sulani?" bisik Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Jika benar-benar mengenal Sulani, mustahil rasanya dia harus mengaduk-aduk ingatannya begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengucap terima kasih, dia mengambil tas punggunya, lalu jalan kaki meninggalkan rumah Pak RT tanpa tahu entah mau menuju ke mana lagi. Tawaran Pak RT untuk mengantarnya, dia jawab, "Tak usah Pak RT, terima kasih." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyusuri jalan desa yang di kanan dan kirinya ditumbuhi tananam perdu yang meranggas. Suasana di sekitarnya kadang gelap, dan kadang berubah temaram oleh pantulan cahaya sepotong bulan yang sembunyi di balik awan. Jalan itu kadang terasa mendaki, berbatu-batu, kadang menurun dan berbelok. Dia rasakan ayukan kakinya makin lama makin pelan seakan sedang menghitung langkahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampeyan ini siapa, dari mana dan mau ke mana?" pertanyaan banyak orang tentang dirinya masih terngiang-ngiang di telinganya. Dia heran, mengapa orang-orang itu bertanya begitu. Pertanyaan seperti itu, dia pikir, hanya pantas ditujukan buat orang asing; orang yang bukan berasal dari desa itu. "Lha, aku ini 'kan orang desa ini, masak dianggap orang asing," kata dia dalam hati. Tiba-tiba dia merasa pantas untuk tersinggung diperlakukan sebagai orang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu benar bahwa desa itu telah jauh berubah. Dulu pun ketika memutuskan untuk meninggalkan desa tempat dia dilahirkan, karena dia tahu betul bahwa desa itu telah berubah. Sungai sudah mengering dan tak ada lagi sepetak tanah yang bisa ditanami padi, jagung, atau singkong. Bahkan untuk memberi makan dua atau tiga ekor kambing saja, orang perlu berjalan jauh ke desa tetangga di balik bukit sekadar mendapatkan sekeranjang rumput atau dedaunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena keajaiban saja, orang bisa bertahan hidup di desa itu. Bukan mengada-ada bahwa orang harus makan batu dan tanah galian yang keras untuk hidup. Di sela-sela perut perbukitan yang telah gersang dan mengering masih menyimpan bebatuan. Orang-orang menggangsirnya untuk mencari batu-batu lalu dijual kepada para tengkulak bahan bangunan. Sisa-sisa tanah galian kering dan keras juga dijual untuk bahan campuran membuat batu bata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sul, jadi ikut aku ke kota?" tanya Marjani, tetangga dan teman sepermainan di masa kecil dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hemm... bagaimana ya... Aku tunggu izin emak," kata Sulani ragu. "Kalau mau ikut, aku berangkat lusa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama Sulani memendam keinginan merantau ke kota seperti banyak lelaki lain di desa itu. Tak penting lagi kerja apa di kota. "Yang penting berangkat saja dulu, nanti di sana banyak pekerjaan," kata beberapa teman yang sudah lebih dulu merantau ke kota. Nyatanya, mereka sudah pada kerja dan membawa pulang penghasilan ke desa. Bahkan beberapa di antara mereka yang bisa membangun rumah, membeli sebidang tanah, atau sepeda motor. Banyak pula yang tak mau lagi pulang ke desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari desa geger karena Mak Turah berulang kali pingsan. Sulani, anak sulungnya yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga, sudah beberapa hari dikabarkan hilang. Benar-benar hilang atau menghilang entah ke mana, tak ada yang tahu. "Tak ada lagi lelaki di rumah ini. Bapaknya mati, dan sekarang anaknya tak jelas berada di mana," gumam Mak Turah di antara tangisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian barulah tersiar kabar bahwa Sulani menjadi pemulung di kota. "Saya 'kan berteman dengan dia sejak kecil. Masak saya lupa padanya," kata Bero, tetangga Mak Turah, yang menjadi kuli bangunan di kota. "Saya yakin, dia benar Sulani. Saya ketemu dia sedang mengumpulkan sisa-sisa kayu untuk selanjutnya diangkut dengan gerobak. Katanya, dia baru mau pulang kalau sudah kaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia belum kaya ketika mendengar kabar emaknya meninggal. Berbekal uang seadanya, dia putuskan pulang ke desa untuk melayat. Namun sekarang dia merasakan keganjilan yang tak sepenuhnya dipahami. "Tak seorang pun di sini mengenalku, dan rasanya desa ini juga bukan desaku yang dulu," bisiknya dalam hati disertai keyakinan bahwa dirinya tak akan berubah menjadi batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denpasar, April 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-5278450862851404391?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/5278450862851404391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=5278450862851404391' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5278450862851404391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5278450862851404391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/tak-bisa-pulang.html' title='TAK BISA PULANG'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-5619372946334821235</id><published>2007-06-16T16:46:00.000-07:00</published><updated>2007-06-16T16:47:00.563-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Micky Hidayat</title><content type='html'>TAK BISA KUCATAT DALAM SAJAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu banyak peristiwa&lt;br /&gt;melintas di mataku&lt;br /&gt;mendengung di telingaku&lt;br /&gt;mengendap di benakku&lt;br /&gt;dan menyayat-nyayat batinku&lt;br /&gt;tak bisa tercatat dalam sajakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu banyak kata-kata&lt;br /&gt;menari-nari di mataku&lt;br /&gt;meloncat-loncat di telingaku&lt;br /&gt;meliuk-liuk di benakku&lt;br /&gt;dan menggelinding di batinku&lt;br /&gt;tak bisa tercatat dalam sajakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu banyak peristiwa&lt;br /&gt;dan kata-kata&lt;br /&gt;lunglai tak berdaya&lt;br /&gt;ketika kucoba&lt;br /&gt;membangunkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELAH KUHAPUS KATA-KATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kuhapus kata-kata yang pernah&lt;br /&gt;kutuliskan. Sebab tak ada lagi yang bisa&lt;br /&gt;kutawarkan. Selain kesunyian dan kecemasan&lt;br /&gt;Atau kekosongan dan kekecewaan&lt;br /&gt;Hingga langit yang kutasbihkan&lt;br /&gt;Pecah berkeping dan jatuh di lautan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kuhapus kata-kata yang pernah kuucapkan&lt;br /&gt;Sebab laut jiwaku tak kuasa menerjemahkan&lt;br /&gt;Rahasia angin, badai, dan gelombang&lt;br /&gt;Sebab perahu jiwaku yang retak makin gamang&lt;br /&gt;Putar haluan atau meneruskan saja pelayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kuhapus kata-kata&lt;br /&gt;Dan biarlah segalanya kulupakan&lt;br /&gt;Sebelum matahari, bulan, dan bintang-bintang&lt;br /&gt;Tak lagi memancarkan sinarnya&lt;br /&gt;Pada diriku yang tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALAN SUNYI PENDAKIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan sunyi membaca jejakku Membaca pengembaraanku tanpa tuju tanpa waktu. Dan tanpa matahari Menyeret tubuhku ke pendakian abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu abad aku mendaki - mendaki dunia&lt;br /&gt;Tak henti-henti kudaki, tak siang tak malam&lt;br /&gt;Dalam keasingan dan sunyi&lt;br /&gt;Dalam keheningan sempurna&lt;br /&gt;Tahajud dan doa&lt;br /&gt;Sendiri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan sunyi dan mendaki&lt;br /&gt;Aku berjalan dan terus berjalan&lt;br /&gt;Menelusuri peta-peta nama usia&lt;br /&gt;Melafalkan bait-bait ayat-Mu&lt;br /&gt;Menafsiri misteri maknanya&lt;br /&gt;Di kerahasiaan maha rahasia-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah menuju ke mana dan akan&lt;br /&gt;sampai di mana. Perjalanan melelahkan&lt;br /&gt;tanpa istirah. Aku ingin pulang&lt;br /&gt;Menemu rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUKA SAJAK&lt;br /&gt;bagi Jamal D Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luka sedalam sajakmu&lt;br /&gt;jangan kau tampung nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luka seperih sajakmu&lt;br /&gt;jangan kau simpan duri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luka sediam sajakmu&lt;br /&gt;jangan kau timbun sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Micky Hidayat lahir di Banjarmasin, 4 Mei 1959. Tulisannya berupa sajak dan esai dipublikasikan di berbagai media cetak lokal dan nasional, seperti Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Berita Buana, Pelita, Suara Karya, dan Majalah Sastra Horison. Sajak-sajaknya terkumpul dalam buku Aku Ingin Jadi Penyair Yang (1981), Percakapan Dalam Diam (1982), Jalan Sunyi (1985), dan Meditasi Rindu (2007), serta beberapa antologi bersama. Selain menulis, kini ia aktif sebagai Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Kalimantan Selatan. E-mail: mickyhidayat@yahoo.co.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=296111&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-5619372946334821235?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/5619372946334821235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=5619372946334821235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5619372946334821235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/5619372946334821235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/sajak-sajak-micky-hidayat.html' title='Sajak-sajak Micky Hidayat'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4351675334556457073</id><published>2007-06-09T17:02:00.000-07:00</published><updated>2007-06-09T17:04:21.982-07:00</updated><title type='text'>MIDNIGHT IN CAIRO</title><content type='html'>Oleh : Irwan Kelana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi SMS itu membuat Sausan terjaga dari tidurnya. Ia melirik jam dinding. Pukul tiga dini hari. Siapa yang malam-malam begini mengirim SMS? batinnya. Namun ketika membuka pesan singkat itu, jantungnya mendadak berdegup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu datang dari seseorang di Indonesia. Seorang laki-laki yang selalu ingin ia lupakan, namun ia tak pernah kuasa menghapus nomor yang bersangkutan dari HP-nya: Tolong jemput orang tuaku di Bandara Cairo. Penerbangan SQ pagi ini. Syukran. SMS itu kontan membuat rasa kantuk Sausan hilang. Sejenak ia ragu. Apakah ini hanya pesan main-main? Betapa pun ia tak bisa menyembunyikan kebungahan hatinya, walaupun api cemburu kerap menyesakkan rongga dadanya. Kenapa ia mengirim SMS-nya kepadaku, bukan kepada Yasmine?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lalu Topan diundang ke Mesir. Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) itu melejit namanya sebagai seorang penulis muda yang sangat berbakat. Banyak yang menyebutnya sebagai Aidh Al-Qarny-nya Indonesia. Di usianya yang belum genap 30 tahun, ia telah menelurkan lebih 10 buku keislaman yang mendapatkan tanggapan sangat luas di Indonesia. Salah satunya adalah karya fenomenal Bahagia Selamanya yang disebut-sebut tak kalah hebat dari buku La Tahzan, karya masterpiece Aidh Al-Qarny, penulis asal Arab Saudi yang telah menghasilkan lebih 800 naskah buku dan manuskrip, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Fenomena Topan mendorong Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Mesir dan ICMI Orsat Cairo untuk mengundang lelaki bermata teduh itu jadi pembicara di Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengurus PPMI, Sausan dan Yasmine bertugas mengurus konsumsi Topan selama dia menginap di Wisma Nusantara Cairo. Yasmine, gadis cantik blasteran Arab-Aceh cukup agresif menarik perhatian Topan. Ia kerap bertanya tentang berbagai hal, terutama mengenai kiat-kiat menulis dan kondisi di Tanah Air. Lelaki itu pun meresponsnya dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam hal itu tak pernah luput dari perhatian Sausan. Namun gadis Bandung itu berusaha untuk bersikap sewajar mungkin. Beberapa kali Topan mengajaknya bercanda, atau menyindirnya, namun Sausan menanggapinya dengan dingin. Beruntung ia mengenakan cadar, sehingga Topan tidak bisa melihat perubahan air mukanya. Ketika Topan kembali ke Tanah Air, panitia mengantarnya sampai Bandara Cairo. Hanya Sausan yang tak ikut mengantar. Ia mengaku tak enak badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tuanya memberi nama Sausan, dalam bahasa Arab artinya Teratai. Gadis berusia 22 tahun itu lahir di Makkah, ketika ayahnya bertugas di Arab Saudi sebagai diplomat. Sejak kecil Sausan dididik oleh orang tuanya untuk menutupi seluruh tubuhnya dengan busana muslimah. Walaupun seluruh tubuhnya berbalut jilbab, hal itu tidak mampu menyembunyikan posturnya yang semampai. Mata indahnya menyorot bening. Hidungnya yang bangir tertutup cadar. Namun siapa pun tak mudah melupakan suaranya yang lembut melelapkan, bagaikan bunga teratai yang berbaring tenang di hamparan air kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sausan segera berwudhu. Lalu mengerjakan shalat Tahajjud empat rakaat. Ia berdoa agak lama. Hatinya berdebar-debar. Menjemput orang tua Topan seakan-akan menjemput Topan itu sendiri. ''Nama orang tua Mas, siapa?'' Namun lelaki itu tak menjawab SMS-nya. Sausan menggerutu dalam hati. Akhirnya ia mengambil selembar kertas dan spidol. ''AYAH-BUNDA TOPAN''. Sausan mengenakan gamis favoritnya, warna hijau tua, yang dipadukan dengan kerudung lebar warna hijau muda, serta cadar warna putih susu. Tak lupa ia membawa tas warna coklat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meninggalkan asramanya, di Wahran Street, tempat banyak mahasiswa Indonesia tinggal selama menuntut ilmu di Cairo. Lalu menyetop taksi ke Cairo International Airport yang berjarak sekitar 25 kilometer. Jarak itu bisa ditempuh dalam waktu sekitar 35 menit, sebab taksi di Cairo umumnya menggunakan sedan Peugeot tua buatan tahun 60-an akhir atau 70-an awal. Ia tiba di bandara saat terdengar adzan Shubuh. Tak lama kemudian pesawat SQ dari Jakarta via Singapura itu mendarat. Setelah menunggu sekitar setengah jam, barulah penumpang meninggalkan loket pemeriksaan imigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sausan mengangkat kertas bertuliskan AYAH-BUNDA TOPAN. Tak berapa lama kemudian sepasang orang tua berumur sekitar 55-an tahun menghampirinya. ''Assalaamu'alaikum, Nak. Betul kamu yang bernama Sausan?'' tanya lelaki itu. Sausan mengangguk. ''Wa'alaikumsalaam. Saya Sausan.'' ''Saya Taufiq, ayahnya Topan. Ini ibunya, Siti Masyithah.''&lt;br /&gt;''Selamat datang di Cairo, Pak, Bu,'' Sausan mencium tangan keduanya. Ia membantu membawakan koper kecil milik Ibu Masyithah. ''Terima kasih, Nak,'' kata Ibu Masyithah sumringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sausan mengajak mereka shalat Shubuh di mushalla bandara. Kemudian menyetop taksi. ''Kita langsung ke hotel. Kami sudah pesan kamar di Four Seasons. Katanya pemandangannya indah, di tepian sungai Nil. Kamu ikut ya, Nak,'' kata Bapak Taufiq. Sampai di hotel, Sausan terkejut. Karena ternyata orang tua Topan telah memesankan kamar untuknya. ''Supaya Nak Sausan tidak capek harus mondar-mandir ke pemondokan,'' begitu alasan Ibu Masyithah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Agustus, kampus masih libur. Cuaca akhir musim panas masih cukup terasa menyengat. Namun di dalam hotel berbintang lima itu seakan-akan udara panas tak kuasa menerpa. Orang tua Topan minta diajak berkeliling Cairo. Sausan dengan senang hati mengantarnya. Ia sudah empat tahun bermukim di Negeri Seribu Menara itu, dan cukup hapal seluk-beluk kota Cairo. Termasuk seni tawar-menawar saat berbelanja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu empat hari, mereka telah menyambangi berbagai tempat menarik dan selalu dikunjungi oleh para turis mancanegara, seperti pusat kristal Ashfour, pasar rakyat Atabah, Malikul Coktil, Benteng Citadel, Pasar Husein, Universitas Al-Azhar, Masjid Amru bin Ash, Pyramid, Giza, Museum Fir'aun, Iskandariah dan Laut Merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam musim panas di Cairo tak ubahnya siang hari. Cafe buka hingga lewat tengah malam, bahkan sampai menjelang pagi kira-kira pukul tiga. Malam itu mereka berkunjung ke Cafe Al-Fisyawy, terletak di Khan Khalili. Tempat favorit para budayawan dan seniman Mesir, termasuk sastrawan Mesir paling terkenal, Naquib Mahfouz. Di musim panas seperti ini, cafe tersebut sangat ramai. Apalagi lewat tengah malam, suasananya sangat romantis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memesan tempat di pojok. Menu yang dipilih adalah nasi kusyari dan merpati panggang (masywi). Minumnya syurbah adas dan carcade. Banyak pedagang asongan datang. Mereka menawarkan dompet, tas, manik-manik, tasbih dan lain-lain. Sudah lewat tengah malam. Tiba-tiba Sausan dikejutkan oleh kedatangan Topan.&lt;br /&gt;''Mas Topan, kapan datang ke Cairo?'' tanya Sausan.&lt;br /&gt;''Tadi pagi. Sengaja aku tidak memberitahu Sausan.''&lt;br /&gt;''Mau menjemput Bapak dan Ibu ya?''&lt;br /&gt;''Bapak dan Ibu biar pulang sendiri saja.''&lt;br /&gt;''Terus, Mas, ada acara apa?''&lt;br /&gt;''Aku akan melanjutkan S-2 di Universitas Al-Azhar. Beasiswa dari Pemerintah. Adapun kedatangan orangtuaku ke mari membawa misi khusus.''&lt;br /&gt;''Misi khusus, maksud Mas?'' Sausan memandang Topan dan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;''Kami ingin melamar Nak Sausan untuk Topan,'' kata Bapak Taufiq.&lt;br /&gt;Sausan tercekat. Jantungnya seperti mau copot.&lt;br /&gt;''Bagaimana, Nak?'' tanya Ibu Masyithah penuh harap.&lt;br /&gt;''Kenapa memilih Sausan?'' tanya Sausan kepada Topan.&lt;br /&gt;''Memangnya kenapa? Enggak boleh? Atau kamu sudah ada yang melamar?''&lt;br /&gt;''Bukankah ada si lesung pipi nan cantik?''&lt;br /&gt;''Yasmine, maksudmu?''&lt;br /&gt;Sausan mengangguk.&lt;br /&gt;''Bagiku cinta itu sederhana saja: wanita yang aku cintai adalah ia yang membuatku sangat kangen untuk selalu bertemu. Ternyata yang muncul selalu bayang wajahmu. Itu sebabnya aku mengutus ayah dan ibu ke Cairo untuk bertemu langsung denganmu. Ternyata mereka bilang, kamu sangat pantas untuk jadi istriku. Tak Cuma cantik tapi juga salehah,'' kata Topan sambil memperlihatkan SMS dari ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sausan melirik kedua orang tua Topan. Mereka tersenyum.&lt;br /&gt;''Jangan menolak untuk jadi menantu kami ya, Nak,'' kata Ibu Masyithah. Tanpa sadar, Sausan mengangguk.&lt;br /&gt;''Nak Sausan, bolehkah Topan melihat wajahmu, biar hatinya tambah mantap?'' tutur Ibu Masyithah berbisik di telinga Sausan.&lt;br /&gt;Perlahan, Sausan membuka cadarnya. Maka tersibaklah wajahnya yang putih bercahaya. Topan terkesima.&lt;br /&gt;''Kalau sudah menikah nanti, maukah engkau tetap memakai cadar itu?'' tanya Topan.&lt;br /&gt;''Mengapa?''&lt;br /&gt;''Aku sangat suka. Cadar itu membuat bola matamu bertambah indah. Kamu sangat cantik hanya dengan melihat matamu saja. Biarlah hanya aku saja yang mengetahui bahwa kamu betul-betul cantik luar dan dalam.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairo, midnight, Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4351675334556457073?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4351675334556457073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4351675334556457073' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4351675334556457073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4351675334556457073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/midnight-in-cairo.html' title='MIDNIGHT IN CAIRO'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-6798691441412073169</id><published>2007-06-09T16:58:00.000-07:00</published><updated>2007-06-09T17:02:20.178-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS</title><content type='html'>INGATAN PADA KOTA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nuh yang pergi mengendarai perahu&lt;br /&gt;tak lupa menitip alamat baru&lt;br /&gt;sampai suatu ketika aku datang&lt;br /&gt;dan mencarinya dalam lipatan alamat&lt;br /&gt;hampir koyak karena tercuci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"masih ingatkah dengan kota ini,&lt;br /&gt;tempat ingatanmu dulu berlabuh?" &lt;br /&gt;tanyamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak pernah lupa pada rumah,&lt;br /&gt;kenangan yang menyimpan cekam.&lt;br /&gt;aku perdi dan pulang karena silam,&lt;br /&gt;juga jalan yang dulu kusulam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu bersama kehendak nuh&lt;br /&gt;aku datangi kota yang alamatnya&lt;br /&gt;terlipat di dalam celanaku,&lt;br /&gt;hampir koyak&lt;br /&gt;dan engkau mengingatkanku&lt;br /&gt;pada masa silam&lt;br /&gt;penuh cekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukitkemuning, 22 april 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANYA ENGKAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya engkau yang tahu tentang malam&lt;br /&gt;karena itu aku masuki ceruk rahasiamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena engkau tahu rahasia malam&lt;br /&gt;maka aku hendak jaga di tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cuma di tubuhmu yang bergetar&lt;br /&gt;aku harus lepaskan ketakutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab di dalam debar&lt;br /&gt;aku tahu engkau bianglala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BETAPA TUA AKU DI SINI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku akan berbenah&lt;br /&gt;dalam cuaca basah&lt;br /&gt;karena aku tak mau&lt;br /&gt;kau temukan diriku&lt;br /&gt;kaku. atau mengambang&lt;br /&gt;di halaman-halaman buku&lt;br /&gt;(juga kalender yang rapuh)&lt;br /&gt;yang cuma sesaat&lt;br /&gt;kaubaca, setelah itu&lt;br /&gt;bertahun-tahun&lt;br /&gt;terbujur di antara&lt;br /&gt;buku-buku lain&lt;br /&gt;tentang cara memasak&lt;br /&gt;atau menanam bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aih, jadi betapa tua&lt;br /&gt;aku di sini. menghitung&lt;br /&gt;helai-helai uban&lt;br /&gt;seringkih langkahku&lt;br /&gt;dijepit buku-buku lain&lt;br /&gt;tentang cara menjaga&lt;br /&gt;kebun kopi. atau soal&lt;br /&gt;hutan lada &lt;br /&gt;sampai berbunga&lt;br /&gt;(dan kalender &lt;br /&gt;Harus berganti warna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti puisimu&lt;br /&gt;begitu pekat &lt;br /&gt;dalam tatapku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isbedy Stiawan ZS, lahir di Tanjungkarang (Lampung) pada 5 Juni 1958. Menulis puisi, cerpen, dan esai yang dimuat di berbagai media massa, antara lain Koran Tempo, Kompas, Media Indonesia, Suara Karya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Republika, Nova, Jawa Pos, dan Majalah Horison. Tiga buku puisi terbarunya yang terbit adakah Salamku pada Malam (April 2006), Perahu di Atas Sajadah (Oktober 2006), dan Laut Akhir (Januari (2007). Kini bergiat di AJI Lampung dan Dewan Kesenian Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=295239&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-6798691441412073169?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/6798691441412073169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=6798691441412073169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6798691441412073169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6798691441412073169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/sajak-sajak-isbedy-stiawan-zs.html' title='Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4958757512761003009</id><published>2007-06-02T06:43:00.000-07:00</published><updated>2007-06-02T06:44:44.315-07:00</updated><title type='text'>PEREMPUAN DAN PUISI TUHAN</title><content type='html'>Oleh : Restoe Prawironegoro &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segalanya jadi gelap. Seluruh dinding kamarku terasa menjadi hitam legam. Tiba-tiba saja semuanya menjadi kenyataan yang merampas kebanggaan kecil dan pengabdianku. Berhari lalu hatiku masih membunga, jiwaku masih bersorak tentang suatu kemenangan. Tetapi kini semuanya menjadi kedap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak!&lt;br /&gt;Mungkin saja berita itu tidak benar. Kurasa semuanya seperti karangan, terpapar di depan mata. Semuanya masih membayang, seperti barusan terjadi. Seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki-kakiku yang kecil serasa masih basah di pematang sawah. Hidupku masih mencium aroma padi. Langit menampakkan keluasan yang mengandung puisi Tuhan. Rasanya segala keremajaanku yang mekar di tengah kedamaian desa membuat aku jadi peka pada kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, desaku yang sunyi damai dan mengandung kenang-kenangan hidup bagiku memang telah kutinggalkan. Kehidupan keluarga kami tidak memungkinkan aku mendapatkan kemajuan masa depan. Sebagai anak nelayan, ayahku tidak mungkin menyekolahkan kami -- aku dan adikku lelaki, Lutfirahman -- ke tingkat yang lebih tinggi. Syukur aku dapat lulus es-de.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setelah kematian ayahku, ibu yang mendukung hidup kami: kulihat dan kurasakan pundaknya tidak kuat. Sebagai buruh lepas yang mengerjakan apa saja, ia tak mungkin memberikan biaya hidup yang wajar. Hatiku teriris pedih. Beginilah kami: anak desa yang jauh terpencil, hidup dalam kekurangan dan penderitaan. Kepada siapa kami mengadu dan meminta bantuan? Masyarakat dusun sama seperti kami, hidup dalam segala kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keremajaanku yang mekar di tengah segala galau kemiskinan seolah terbangun dari mimpi, karena hadirnya seorang lelaki. Ya, ia cintaku yang pertama. Hatiku berbunga dan bunga itu mekar dengan cepat. Secepat aku dibawa ke kota, untuk mendapatkan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan!&lt;br /&gt;Satu kata yang seakan bertuah dalam pendengaran telingaku. Kubayangkan, jika aku telah mendapatkan pekerjaan, aku akan bisa membantu ibu dan menyekolahkan adikku. Biarlah aku yang terbelenggu dalam segala kekurangan dan kebodohan, tetapi adikku lelaki, Lutfirahman, harus sekolah. Harus pintar dan kemudian bisa mengangkat hidup kami dari lebuh kemiskinan yang amat sangat dalamnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jahanam!&lt;br /&gt;Segala milikku yang paling berharga dirampas, digerayangi tanpa hati. Itu saat kami tiba di kota, saat kepasrahanku bulat penuh pada kecintaanku. Rupanya dia lelaki bejat, penggaet dan penjual orang bodoh seperti diriku. Begitulah aku akhirnya tercampak di tempat ini, di rumah pelesir: di kamar berlampu redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukutuki nasib, hendak kurobek dada. Hendak kucabut napas dan jiwa yang menghuni badan ini. Tetapi, tidak! Saat aku dilemparkan ke timbunan sampai saat ini, tiba-tiba kusadari bahwa aku harus hidup! Ya, aku harus hidup. Aku harus bangkit dari malapetaka ini. Harus kukibarkan bendera di tangan dunia, bahwa aku, gadis desa yang berkubang di lumpur hitam, dapat bangkit dan meneriakkan kemenangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula, hari-hari kulalui tanpa hati. Kulakukan apa yang harus dilakukan tanpa jiwa. Yang kuharapkan, aku suatu ketika bisa keluar dari tempat ini, membawa kemenangan di tangan. Membawa gumpalan kehidupan. Aku berusaha menyimpan uang sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lama-lama aku terjerat dengan segala sistem, dengan segala liku perjalanan hidup bunga raya. Pemerasan demi pemerasan, intrik dan hasutan, membuat apa yang kudapat harus amblas! Begitulah jadinya, aku seakan kembali seperti bayi, seperti baru lahir. Setiap saat harus memulai dari titik nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kulakukan sebisa yang dapat kulakukan. Sampai aku bertemu dengan seorang lelaki. Ah, mulanya aku memang tidak mungkin menaruh harapan dari tempat semacam ini. Tetapi, pada yang satu ini, anehnya aku bisa luluh dan menyerah penuh pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Neng...," katanya di dekat telingaku. "Bila usahaku berhasil, aku akan segera membawamu dari tempat ini. Kita akan menikah secara resmi." "Aku senang mendengarnya, Mas Hen. Tetapi bebanku sungguh berat. Adikku harus sekolah. Ibuku harus pula kubiayai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita biayai bersama. Aku ingin kau ikut ke desaku. Juga adikmu, sekali waktu ia akan sowan ke tempat kita. Ibu juga kalau ia mau, bisa tinggal bersama kita. Kita bangun rumah kecil yang mungil sebagai istana." "Gagasanmu muluk. Kurasa tidak ada kesempatan tanganku untuk menggapainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau jangan pesimis, Dik Ning. Asal ada kemauan pasti ada jalan." "Tetapi mengapa Mas Hen justru memilih aku. Aku kan manusia rusak, kotor. Mas Hen bebas memilih gadis suci, tidak ternoda seperti aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memilihmu, karena aku tahu kau sangat jujur dan setia. Kau terjerumus ke sini bukan karena kehendakmu sendiri. Kau diseret keadaan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu. Tetapi aku tak mau ada sesal di hari nanti. Biasanya para lelaki akan segera mencaci, jika dari jenis kami ini naik ke tingkat wanita normal. Kami selalu dianggap punya salah yang lebih berat. Dianggap berlumur dosa. Sedang...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stop!" Tangan Mas Hen menutup mulutku. Aku terpana memandang wajahnya. Suaranya mengalun dalam telingaku. "Sedikit demi sedikit aku telah menyiapkan masa depan kita. Aku sudah punya sedikit tabungan di bank. Jika jumlahnya kukirakan cukup sebagai modal, kita menikah, dan segera kita pulang ke desa. Aku ingin jadi petani. Walau tak selesai, aku pernah kuliah di fakultas pertanian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin dagang," kataku.&lt;br /&gt;"Ya, kau boleh berdagang. Kita dirikan koperasi. Kita berusaha bersama membangun desa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu muluknya impian itu kurasa. Dan, seperti kelam yang menelan Mas Hen malam itu, rasanya kelam itu pula yang menyungkup aku kini. Betapa tidak, koran yang kubaca jelas menunjukkan kenyataan itu. "Henri -- seorang residivis -- diketahui dari identitas: dan di tempat lain, terbungkus karung, Henri, mahasiswa, gali.... telah menjadi korban penembakan misterius...."&lt;br /&gt;Mataku benar-benar nanar. Lalu gelap. Tiga tahun kutinggalkan, semuanya sudah berubah. Adikku gali. Mas Henri kecintaanku, residivis! Lalu ibu?&lt;br /&gt;Dalam samar, mataku seakan menangkap sosok ayah yang remuk di hantam bus antarkota. Lalu kulihat diriku, kini remuk redam. Aku benar-benar hancur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4958757512761003009?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4958757512761003009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4958757512761003009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4958757512761003009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4958757512761003009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/perempuan-dan-puisi-tuhan.html' title='PEREMPUAN DAN PUISI TUHAN'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-2777056334103789152</id><published>2007-06-02T06:40:00.000-07:00</published><updated>2007-06-02T06:43:21.733-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Afrion Medan</title><content type='html'>TAKZIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah keberapa hitungan. Bulan dan&lt;br /&gt;matahari. Langit dan bumi. Menyapa jejak&lt;br /&gt;di tikungan. Seperti bayang datang dan pergi&lt;br /&gt;Seperti debu membasuh bau tubuh. Jasad&lt;br /&gt;yang tiba-tiba diam. Kotor dan bau&lt;br /&gt;dijilati rayap digerayangi belatung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimanakah datangnya rayap dan belatung&lt;br /&gt;Anak-anak sorga datang membenci dusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aku datang sendiri. Membuka jendela&lt;br /&gt;membersihkan sukma. Melukis wajahmu &lt;br /&gt;menyentuh mihrabmu. Tidak juga kau&lt;br /&gt;bukakan pintu. Sabda buah sorga&lt;br /&gt;Akan kemanakah perginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tikungan jalan. Kita pamit&lt;br /&gt;melangkah mendulang gabah. Melimbang emas&lt;br /&gt;atau intan. Dalam pengembaraan hidup&lt;br /&gt;mencari kenyang sampai ke dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim doa apa saja. Jauhkan bahaya&lt;br /&gt;segala prasangka. Di dekat persimpangan&lt;br /&gt;Bertemulah ranting pucuk daun. Walau langit&lt;br /&gt;kian gaduh bersama hujan dan halilintar&lt;br /&gt;Merangkai makna pertemuan setiap kali&lt;br /&gt;menghitung jejak yang menghilang&lt;br /&gt;di tikungan jalan. Setelah badai jatuh&lt;br /&gt;Dari angin. Awan menderukan kabut kegelapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah hujan tanpa musim. Berkiblat&lt;br /&gt;pada matahari. Jarak yang pernah ditempuh&lt;br /&gt;Nuh mengarungi samudera. Diayun gelombang&lt;br /&gt;angin. Dikirim malaikat dari jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pesakitan yang rubuh. Dijejal obat&lt;br /&gt;berpuluh nama. Lalu mbah joking menabur bunga&lt;br /&gt;sepuluh warna. Bermandikan anyir keringat tubuh&lt;br /&gt;Mengumpulkan mantra yang tersesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah di mana aku menidurkan lelah.&lt;br /&gt;Meratakan tanah merekah. Datang&lt;br /&gt;mengunjungimu selalu. Setiap datang waktu&lt;br /&gt;Karena luka tak juga mengeringkan air mata&lt;br /&gt;Mata yang terus menatap jauh ke jalanmu.&lt;br /&gt;Ke dalam rumahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SARAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikali hari masih saja tampak&lt;br /&gt;seperti ruang sempit&lt;br /&gt;kemampuan dalam keterbatasan&lt;br /&gt;keinginan memupus harapan&lt;br /&gt;tapi setiap kali menjejak langkah&lt;br /&gt;selalu saja ada bayangmu dan hatiku&lt;br /&gt;menggelorakan kisah-kisah baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, waktu mengelilingi hari-hariku&lt;br /&gt;tak kupahami maknanya datang dan pergi&lt;br /&gt;begitulah selalu, setiap kali aku&lt;br /&gt;memainkan kecapi, menarikan ronggeng&lt;br /&gt;dan dendang tanah melayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senandungkan lagumu ahoi&lt;br /&gt;menarilah dengan rentak pakpung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu laut mutiaramu&lt;br /&gt;sarahku ahoi nandung sinandung ahoi&lt;br /&gt;nandungkanlah syair burung-burung ababil&lt;br /&gt;berkejaran dengan angin&lt;br /&gt;lautku yang biru bagai syair buluh perindu&lt;br /&gt;sarah yang hatinya diliputi ranum buah sorga&lt;br /&gt;yang kini berada dimana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afrion lahir di Kisaran, 29 April 1963. Ia adalah aktifis Laboratorium Sastra Medan yang pada Mei 2007 ini dipercayai sebagai ketua panitia Pesta Penyair Indonesia 2007 sempena The First International Poetry Gathering. Ia mulai menulis puisi, cerpen, dan esei, sejak 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media massa pusat dan daerah, sepeti Waspada, Analisa, Mimbar Umum, Warta Kita, Sumut Pos, Suara Karya dan Pelita, serta diterbitkan dalam sejumlah buku. Selain menulis, ia juga aktif berteater dan sempat bergabung dengan Bengkel Teater Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=294556&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-2777056334103789152?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/2777056334103789152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=2777056334103789152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2777056334103789152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2777056334103789152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/06/sajak-sajak-afrion-medan.html' title='Sajak-sajak Afrion Medan'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-6071853890459714151</id><published>2007-05-26T04:24:00.000-07:00</published><updated>2007-05-26T04:25:00.035-07:00</updated><title type='text'>SAAT-SAAT MENUJU KEKOSONGAN</title><content type='html'>Oleh : Sutomo Magentahadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mampu mendengar sayup-sayup suara orang-orang berteriak histeris. Mereka sibuk menolong kami, korban kecelakaan lalu lintas. Mobil yang kami tumpangi bertabrakan, terguling dan tersungkur dengan posisi terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku terlempar. Darah berceceran. Aku tak bisa mengangkat tubuhku sendiri, bahkan untuk membuka mata pun aku tak mampu. "Mbak..., sadar, Mbak." Seseorang mencoba menyadarkanku. Aku mendengar suara itu, tapi tidak mampu untuk menjawab. Terasa darah mengucur membasahi kepala dan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cari HP-nya! Hubungi orang yang sering SMS atau telepon!" Terdengar suara seorang laki-laki, panik. Orang yang menyadarkanku buru-buru mengambil HP di dalam tas yang talinya masih tersangkut di bahuku. Dia juga memeriksa KTP dan kartu absen kerjaku. Orang-orang lantas membawa kami ke rumah sakit. Aku hanya mendengar sayup-sayup mobil ambulans meraung. Aku belum sanggup membuka mataku. Darah makin mengucur seperti aliran anak sungai di tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku yang lemah akhirnya dibaringkan di kasur hijau tua. Suster mendorongku tergesa-gesa melewati lorong-lorong sunyi. Aku tidak lagi mendengar suara histeris teriakan kesakitan ataupun kepanikan. Antara sadar dan tidak, aku hanya merasakan kesenyapan yang begitu sunyi dan dingin. Hanya suara halus derap sepatu para suster dalam gerakan yang padu. Mereka tak banyak bicara, hanya tangan-tangan mereka yang cekatan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sudah aku terkapar di ruang gawat darurat. Pada lengan dan tubuhku tertancap kabel-kabel yang terhubung dengan monitor di sebelah kiri tempat tidur, bahkan hidung dan mulutku dijejali selang medis. Aku benar-benar terkapar tak berdaya. Samar-samar aku mendengar isak tangis Bapak dan Emak. Mereka datang dari kampung yang jauh untuk menemuiku. Aku ingin bersimpuh dan memeluk mereka, seperti setiap aku bertemu. Tapi, kali ini aku tak mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasa ringan sekali, seperti terlepas dari raga yang membelenggu. Aku tak tahu apakah ini jiwa atau rohku yang telah lolos dari tubuhku. Ya Allah, apakah Kau akan menghentikan perjalananku sampai di sini? Ampuni hambamu yang sering alpa ini, ya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, sepertinya aku bisa melayang-layang di langit-langit kamar yang serba putih. Aku melihat tubuhku sendiri yang terkapar begitu rapuh. Aku juga melihat Bapak, Emak, kakak, dan adikku ada di ruangan serba putih itu. Sekali lagi aku ingin mencoba memeluk Bapak dan Emak untuk menenangkannya. Sekali lagi aku juga gagal. Hanya kekosongan yang dapat kuraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu terbuka. Bapak dan Emak diminta keluar. Aku berusaha berteriak, jangan tinggalkan aku! Tapi sia-sia. Mereka tidak mendengar teriakanku. Mereka yang menemuiku seperti sirkulasi udara yang tak berhenti, masuk dan keluar untuk memanjatkan doa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, melihat Mas Prastomo, laki-laki yang aku cintai, datang. Aku melihat dengan jelas dia menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Re, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Mas Prastomo. Ingin sekali aku menjawab pertanyaannya. Tapi, lagi-lagi aku tak mampu. "Re, maafkan aku, selama ini belum bisa membahagiakanmu," kata Mas Prastomo. "Bahkan aku pernah berbuat salah padamu," katanya lagi, lembut, sambil menyentuh tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Re, jangan sakiti dia ya. Dia itu orangnya baik, pemalu, dan pendiam," kata Imam, saudaraku, saat memperkenalkanku dengan Mas Prastomo. "Emangnya aku punya tampang untuk nyakitin orang ya?" sahutku sambil tertawa. "Bukannya gitu, Re, soalnya dia pernah disakiti," kata Imam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, insya Allah aku tak akan menyakitinya," jawabku. Sejak perkenalan itu aku selalu berhati-hati jangan sampai menyakiti hatinya. Kami sering SMS-an. Bahkan setiap hari dia selalu kirim SMS. Begitu pun aku, karena tempat tinggal kami beda kota. Jadi, hanya SMS sarana bertemu, barsambung rasa yang paling murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, lima bulan setelah perkenalan, dia bertanya, apakah aku sayang dia?&lt;br /&gt;"Ya aku sayang kamu. Kalau kamu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Aku sayang kamu, Re," jawab Mas Prastomo.&lt;br /&gt;"Apa kamu cinta aku?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Ya aku sayang dan mencintaimu," jawabnya.&lt;br /&gt;"Kalau kamu?" dia balik bertanya.&lt;br /&gt;"Wah, kalau cinta aku ga tahu, perlu waktu untuk itu," jawabku. "Kelak kalau aku cinta kamu, ternyata kamu sudah nggak cinta lagi sama aku, gimana," kataku.&lt;br /&gt;"Insya Allah aku akan menjaga nyala api cinta yang ada dalam hatiku untukmu," jawabnya.&lt;br /&gt;"Wooowww gombal ya?"&lt;br /&gt;Kami tertawa bersama.&lt;br /&gt;"Paling juga udah bosen nanti," kataku lagi.&lt;br /&gt;"Insya Allah aku orangnya nggak bosenan. Biasanya malah orang lain yang bosen dengan ketidakbosananku," jawab Mas Prastomo meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan berlalu setelah ungkapan hatinya padaku, baru aku memberi jawaban bahwa aku juga mencintainya. Dia begitu senang, dan aku pun bahagia. Kami berjanji tidak saling menyakiti, saling jujur, saling percaya, saling tulus. Aku memegang teguh janji tersebut. Diam-diam hatiku berjanji untuk tidak menyakiti apalagi menghianatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semakin dekat. Aku dikenalkan pada orang tua dan saudara-saudaranya. Dia pun aku kenalkan pada orang tua dan saudara-saudaraku. Mereka semua merestui hubungan kami. Bertambah bahagialah kami. Tapi, memang perjalanan hidup manusia tiada yang dapat menduga. Saat itu dia main ke rumahku. Sewaktu dia shalat, aku iseng buka HP-nya. Bagai kena tampar, aku membaca SMS yang masuk ke HP-nya. Ternyata dia masih SMS-an dengan mantannya, bahkan bertemu tanpa sepengetahuanku. Aku menangis. Ya Allah mengapa dia mengingkari janjinya sendiri? Padahal aku tidak pernah sedikitpun menghianatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan aku, Re. Aku salah. Aku sungguh-sungguh menyesal dan bertobat atas kesalahanku yang telah menyakiti hatimu," katanya. Kami berdua menangis. Aku jadi berpikir, apakah dia masih mencintainya? Atau, mungkin aku hanya sebagai pelampiasan hatinya? Tak tahulah. Hatiku benar-benar terpukul. Memang aku hanyalah seorang wanita yang sangat sederhana, tidak secantik mantannya, tidak sebagus bentuk lekuk tubuhnya. Kuakui sebagai seorang gadis aku banyak memiliki kekurangan dan tidak sempurna. Tapi, setidaknya aku memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan dan tidak pernah menghianatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang pilih aku atau dia!" terisak aku menawarkan pilihan. "Aku pilih kamu, Re. Aku mohon kamu jangan menangis lagi. Aku ga ada niat sedikitpun untuk kembali sama dia. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat menyayangi dan mencintai dirimu dan ga ada niat sedikitpun dalam hatiku untuk menduakan atau meninggalkanmu," kata Mas Prastomo. Ya Allah mudah-mudahan dia tidak sedang membual. "Tapi mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini?" tanyaku masih menangis. "Itu salahku, aku khilaf, aku minta maaf dan ga akan aku ulangi lagi," janjinya. Ya Allah mengapa dia tega berlaku seperti itu? Padahal aku tulus ikhlas menyayangi dan mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para medis panik melihat kondisiku yang melemah. Ya Allah, jika kelak aku akan jadi lebih baik, panjangkan umurku. Tetapi, kalau akan lebih banyak melakukan dosa, aku rela Kau akhiri perjalananku, karena aku takkan sanggup menerima pembalasanMu. Aku yakin dan percaya janjiMu adalah benar, maka ampuni aku ya Allah. Ampuni segala salahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lentera dalam gua kesadaranku senantiasa menyala, walau patah-patah mengucapkan asmaNya, mengharapkan maghfirah-Nya. Benarkah ini perjalananku kembali kepadaMu? Aku tak tahu lagi. Yang pasti kesenyapan itu makin terasa. Suara-suara makin meredup, saat jiwaku melayang menuju kekosongan, meninggalkan Mas Prastomo bersama cintanya yang fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=293718&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-6071853890459714151?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/6071853890459714151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=6071853890459714151' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6071853890459714151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6071853890459714151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/saat-saat-menuju-kekosongan.html' title='SAAT-SAAT MENUJU KEKOSONGAN'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-409017480256936931</id><published>2007-05-26T04:19:00.000-07:00</published><updated>2007-05-26T04:23:22.721-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Endang Supriadi</title><content type='html'>SHALAT DI MASJID AL IKHSAN SANUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kupikir aku shalat sendiri&lt;br /&gt;ternyata rumput-rumput ikut sujud&lt;br /&gt;pepohon pun tahajud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sujudku menyibak rimbun cahaya&lt;br /&gt;di antara pura dan arca&lt;br /&gt;aku mengucap basmallah&lt;br /&gt;di antara canang dan tebaran kamboja&lt;br /&gt;aku mengucap ashadu alla illaha illallah&lt;br /&gt;di antara gemuruh gending tari barong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya allah, jika aku tak khusuk&lt;br /&gt;bukan berarti aku tersihir oleh liuk&lt;br /&gt;gelombang sanur. jika basmillah-ku&lt;br /&gt;samar engkau dengar, bukan berarti&lt;br /&gt;mulutku tersumbat pasir sanur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya allah, aku percaya semua berumah&lt;br /&gt;di telapak tanganMu. tinggal sekali balik&lt;br /&gt;semua akan selesai. maka, terimalah shalatku&lt;br /&gt;sebelum engkau balik tanganMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanur, 15 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGUMPAL KABUT DI KINTAMANI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kabut yang mengulum sampai ke kakiku&lt;br /&gt;tentu tak sampai membakar hatimu. kecuali&lt;br /&gt;gunung batur yang teronggok bisu telah&lt;br /&gt;mengasingkan hatimu dari rasa rindu yang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yang kita cari di sini, sobat? kekasih, atau&lt;br /&gt;lelaki buat anak-anakmu kelak. atau yang lain&lt;br /&gt;dari sesuatu yang tak pernah kita bayangkan &lt;br /&gt;seperti ketika gerimis terjun ke kepalamu tanpa&lt;br /&gt;kau minta payung, seperti ketika bus menikung&lt;br /&gt;di tikungan yang tajam, tanpa kau minta pegangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku si pengelana kata, berjuang menyuplai kabut&lt;br /&gt;ke dalam keheninganku yang agung. angin kutimang&lt;br /&gt;bersama gemuruh para penjaja aksesoris. aku rela tersihir&lt;br /&gt;oleh anak-anak yang menjual alas kakinya sendiri, ibu-ibu&lt;br /&gt;yang menjual patung keperkasaan milik suaminya sendiri,&lt;br /&gt;rela tersihir oleh orang-orang biasa yang merasa jadi amat&lt;br /&gt;luar biasa setelah bisa menulis puisi buat kekasihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kabut yang mengulum sampai ke hatimu, bukan kertas&lt;br /&gt;yang harus kau robek. kintamani hanya sebuah sarana&lt;br /&gt;untuk lebih mengenal siapa diri kita. dan aku akan pulang&lt;br /&gt;sebagai manusia biasa yang kerap hadir di trotoar kota&lt;br /&gt;menjajakan syair sampai debu larut ke dalam kalbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kintamani, 16 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAUT HIJAU TANAH LOT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;batu cincin raksasa itu mengemas suara zaman&lt;br /&gt;tak beranjak dari kepungan gelombang&lt;br /&gt;tak kikis dari gigitan ombak lautan. sebuah pura&lt;br /&gt;di atas batu yang terlindung dari jejak-jejak kotor&lt;br /&gt;teramat misteri daripada pawang ular yang melilitkan&lt;br /&gt;ular di selangkangannya. dan malam semakin siang&lt;br /&gt;di tanah lot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesembah untuk dewa ada di setiap jengkal tanah&lt;br /&gt;ritual penyucian diri, melunturkan dosa sebelum ajal tiba&lt;br /&gt;memohon keselamatan dan rezeki bagi seluruh mahluk bumi&lt;br /&gt;adalah inti di dalam peradaban. selangkah demi&lt;br /&gt;selangkah tapi pasti. dan kematian terasa hidup&lt;br /&gt;di tanah lot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air yang membentuk selongsong arus&lt;br /&gt;mampu membentuk wilayah bagi cahaya&lt;br /&gt;setiap bagian tak merugikan keindahan lain&lt;br /&gt;syair mengalir disetiap kecupan ombak ke&lt;br /&gt;bukit batu. dan laut semakin hijau&lt;br /&gt;di tanah lot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Lot, 14 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endang Supriadi, menulis puisi dan cerpen secara otodidak sejak tahun 1983. Karya-karyanya dimuat di pelbagai media cetak pusat dan daerah, seperti Suara Karya, Republika, Media Indonesia, Nova, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Kompas, dan Jurnal Nasional. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam beberapa antologi sajak, seperti Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 2000), Antologi Puisi Indonesia (KSI, 1997), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), dan Gelak Esai &amp; Ombak Sajak (Kompas, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-409017480256936931?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/409017480256936931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=409017480256936931' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/409017480256936931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/409017480256936931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/sajak-sajak-endang-supriadi.html' title='Sajak-sajak Endang Supriadi'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4494779147644542379</id><published>2007-05-19T16:38:00.001-07:00</published><updated>2007-05-19T16:40:19.232-07:00</updated><title type='text'>JOHANA, Malaikat yang Menipuku</title><content type='html'>Oleh : Aris Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johana, mestinya aku tidak perlu meninggalkan kamarku, seharusnya aku tidak menemuinya malam ini, dan membatalkan sebuah rencana sederhana. Perasaanku begitu rawan menyusuri lorong yang sunyi. Tembok-tembok kusam penuh coretan tangan-tangan iseng, bodoh dan menjengkelkan. Lihatlah, tak ada bintang, juga bulan. Langit hanya tirai kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, perasaan sedih membuat kesadaranku oleng. Dan, tangan-tangan gelap makin leluasa menjerumuskanku lebih dalam terbenam di kesunyian. Sweater yang membungkus tubuh ringkihku tidak akan pernah cukup melindungiku dari perasaan tersiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama hembus angin yang menggetarkan daun-daun sebenarnya aku telah melipat sejumlah peristiwa silam yang kusam. Tapi bisikan yang kaukirim dari balik ketiadaan telah merongrong kesadaranku untuk mengurai kembali kisah itu. Kisah yang terdiri dari sederet tawa dan sebaris panjang kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubebat sepasang kakiku dengan kasut yang tebal, menyeret langkah demi langkah yang tak sepenuhnya meyakinkanku. Beberapa warung yang masih buka, tampak sepi. Bahkan penjaganya entah ke mana. Hanya ada sepasang laki-perempuan asyik berciuman. Lampunya begitu temaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga warung barangkali sengaja bersembunyi, tak ingin mengganggu tamunya yang lekat berciuman itu. Tak terdengar musik. Ah, pemandangan yang membuat hatiku makin diremas kesedihan. Aku terus bergegas agak tersuruk. Menyerahkan tubuhku pada gumpal kegelapan yang menyimpan banyak kemungkinan tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tahu tahu, Johana, aku sudah lama tak menginginkan perkawinan itu. Laki-laki itu terlalu membuatku ngilu. Keperihan begitu saja merayapi pikiranku setiap membayangkan wajahnya yang kuyu. Jujur, aku memang sulit mengelak dari perasaan cinta. Tapi sekaligus kebencian padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertemu di Gothe Institut waktu sedang digelar Festival Film Perancis di sana. Tak ada yang mengesankan pada dirinya, kecuali tatapan matanya yang terluka. Cara bicaranya tak begitu kusukai, tapi apa yang ia bicarakan menarik perhatianku. Kupikir dia punya kegemaran yang mirip denganku. Setidaknya ya menyukai film, gemar menikmati lukisan, mendengar petikan harpa dan gesekan biola. Mampu duduk berjam-jam sekadar membicarakan Tuhan sambil mengulum permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia duduk di sebelah sana, di antara orang-orang, mengepung meja bundar yang lebar. Di atasnya asbak yang tak sanggup lagi menampung puntung rokok. Debunya menodai permukaan meja yang licin. Tumpahan kopi, bungkus lemper, dan sobekan kertas tisu. Dia sesekali nimbrung pembicaraan. Film Perancis, dia bilang, memang tak terkalahkan keindahannya. Film Jerman masih kalah. Apalagi Belanda dan Turki, dia bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intonasinya tak enak didengar. Kulihat orang-orang di sekitarnya, yang kebanyakan anak-anak muda, menatapnya dengan setengah peduli. Tapi ada juga beberapa yang tampaknya terkagum-kagum. Aku duduk beberapa jengkal darinya. Obrolannya cukup jelas kutangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang muda sekarang lebih banyak mengabaikan omongannya. Tampaknya mereka mulai bosan. Mereka asyik ngobrol masing-masing dengan tema yang sangat sukar kuikuti arahnya. Tentu, karena otakku yang tak memiliki daya tampung lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berada di dalam studio aku mencari-cari tempat yang lebih dekat dengannya. Berkali-kali ia hampir memergoki mataku yang mencuri pandang. Untunglah dalam studio suasana remang-remang. Aku tidak benar-benar yakin dia memergoki aku. Meski kecemasan tetap saja merayapi perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johana, suatu hari kami akhirnya memang bertemu dalam situasi yang tepat. "Sakurta," ucap dia, mengesankan orang yang sudah lama kukenal. Malam itu juga kami pergi ke tepi danau. Bosan sekali nonton pertunjukan drama di gedung kesenian. Mereka anak-anak yang sok pintar dan tak mau mendengar pendapat orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sepakat denganmu, Johana, duduk di tepi danau bersama Sakurta menemani bulan yang sendirian jauh lebih menyenangkan. "Kamu tak nonton konser harpa, Sakurta?" tanyaku saat itu, berbasa-basi. "Tidak, aku sedang bosan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang, artinya bersamaku dia tidak merasa bosan. Dia menyerahkan pangkuannya untuk kurebahkan kepalaku. Begitulah Johana, setelah itu aku tak pernah lagi menemukan keindahan selain berdua dengannya. Sayang, tak berlangsung lama. Semuanya terjadi lebih cepat dari mimpi yang melintas dalam tidur malamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pergi, Johana. Tepi danau itu kini begitu sunyi. Pertunjukan drama, maupun gesekan biola dan petikan harpa, tak ada lagi. Tak ada yang kuasa mengembalikan perasaanku pada keadaan semula. Tak ada jejak sama sekali yang dia tinggalkan. Kecuali seorang perempuan yang kutemui di pojok ruang pertunjukan. Seorang perempuan yang kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakurta," dia bilang dengan bibir bergetar, "biasanya dia menemaniku di sini, di pojok paling nyaman di dunia," sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johana, tiba-tiba aku menyesal kamu telah menyeretku mengenalnya, laki-laki kurus bermata terluka itu. Memang sejak mengenal dia, menemani dia nonton pemutaran film, duduk menikmati gesekan biola, petikan harpa, berjam-jam menatap lukisan, atau ngomong ke sana kemari tentang Tuhan, membuat kamarku terasa membosankan. Aku selalu pergi menemuinya dan kembali dengan pikiran tersegarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu, Johana. Aku tidak pernah memiliki kegembiraan semacam ini sebelumnya. Sakurta, laki-laki bermata terluka itu, saja rasanya yang mampu menghalau kesia-siaan hidupku. Seketika aku merasa harus berterima kasih padamu. Apalagi setelah tahu bahwa ternyata diam-diam kau yang mengenalkan aku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, aku memang perawan tua yang tak pintar bergaul. Terpuruk di kamar yang sumpek. Orang-orang tak pernah menghiraukan aku ketika hadir di tengah-tengah mereka. Maklum kulitku kelam, wajahku tak sedap dipandang. Bibirku yang tebal barangkali menjijikkan dan membuat nafsu makanmu surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kamu, Johana, yang memberiku perhatian lebih. Kau datang sesekali pada malam hari. Ketika pikiranku kalut. Wajahmu tak pernah benar-benar meyakinkanku, perempuan atau laki-lakikah dirimu. Itu tak terlalu penting bagiku, Johana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian begitu saja aku mencintai Sakurta, untuk kemudian kecewa tak berkesudahan. Sampai tiba saatnya kamu, Johana, menjelang maghrib tadi datang dan mengabariku tentang Sakurta, laki-laki bersorot mata terluka. Dia kembali ke kota ini. Membawa buku baru yang lusa mau diluncurkan. Kau bilang dia mencariku. Jangan harap aku percaya, Johana. Kau sudah dua kali menipuku. Mana mungkin aku bersedia ditipu untuk kali ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, Johana, aku datang malam ini untuk mencabik lehernya dengan sebilah belati yang sudah kusiapkan cukup lama. Kelewang ini sangat tajam, Johana, sanggup menyayat wajahmu sekalipun kau hanya berupa bayang-bayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radio Dalam, Oktober 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4494779147644542379?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4494779147644542379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4494779147644542379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4494779147644542379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4494779147644542379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/johana-malaikat-yang-menipuku.html' title='JOHANA, Malaikat yang Menipuku'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-2827733333598848022</id><published>2007-05-19T16:31:00.000-07:00</published><updated>2007-05-19T16:38:11.337-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Alex R Nainggolan</title><content type='html'>TUTUP TAHUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini kujadwal ulang seluruh tubuh&lt;br /&gt;menginap setahun di tempurung waktu&lt;br /&gt;desember tertawa&lt;br /&gt;renyah dan basah dalam hujan&lt;br /&gt;saat kalender tahun lalu&lt;br /&gt;disimpan kembali dalam gudang&lt;br /&gt;berdebu. aus. diburu waktu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara gudang hatiku telah bangkrut&lt;br /&gt;segalanya menjelma jadi tumpukan hutang&lt;br /&gt;yang tak pernah terbayar lunas&lt;br /&gt;tahun ke tahun&lt;br /&gt;desember ke desember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu hujan bertandang&lt;br /&gt;mengobati kusam desember&lt;br /&gt;hari-hari kembali terbingkai&lt;br /&gt;jendela harapan di depan rumah&lt;br /&gt;yang luput dibersihkan&lt;br /&gt;debunya kian menebal&lt;br /&gt;tak juga tanggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN AKHIR DESEMBER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada siapakah hujan bertamu?&lt;br /&gt;saat desember hampir habis&lt;br /&gt;ia meracau. terkadang lebat&lt;br /&gt;atau gerimis seharian&lt;br /&gt;mungkin tak lagi butuh&lt;br /&gt;pesta mewah akhir tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;genangan air, terus mencibir&lt;br /&gt;seperti membuka lembaran baru&lt;br /&gt;lalu menyimpannya di jalan kota&lt;br /&gt;kisah buruk macam apa lagi&lt;br /&gt;yang datang kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINGGAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya januari singgah&lt;br /&gt;selalu kutunggu engkau&lt;br /&gt;duduk bercakap&lt;br /&gt;merapikan kalimat sedih&lt;br /&gt;yang melulu berkisah tentang&lt;br /&gt;negeri orang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti letup terompet ditiup kanak-kanak&lt;br /&gt;mestinya kita menandai lagi setiap jarak&lt;br /&gt;yang acapkali membuat kita lupa&lt;br /&gt;pada sejumput luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kutanam januari&lt;br /&gt;pada bening dua matamu&lt;br /&gt;menghadapi hari&lt;br /&gt;dari sekujur cemas yang beku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERKAWAN HUJAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin aku mesti berkawan hujan&lt;br /&gt;membiarkan binar air datang&lt;br /&gt;menyapu letih perjalanan&lt;br /&gt;biar aku kuyup&lt;br /&gt;mengigil dengan tubuh yang gemetar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali di tengah hujan&lt;br /&gt;ada sedikit yang terbagi&lt;br /&gt;sebungkus perih&lt;br /&gt;yang lindap di tubuh ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex R Nainggolan lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisannya, berupa cerpen, puisi, dan esai, telah dimuat di berbagai media, seperti Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Jawa Pos, dan Nova. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum (Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (Kompas, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), dan La Runduma (CWI, Kemenpora RI, 2005). Tinggal di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=293032&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-2827733333598848022?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/2827733333598848022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=2827733333598848022' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2827733333598848022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/2827733333598848022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/sajak-sajak-alex-r-nainggolan.html' title='Sajak-sajak Alex R Nainggolan'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4069193086438962726</id><published>2007-05-12T17:05:00.000-07:00</published><updated>2007-05-12T17:06:58.644-07:00</updated><title type='text'>AYAH SAYA SUAMI SAYA</title><content type='html'>Oleh : Alimuddin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat Mak mencampur tuba tikus dengan kopi Ayah. Saya bukan diam saja melihat laku ganjil itu. Saya tampar kopi yang bercampur tuba itu hingga pecahan gelas kaca terserpih ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak menjambak rambut saya, hingga serasa rontok dari kulit kepala. Tiada siapa-siapa di rumah. Sentara Ayah baru pulang ketika dari meunasah sudah terdengar suara sayup anak-anak mengaji. Saya diseret. Pergelangan tangan saya memerah, sebab ditarik kuat-kuat. Saya meraung. Bukan sebab sakit, tapi takut Mak mencampurkan kembali tuba ke dalam kopi Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika disekap di dalam gudang. Tubuh saya dililit dengan kain jemuran. Kedua tangan saya dipelintir ke belakang. Mulut saya disumpal kain. Pintu gudang digembok. Saya mendengar suara Ayah. Di meunasah suara anak-anak mengaji terdengar syahdu. Ayah menanyakan saya. Jawab Mak, saya sedang mengaji malam. Ayah menanyakan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya tidak tahu kenapa Mak ingin membunuh Ayah. Setahu saya, mereka akur-akur saja. Bagaimana kopinya, Yah? Mak bertanya dengan nada tak biasa. Saya berteriak-teriak. Tapi cuma buang-buang tenaga. Mulut yang dibungkam, tidak bisa mengeluarkan suara. Maka, meleleh air mata saya sejadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menjawab, rasa kopi nikmat. Beda dengan biasa. Suara Mak terkikik nyaris seperti kuntilanak yang acap saya tonton di televisi. Kemudian tak lagi terdengar suara Ayah. Esok paginya saya turut mengantar Ayah ke liang jahat. Mata saya bengkak. Mak mengancam akan membunuh saya jika membeberkan rahasia besar itu kepada siapa pun. Saya tidak punya opsi selain mengancing bibir rapat-rapat. Apalagi tiada yang menaruh curiga atas kematian ayah yang mendadak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu baru saya ketahui apa alasan Mak menghabisi nyawa ayah dengan tuba tikus. Mak menggandeng seorang pria berbadan tegap dengan brewok lebat ke rumah. Lelaki itu memperkenalkan namanya, Indonesia. Ia menyorongkan tangan kekarnya ke arah saya. Ingin saya tampik sorongan itu. Namun, bulatan mata Mak membuat saya harus menerima salamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak masuk ke kamar dengan tak lupa mengucap permisi kepada lelaki itu. Saya ingin masuk ke kamar, tapi ada tangan kekar yang menjamah lengan saya. Saya berontak. Tapi, lelaki itu malah mendekap saya. Saya mengancam akan berteriak. Baru saya bisa lepas dan lekas berlari ke kamar dan mengunci pintu. Selang tak lama, saya mendengar cekikikan-cekikikan dari kamar Mak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu betul saja, lelaki itu menjadi Ayah saya melalui kenduri kecil-kecilan. Setelah itu, lelaki itu sudah serumah dengan saya. Dan, setiap Mak tak di rumah, ia selalu berusaha mendekap saya. Untungnya, Mak jarang sekali tak di rumah. Bila pun pergi, jarang sekali lelaki itu tak diajak serta. Namun, satu senja, kegadisan saya nyaris terenggut oleh lelaki itu. Mak sedang keluar rumah. Sedangkan lelaki itu beralasan sakit perut untuk tak turut serta. Untungnya Mak pulang cepat dari yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya tak berani bercerita pada Mak atas ulah kurang ajar lelaki itu. Selain takut ancaman lelaki itu yang akan menebas leher saya dengan belati, saya juga yakin manalah Mak percaya pada tutur kata saya. Bisa saja, malah Mak menuding saya sebagai penggoda. Maka saya memilih bersikap ekstra hati-hati. Setiap Mak keluar rumah tanpa lelaki itu, saya memilih untuk ke luar rumah saja. Namun, ada saja alasan yang dibuat ayah tiri saya itu untuk mencegah kepergian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tak bisa menolak. Mak memelototi saya. Dan, biarpun saya sudah menggembok pintu kamar dari dalam, lelaki itu tak kehabisan akal. Ia mencongkel pintu kamar saya, lalu berdiri mematung di ambang pintu sambil terkekeh. Perlawanan saya tidak berguna. Setelah Mak pulang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Lelaki itu mengurung diri di kamar. Mak pun tidak bertanya, mengapa mata saya bengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan semakin sering lelaki itu menjamah tubuh saya. Bahkan lelaki itu akan menjambak rambut saya bila saya melakukan perlawanan terhadap hasratnya. Saya terkulai tak daya. Hanya menangis yang bisa saya lakukan. Suatu hari Mak menangkap ayah tiri saya yang sedang menjamah tubuh saya. Tapi, lelaki itu lihai lidah. Ia mengatakan, sayalah yang memancing persetubuhan itu. Walhasil, Mak menyepak-nyepak tubuh saya hingga remuk tulang-tulangnya. Lalu saya dipukul dengan pelepah rumbia. Saya lantas dikurung lagi di gudang dua hari tanpa makan-minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah empat belas hari saya merasakan ada janin yang hidup di rahim saya, janin dari lelaki bernama Indonesia, ayah tiri saya. Begitu tahu, Mak bertubi-tubi melayangkan tinjunya ke perut saya. Kemudian terdengar piring-piring pecah. Suara Mak meledak-ledak. Sedangkan ayah tiri saya menuding bahwa sayalah penyebab semua itu. Maka, sayapun mendapat hadiah tempelengan berkali-kali dari telapak tangan Mak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak lalu mendorong tubuh saya hingga terjerambab ke tanah liat halaman rumah. Air mata saya sama sekali tidak berguna. Mak juga mendorong badan suaminya, ayah tiri saya, hingga terjerambab di samping saya. Marah telah membuat Mak memiliki kekuatan besar sehingga kuasa mengusir ayah tiri saya tanpa perlawanan. Mak membanting pintu keras-keras. Saya menatap mata ayah tiri saya. Ia menarik saya. Ia mengajak saya turut dengannya. Saya tak punya lain pilihan selain ikut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan-bulan kemudian, saya tinggal segubuk dengan ayah tiri saya itu. Lelaki itu bekerja serampangan sehingga kami hanya bisa tinggal dalam gubuk rumbia. Ia telah menjadi suami saya. Maka, saya kini memanggilnya Abang Indonesia. Perut saya makin besar, namun suami saya itu tidak memperlakukan saya dengan semestinya. Perut saya menjadi sasaran tinju bila ia naik pitam. Uang dalam pundi-pundi yang saya kumpulkan dengan menjadi tukang cuci dari rumah ke rumah dirampasnya. Padahal itu saya kumpulkan untuk biaya bersalin kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ia membawa banyak teman pria ke gubuk kami. Saya menjerit ketika salah satu pria ingin menjamah tubuh saya. Tapi, anehnya, suami saya malah terbahak. Ketika pria itu puas, saya melihat suami saya diberinya segepok uang. Berulang kali itu terjadi, dan saya tidak berdaya untuk melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama saya melihat, Abang Indonesia makin banyak uang. Dan saya, istri yang diobjekkannya, sama sekali tidak mendapat bagian. Suatu hari saya minggat dengan membawa sebungkus pakaian. Beruntung, seorang nenek menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya setelah saya berjalan jauh. Akhirnya saya bisa menghirup udara lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari setelah itu, kelegaan saya bertukar dengan ketakutan. Orang sekampung mengepung rumah baru saya. Mereka berteriak-teriak bahwa saya adalah perempuan lacur. Dan, saya tercengang begitu menemukan sosok Abang Indonesia berada di antara orang-orang kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diarak keliling kampung, diiringi cacian-cacian pedas. Dan, tiba-tiba, Abang Indonesia, bertindak sebagai pahlawan bagi saya. Ia membebaskan saya dari arak-arak itu. Ia membawa saya pulang. Tapi, sesampai di rumah, sekujur tubuh saya malah remuk-redam dihantami tangan kekarnya. Lalu, sosok-sosok laki-laki asing satu demi satu kembali datang menjamah tubuh saya, dan lagi-lagi suami saya mendapatkan bergepok-gepok uang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertekan dan terus mencari celah untuk kabur lagi, ke mana saja. Tapi, Abang Indonesia terus menjaga saya dengan ketatnya. Tampaknya ia tidak ingin kehilangan saya lagi, istrinya, sekaligus mesin uangnya. Saya hanya bisa berharap, kelak ia benar-benar akan mencintai saya sebagai istrinya, bukan sekadar sebagai mesin uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4069193086438962726?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4069193086438962726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4069193086438962726' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4069193086438962726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4069193086438962726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/ayah-saya-suami-saya.html' title='AYAH SAYA SUAMI SAYA'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7411529899405023681</id><published>2007-05-12T17:02:00.000-07:00</published><updated>2007-05-12T17:05:47.706-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Heri Maja Kelana</title><content type='html'>DETIK MENUJU SUBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah kearifan&lt;br /&gt;akan datang dari keheningan? &lt;br /&gt;sunyi lindap dalam jiwa&lt;br /&gt;ketika detik-detik menuju subuh&lt;br /&gt;luka-luka tubuh lebur&lt;br /&gt;tubuhku menjadi doa-doa&lt;br /&gt;di malam siwalatri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunyi lindap dalam jiwa&lt;br /&gt;ketika laut-laut tenang&lt;br /&gt;dan air mata tergenang&lt;br /&gt;lalu kau serupa dewi kesedihan&lt;br /&gt;yang sunyi di malam siwalatri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sunyi lindap dalam jiwa&lt;br /&gt;aku benar-benar menggelepar&lt;br /&gt;ketika detik-detik menuju subuh&lt;br /&gt;dan udara semakin luruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USIA SUBUH I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepi merunduk&lt;br /&gt;bulan terkantuk&lt;br /&gt;ini pagi yang tenang&lt;br /&gt;aku berlayar bersama dzikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika adzan menebal telinga&lt;br /&gt;subuh menjadi renta&lt;br /&gt;aku mengarifi usia&lt;br /&gt;tinggal menunggu keranda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di usia subuh&lt;br /&gt;kupahami wajah-wajah itu&lt;br /&gt;sebagaimana mengeja&lt;br /&gt;sembilan puluh sembilan&lt;br /&gt;namamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USIA SUBUH II&lt;br /&gt;: Ayung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wajahmu kukenal&lt;br /&gt;ketika hujan turun diam-diam&lt;br /&gt;: musim bersemayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masuk dalam sajak&lt;br /&gt;hingga setiap kata kusetubuhi&lt;br /&gt;dan kunikmati ayunan-ayunan waktu&lt;br /&gt;hingga tubuhku rubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh kurasakan subuh&lt;br /&gt;sebagai usia belia&lt;br /&gt;kemudian menjadi tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasik, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sempatkah kau menulis&lt;br /&gt;dirimu sendiri&lt;br /&gt;sebelum musim berhenti&lt;br /&gt;dalam alismu musim menari lari&lt;br /&gt;umpama pohon menanggalkan&lt;br /&gt;daun-daunnya sendiri&lt;br /&gt;lalu kau serupa puisi&lt;br /&gt;yang ditulis sore tadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba aku mengambung kasturi&lt;br /&gt;saat dada yang bidang&lt;br /&gt;menjadi ruang-ruang&lt;br /&gt;: mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musim berlapis&lt;br /&gt;menurun menuju amarah&lt;br /&gt;yang akan diredam oleh tanah&lt;br /&gt;leluhurku sedang menunggu pasrah&lt;br /&gt;kita juga akan hijrah&lt;br /&gt;ke sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heri Maja Kelana lahir di Majalengka, 14 Januari 1986. Banyak menulis puisi dan esei, yang dipublikasikan di berbagai media sastra. Saat ini sedang menyelesaikan kuliah pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Selain belajar dan menulis, ia aktif di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=292123&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7411529899405023681?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7411529899405023681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7411529899405023681' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7411529899405023681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7411529899405023681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/sajak-sajak-heri-maja-kelana.html' title='Sajak-sajak Heri Maja Kelana'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-3219547044832029567</id><published>2007-05-05T17:16:00.000-07:00</published><updated>2007-05-05T17:17:16.583-07:00</updated><title type='text'>SANG DIPLOMAT</title><content type='html'>Oleh : Abidah El Khalieqy &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mesti datang paling awal. Bukan apa. Hanya menjaga jangan sampai terlalu kikuk saja. Percakapan pasti akan lebih lancar dalam suasana keakraban. Lagipun, sopir dari kedutaan telah lama menunggu. Telah usai acaraku. Kami meluncur nyaman nembus metropolitan. Melampaui kesibukan jam kerja. Lampu-lampu menyala. Malam bakal tiba. "Sukses acaranya tadi, Ibu?". Penuh sopan abang Sopir menyapa.&lt;br /&gt;"Lho, dari mana tahu?"&lt;br /&gt;"Koran-koran memberitakannya. Saya sempat baca. Sembari menunggu."&lt;br /&gt;"Waktu cepat berlalu. Kami butuh lebih lama untuk membahasnya."&lt;br /&gt;"Bos juga bilang begitu."&lt;br /&gt;"Oya? Bosmu sangat peduli. Kau kerasan bersamanya?"&lt;br /&gt;"Jujur saya lebih kerasan dengan yang sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu abang Sopir berkisah kalau bosnya terdahulu, Mr Jim, jauh lebih familiar, lebih toleran dan sangat peduli. Kami menyusur jalanan lengang. Hijau pepohonan tanpa papan iklan. Cahaya hanyalah pendaran bulan dari lampu kristal, nyeruak dari kisi rumah meredian. Pagar besi ukiran sedingin salju Eropa. Pintu gerbang bagai mihrab Kordova.&lt;br /&gt;"Dah nyampe, Ibu. Silahkan masuk".&lt;br /&gt;Tak ada kendaraan lain di halaman. Itu artinya, baru aku seorang yang datang. Berjalan mengamati pintu yang membuka sendiri, serasa aku di plaza. Seorang lelaki dengan seragam koki memintaku menulis nama di buku tamu. Iseng kuperiksa nama yang tertera. Belum ada seorangpun untuk malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyilahku masuk melewati mihrab kedua. Ruang tamu megah, temaram dan senyap. Tiga lampu kristal berbentuk hati mekar menjalar empat penjuru setinggi empat kaki. Cahaya lampu meja dan dinding. Tiga set sofa dan bantal raksasa. Sebuah piano di kanan tangga dan dua buah almari buku. Kemegahan ruang tamu.&lt;br /&gt;Aku duduk mengambil posisi paling strategis untuk menikmati segala sendi ruangan ini. Dua pembantu pribumi menawariku minuman. Juice atau wine?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jus saja. Trimakasih."&lt;br /&gt;Satu menit berlalu minuman berbahan sunquise datang. Disusul seorang pembantu dengan senampan makanan berbahan ikan laut. Kuambil sepotong dan mengunyahnya pelan sembari bercakap dengan itu pembantu.&lt;br /&gt;Mr Ton muncul dari arah tangga berjalan gontai menujuku. Mukanya kecil dibanding tubuhnya yang tambun dengan perut maju lima inci. Rambut poni dengan belahan menyamping, menutupi separoh dahinya. Mata biru mengerjap awas dan hidungnya lancip menjulang. Beberapa garis di bawah matanya membahasakan usianya pada kepala lima. Namun, dari semuanya, mulutnya adalah air kran yang tak habis mengalir.&lt;br /&gt;"O, Mrs Aina! Selamat datang. Apa kabar malam ini? Kau baik-baik saja?" "Trimakasih Mr Ton. Saya baik-baik aja."&lt;br /&gt;"Mengapa belum kulihat yang lain? Ayo silahkan dicicip minumnya."&lt;br /&gt;Ia belum juga duduk dan terus berdiri sembari komentar segala peristiwa. "O, acara yang menarik. Mestinya digelar dua atau tiga hari. Bagaimana pendapatmu Mrs Aina? Setuju? Kulihat semua di antara kita belum puas dengan hari ini. Bagaimana pikiranmu Mrs Aina?"&lt;br /&gt;Terus saja ia nyerocos.&lt;br /&gt;"O, persoalan kaum Hawa di belahan bumi manapun adalah isu aktual. Kita tak bisa diam menyaksikan gejolak ini. Kita mesti lakukan sesuatu. Revolusi tak ada arti kalau kita acuh saja mengisinya. O, bagaimana dengan karya yang bakal lahir Mrs Aina? Boleh saya dikasih sedikit bocorannya? Pasti surprise!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru mau bilang "O" saat mereka datang. Satu-satu lalu dua-dua. Para tokoh pergerakan, para jurnalis, pialang dan seniman. Semuanya kaum Hawa dengan rambut dipotong di atas tengkuk. Berbusana modis ketat namun tanpa make up apalagi lipstik. Yang paroh baya suka menambah syal di lehernya dan rok panjang setumit. Kecuali seniman, mereka semua berambut cepak. Barangkali lebih androgin. Seperti suara yang keluar dari bibirnya.&lt;br /&gt;"O, senang sekali kalian telah datang. Apa kabar?" Mr Ton menggilir salam, berputar lalu duduk.&lt;br /&gt;Basa-basi yang fasih dan terukur. Para koki memutar gelas dan makanan terus mengalir. Ingin aku bertukar sapa sedikit serius. Namun tak ada yang benderang di sini. Seperti lampu kristal temaram, wajah-wajah itu begitu samar, tak jelas siapa aku siapa kamu. Kami cuma kata yang mendengung. Hanyalah gumam panjang. Gemricik air dari kran yang bocor. Dan di antara bocoran itu, Mr Ton adalah pancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan dan minuman diputar kembali oleh para koki. Beberapa kawan dari kedutaan mulai hadir, Dominic, Lesly dan yang lain. Mr Ton bangkit memeriksa persiapan dinner kami. Tak disiakan waktu luang. Serentak semua ingin berfoto riang.&lt;br /&gt;"Jangan lupa dimuat edisi bulan ini ya, Bu. Majalah Anda paling banyak dibaca tetangga saya, hehehe."&lt;br /&gt;"Tapi tulisan Anda juga paling dinanti redaktur kami lo, Jeng. Saya tunggu." "Bu. Anda juga mesti kaver demo kami esuk. Depan HI"&lt;br /&gt;"Lebih dari semua. Harap tak ada yang lupa. Pementasan spektakuler kita." "Jurnal dan siaran radio kami lebih mendesak untuk didengar lo."&lt;br /&gt;Aku mendelong saja mengamati mereka dari celah almari dan judul-judul buku penghuni rumah. Sejatinyalah ia gemar dunia fiksi selain politik. Berbeda dengan istrinya yang gandrung mode dan tampilan wah. Dengan rambut warna pink diusia kepala lima, ia sangat pas nangkring sebagai tokoh imajiner dalam novel. Kukunya dicat pink, lisptik pink dan mascara yang terlalu tebal, memberi kesan wajah menjelang tidur. Tibalah saat dinner yang fantastik. Di ruang tengah. Meja makan raksasa disambung tiga memanjang. Tiga lampu meja dan satu terindah menaungi segalanya. Lalu gelas gelas cantik disisi botol-botol wine. Tak usah khawatir kehilangan jatah tempat duduk. Kartu nama ditata rapi disisi peralatan makan. Sengaja atau tidak, kami berkelompok dalam tiga faksi. Hanya ada tiga laki laki diantara kami. Masing masing faksi berjatah satu laki laki. Aku tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What happened?" tanya laki-laki kelompokku.&lt;br /&gt;"Kalian minoritas. Jangan banyak usil ya."&lt;br /&gt;"Hahaha... minoritas di tengah mayoritas yang pakar pakar ini? Tapi, kami paling cakep kan?"&lt;br /&gt;"Iya. Bukan cakep di antara yang jelek tapi lebih karena jenis kelamin. The given. Tak ada yang perlu disombongin dari kodrat."&lt;br /&gt;Koor menjawab, "betuuul."&lt;br /&gt;"Dan tak ada yang perlu disesali dari kodrat." Seseorang menyahut.&lt;br /&gt;"O, pasti!" Mr Ton antusias sembari nyeruput anggur dari cawan, "Kalau laki-laki dikodratkan kekar berkulit badak, tak perlu nakutin para lembut apalagi nyombong yang otaknya dua kali berat, yang kelasnya nomer wahid, yang tercipta dari tulang rusuk lurus. O ini menggelikan. Bukankah begitu, Mrs Aina?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lobster itu terlampau lezat, aku hampir tak mendengar apapun selain kata yang samar. Yang masuk telingaku cuma tulang rusuk. Kupikir pastilah ia singgung pembicaraanku tadi siang. Maka enak saja aku nyahut, "Yup! Bukan tercipta dari tulang rusuk bengkok. Tapi otak lelaki yang bengkok dalam mempersepsikan perempuan. Betul?"&lt;br /&gt;Ruangan itu kembali mendengung bak pasar malam. Kulihat wajah lembut para Hawa berubah keras penuh gemeretuk siap berlaga, menjadi pahlawan di medan juang. Seiring santapan yang hampir tandas, gigi-gigi mengunyah dan matanya terbuka siap menantang musuh di depan. Mr Ton berkumandang.&lt;br /&gt;"O, ini perjamuan yang heboh. Saya senang karena anda bermata tajam. Ada titik temu di antara kita dan segera kita akan adakan kolaborasi yang intim. Dua pihak dari dua dunia bertemu. O ini diluar pikiran! Saya senang. Mrs. Aina, anda seperti meteor!"&lt;br /&gt;"Bukan saya. Tapi sahabat saya"&lt;br /&gt;"O, sahabat? Siapa dia?"&lt;br /&gt;"Raden Ajeng Kartini"&lt;br /&gt;Bukan pasar malam lagi. Ini kali ruang tempur sang diplomat pada Revolusi Prancis sekian abad silam. Mr Ton bangkit. Aku juga. Tak peduli mata-mata terpana.&lt;br /&gt;"Jean d'Arc?" Mr Ton terperangah. Agak alzheimer juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-3219547044832029567?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/3219547044832029567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=3219547044832029567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3219547044832029567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3219547044832029567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/sang-diplomat.html' title='SANG DIPLOMAT'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-201763352126578161</id><published>2007-05-05T17:12:00.000-07:00</published><updated>2007-05-05T17:19:34.968-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Akidah Gauzillah</title><content type='html'>DEPRESI ANAK NEGERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kehilangan kata&lt;br /&gt;untuk menggoreskan luka jiwa&lt;br /&gt;yang biasanya menjadi grafik keresahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termenung di putaran waktu&lt;br /&gt;apakah ada sedikit guna&lt;br /&gt;merangkaki kebimbangan melewati musim-musim&lt;br /&gt;dengan sekian ton dilema yang membusuk&lt;br /&gt;sedang asa terus meradang&lt;br /&gt;buta waktu pagi, siang, sore, dan malam&lt;br /&gt;hanya terpaan panas matahari dirasa&lt;br /&gt;hanya gemerlap bintang terdengar&lt;br /&gt;dari pekik norak bocah-bocah&lt;br /&gt;kampung abad ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi ini merampas kekayaan&lt;br /&gt;tak bernilai sejak terpeti di nurani keluguan&lt;br /&gt;hingga terpikul oleh ambisi kemudaan&lt;br /&gt;lalu terguncang badai dunia yang disambut&lt;br /&gt;meriah kanibal-kanibal globalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tercincang di meja judi mereka&lt;br /&gt;sebab aku bukan siapa-siapa&lt;br /&gt;cuma seorang anak negeri yang suka&lt;br /&gt;berteriak kemalu-maluan:&lt;br /&gt;"Ibu Pertiwi, dalam setiap desah nafasku&lt;br /&gt;terhembus kekayaan cita-cita dan energi&lt;br /&gt;semangat anak bangsa&lt;br /&gt;walau di telapak tangan ini hanya terlihat&lt;br /&gt;selembar lima ribuan hasil menjual koran&lt;br /&gt;untuk membayar SPP."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAGU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamar mayat ini,&lt;br /&gt;aku berbaring di kehidupan,&lt;br /&gt;jauh memandang lukisan&lt;br /&gt;kosong, tak mengalun warna-warna&lt;br /&gt;seperti Jamal D Rahman bernyanyi&lt;br /&gt;pada piring-piring&lt;br /&gt;dan aku membisikkan kenangan&lt;br /&gt;tentang laki-laki kota&lt;br /&gt;yang menciptakan not-not jiwa&lt;br /&gt;di garis-garis bermediasi&lt;br /&gt;atas nama fenomena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan cinta tak sebatas ruang yang&lt;br /&gt;tertutup keabadian tahta sang derita&lt;br /&gt;menunggu Hitler mengulurkan pedang&lt;br /&gt;ke leher kekasih&lt;br /&gt;dan aku tersenyum damai merentangkan tangan&lt;br /&gt;bernyanyi, "oh, sayang, oh, sayang."&lt;br /&gt;lalu terkuburlah di sini, pada nisan-nisan&lt;br /&gt;kejiwaan yang terlepas dari analisa&lt;br /&gt;riset dokter-dokter jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghembuskan napasku pada derita&lt;br /&gt;yang tertawa di jendela pagi&lt;br /&gt;dan tangis yang mengulum-ngulum senyum&lt;br /&gt;di tepian malam, melayang-layang&lt;br /&gt;antara Cikini dan kota-kota tua&lt;br /&gt;kubuang hamparan puisi sepanjang jalan&lt;br /&gt;merayapi merpati putih hingga ruh-ruh ini&lt;br /&gt;menggelepar pada nyanyian&lt;br /&gt;yang membungkus kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu ketenangan harapan&lt;br /&gt;tak terbagi-bagi di antara kesadaran&lt;br /&gt;luka yang neurosis&lt;br /&gt;mendesis-desis &lt;br /&gt;dan aku pun berakhir&lt;br /&gt;sebagai lagu diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akidah Gauzillah banyak menulis puisi dan cerpen. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media sastra, seperti Majalah Sastra Horison dan rubrik-rubrik sastra surat kabar nasional. Karya-karyanya juga terkumpul dalam antologi puisi Surat Putih I dan II (Risalah Badai, 2001, 2002), antologi cerpen Mencintaimu (Logung Pustaka, 2003), Sastra Senja (Dewan Kesenian Jakarta, 2004), kumpulan cerpen Bila Bintang Terpetik (Beranda, Grup Mizan, 2004), antologi cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (Pusat Bahasa, 2005), antologi puisi Perempuan Penyair Indonesia (Risalah Badai, 2005), dan antologi cerpen Tarian dari Langit (Republika, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=291252&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-201763352126578161?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/201763352126578161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=201763352126578161' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/201763352126578161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/201763352126578161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/05/sajak-sajak-akidah-gauzillah.html' title='Sajak-sajak Akidah Gauzillah'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-8574158755796358260</id><published>2007-04-28T17:19:00.000-07:00</published><updated>2007-04-28T17:20:59.004-07:00</updated><title type='text'>DADONG SANDAT</title><content type='html'>Oleh : Sunaryono Basuki Ks &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan benar-benar seperti disiramkan dari ember raksasa ke atas bumi yang gelap. Sesekali halilintar berdenyar-denyar membuat alam tersiram cahaya sementara. Entah jam berapa, tetapi yang tinggal di pantai dapat mendengar debur ombak dan khawatir akan datangnya tsunami, walau tak pernah pantai mereka dilimbur pasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terjadi gempa besar tiga puluh tahun yang lalu memang tersiar kabar bahwa air laut naik sampai sepuluh meter. Tanpa memperhatikan arah orang-orang berlomba-lomba bergelombang menuju ke timur, masih sepanjang pesisir. Ketika peristiwa itu lewat, banyak yang tertawa masam sebab seharusnya mereka mengungsi ke arah selatan, ke gurun, bukan menyisir pesisir sampai ke timur. Bila air laut benar-benar naik maka mereka yang lari ke timur akan tenggelam juga dilimbur pasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan galah bambu sepanjang sekitar tiga meter Dadong berkeliling kota pagi buta, saat bumi basah namun guntur dan halilintar tak lagi bergelegar, dan gerimis tak menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan kirinya kantong plastik berwarna hitam sebagian sudah berisi bunga kamboja yang dipanennya dari rumah-rumah yang dilewatinya. Perempuan yang kulitnya berkeriput itu mengenakan kaos oblong berwarna hitam bertuliskan Teater Kampus Seribu Jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Novy atau Surya atau Nurul yang memberi kaos yang warna hitamnya sudah bercampur warna putih di tepi-tepinya itu. Tentu Dadong tidak sedang berlatih teater dan dia tak pernah menonton produksi anak-anak kampus atau tamu-tamu dari Yogya atau Bandung yang pentas di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun peduli saat dia dari luar pagar mengambil bunga-bunga kamboja dari kebun rumah-rumah yang dilaluinya. Pohon-pohon kamboja itu tak berhenti memberi bunganya, walaupun setiap pagi Dadong Sandat memetiknya, bagikan rambut yang dipotong tapi terus tumbuh subur, atau rumput yang makin menghijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karenanya, tak seorang pun menegurnya, melarangnya memetik kamboja yang tak jera berbunga. Dari taman pembatas jalan dia juga memetik bunga-bunga soka berwarna merah dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit di timur belum lagi memerah apalagi mendung tipis masih memayungi angkasa. Disimpannya galahnya di balik pagar hidup sebuah halaman kosong tak berpenghuni, dan esok dia akan mengambilnya untuk menjolok bunga-bunga kamboja lagi yang tak terjangkau tangannya. Kantong plastik yang gembul itu dibawanya ke pasar, diserahkan pada seorang perempuan muda yang menunggu meja pendek dengan setumpuk canang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak hari ini, Dadong?" tanya perempuan itu, terasa sekedar bertanya sebab dia tidak lagi menakar kantong plastik yang berisi bunga-bunga itu tetapi langsung memberi Dadong uang seribu rupiah. Tanpa mengucap sepatah katapun, tak juga kata terimakasih, perempuan tua itu berlalu, berjalan menyusuri jalan kota yang mulai benderang, masuk ke dalam kampung dan sampai di pondoknya yang terletak di tengah kebun yang sekarang benar-benar terletak di tengah pemukiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, tanah sekitarnya masih kosong. Dadong diberi kesempatan oleh Nyoman Tusan untuk menjaga tanah itu. Bahkan, sebuah pondok dari bambu dibangun untuknya. Kalau teman-teman Nyoman bertanya, kenapa dibiarkan perempuan itu menjaga tanahnya, dia hanya menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanah itu takkan berkurang sejengkal pun. Dan kalau dia mau menanam pisang dan mangga dan ketela pohon dan cabai, bumi akan memberinya rejeki, namun aku tak merugi."&lt;br /&gt;"Kenapa tidak cari penyakap saja?"&lt;br /&gt;"Lalu, dimana perempuan itu akan tinggal? Dia tak punya sanak saudara. &lt;br /&gt;Keluarganya habis dibabat saat prahara besar melanda negeri ini."&lt;br /&gt;"Tak takut dituduh terlibat dan melindungi keluarga bekas pemberontak?" Nyoman Tusan hanya tersenyum.&lt;br /&gt;"Setiap orang di sini tahu kalau keluargaku warga PNI. Pamanku dulu jadi tameng dan ikut membasmi. Mana mungkin aku terlibat?" Kemudian dia lanjutkan:&lt;br /&gt;"Hyang Widhi takkan mengutukku, karena aku menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa usia Dadong Sandat, dan orang sebenarnya tak tahu siapa namanya sebenarnya, dan dia juga tak mau banyak bicara. Darimana dia berasal? Pastilah ada keluarganya yang masih hidup. Dari banjar mana dia? Dimana sanggah-nya? Atau mungkin merajan-nya? Di halaman pondoknya Dadong membangun tempat sembahyang sederhana, mula-mula dari yang ditancapkan di tanah, bagian atasnya dibelah empat untuk menempatkan ancak6 yang diberi sesaji tiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tabungannya serupiah demi rupiah, dia membeli tempat sembahyang yang sudah jadi dibuat dari batu paras. Upacara sederhana dia selenggarakan dengan uang hasil penjualan buah mangga yang menjadi haknya. Nyoman Tusan yang diberi uang hasil panen kebunnya sering menolak:&lt;br /&gt;"Pakai saja, Dadong. Kami sudah ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok yang dibangun dari bambu itu akhirnya menjadi sebuah pondok dari batako. Waktu Nyoman Tusan mendengar niatnya untuk menganti pondoknya, dia malahan diberi satu truk batako, langsung diantar ke kebun, padahal Dadong Sandat sudah menabung batako di sudut kebunnya, sepuluh biji setiap kali membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati saja. Setelah membangun rumah, dia akan membawa teman dan tanah Nyoman akan diduduki."&lt;br /&gt;"Ya, tak apa. Aku hanya numpang lewat disini, kan? Kalau aku mati, tanah itu takkan kubawa mati. Semua anakku sudah mendapat bagian tanah masing-masing, bahkan mereka sudah bisa menambah tanah dengan uangnya sendiri. Dadong sudah dianggap sebagai dadongnya sendiri oleh anak-anak. Bila mereka datang, selalu membawa oleh-oleh pakaian atau makanan untuknya. Apa salah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temannya itu hanya menggeleng. Nyoman memang aneh, pikirnya. Usahanya makin maju, makin hari makin kaya, walaupun tak pernah nampak dia terlalu bernafsu untuk menambah harta. Kalau ada kegiatan ngayah, dia selalu ikut. Sembahyang di Pura Jagatnatha dia selalu tak pernah absen, dan kalau ada yang datang minta sumbangan, selalu diberinya dengan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guntur kembali berdentur-dentur, menggoyang bumi dan hujan bagai ditumpahkan dari langit, sementara sesekali halilintar berdenyar-denyar. Sudah itu sunyi. Untuk pertamakali dalam tempo bertahun-tahun Dadong Sandat tak muncul di meja dagangan Luh Manis, tetapi tak ada pertanyaan dalam hati perempuan yang sibuk berdagang canangsari itu. Hari ketiga dia mulai curiga. Mengapa Dadong tak kunjung datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditelusurinya sampai ke rumah. Diketuknya pintu kayu yang ternyata tak terkunci. Di dalam sepi, ruang remang-remang. Luh Manis hanya melihat sebuah bale yang mestinya tempat Dadong biasa tidur. Beberapa kain batik terlipat rapi di tepi atas bale. Ruangan itu berbau harum dan semuanya tertata rapi tetapi tak nampak jejak Dadong di situ. Dimanakah dia? Kemanakah dia? Apa sudah meninggalkan kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama Nyoman Tusan datang.&lt;br /&gt;"Semalam saya bermimpi Dadong datang, berpakaian sangat rapi dan wajahnya bersinar. Katanya, dia mau pergi dan berterimakasih telah diperkenankan tinggal di sini. Ternyata dia memang pergi."&lt;br /&gt;Tapi ke mana? Ingat beberapa hari yang lalu purnama besar, saat bulan bersinar terang dan orang-orang bersembahyang di Pura Jagatnatha. Apakah dia benar-benar pergi saat purnama? Kenapa di ruangan ini tersebar harum wangi padahal dia tak pernah memakai parfum? Apakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luh Manis tak berkata. Nyoman Tusan tak berkata? Mungkinkah?&lt;br /&gt;Tak berani mereka melanjutkan pertanyaannya: mungkinkah Dadong Sandat moksa, dari tiada kembali ke tiada? Dia hanya manusia biasa? Hanya manusia biasa? &lt;br /&gt;Malam itu Nyoman Tusan bersembahyang untuk Dadong Sandat. Tak perlu lagi pelebon. Dia sudah moksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Canang adalah talam dibuat dari anyaman janur untuk tempat bunga-bunga sebagai sesaji.&lt;br /&gt;2. Penyakap adalah petani penggarap tanah yang biasanya mendapat bagian setengah dari hasil panen.&lt;br /&gt;3. Tameng adalah pasukan penumpas G30S berasal dari kelompok nasionalis.&lt;br /&gt;4. Sanggah adalah tempat sembahyang keluarga tak berkasta.&lt;br /&gt;5. Merajan adalah tempat sembahyang keluarga berkasta.iap orang Hindu mempunyai tempat sembahyang keluarga, dan mereka berkumpul bersembahyang pada hari-hari besar tertentu.&lt;br /&gt;6. Ngayah adalah bekerja bakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=290398&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-8574158755796358260?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/8574158755796358260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=8574158755796358260' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8574158755796358260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8574158755796358260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/dadong-sandat.html' title='DADONG SANDAT'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7666316094863082065</id><published>2007-04-28T17:15:00.000-07:00</published><updated>2007-04-28T17:19:39.545-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Dina Oktaviani</title><content type='html'>RIL &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menunggu daun jatuh lurus ke tanah&lt;br /&gt;tak ada keraguan bagai masa muda&lt;br /&gt;tak ada ketakutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia mencintai yang tertinggal&lt;br /&gt;sebesar cinta pada kebaruan:&lt;br /&gt;gairah yang intim dengan kejatuhan&lt;br /&gt;kehilangan yang mendekati hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin membuntuti bulan&lt;br /&gt;yang mengejar setiap orang tanpa ampun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia tidak menjadi tanda panah&lt;br /&gt;namun mustahil ditepis para pejalan&lt;br /&gt;bentuknya jauh di atas kepala&lt;br /&gt;cahayanya lekat di kaki mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ketika kerinduan &lt;br /&gt;menjelma badai, sahabatku&lt;br /&gt;aku tahu: tak mungkin menunggu&lt;br /&gt;atau membuntuti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semuanya hidup di dalam diriku&lt;br /&gt;untuk melukaimu, karena mencintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAYANGAN DARI BAYANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jarak bagi cinta yang lapar&lt;br /&gt;adalah tangan-tangan penyiksa yang halus&lt;br /&gt;angin bersama mereka, maut bersama mereka&lt;br /&gt;membawa kabar dan menawarkan jalan&lt;br /&gt;untuk dipercaya dan ditempuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku percaya kamu ada di seberang semua ini&lt;br /&gt;dan mulai mengerti mengapa&lt;br /&gt;kabar dan jalan telah dilumpuhkan&lt;br /&gt;seperti ingatan, keteguhan dari sunyi&lt;br /&gt;seperti nama-nama tuhan di rahim yang hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku telah kehilangan cintamu&lt;br /&gt;airmata kebebasan mengemas tubuh dan jiwaku&lt;br /&gt;ke dalam dunia yang asing: kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana bunga-bunga tumbuh di dalam gudang&lt;br /&gt;bagaimana aku akan bertahan sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mulai mengerti banyak tentang ini&lt;br /&gt;dan menolak semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERAGU-RAGUAN ABSOLUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;bagaimana aku dapat berbaring sekarang&lt;br /&gt;tanpa memilih antara kau dan hidupku&lt;br /&gt;begitu banyak ketidakbahagiaan di sisi impian&lt;br /&gt;sementara kenyataan tak pernah berhenti&lt;br /&gt;menawarkan keputusasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, ya, aku mencintaimu&lt;br /&gt;tanpa peduli pada ruang dan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jiwaku berjalan pelan dan buta&lt;br /&gt;menghindari semua peta&lt;br /&gt;menuju yang samar-samar tak ada;&lt;br /&gt;hatiku dikepung kesedihan&lt;br /&gt;atas kelemahanku mencintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, ya, aku mencintaimu&lt;br /&gt;bertarung dengan segala yang tak terbaca&lt;br /&gt;dari dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;kesunyian ini&lt;br /&gt;telah tak mampu melemparku&lt;br /&gt;ke dunia yang lain lagi;&lt;br /&gt;meja yang kering, soda menggigil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak dapat menjawab dengan tenang&lt;br /&gt;seluruh pertanyaan yang diajukan perasaanku sendiri&lt;br /&gt;kami bagai sepasang cermin yang ragu menangkap bayang&lt;br /&gt;: kabur dan dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah aku mencintaimu?&lt;br /&gt;ya, aku mencintai ketidaktahuan&lt;br /&gt;yang datang dan pergi ini:&lt;br /&gt;selamanya menyelamatkanku dari nihil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina Oktaviani, lahir di Tanjungkarang, 11 Oktober 1985. Banyak menulis puisi dan cerpen, yang dipublikasikan di berbagai media pusat dan daerah. Buku pertamanya, Como Un Sueto (Kumpulan cerpen-Orakel, 2005), dan buku puisinya yang telah terbit, Biografi Kehilangan (Penerbit InsistPress, 2006). Kini menjadi editor pada BlockNotPoetry untuk BlockNotInstitute Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7666316094863082065?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7666316094863082065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7666316094863082065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7666316094863082065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7666316094863082065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/sajak-sajak-dina-oktaviani.html' title='Sajak-sajak Dina Oktaviani'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-1751671591735579198</id><published>2007-04-21T16:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T17:07:38.675-07:00</updated><title type='text'>SUNGAI YANG TENANG</title><content type='html'>Oleh : Hudan Hidayat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang ke sungai yang tenang. Dari jendela kamar lantai dua rumahku, nampaklah sungai yang tenang itu. Kadang-kadang hinggap burung di atasnya. Burung yang kecil. Dari kamarku terlihat ringkih. Tapi, ia tak pernah jatuh ke sungai itu. Selalu bisa terbang. Ringkih, tapi bisa terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ada dalam benak burung-burung itu? Kadang mereka berombongan datang ke sungai itu. Mungkin tak ada apa-apa dalam benak burung-burung itu. Pikiran mereka cuma terbang dan makan. Meneruskan kehidupan. Mereka menyambar makanan di atas sungai itu. Jadi sungai itu memberikan kehidupan pada burung-burung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai itu, kehidupannya darimana? Pastilah sungai itu terbentang sejak lama. Sudah banyak pula riwayat di atasnya. Apakah salah satu riwayatnya? Setahun yang lalu sungai itu mengirimkan batang-batang. Waktu kutegaskan mataku ternyata bukan pokok-pokok kayu, seperti yang kukira. Tapi tubuh manusia. Hanyut di atas sungai itu. Mengalir tanpa daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menghanyutkannya? Mungkin hanyut sendiri. Tubuh itu tersangkut, lalu tenggelam dan mati. Dibawa sungai itu dengan perlahan, mengalir tenang. Tapi, tubuh-tubuh itu begitu banyak. Kuhitung ada empat puluh lima, datang dan pergi. Kadang tubuh-tubuh itu mengalir dekat sekali. Rambutnya seolah bukan rambut lagi. Tubuhnya seolah bukan tubuh lagi. Beberapa tidak bertangan. Beberapa tidak berkaki. Ada juga tubuh saja, kepalanya sudah tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tubuh-tubuh itu tak mungkin manusia yang tersangkut, lalu tenggelam dan mati. Pasti ada perisitwa sampai tubuh-tubuh itu mengalir dan dibawa sungai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah peristiwanya? Aku tak tahu. Itulah salah satu riwayat sungai itu. Aku hanya memandang dari balik jendela kamarku. Aku tidak pernah turun ke sungai itu. Persahabatan kami cuma dari jarak jauh, sejauh antara sungai itu dengan kamarku. Kira-kira tiga atau empat meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku mendengar sungai itu mengeluarkan bunyi. Seolah manusia. Aku merasa bunyi itu untukku. Jadi sahabatku itu bicara padaku. Apa yang dikatakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan apa yang hendak kau sampaikan, wahai sungai yang tenang? Aku tak punya pesan apa-apa. Tapi kadang aku merasa diriku sama seperti dirimu. Kadang kurasakan kau pun adalah sungai. Mengalir tenang di kamarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kau tak pernah keluar kamarmu? Tentu saja: bukankah kau sungai seperti diriku, yang mengalir di alur kita masing-masing. Kau tahu, diriku hanya mengalir di sebentang jalan ini. Jalan sungai. Sudah ratusan tahun aku menjalani alur ini. Dan kau? Kau sudah 65 tahun mengalir di kamarmu. Itu kalau aku tidak salah hitung, saat melihat kau pertama kali menjenguk diriku dari kamarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau benar, sungai yang tenang. Aku sudah 45 tahun di kamar ini. Alurku berhenti di sini. Seperti alurmu, berhenti di sana.&lt;br /&gt;Tetapi mengapa? Ah, lagi-lagi aku bertanya. Bukankah kau sungai seperti diriku. Jadi tak perlu ditanya lagi. Kita memang berhenti di alur kita. Tapi, sebelum kau berhenti di alurmu, pasti ada peristiwa dalam dirimu sampai kau menetap di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, wahai sungai yang tenang. Tapi biarlah ia menjadi riwayatku sendiri. Seperti riwayatmu sendiri yang tak pernah kumengerti.&lt;br /&gt;Sungai itu mengalir lagi.&lt;br /&gt;Malam membuat dirinya menjadi hitam. Lampu di atas jembatan setapak meredup. Seekor tikus yang gemuk menyeberang. Seekor ular membuntutinya. Mereka berkejaran di sungai itu. Tikus ingin segera sampai, selamat dari patukan ular. Ular ingin segera mendapat makan malamnya. Lihat kawan, di atasmu kini ada pertandingan.&lt;br /&gt;Aku lihat. Aku merasa tubuhku geli, tikus dan ular itu berjalan gesit sekali. Gesekan itulah yang membuat tubuhku geli.&lt;br /&gt;Tubuhmu geli, tapi bagi si tikus, ini saat mendebarkan dalam hidupnya. Lihat dia berusaha sedemikian rupa.&lt;br /&gt;Bagi si ular pun, ini saat mendebarkan dalam malamnya. Lihat ia pun berusaha sedemikian rupa.&lt;br /&gt;Ah, ular itu....&lt;br /&gt;Mengapa kawan?&lt;br /&gt;Aku tahu ular itu. Sarangnya tidak jauh dari diriku, di balik rimbun sana, dekat tebing. Dari kamarmu memang tidak kelihatan. Tapi, di situlah anaknya berada. Jadi, tikus itu bukan untuk dirinya, tapi untuk anaknya, yang kelaparan dan kini hampir mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, begitu rupanya. Maaf ya, ular yang baik hati. Aku tidak menyangka. Tapi, bagaimana pun aku tidak bisa melihat tikus itu. Wahai ular, mengapa kau tak mencari makanan lain saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sungai, tak bisakah kau mengirim gelombang, agar ular itu berhenti mengejar. Hanyutkan dia ke arah sana.&lt;br /&gt;Bisa saja. Tapi sebagai sungai aku harus adil. Tidak memihak adalah sikapku selama ini. Biarkan saja hukum alam berlaku di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku tahu tikus itu, kawanku. Dia juga ditunggu anaknya di seberang sana. Tempat mereka di balik semak di belakang rumah Pak Tua. Aku sering melihat Pak Tua memberikan sisa-sisa makanan pada tikus-tikus itu. Percayalah, kawanku, aku tidak akan membohongi kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku percaya padamu. Tapi, kalau itu kulakukan, aku akan berhenti sebagai sungai. Sedang aku tidak ingin berhenti sebagai sungai. Aku akan jadi sungai sampai kapanpun. Dan, seperti kataku tadi, sungai yang baik adalah sungai yang tidak memihak. Dia menerima segalanya. Mengalirkan segalanya mengikuti alurnya. Cerita dunia ini aneh ya? Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu aku menerima tubuh seorang lelaki, yang dihanyutkan anaknya malam hari. Air mata anak itu jatuh ke tubuhku. Aku diam saja. Anak itu terus saja berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai yang tenang, ayah saya sakit gula, dan saya orang yang tidak mampu. Namun, begitu saya tetap mencari uang itu. Saya meminjam kesana-kemari. Uang terkumpul secara bertahap dua belas juta. Saya serahkan uang itu kepada rumah sakit, untuk biaya berobat. Sebagai imbalannya, rumah sakit menyerahkan mayat ayah saya, karena saya tidak mampu lagi membeli obatnya. Saya ingin marah. Saya ingin menangis. Tapi apalah guna marah dan tangis kepada benda mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, sungai yang tenang. Rumah sakit tak lebih dari kumpulan benda mati yang tak punya hati. Karena itu, simpanlah tangismu sendiri. Kini terimalah mayat ayah saya. Karena engkaulah yang berhak menerimanya. &lt;br /&gt;Mengertikah kamu, wahai sungai yang tenang? Terimalah mayat ayah saya sebagai tanda perkenalan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdiam diri menyimak cerita itu. Aku termenung memandang langit yang dilintasi burung. Sementara sungai itu bersiul. Aku ingin bertanya bagaimana nasib anak itu. Tapi, kawanku tak juga menjawab. Lalu, kudengar dia berkata: jadi aku mohon kamu mengerti, wahai lelaki yang baik hati, bahwa nasib manusia akan berhenti pada alurnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyetujuinya. Tetapi, pikirkanlah sekali lagi, selagi ada waktu. Lihat ular itu sudah hampir mendekati tikus itu. Pikirkanlah kawanku, sebelum semuanya terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai itu tidak menjawab. Diam dan berjalan dengan tenang. Tubuhnya membentang. Mengirimkan airnya yang hitam. Membelah kota-kota hitam. Membelah nasib manusia dan takdir dunia, yang mengalir mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=289581&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-1751671591735579198?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/1751671591735579198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=1751671591735579198' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/1751671591735579198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/1751671591735579198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/sungai-yang-tenang.html' title='SUNGAI YANG TENANG'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-797052903793465933</id><published>2007-04-21T16:50:00.000-07:00</published><updated>2007-04-21T16:55:40.077-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Pitres Sombowadile</title><content type='html'>KUHANYUTKAN BULIR-BULIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhanyutkan bulir-bulir padimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutitipkan ke nadi arus liar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulipat semua kita yang pernah&lt;br /&gt;kusisipkan kutilang ke anak-anak bambu&lt;br /&gt;kesumat terasa merayap ke gubuk&lt;br /&gt;tapak selusuri dagu dan dahi&lt;br /&gt;masuk sum-sum&lt;br /&gt;tapi bulat perkasa kuingkari&lt;br /&gt;kusibak tiap aliran dendam padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih ada sisa rasaku padamu&lt;br /&gt;aku tak akan balas&lt;br /&gt;telantarkan bidak catur gagah sendiri&lt;br /&gt;senjata dikunci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rayakan saja renang &lt;br /&gt;menang hanya untuk berdua &lt;br /&gt;entah senang di takdir mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUTABUR BUNGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutabur bunga bagi deru langkah&lt;br /&gt;kuncup perdu-perduan&lt;br /&gt;melati segenap kelopak mawar&lt;br /&gt;kucipta riang ke tapak kakimu&lt;br /&gt;biar tanganku terpatuk luka&lt;br /&gt;segala sangkakala kuberi ke jalan niatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kau tega tabur segala paku&lt;br /&gt;duri ke tapak lintasan&lt;br /&gt;onak kau lepas bersama derai tawa angkuh&lt;br /&gt;kau lelaki dilahap nafsu rangkul menang&lt;br /&gt;semak-semak culas tak lagi ditakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sudah Musa&lt;br /&gt;melepas bangsa air&lt;br /&gt;ke busur sungai mimpimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa kau tega patah carang mimpiku&lt;br /&gt;sumbat pematang mungkinku&lt;br /&gt;belati ke tapak tangan lelaki&lt;br /&gt;dan topan seteru ke dadaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menang tak ingin kau lewatkan&lt;br /&gt;racun kau tabur ke kepalaku&lt;br /&gt;sudah jatuh ke hati jatimu &lt;br /&gt;yang kau rayakan akan nanti kembang kertas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAKJUB &lt;br /&gt;anatomi iver&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap asmara menjulur dari matamu&lt;br /&gt;bakar hasrat cinta&lt;br /&gt;aku rindu kau&lt;br /&gt;tapi, siapa kau jelita?&lt;br /&gt;kapan kita kan bersua lagi?&lt;br /&gt;dua tanya ini tak punya arti lagi&lt;br /&gt;dibanding takjub kau kuncupkan&lt;br /&gt;kau peristiwa puisiku&lt;br /&gt;kuburamkan sosokmu&lt;br /&gt;jadi satuan gagasan&lt;br /&gt;mencari di dalammu namun bukan kau&lt;br /&gt;sebab kurindu pucuk puisi kau percik&lt;br /&gt;kau kotak ketakjuban&lt;br /&gt;bikinku mabuk&lt;br /&gt;aku ingin terus nyelam menggali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bangsa bidadari&lt;br /&gt;tapi, jangan kira aku beri satu harga insani&lt;br /&gt;karena diriku sumur&lt;br /&gt;dalam, dingin dan dindingnya lumut hijau&lt;br /&gt;kubutuh kau jatuh ke dalamnya&lt;br /&gt;meski aku tak bakal telan&lt;br /&gt;sekadar butuh kejatuhanmu&lt;br /&gt;ilham peristiwa puisiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencicipmu sebagai jelita&lt;br /&gt;sebuah gitar di pelukan dengan desah dan pekik&lt;br /&gt;nikmat juga getar kejang&lt;br /&gt;siapa tahu kau juga punya dahaga berbagi tubuh&lt;br /&gt;namun sungguh kubutuh puisi&lt;br /&gt;kau kurban bakaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pemuja puisi&lt;br /&gt;menindas atas nama gagasan estetika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buha, 28 Oktober 04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INGIN KAKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pablo, aku juga mau muja kaki&lt;br /&gt;karena ganggang bebas berkecambah&lt;br /&gt;liar di wajah&lt;br /&gt;nanah katarak rampas tatap mata&lt;br /&gt;dayung trakhea disergap rayap&lt;br /&gt;cekak nafas&lt;br /&gt;cecak sarat rayap pada dada&lt;br /&gt;jadi sesak dalam ruang jantung&lt;br /&gt;aku muak, muak, muak pada potretmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak butuh pajangan wajah manis&lt;br /&gt;kau tancap di dinding&lt;br /&gt;dibingkai mahoni&lt;br /&gt;kuperlu gerak kaki&lt;br /&gt;langkah melayang ke arahku&lt;br /&gt;aku pemuja bahasa kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa kau cium aku mesra&lt;br /&gt;namun jejakmu pergi berlalu&lt;br /&gt;celup cinta ke jurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pitres Sombowadile lahir di Manado, 28 Mei 1966. Menulis puisi sejak SMP. Selain dipublikasikan di berbagai media massa, sajak-sajaknya juga terkumpul dalam buku antologi puisi bersama lima penyair Sulawesi Utara, Sasambo (1991), Mimbar Penyair Abad 21 (2001), dan pernah dibacakannya di TIM Jakarta. Pada 18 April 2007, pukul 20.00 WIB, buku kumpulan 111 puisinya, Coelacant, Tak Pernah Mati, akan diluncurkan di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta, disertai pertunjukan puisi yang digarap oleh Remy Silado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=289583&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-797052903793465933?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/797052903793465933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=797052903793465933' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/797052903793465933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/797052903793465933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/kuhanyutkan-bulir-bulir-kuhanyutkan.html' title='Sajak-sajak Pitres Sombowadile'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7633586176352760857</id><published>2007-04-14T18:23:00.000-07:00</published><updated>2007-04-14T18:25:44.768-07:00</updated><title type='text'>AMINAS</title><content type='html'>Oleh : Chavchay Syaifullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang ganjil, bila siang itu matahari bertahta tepat di atas kepala. Namun, siang itu Aminas bersama rombongan pengikutnya, mendirikan shalat Jumat tidak di satu masjid. Aminas memilih berjamaah di satu gereja tua saja, di pinggir kota tempat ia hidup bersama para pengikutnya. Pintu-pintu masjid tak lagi terbuka baginya. Altar-altar suci kian dijauhkan dari geraknya. Sebab tangan dan hatinya telah dipandang sekotor darah musang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminas. Oh, getir sekali hidupnya! Jilbabnya yang kadang menyulur sampai pongkol bahu. Biji-biji tasbehnya yang tak pernah henti berputar di sela jari-jarinya. Oh, lafaz-lafaz kitab suci yang setia bergema dalam hatinya. Seperti burung kakak tua yang lama mencari sebatang jagung muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apa daya, Aminas adalah kisah pahit seorang muslimah. Kisah perempuan yang sedang gigih melawan. Berontak. Menolak pembedaan atas nama agama, ras dan jenis kelamin. Orang-orang di kotanya, satu agama atau lain agama, selalu memusuhinya. Ia tak sekadar dicampakkan, sebab seringkali ia bahkan disamakan dengan binatang aneh berbisa. Makhluk sinting pendatang asal planet gersang tanpa nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Aminas adalah wakil perempuan cerdas berkulit hitam. Muslimah yang taat agama. Hanya saja ia perempuan yang senang datang bersama tafsir segar. Bersama lonceng berdengung. Padahal Aminas adalah wujud manusia yang malas menangis, sebab tangis tak pernah melarikannya dari bawah bayang langit hitam, dari tajamnya batu-batu kerikil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi taman kota, Aminas sering melamunkan sejarah kaumnya. Juga sejarah perbudakan itu. Sejauh ia melamunkan sejarah itu, semakin gelisah hatinya mencabik-cabik warna cerah masa depan. Aminas terjuntai. Suara hatinya serak. Terseret zaman penuh cakar. Namun, tetap saja langit tak kunjung mengerti tangisnya, gelisahnya yang muncul dari keterpurukan kaum minor, tercekiknya kaum perempuan dan orang-orang kulit hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminas. Warna hitam di kulitnya, takdirnya yang perempuan, begitu menyulitkannya untuk berbicara tentang perbudakan, tentang penindasan. Sebab, orang-orang yang tak menyukainya, dengan mudah akan mengatakan ''Ah, Aminas itu kan cuma perempuan iseng. Kerjanya hanya meniup badai rasisme saja!''&lt;br /&gt;''Alangkah malang warna kulitku. Nasib kaumku!''&lt;br /&gt;Dalam hidupnya, sebagai orang berkulit hitam, tak ada yang lebih pahit untuk pantas dikatakan Aminas selain diri dan kaumnya selalu dipecundangi orang-orang berkulit putih, juga manusia-manusia bermisai daging. Itu tak bisa ditampiknya, sebab Aminas merasakannya sendiri. Aminas meneguknya sendiri. Bahkan setiap waktu ia teguk air kotor penindasan itu. ''Kalau karena warna kulitku yang tak sama dengan mereka, apa aku tak bisa hadir sebagai pemimpin?''&lt;br /&gt;''Kalau karena jenis kelaminku yang perempuan, apa aku menjadi salah untuk tampil sebagai pemimpin?''&lt;br /&gt;Dari hari ke hari Aminas kian menyadari arti penindasan itu. Tapi kenapa diri dan kaumnya saja yang tertindas? Aminas tak menemukan jawab di atas peta mana pun. Di dalam kenyataan mana pun. Apalagi di dalam buku-buku. Sebab itu, Aminas tak lagi malu-malu bicara sendiri di depan trotoar dan vas-vas bunga. Ia hanya ingin menjangkau kesadaran baru dalam lipatan mimpi-mimpi yang datang kian memukul. Tak ada suara burung lagi di dalam hatinya. Tak ada lagi kemerduan bunyi. Yang ada hanya jerit cemas dan ketakutan. Bunyi-bunyi angker dari alas sepatu kekar, lipatan dasi, kerah putih, laras senjata dan tumpukan teror.&lt;br /&gt;Aminas ingin berontak dari takdir perbudakan. Tak rela dirinya menjadi sekadar hewan betina yang setia menunggu datangnya perintah menakutkan dari kaum kulit putih dan kaum laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat belajar kerasnya, Aminas lulus dari kampus kota itu dengan hasil nilai amat menakjubkan. Pihak kampus takut kehilangan Aminas. Sebab, kehilangan Aminas sama dengan hilangnya mahkota kampus. Aminas ditarik sebagai tenaga pengajar. Aminas tak langsung membalas, sebab ia masih ingin belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Pihak kampus segera memberi toleransi, dengan menyanggupkan beasiswa bagi Aminas sampai pendidikan doktoralnya, asalkan pendidikan itu dikejarnya sambil mengajar di almamaternya.&lt;br /&gt;Aminas mulai mengajar. Dari hari ke hari mahasiswa-mahasiswa kampus itu manaruh simpati luar biasa pada Aminas. Sebab bagi mereka, Aminas tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, melainkan telah menyampaikan juga makna kejujuran dan fungsi perjuangan.&lt;br /&gt;''Tak ada kewajiban dalam Alquran bahwa perempuan harus takluk di tangan kaum laki-laki,'' katanya.&lt;br /&gt;''Tak ada larangan perempuan untuk menjadi pemimpin,'' katanya.&lt;br /&gt;''Tak ada ajaran dalam Islam bahwa satu jenis kulit tertentu bisa menindas jenis kulit lainnya,'' katanya.&lt;br /&gt;''Perjuangan melawan pembedaan dan penindasan harus segera dimulai,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun Aminas semakin berani. Keberaniannya cepat didukung oleh sejumlah pengikutnya. Awalnya pengikut-pengikutnya hanyalah para mahasiswanya, tapi cepat meluas di kalangan masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak kampus gempar. Beasiswa kampus bagi Aminas hendak dicabutnya, bahkan Aminas dicoba disingkirkan. Aminas tak ambil peduli. Pihak kampus terlambat, sebab dalam waktu cepat Aminas sudah mampu menyelesaikan studi doktoralnya. Posisi Aminas semakin kuat. Meskipun tekanan dari pihak luar semakin menjadi, dukungan dari mana-mana terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan gelar doktornya, Aminas tak lagi dapat menunda gerakan dakwahnya di tengah masyarakat luas. Ceramah demi ceramah ia berikan. Tafsir-tafsir baru agama diajukan. Perlawanan demi perlawanan dilakukan. Tak ada lagi ketakutan baginya untuk menyuarakan persamaan jender, kebebasan menafsir, penolakan diskriminasi ras dan kedaulatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu perjuangan semacam ini mudah mendatangkan badai. Ia tahu itu. Tapi langit gelap sudah lama ia peluk. Ia ingin langit biru yang baru. Keberanian yang penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah Aminas memutuskan untuk memberi tauladan. Tauladan satu ini memang amat mengerikan bagi dunia Islam yang pro-kejantanan. Atas nama perjuangan melawan pembedaan, tauladan ini pun dilakukannya penuh ketulusan. Aminas tampil sebagai imam shalat jamaah. Makmumnya tak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Jamaah itu pun tak lagi membedakan perempuan dan laki-laki dalam setiap shaf shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk kota yang laki-laki geram. Aminas diterjang ancaman. Tapi jamaahnya semakin merapat pada Aminas. Dalam setiap shalat jamaah, Aminas selalu yang dipercaya menjadi imam. Ia rela melakukan itu. Kaum laki-laki dan kaum perempuan tak pernah dibedakannya. Sebab baginya, Tuhan pun tak pernah membedakan itu. Tuhan hanya membedakan takwa hamba-hambanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Aminas memutuskan untuk mendirikan shalat Jumat bersama para jamaahnya, masjid-masjid menutup pintu baginya. Aminas dan jamaahnya gelisah atas perlakuan itu. Akhirnya Aminas dan jamaahnya pergi ke sebuah gereja tua di pinggiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, alangkah tak terbayangkan oleh masyarakat dunia, Aminas menjadi imam shalat Jumat di sebuah gereja!&lt;br /&gt;''Kami berdiri di sini bukan untuk menggantikan masjid dengan gereja, namun kami datang untuk mengetuk hati pada dunia Islam, masih adakah persamaan derajat dalam Islam?'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kami berdiri di sini bukan untuk menjadi jamaah yang ganjil, namun kami sekadar berziarah menapaki keadilan dan kesetaraan,'' katanya. &lt;br /&gt;Jauh dari kota tempat Aminas berjuang, orang-orang menaruh rasa simpati. Tapi, banyak juga yang malah menaruh rasa curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kawan-kawan yang sedang asyik bermain gitar, melotot membaca laporan surat kabar tentang peristiwa getir itu. Akhirnya kami membuat lagu untuk Aminas. Tapi sayang, banjir bandang begitu saja tiba, menghanyutkan gitar dan catatan lirik lagu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7633586176352760857?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7633586176352760857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7633586176352760857' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7633586176352760857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7633586176352760857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/aminas.html' title='AMINAS'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-4563330772014708337</id><published>2007-04-14T18:20:00.000-07:00</published><updated>2007-04-14T18:23:00.787-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Mustafa Ismail</title><content type='html'>SURAT-SURAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surat-suratmu telah hanyut&lt;br /&gt;jauh sebelum sabtu pekat itu&lt;br /&gt;menjadi gelombang yang menenggelamkan&lt;br /&gt;huruf-huruf dan jejak tanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya menemukan kertas kosong&lt;br /&gt;terselip dalam lipatan arloji&lt;br /&gt;menyembul saat malam larut&lt;br /&gt;dan orang-orang nyenyak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cuma sketsa tipis, lamat-lamat &lt;br /&gt;menyeruak lalu senyap&lt;br /&gt;tanganku gemetar untuk menulis kembali&lt;br /&gt;huruf-huruf itu &lt;br /&gt;juga jejak tanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMETIK TEH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memetik daun teh di bibirmu&lt;br /&gt;seratus pagi menghambur di jendela&lt;br /&gt;membikin rumah jadi danau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tepian, kita duduk berbagi lamunan:&lt;br /&gt;rumah di atas bukit, di bawahnya &lt;br /&gt;kehijauan kebun teh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita jadi petani, memetik tiap pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di jendela, anak-anak bersiul&lt;br /&gt;matahari bergayut di kaca jendela&lt;br /&gt;mereka menari dan bermimpi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peri-peri kecil berlarian di tepi danau&lt;br /&gt;memantulkan kedap-kedip cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memetik daun teh di bibirmu&lt;br /&gt;tarian bintang menghambur di mataku&lt;br /&gt;lalu gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Nopember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RATAP PERAHU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiap pagi kau berdiri di dekat jendela&lt;br /&gt;menatap matahari kian jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bibir penuh senyum tempat kau menitip &lt;br /&gt;impian, kini tak lagi datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau dengar bibir-bibir itu menjadi belati&lt;br /&gt;menancap di tiap ulu hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku perahu kesepian, katamu, setelah&lt;br /&gt;menyeberangkan orang-orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, November 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMAH TERJAUH&lt;br /&gt;: fitri rizka meutia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah lama kami tak datang&lt;br /&gt;menanam kembang, membersihkan&lt;br /&gt;rumput-rumput liar, mengajakmu&lt;br /&gt;tersenyum dan menatap&lt;br /&gt;dalam ingatan&lt;br /&gt;dalam tidurmu yang panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Nopember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANGKUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita sudah tersungkur&lt;br /&gt;ketika lelaki itu&lt;br /&gt;menghunus sangkur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan senyum dikulum&lt;br /&gt;ia menyulut api&lt;br /&gt;memadamkan matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam merayap&lt;br /&gt;membekap rumah-rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aroma bensin membakar setiap jejak&lt;br /&gt;kita sempoyongan di trotoar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita menyimak khutbah-khutbah basi&lt;br /&gt;dengan mata nanar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, Nopember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustafa Ismail, lahir di Aceh, 25 Agustus 1971. Menulis cerpen dan puisi, disiarkan di media cetak, antara lain di Republika, Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Suara Karya, dan Jawa Pos. Sajak-sajaknya juga termuat dalam sejumlah buku antologi puisi, antara lain Lambaian (1993), antologi sastra Seulawah (1995), Mimbar Penyair Abad 21/ (1996), Bisikan Kata, Teriakan Kota (2003) dan Ziarah Ombak (2005). Sejak 1997 bekerja sebagai wartawan di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=288737&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-4563330772014708337?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/4563330772014708337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=4563330772014708337' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4563330772014708337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/4563330772014708337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/sajak-sajak-mustafa-ismail.html' title='Sajak-sajak Mustafa Ismail'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-6640804662911076786</id><published>2007-04-07T19:37:00.000-07:00</published><updated>2007-04-14T18:28:22.392-07:00</updated><title type='text'>KISAH RONGGO</title><content type='html'>Oleh : Lidya Kartika Dewi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan laptop, aku biasa menulis di teras depan rumahku yang asri. Dalam suasana yang sejuk dan tenang aku dapat menuangkan ide-ide cerpen di kepalaku sejernih dan selancar air kali yang mengalir di pegunungan yang masih perawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, siang itu aku terkejut. Sangat terkejut. Tanpa permisi lebih dulu, seorang bocah dekil dengan menenteng gitar kecil tiba-tiba nyelonong masuk ke teras depan rumah, mengusik keasyikanku menulis. Kukira tadinya dia mau mengamen. Ternyata, tanpa berbasa-basi dia bertanya, "Oom penulis, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku menjawab, dia menyambung, "Dengar kisah hidupku, Oom. Pasti akan sangat bagus kalau diuntai menjadi sebuah cerita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tergugu, bisu, ketika pengamen belia itu mulai bertutur: "Namaku Ronggo. Aku tinggal di pemukiman kumuh, dekat tumpukan sampah. Bapakku pemulung. Kini usiaku 14 tahun, tapi aku masih duduk di kelas 6 SD. Di sekolahku usia memang tak dipermasalahkan, karena sekolahku hanya di kolong jembatan layang, sekolah khusus anak-anak gelandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, usai mengajar, Ibu Mira dan Ibu Ita memberi nasehat agar aku dan kawan-kawan rajin menabung, agar kelak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Karena hanya dengan sekolah yang tinggi aku dan teman-teman akan menjadi orang pandai. Dan, orang pandai kerjanya pasti di kantor, bukan di jalanan sebagai pemulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun mulai rajin menabung. Bila dulu setiap kali diberi uang oleh Bapak selalu aku habiskan untuk jajan membeli kue apem pada Bi Ijah, sekarang sebagian uang jajan itu selalu aku sisihkan untuk ditabung, dengan cara menyimpannya di kaleng bekas susu formula yang aku pungut dari tumpukan sampah di dekat rumah. Tapi aneh, setelah tabunganku banyak, uang itu hilang. Aku penasaran dan bertanya pada bapak. (Aku hanya bisa bertanya pada bapak. Di rumah aku memang hanya tinggal berdua dengan bapak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, siapa yang mengambil uang tabunganku?"&lt;br /&gt;"Oh, kamu mulai rajin menabung? Siapa yang mengajari?" Bapak balik bertanya.&lt;br /&gt;"Ibu Guru Mira dan Ibu Guru Ita."&lt;br /&gt;"Lalu uang tabungan itu nanti untuk apa?"&lt;br /&gt;"Untuk biaya, kalau aku mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin jadi orang pandai, Pak. Biar bisa kerja di kantoran, tidak jadi pemulung seperti Bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tertawa sumbang. "Ah, kerja jadi pemulung tapi jujur, itu lebih terhormat daripada kerja di kantoran tapi jadi koruptor!"&lt;br /&gt;"Koruptor itu apa sih, Pak?" tanyaku polos. Aku memang tidak tahu, apa itu koruptor.&lt;br /&gt;"Orang-orang yang kerjanya di kantor, tapi hobinya nyolong uang kantor, ngemplang uang negara, ngembat uang rakyat. Itu namanya koruptor!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gitu orang yang kerja di kantor banyak yang jahat ya, Pak?"&lt;br /&gt;"Iya. Makanya mereka hidupnya pada enak, pada kaya-kaya. Rumahnya pada megah, mobilnya bagus-bagus."&lt;br /&gt;"Kalau gitu aku harus tetap rajin nabung, ah. Aku harus melanjutkan sekolah setinggi mungkin, biar bisa jadi orang pandai, biar bisa bekerja di kantoran, biar bisa jadi orang kaya, walau dari hasil korupsi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali menabung. Hasratku untuk dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi begitu menggebu. Tapi ketika yang kutabung telah kembali terkumpul banyak, uang itu kembali raib. Aku kembali bertanya pada bapak, siapa gerangan yang mengambil uang tabunganku itu?&lt;br /&gt;"Ah, mungkin uangmu itu dicolong tuyul," kata bapak.&lt;br /&gt;"Memangnya tuyul mau datang ke rumah kita yang kumuh ini, Pak?"&lt;br /&gt;"Iya. Tuyul besar, kepalanya hitam."&lt;br /&gt;"Ah, tuyul kurangajar!" rutukku. "Kalau dapat kutangkap, kucincang kau!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi aku menabung. Dan ketika uang tabunganku sudah banyak, aku mulai berjaga-jaga. Benar saja. Malam itu, saat aku baru merebahkan diri hendak tidur, tiba-tiba terdengar suara berisik. Spontan aku bangkit dari tidur dan tampak bapak sedang mengambil uang di kaleng tabunganku. Aku terkejut, seakan tak percaya. Ah, apakah yang dimaksud Bapak dengan tuyul besar berkepala hitam itu adalah Bapak sendiri? Ya ya, pasti tuyul besar berkepala hitam itu Bapak sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapaaakk...!!" teriakku.&lt;br /&gt;Sesaat bapak kaget. Lalu dengan tersenyum bapak menoleh ke arahku. "Kenapa Bapak mencuri uang tabungan saya?" Aku memekik. Kalap. "Maaf, Ronggo. Bapak pingin kawin, tapi nggak punya uang. Terpaksa Bapak curi uang tabungan kamu."&lt;br /&gt;"Lho, kalau kawin memang harus pakai uang, Pak?" tanyaku tak mengerti. "Iya. Kalau nggak ada uang, mana bisa Bapak kawin. Kamu mau tahu orang kawin? Ayo ikut Bapak, biar kamu tahu nikmatnya belaian seorang wanita, belaian seorang Ibu."&lt;br /&gt;Malam itu juga aku ikut bapak. Aku tidak tahu apa nama tempat itu. Tapi di sana aku melihat banyak wanita berdagang kue apem, termasuk juga Bi Ijah. Lalu aku melihat bapak mencolek pantat Bi Ijah. Bi Ijah tertawa geli, kemudian menggelar tikar. Bapak tidur di hamparan tikar itu. Bi Ijah memijat bapak. Lalu, aku menyaksikan adegan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ah, apakah itu yang disebut kawin? Dalam hati aku bertanya-tanya. Kalau iya, ah, aku sangat ingin merasakannya, karena aku memang sangat merindukan belaian kasih seorang wanita, seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya aku tidak pergi ke sekolah. Tapi aku mengamen di bis kota. Aku ingin segera dapat uang yang banyak. Aku ingin tahu rasanya kawin Aku ingin merasakan nikmatnya bilaian kasih seorang ibu. Malam itu juga, dengan membawa uang hasil mengamen aku pergi ke tempat berkumpul wanita-wanita penjual kue apem. Aku mendatangi Bi Ijah.&lt;br /&gt;"Mau apa kamu malam-malam ke sini sendiri?" tanya Bi Ijah.&lt;br /&gt;"Aku pingin kawin," kataku jujur.&lt;br /&gt;Bi Ijah tertawa panjang, "Ha ha ha... bocah ingusan seperti kamu mau mulai belajar kawin? Ha ha ha...."&lt;br /&gt;Tawa Bi Ijah terhenti. Sesaat ia merenung. Kemudian, "Tapi bagus juga ya, aku bisa merenggut keperjakaanmu, biar aku awet muda." Tawa Bi Ijah kembali berderai. "Eh, tapi kamu punya uang nggak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Punya." Aku menepuk-tepuk kantong baju yang menggembung berisi uang logam.&lt;br /&gt;"Bagus, bagus." Bi Ijah manggut-manggut. &lt;br /&gt;Bi Ijah menggelar tikar. Aku tidur di hamparan tikar itu. Bi Ijah memijatku. Lalu aku merasa seakan melayang jauh di awan. Semuanya terasa indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku tak mau lagi pergi ke sekolah. Tapi kini setiap hari aku pergi mengamen. Bila uang hasil mengamen sudah banyak, aku selalu pergi mendatangi Bi Ijah. Apa yang diucapkan bapak memang benar, aku telah merasakan nikmatnya kawin, nikmatnya balaian kasih seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, saat aku hendak mulai dipijat oleh Bi Ijah, bapak datang menghampiri. Tanpa basa-basi bapak langsung marah, menghardik Bi Ijah. "Ijah, kamu sudah gila! Kamu tidak takut dosa! Kamu kawin dengan anakmu sendiri!"&lt;br /&gt;Bi Ijah tersenyum sinis. "Kamu yang gila, Jo! Kamu ngomong dosa, tapi kamu tak pernah mau aku ajak keluar dari lembah dosa ini! Kamu tak pernah mau aku ajak nikah secara resmi, agar kita berdua dapat membesarkan Ronggo bersama-sama. Nyatanya? Kamu lebih seneng hubungan intim kita berjalan tanpa ikatan resmi. Kamu lebih seneng membesarkan Ronggo seorang diri. Aku pun jadi merasa tak punya ikatan batin dengan Ronggo. Memang dia lahir dari rahimku. Tapi dia anakmu, bukan anakku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Bi Ijah dan bapak perang mulut, aku hanya melongo, bengong. Aku tidak mengerti makna pertengkaran itu. Yang aku tahu, kemudian bapak pergi, entah ke mana. Dan Bi Ijah -- seperti tak pernah terjadi apa pun -- mulai memijati aku. Lalu, aku pun merasa bagai melayang di awan. Semuanya terasa indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya aku rasakan semakin indah, karena mulai malam itu Bi Ijah tinggal di rumahku. Bi Ijah yang selalu memijati aku dengan penuh mesra dan penuh birahi. Aku tidak mengerti dan juga tidak tahu, mengapa bapak meninggalkan rumah dan ke mana bapak pergi? Seperti juga aku tidak mengerti dan tidak tahu, siapa jatidiri Bi Ijah yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbilang bulan, aku mulai merasa jemu hidup satu rumah dengan Bi Ijah. Aku mulai menggelandang tak tentu arah. Setiap hari aku mengamen. Aku ingin berjumpa dengan ibu kandungku, aku juga ingin kembali berjumpa dengan bapakku. Aku ingin mencari mereka sampai ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-6640804662911076786?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/6640804662911076786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=6640804662911076786' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6640804662911076786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/6640804662911076786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/kisah-ronggo.html' title='KISAH RONGGO'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-3143908407381393704</id><published>2007-04-07T19:34:00.000-07:00</published><updated>2007-04-07T19:37:40.149-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Doel CP Allisah</title><content type='html'>SAJAK PEREMPUANKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perempuanku&lt;br /&gt;lembut bagaikan sutera&lt;br /&gt;rambut panjangnya&lt;br /&gt;melambangkan pikiran yang matang&lt;br /&gt;dada yang hangat&lt;br /&gt;getaran pesona alami&lt;br /&gt;ia tersenyum bersama waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perempuanku&lt;br /&gt;manis bagai puteri dewata&lt;br /&gt;rambut panjangnya&lt;br /&gt;merangkai bayang-bayang rindu&lt;br /&gt;ketika kudekap dengan rasa cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai kegamangan menutupinya&lt;br /&gt;ia berjalan di hadapanku&lt;br /&gt;membentuk garis buram&lt;br /&gt;sesuatu telah merampasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perempuanku&lt;br /&gt;semakin kabur sosoknya&lt;br /&gt;mulutku terkunci&lt;br /&gt;kakiku terkunci&lt;br /&gt;sesuatu telah merampasnya&lt;br /&gt;pada satu ketika&lt;br /&gt;sekejap saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Februari 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARUM KEMBANG BULAN MEI&lt;br /&gt;(catatan bagi doel dan tia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua puluh tahun rentang usia&lt;br /&gt;apa yang kita jejaki sejauh itu&lt;br /&gt;keresahan musim angin ini membawa berkah&lt;br /&gt;bagi putik-putik kembang mekar&lt;br /&gt;biarpun kegalauan masih membekas &lt;br /&gt;pada masa-masa cinta yang kau temui&lt;br /&gt;namun semua itu memberi kita&lt;br /&gt;pengalaman manis pahit&lt;br /&gt;memberi kita kearifan hidup&lt;br /&gt;memberi kita warna-warna dunia&lt;br /&gt;lalu kearifan itu menjadi tonggak ingatan&lt;br /&gt;bagi langkah ke masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelahiran dan juga awal sejarah&lt;br /&gt;tak pernah kita persiapkan dalam catatan ini&lt;br /&gt;bagai kembang-kembang yang mekar&lt;br /&gt;dan kemudian menjadi anugrah bagi kehidupan&lt;br /&gt;ia sekali kita gapai (tanpa sengaja)&lt;br /&gt;lalu kita bisa memilahnya sepanjang nafas&lt;br /&gt;menjadi lebih berharga dan bermartabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelahiran dan juga kehidupan&lt;br /&gt;adalah kewajiban untuk kita isi&lt;br /&gt;dengan segala tanggung jawab&lt;br /&gt;agar kelak kita yakin&lt;br /&gt;kebajikan dan keburukan&lt;br /&gt;adalah lorong tipis &lt;br /&gt;yang mesti kita lalui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menuju keabadian&lt;br /&gt;dan kita memulainya&lt;br /&gt;di harum kembang bulan mei!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lhoksukon, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAGU SEDIH WANITAKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seekor burung melintasi waktu&lt;br /&gt;menertawakan musim yang berlalu&lt;br /&gt;segera mimpi mengisi tanggal dan hari&lt;br /&gt;dalam tidurnya, seekor burung&lt;br /&gt;tanpa kelompok (dan anak-anaknya)&lt;br /&gt;pulang jauh dalam senja&lt;br /&gt;hatinya, lembayung matahari&lt;br /&gt;dan laut yang terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bercerita pada dahan-dahan, pada gerimis&lt;br /&gt;mengikuti usungan jenazah dan lorong-lorong&lt;br /&gt;yang tertinggal dalam kegembiraan bocah-bocah&lt;br /&gt;kemudian hari, seekor burung menyilang angin&lt;br /&gt;menyalakan gairah yang tertunda&lt;br /&gt;menikahi aku di alun-alun&lt;br /&gt;di mimpi-mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doel CP Allisah lahir di Banda Aceh, 3 Mei 1961. Alumnus Universitas Syiah Kuala ini pernah menjadi redaktur budaya Mimbar Swadaya (1985) dan Aceh Post (1989), serta wakil ketua Dewan Kesenian Aceh (2000-2004). Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media sastra Aceh dan Jakarta. Selain itu, juga terkumpul dalam antologi puisi Malam Perempuan Malam (1984), Ranub (1985), Nafas Tanah Rencong (1993), dan Seulawah (1995). Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit adalah Nyanyian Angin (1992). Kini tinggal di Meunasah Papeun, Lamnyong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=288080&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-3143908407381393704?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/3143908407381393704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=3143908407381393704' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3143908407381393704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/3143908407381393704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/04/sajak-sajak-doel-cp-allisah.html' title='Sajak-sajak Doel CP Allisah'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-7001242103675937013</id><published>2007-03-31T18:21:00.001-07:00</published><updated>2007-04-04T00:21:02.613-07:00</updated><title type='text'>KETIKA TUHAN BERJUBAH PUTIH</title><content type='html'>Oleh : Sofie Dewayani &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid kami seperti gua muram yang terasing dari gegap-gempita keriangan menjelang Natal. Hanya di masjid ini, orang berjalan gegas menyelamatkan badan dari gigitan angin dingin yang nakal. Masjid ini tempat berteduh sesekali, sedangkan toko dan mall di luar sana kemayu oleh dekorasi warna-warni, kerlip lampu serupa ceria kembang api, juga arus pembeli yang bagai tak mati-mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak ada yang memikat dari masjid sepi. Karenanya kami mengunjunginya seperti membagi basa-basi. Tak hanya sekali dua kali, kami terdampar di tengah sesak arus pembeli di toko-toko yang wangi. Bagaimana bisa memalingkan mata dari kenikmatan berbelanja, di hamparan pajangan benda-benda menggugah selera yang harganya menggoda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Sebenarnya saya mengidamkan mantel tebal warna ungu, yang harganya tak pernah terjangkau saku. Mantel lama saya semakin menipis tampaknya, dengan lapisan busa yang menua. "Namanya juga mantel loak. Boleh dong, sekali-kali saya beli barang baru," rayu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami saya hanya tersenyum saja, tahu tabiat saya. Oh, dia juga sedang bermimpi ternyata. Idamannya kamera digital merek terbaru yang didiskon seratus lima puluh dolar dari harga semula! Tunggu hingga usai Natal, saat semua obral jatuh ke titik terendah, kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu anak-anak mengidamkan apa. Saya tak berani bertanya. Saya bukannya tak melihat mata-mata kecil penuh harap yang diterpa kilau etalase kaca. Boneka-boneka Santa Claus di sana menyapa jenaka dari tumpukan mainan aneka rupa. Ya. Ini Natal, musim belanja saat anak boleh bermimpi setahun sekali. Namun anak-anak saya tahu diri bahwa mereka hanya boleh menyaksikan semuanya dari tepi. Memang, mereka pasti akan merecoki saya dengan pertanyaan yang itu-itu lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti Santa Claus akan datang kemari?" "Nggak dong, Sayang. Kita kan nggak merayakan Natal."Tetapi, kemarin si bungsu melontarkan pertanyaan yang tak biasa,"Lalu kenapa ibu ikut-ikutan belanja Natal?"Saya tertawa (salah-tingkah, sebenarnya)."Nggak kok, hanya melihat-lihat saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam, namun wajahnya tampak tak terpuaskan oleh jawaban saya. Ah, apa yang bisa saya katakan kepada bocah empat tahun? Suatu saat nanti dia akan mengerti seni belanja yang nikmat oleh sensasi menghemat. Ya, kendali bisnis tak bisa kita hindari. Tetapi apa salahnya membeli mimpi setahun sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal sudah dua hari lewat. Namun pagi ini, rupanya anak-anak masih menyimpan auranya di meja makan. Awalnya, putri kecil saya bercerita tentang temannya yang mendapat hadiah perangkat Barbie dengan aksesoris pewarna rambut. Entah bagaimana, adiknya menyahut,"Kenapa kita nggak punya Santa Claus?""Karena kita nggak merayakan Natal.""Kenapa Tuhan kita nggak seperti Santa Claus?"Kakaknya terdiam. Ditatapnya saya yang pura-pura sibuk mengolesi roti panggang. "Kan Tuhan sudah beri adik semuanya?" kata saya. Klise, seperti biasa. Entah mengapa, pagi ini selai stroberi memucat warnanya. "Udara, buku-buku cerita, juga semua makanan yang adik suka...." Saya berdiri tergesa. Saya tahu jawaban saya seperti mengambang di udara. "Iya sih, semuanya. Kecuali... mainan mobil remote control yang aku minta," sahutnya, sambil menopang dagunya."Soalnya, kamu nggak pernah mengucapkannya dalam doa...!" sahut kakaknya tiba-tiba."Katanya Tuhan maha tahu segalanya? Jadi, nggak perlu bicara keras-keras, kan?" kilah adiknya. Saya menyembunyikan senyum, saat kemudian saya dengar dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau Tuhanku berbaju merah lucu dan selalu tersenyum seperti Santa Claus itu. Jubah putih Tuhan jelek dan nggak lucu. Dia juga nggak pernah tersenyum kepadaku."Saya mengernyitkan kening. Jubah putih? "Nggak perlu mendebatnya. Imajinasi liarnya itu bukan tandingan kita. Nanti dia akan mengerti juga," Suami saya berkata di benak saya. Kadang-kadang, rasanya memang tak sabar menunggu anak-anak cepat dewasa. Saya nyalakan keran air. Piring bekas sarapan tiba-tiba sudah menumpuk saja. Teman saya, seorang aktivis gereja, bercerita bahwa dia tak berbelanja Natal tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini, Natal sudah kehilangan makna. Saya ingin, anak-anak merayakan Natal dengan sederhana saja," katanya.Saya tersenyum saat itu, mengiyakannya. Saya ingin berkata, bahwa hura-hura belanja seperti ini membuat harga banyak barang jadi terjangkau untuk pendatang seperti saya. Namun tentu saya diam saja. Tiba-tiba, saya merasa bersalah sudah latah menodai hari suci yang berharga baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, siapa peduli. Lagipula mantel ungu itu diobral lagi hingga tiga puluh persen. Saya melihatnya di iklan televisi pagi ini. Setelah makan siang, kami berbenah cepat-cepat. Saya menelepon suami, mengingatkannya tentang rencana belanja hari ini. Lima belas menit kemudian, kami sudah menjemputnya di kampus. Jalanan seperti berkilau oleh hujan es semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin menggigit tulang. Embun menggenangi kaca mata suami saya saat digantikannya saya di belakang kemudi. Dia memutar kunci. Namun, mobil tak menggerung sama sekali. Bahkan semua lampu mati. Dua kali, tiga kali, hingga entah berapa kali kunci itu dihentakkan. Sia-sia. Kini, penantian berganti keluh dan umpat. Anak-anak meratap, merutuki hawa dingin mobil tanpa penghangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal aki mobil ini baru diganti," cetus suami putus asa. Saya menggigil bukan karena dingin. Terhempas dari penantian panjang itu seperti terjatuh di jalanan berlapis es yang licin. Suami saya menelepon perusahaan asuransi. Mobil derek akan datang tak lama lagi. Saat saya gandeng anak-anak ke halte bis, mereka menangis. Pipi mereka memerah tak terlindung dari gigitan angin dingin yang garang. Saya mengumpat dalam-dalam, menyesali reklame obral besar-besaran yang seperti sengaja terpampang nyalang. Hah, kurang ajar!Mobil kami masih menginap di bengkel hingga hari ini. Aneh, tak biasanya ia berulah seperti ini. Aki sudah diganti yang baru, namun masalahnya bukan itu. Kemarin, teknisi bengkel meminta suami saya untuk membeli busi baru."Apa dia yakin masalahnya itu?" Saya tatap suami saya, ragu."Yah, kita turuti saja. Siapa tahu?""Siapa tahu gundulmu!"Dua ratus dolar sudah tandas, bukan untuk kamera digital, atau mantel ungu baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah.... Memang obral Natal kali ini jatah mobil kita." Getir tak tersembunyi dari tawa suami saya. Dan dia tak berani menatap mata saya. Jumat ini, masjid masih sepi. Entah hening apa yang tak mau pergi, saat gempita Natal tak lagi mengepung kota ini. Saya sedang membantu putri saya melepas mantelnya ketika saya sadari si bungsu tak lagi berdiri di sisi. Saya melihat sekeliling, dia bahkan tak terlihat di sudut mana pun juga. Saya hendak memanggil suami saya ketika pintu lorong terbuka. Imam masjid, yang asli Irak itu, muncul dari sana, membimbing anak saya. Senyum mengembang di balik janggut tebalnya. Anak saya mencengkeram jubah putihnya, dan tangan kirinya menggenggam lolipop merah muda. Melihat matanya yang basah, saya tersenyum lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It's okay. Tadi dia menangis kebingungan di depan pintu," kata Imam sebelum berlalu.Si bungsu menghambur memeluk saya, tangisnya pecah. Suami saya, entah dari mana datangnya, menggendongnya. Tangis si bungsu reda di pelukan ayahnya."Tadi aku diselamatkan oleh Tuhan, dan dia memberiku ini," katanya sambil mengangkat lolipopnya tinggi-tinggi.Suami saya menatap saya tak mengerti. Saya tersenyum geli. Jadi Tuhan berjubah putih itu.... Si bungsu meneruskan celotehnya tentang Tuhan, dan tiba-tiba saya terhenyak. Duh, saya nyaris menjelma bocah empat tahun. Hampir saja saya memakaikan mantel ungu itu pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urbana, Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=287447&amp;kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-7001242103675937013?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/7001242103675937013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=7001242103675937013' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7001242103675937013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/7001242103675937013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/03/ketika-tuhan-berjubah-putih.html' title='KETIKA TUHAN BERJUBAH PUTIH'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6341803356744059231.post-8078725029593683992</id><published>2007-03-31T18:21:00.000-07:00</published><updated>2007-04-04T00:24:13.499-07:00</updated><title type='text'>Sajak-sajak Dimas Arika Mihardja</title><content type='html'>METAMORFOSIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telur yang kuletakkan pada daun&lt;br /&gt;telah menjelma ulat&lt;br /&gt;aku -- ulat itu bergerak di celah waktu&lt;br /&gt;merangkaki dinding gelap mengejar cahaya&lt;br /&gt;mentari, awan, angin, mengasuhku dalam hening&lt;br /&gt;aku adalah kepompong bergerak dilorong-lorong&lt;br /&gt;memaknai gelap yang melindap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lewat relung sunyi kubaca kembali jatidiri&lt;br /&gt;puisi-puisi&lt;br /&gt;arah matahari&lt;br /&gt;seperti membaca nyeri negeri ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pun keluar gua peradaban&lt;br /&gt;terbang mengembangkan sayap-sayap kecemasan&lt;br /&gt;mendaur ulang sejarah&lt;br /&gt;menataa langkah&lt;br /&gt;menuju entah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                 Jambi, Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA SUATU HARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada suatu hari aku tak sempat membaca Air&lt;br /&gt;kesibukan jam menyeret langkah menyusuri lembah&lt;br /&gt;dari jauh kubaca Air mengalir menuju hilir&lt;br /&gt;menghanyutkan peristiwa:&lt;br /&gt;tragedi manusia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada suatu hari aku tak sempat mereguk Air&lt;br /&gt;padahal gericikNya selalu mengundang dahaga&lt;br /&gt;sejauh burung terbang, Air juga yang dirindukan:&lt;br /&gt;perasan keringat dan kesadaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada suatu hari aku&lt;br /&gt;burung pembawa kabar:&lt;br /&gt;ada yang tergadai&lt;br /&gt;oleh geriap waktu&lt;br /&gt;dan tahu di mana-mana Air&lt;br /&gt;banjir air mata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                           Jambi, Akhir Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLAMBOYAN DI TAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;flamboyan di taman&lt;br /&gt;mengurai warna&lt;br /&gt;menafsir bening umbun&lt;br /&gt;dan isyarat cuaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mendengar bisik gelisah sepi&lt;br /&gt;menggelepar di atas penantian panjang&lt;br /&gt;kelopak bibirnya tak lelah pasrah&lt;br /&gt;berdesah ketika percik embun&lt;br /&gt;berpendar dalam debar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kumaknai tetes demi tetes&lt;br /&gt;kata-kataNya&lt;br /&gt;dan kuuntai jadi bunga&lt;br /&gt;doa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                          Jambi, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANDANG RIAK KOLAM JIWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang riak kolam jiwa&lt;br /&gt;aku lihat lipatan-lipatan air jernih&lt;br /&gt;ikan ikan berenang tenang&lt;br /&gt;melahap setumpuk hasrat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada juga nyanyian ganggang dan lumut&lt;br /&gt;berusia lanjut&lt;br /&gt;merajut maut&lt;br /&gt;yang siap menjemput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aroma maut itu terus beriak dan membiak&lt;br /&gt;sepanjang jejak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                          Jambi, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas Arika Mihardja adalah pseudonim Sudaryono, lahir di Yogyakarta 3 Juli 1959. Tahun 1985 hijrah ke Jambi menjadi dosen pada FKIP Universitas Jambi. Gelar doktor diraihnya 2002 dengan disertasi Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia. Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit, antara lain Upacara Gerimis (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994) serta Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah Berdetak (Telanai Printing Graft, 2003). Sajak-sajaknya juga tersebar di berbagai media massa dan antologi bersama. Tinggal di Jl Kapt Pattimura No 42, Kenali Besar, Kotabaru, Jambi 36129.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;A href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;www.republika.co.id&lt;/A&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6341803356744059231-8078725029593683992?l=j4p4ck.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://j4p4ck.blogspot.com/feeds/8078725029593683992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6341803356744059231&amp;postID=8078725029593683992' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8078725029593683992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6341803356744059231/posts/default/8078725029593683992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://j4p4ck.blogspot.com/2007/03/sajak-sajak-dimas-arika-mihardja.html' title='Sajak-sajak Dimas Arika Mihardja'/><author><name>Aan Yogya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14729589762612642862</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
